<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com &#187; Feature</title>
	<atom:link href="http://jengki.com/category/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jul 2010 02:15:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kerinduan Spiritual Generasi Bunga</title>
		<link>http://jengki.com/2010/05/07/kerinduan-spiritual-generasi-bunga/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/05/07/kerinduan-spiritual-generasi-bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 01:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Teks: Wayan Sunarta, Foto: Wayan Sunarta dan Panitia
Langit di Batuan dan Ubud kadang mendung, kadang terang. Udara gerah. Sesekali gerimis bertaburan menyapa bumi. Udara berubah lembab dan dingin. Cuaca memang tak menentu akhir-akhir ini. Namun kegalauan cuaca tak menyurutkan semangat para peserta “Bali Spirit Festival 2010” untuk mengikuti berbagai kegiatan yang digelar.
Peserta yang berdatangan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teks: Wayan Sunarta, Foto: Wayan Sunarta dan Panitia</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC01192.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-458" title="DSC01192" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC01192-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Langit di Batuan dan Ubud kadang mendung, kadang terang. Udara gerah. Sesekali gerimis bertaburan menyapa bumi. Udara berubah lembab dan dingin. Cuaca memang tak menentu akhir-akhir ini. Namun kegalauan cuaca tak menyurutkan semangat para peserta “Bali Spirit Festival 2010” untuk mengikuti berbagai kegiatan yang digelar.</p>
<p>Peserta yang berdatangan dari berbagai penjuru benua tampak hilir mudik di lokasi festival. Siang menjelang. Dengan wajah sumringah, beberapa peserta menikmati menu vegetarian yang tersedia di stand-stand makanan. Sebagian lainnya asyik dengan urusan masing-masing. Mereka baru saja selesai mengikuti berbagai workshop yang berkaitan dengan yoga, tari, dan musik.</p>
<p>Itulah sekilas suasana festival yang digelar di Purnati (Batuan) dan ARMA Museum (Ubud) sejak 31 Maret hingga 4 April 2010. Menurut salah satu panitia, Noviana Kusumawardhani, festival yang dipersiapkan selama setahun ini, mengundang sekitar 150 presenter dan performer dari 30-an negara. Tahun ini peserta yang hadir berjumlah ratusan orang. “Mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Novi.</p>
<p>Festival ini digagas oleh I Kadek Gunarta, Meghan Pappenheim dan Robert Weber. Tema yang diangkat adalah “Tri Hita Karana”, yakni hubungan yang harmonis dengan Tuhan, alam, dan masyarakat. Festival ini memasuki tahun ketiga sejak diadakan pertama kali pada tahun 2008. Kadek Gunarta menjelaskan bahwa misi festival ini adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan potensi setiap individu dalam mewujudkan perubahan positif di dunia. “Selain itu, juga untuk mendorong kekuatan kolaborasi komunitas kreatif marginal, dan berupaya untuk meningkatkan keharmonisan dan keberlanjutan ekologi Bali, dan keberagaman budaya Indonesia, “ tutur Gunarta.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC00462.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-463" title="DSC00462" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC00462-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Setiap hari festival dipadati berbagai kegiatan, mulai dari workshop yoga, musik, dan tari, dilanjutkan dengan berbagai pementasan world music dan tari kolaborasi. Kegiatan workshop tersebar di beberapa tempat di Purnati, seperti di pavilium utama, wantilan, amphitheatre, atau di bawah tenda-tenda yang khusus dipersiapkan untuk acara ini. Sedangkan pementasan seni berlangsung tiap menjelang senja hingga tengah malam di panggung terbuka ARMA Museum, Ubud. Di sekitar lokasi festival terdapat sejumlah stand yang menjual makanan dan minuman, pernak-pernik spiritual, pakaian dan aksesori, hingga stand <em>healing</em> dan <em>therapy</em>.</p>
<p>Workshop yoga diisi dengan berbagai teori dan praktek perihal yoga, seperti pranayama, meditasi, hatha yoga, kundalini yoga, yoga &amp; ayurveda, vinyasa yoga, anusana yoga, pranala yoga, ashtanga yoga, zen thai yoga, iyengar yoga. Selain itu juga diselingi dengan workshop musik dan tari yang dikaitkan dengan yoga, therapy dan healing.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC01466.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-459" title="DSC01466" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC01466-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Para pembicara dan pemateri workshop adalah tokoh-tokoh berpengalaman dari berbagai negara. Untuk menyebut beberapa nama, di antaranya hadir Shiva Rea (USA), Mark Whitwell (New Zelland), Danny Paradise (USA), Eoin Finn (Kanada), Bridget Woods-Kramer (Ukraina), Katy Appleton (Ukraina), Twee Merrigan (USA), Duncan Wong (Jepang), Uma Inder (India), Ninie Ahmad (Malaysia), Rocky Mustafa (Indonesia), Carole Baillargeon (Australia), Peter Sterios (USA), Patrick Creelman (Hongkong), Ananda Leone (Jerman), Gede Prama (Indonesia), Amalia Wai Ching (Singapura), Matej Jurenka (Slowakia), Joseph Lee (Singapura), Tina Nance (Taiwan).</p>
<p>Pementasan world music, kolaborasi musik dan tari, disuguhkan oleh tokoh-tokoh dan grup terkenal dari berbagai negara. Di antaranya adalah Mamadou Diabate (Mali), Ganga Giri (Australia), Afro Moses (Ghana), Kultiration (Swedia), Daphne Tse (USA), Cheb i Sabbah (Algeria), D&#8217; Cinnamons (Indonesia), Tropical Transit (Indonesia), Samian (Kanada), Nyoman Windha Contemporary Gamelan (Indonesia), Nyanyian Dharma (Indonesia).</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC_2724.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-460" title="DSC_2724" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC_2724-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a>Selain itu, pagelaran juga diisi dengan gamelan Selonding dari Sukawati, tari-tarian Bali dari kelompok Cudamani, Tuju Taksu, tari legong oleh Bulan Trisna Djelantik, gamelan Gambang dari Padang Tegal, Genjek dari Karangasem, Didik Nini Thowok, kolaborasi tari-musik Nyoman Sura dan Ayu Laksmi, kolaborasi tari Jasmine Okubo dan gamelan kontemporer pimpinan Nyoman Windha, pementasan Sanggar Nata Raja, lagu-lagu ShakinaMa, Amae &amp; Friends, dan masih banyak lagi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Gaya Hidup</strong></p>
<p>Yoga dan kegiatan spiritual telah menjadi gaya hidup di banyak belahan dunia, terutama Barat. Bangsa Barat yang telah kenyang menikmati kehidupan modern dengan logika-logika ilmu pasti, kini kembali menatap ke Timur yang dianggap sebagai pusat spiritualitas. Barat telah lama menyadari, kehidupan modern dan kemapanan ternyata hanya menyisakan kehampaan jiwa. Kehidupan modern telah menghilangkan sesuatu yang sangat esensial, yakni kerinduan spiritual. Banyak orang Barat yang kemudian mengembara ke Timur, belajar yoga dan meditasi, baik di India, Tibet, Bali, dan daerah-daerah yang dirasa mampu memberikan kedamaian jiwa dan mengobati kerinduan mereka pada Sang Hakiki.</p>
<p>Bali Spirit Festival ini merupakan salah satu bentuk kerinduan itu. Para peserta yang haus akan spiritual datang dari berbagai belahan benua, seperti Amerika, Eropa, Afrika, Asia, India. Sedangkan peserta Indonesia berdatangan dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Medan, Bali. Mereka berkumpul menjadi satu komunitas spiritual. Perbedaan warna kulit tidak menjadi halangan bagi mereka untuk saling berkomunikasi, berbagi rasa dan pikiran, bercengkerama, saling belajar dan menyerap inspirasi demi pencerahan jiwa.</p>
<p>Hal itu misalnya diungkapkan oleh salah satu peserta, Elsi Siswianti. Elsi adalah instruktur yoga dari Jakarta. Dia baru pertama kali ikut dalam festival ini. Dia mengatakan festival ini memberinya banyak pengalaman berharga yang tak terlupakan. Karena selain bisa berkumpul dengan peminat/penekun yoga dan spiritual dari berbagai negara, dia juga bisa bertemu langsung dengan guru-guru yoga kelas dunia.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG_1891.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-461" title="IMG_1891" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG_1891-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>“Dalam festival ini kita merasakan kebersamaan, persaudaraan dan persatuan, walaupun berasal dari negara yang berbeda-beda. Karena menyadari bahwa kita sama-sama ciptaan Tuhan. Kegiatan ini sangat bermanfaat dan bisa dijadikan conton teladan,” tutur wanita cantik ini.</p>
<p><strong>Generasi Bunga</strong></p>
<p>Festival ini terkesan seperti perkampungan kaum <em>hippies</em> atau kaum <em>gipsy</em>. Sejumlah peserta tampak mengenakan dandanan dan aksesori nyentrik yang cukup mengundang perhatian. Sekilas festival ini seperti diliputi aroma kerinduan akan kebangkitan Generasi Bunga (The Flower Generation) yang pernah menjadi ikon gaya hidup pada tahun 1960-an hingga 1970-an, baik di Amerika maupun belahan dunia lainnya.</p>
<p>Generasi Bunga atau yang biasa disebut kaum <em>hippies</em> pada jamannya memang dilandasi semangat anti kemapanan, menolak perang, memuliakan cinta dan perdamaian. Mereka adalah generasi yang mengisi kehampaan jiwanya dengan mengembara ke Timur, demi menyerap aura spiritual. Mereka adalah generasi yang merindui kebebasan, merayakan kemerdekaan jiwa. Namun pada banyak kasus, sebagian dari mereka terjebak dalam asap mariyuana, demi meraih kondisi ektase.</p>
<p>Dalam festival ini bisa disaksikan bagaimana arwah-arwah Generasi Bunga bangkit kembali. Hal itu misalnya bisa diperhatikan dari gaya dandanan dan aksesori yang menghiasi tubuh sejumlah peserta. Terlihat gadis-gadis manis bermata biru dengan santai berpakaian ala kadarnya, menyelipkan bunga di telinga, memakai ikat kepala, mengenakan kalung dan gelang manik-manik. Yang lelaki bertelanjang dada dengan rambut gondrong dan brewok awut-awutan. Tatto beraneka rupa juga menghiasi tubuh sejumlah peserta, sebagai keindahan sekaligus simbol eksistensi.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/40.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-462" title="40" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/40-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Aroma Generasi Bunga lebih terasa lagi dalam sebuah gubuk sederhana yang dibubuhi plang nama “Balifornia Bamboo”. Gubuk yang terbuat dari anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu dibangun secara kolaboratif oleh orang-orang Bali dan Amerika. Di depan gubuk dipasang rangkaian bunga dan bermacam tulisan yang menjelaskan visi dan misi mereka. Di dalam gubuk, terlihat beberapa peserta (laki-perempuan) duduk santai sambil berdiskusi perihal spiritual. Di saat lain mereka saling berpelukan dan berbagi kasih, tidur-tiduran dengan posisi tumpang tindih. Pada mata mereka terbaca kerinduan ingin kembali ke dunia kanak-kanak, kepada kemurnian jiwa.***</p>
<p>(Tulisan ini dimuat di Majalah ARTI edisi 27, Mei 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/05/07/kerinduan-spiritual-generasi-bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kilau Permata di Pasar Burung</title>
		<link>http://jengki.com/2010/04/14/kilau-permata-di-pasar-burung/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/04/14/kilau-permata-di-pasar-burung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 08:03:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Wayan Sunarta
Seorang lelaki paruh baya dengan senter kecil di tangan nampak asyik mengamati sebutir batu permata mirah Birma (ruby from Burmese). Batu permata berwarna merah menyala dengan kilau sinar bintang (star) berjari enam yang tajam itu begitu memukaunya.
“Ini mirah yang cukup langka. Kristalnya bening dan ber-star,” ujar Handri dengan nada sedikit promosi.
Lelaki paruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Wayan Sunarta</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/permata-di-pasar-burung-11.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-453" title="permata-di-pasar-burung-(1)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/permata-di-pasar-burung-11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Seorang lelaki paruh baya dengan senter kecil di tangan nampak asyik mengamati sebutir batu permata mirah Birma (ruby from Burmese). Batu permata berwarna merah menyala dengan kilau sinar bintang (star) berjari enam yang tajam itu begitu memukaunya.</p>
<p>“Ini mirah yang cukup langka. Kristalnya bening dan ber-star,” ujar Handri dengan nada sedikit promosi.</p>
<p>Lelaki paruh baya itu manggut-manggut sambil tersenyum tipis. Ketika dia tanya harga batu seukuran biji kacang kedelai itu, Handri menyebut angka dua juta rupiah. Tawar menawar pun terjadi. Akhirnya, Handri melepas batu itu dengan harga satu setengah juta rupiah.</p>
<p>Handri, pria asal Jawa Timur, merupakan salah satu dari sekian banyak pedagang batu permata di Pasar Burung di Jalan Veteran, Denpasar. Pada mulanya Pasar Burung merupakan pasar yang lebih banyak didominasi oleh pedagang dan pecinta burung. Namun lama kelamaan pedagang dan pecinta batu permata mendominasi Pasar Burung. Bahkan, di sana berdiri “Asosiasi Penggemar Batu Permata Bali” yang kebanyakan beranggotakan para pedagang batu permata di Pasar Burung.</p>
<p>Selain di Pasar Burung, kumpulan pedagang batu permata bisa juga ditemui di sebelah barat Pasar Kreneng, Denpasar. Hanya sedikit pedagang yang memiliki toko permanen. Kebanyakan menjajakan dagangan dengan sangat sederhana. Cincin-cincin dengan permata aneka ragam dalam kotak perhiasan disusun rapi di atas meja sederhana, bahkan ada yang digeber di lantai.</p>
<p>Pembeli mengamati dan menaksir batu permata sambil berdiri atau berkacak pinggang. Kalau merasa tertarik dengan permata tertentu, pembeli akan jongkok atau duduk di kursi sederhana dan mulai memilih-milih. Tawar menawar pun terjadi, kadang diisi dengan percakapan mengenai khasiat batu permata itu. Tujuan seseorang membeli batu permata juga macam-macam. Ada yang hanya menyukai keindahannya, ada yang untuk koleksi dan investasi. Bahkan tidak sedikit pembeli yang sibuk memburu batu-batu tertentu yang diyakini bertuah magis.</p>
<p>Setiap hari, dari pagi sampai sore, Pasar Burung selalu ramai dengan transaksi batu-batu permata. Sedangkan di Pasar Kreneng, pedagang menjajakan dagangan dari pagi hingga jam satu siang. Di kedua pasar tersebut banyak juga berkeliaran calo batu permata. Para calo ini memiliki kelompok tersendiri.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/permata.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-454" title="permata" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/permata-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Batu-batu permata yang dijajakan di Pasar Burung dan Kreneng beraneka ragam. Mulai dari jenis akik (agate), biduri sepah (tiger eyes), mata kucing (cat eyes), sitrin (citrine), giok (jade), pirus (turquis), kuarsa, kristal, obsidian, biduri bulan (moonstone), kecubung pengasihan (ametis), kalimaya (opal) hingga permata berkelas seperti jamrud (emerald), blue safir (blue sapphire), mirah (ruby). Namun, mesti berhati-hati, karena permata palsu juga banyak beredar di kedua pasar ini. Jika ingin membeli permata mesti mengajak teman yang benar-benar paham tentang seluk beluk batu permata.</p>
<p>“Saya pernah rugi membeli blue safir. Saya pikir asli, ternyata blue safir masakan,” ujar Parwata yang iseng-iseng membeli permata di Pasar Kreneng. Yang dimaksud batu masakan adalah jenis permata palsu yang diproses pabrik. Untung saja dia tidak rugi banyak, cuma seratusan ribu rupiah.</p>
<p>Harga batu-batu permata bervariasi, dari sepuluhan ribu hingga ratusan juta rupiah. Memang tidak ada standar harga yang baku. Semua tergantung jenis, ukuran, kelangkaan dan mitos-mitos tertentu yang dilabelkan pada sebiji permata. Selain itu, tergantung juga pada tawar menawar dan keakraban antara penjual dan pembeli. Harga untuk pelanggan setia tentu relatif berbeda dengan pembeli baru.</p>
<p>“Kalau permatanya berjenis kresnadana, harganya bisa sampai ratusan juta rupiah. Itu juga tergantung dari ukuran dan kondisi batunya. Orang Bali banyak mencari batu jenis ini,” kata Handri.</p>
<p>Kresnadana merupakan sebutan orang Bali untuk batu permata safir hitam (black sapphire) dengan nuansa kehijauan/kebiruan yang kilaunya sangat indah dan unik. Kilau sinarnya berstar enam dengan bias warna bernuansa kuning dan merah yang gemerlap. Permata ini sangat langka dan unik. Banyak penggemar permata tergila-gila dan memburu batu ini. Dan tentu saja rela melepaskan uang hingga ratusan juta rupiah.</p>
<p>“Permata kresnadana dipercaya membawa kemakmuran, kebijaksanaan dan melanggengkan kekuasaan,” tutur Mangku Bajra, seorang penggemar batu permata dari Sanur.</p>
<p>Selain kresnadana, batu permata yang banyak dicari orang Bali adalah permata berjenis rambut sedana atau kecubung rutil (rutilated quarts). Bentuk permata ini bening kristal, namun di dalamnya terdapat rambut/bulu berwarna kuning keemasan yang seringkali letaknya tak beraturan. Orang Bali, terutama yang bekerja sebagai pedagang, sering mengaitkan batu permata ini dengan kepercayaan kepada Dewa Rambut Sedana atau Dewa Uang. Aura permata ini diyakini melancarkan rejeki dan membawa keberuntungan dalam berdagang atau berbisnis.</p>
<p>Selain batu permata, banyak pembeli yang mencari benda-benda yang diyakini bertuah dan bernuansa mistik, seperti les kelor, les dadap, les gedebong, besi kuning, rantai babi, keris bertuah, buluh perindu, kayu panca suda, kul buntet (fosil keong). Les adalah sebutan untuk inti kayu atau kayu yang telah membatu dan seringkali digosok atau dipoles menjadi permata. Les kelor, besi kuning, rantai babi, dipercaya mampu membuat pemakainya kebal senjata tajam dan anti peluru. Namun benda-benda aneh ini sulit dipercayai keasliannya. Misalnya, fosil kayu berwarna hitam sering dijual sebagai les kelor. Bagaimana bisa mempercayai sebongkah atau sebiji fosil kayu yang usianya jutaan tahun sebagai kayu kelor, dadap, gedebong dan sebagainya?</p>
<p>Di antara batu-batu permata tentu tak ada yang mengalahkan keunikan batu akik gambar. Dan, tentu saja yang paling dicari dan langka adalah akik brumbun atau panca warna (lima warna). Sebutan lokal untuk jenis akik tertentu pun bermacam-macam, seperti akik madu, akik hati ayam, akik lumut, akik sulaiman, akik mani gajah, akik api, akik combong, dan sebagainya. Wilayah Indonesia, terutama daerah Jawa Barat dan Kalimantan, sangat kaya dengan berbagai jenis batu akik dan jasper. Di Pasar Burung dan Kreneng juga bisa ditemui aneka macam batu akik, baik yang masih bahan mentah, maupun yang sudah dipoles. Harganya pun relatif murah.</p>
<p>“Untuk akik biasa, harganya cuma sepuluh sampai dua puluh ribu rupiah per biji. Namun yang berisi gambar-gambar tertentu, harganya bisa sampai ratusan ribu hingga jutaan rupiah,” ujar Udin, seorang pedagang akik di Pasar Kreneng.</p>
<p>Karena relatif murah dan unik, banyak pecinta batu permata yang secara khusus memburu akik-akik gambar. Gambar atau motif itu terbentuk dari serat, urat, dan warna-warna alami batu itu sendiri. Dan tentu saja sangat tergantung pada keahlian dan kejelian tukang gosok batunya sehingga gambar yang diinginkan bisa terlihat lebih jelas. Gambar pada batu akik bisa bermacam-macam rupa. Secara umum dikelompokkan ke dalam gambar figur (manusia), tokoh pewayangan, hewan, tumbuhan, bunga, lanskap alam, angka, huruf, senjata, dan simbol-simbol tertentu.</p>
<p>Biasanya pedagang telah menyortir batu-batu akik yang dianggap berisi gambar menarik untuk dijual dengan harga relatif lebih mahal. Batu akik yang dianggap kurang istimewa akan dijual eceran atau kodian (20 biji). Membeli kodian tentu harganya jauh lebih murah, berkisar antara seratus hingga dua ratus ribu rupiah per kodi, tergantung nego.</p>
<p>Untuk mendapatkan batu akik gambar yang diinginkan, seorang pembeli mesti rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih dan meneliti sekian banyak akik yang bertebaran di meja pedagang. Imajinasi sangat berperanan penting dalam mengamati dan meneliti setiap batu akik itu. Karena kebanyakan akik yang kurang istimewa, bentuk gambarnya abstrak atau tak beraturan. Namun, di sinilah letak seni dan kenikmatan memburu batu akik gambar. Kalau lagi beruntung, pembeli bisa mendapatkan batu akik gambar naga, gambar macan, atau gambar-gambar unik lainnya dengan harga murah.</p>
<p>“Baru-baru ini saya dapat akik gambar naga. Sepintas gambarnya abstrak, namun setelah saya teliti lebih cermat ternyata ada gambar naga menyemburkan api. Saya jual satu juta rupiah kepada kolektor, padahal belinya cuma sepuluh ribu rupiah,” tutur Wayan Sudha, penggemar batu permata dari Grenceng, Denpasar.</p>
<p>Karena banyaknya penggemar batu akik gambar, maka pemalsuan juga sangat sering terjadi. Gambar tertentu yang paling sering diburu, dipalsukan dengan teknik khusus oleh beberapa pemasok dan pedagang batu permata. Kalau teknik pemalsuannya kurang canggih akan jelas terlihat gambar yang memang sengaja dibuat manusia, bukan murni dari alam. Gambar yang paling sering dipalsukan, di antaranya gambar naga, burung, huruf sakral, gambar keris, salib, tapak dara (tanda tambah).</p>
<p>Suasana transaksi batu permata di Pasar Burung dan Kreneng akan selalu ramai, dan bahkan mungkin semakin bertambah ramai. Sebab bisnis batu permata sangat menjanjikan seiring semakin bertambahnya penggemar batu-batu permata.***</p>
<p>(versi Bahasa Inggris dimuat di The Jakarta Post, Kamis, 1 April 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/04/14/kilau-permata-di-pasar-burung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rudat, Kesenian Islam yang Mengesankan</title>
		<link>http://jengki.com/2009/11/11/rudat-kesenian-islam-yang-mengesankan/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/11/11/rudat-kesenian-islam-yang-mengesankan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 09:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[ 
Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Siang itu, warga Muslim di Kecicang, Karangasem, berkerumun dan berdesak-desakan di sebuah lapangan kecil tak jauh dari masjid. Laki-perempuan, tua-muda, anak-anak kecil, semua menampakkan wajah sumringah. Mereka disuguhkan pementasan rudat. Mahdan, warga Kecicang, khusus mengundang kelompok kesenian rudat untuk memeriahkan pesta perkawinannya.
“Kelompok rudat itu dari kampung Kecicang,” ujar Mahdan, yang pernah menjadi anggota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"> </p>
<p align="center">Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-413" title="rudat" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/rudat-300x225.jpg" alt="rudat" width="300" height="225" />Siang itu, warga Muslim di Kecicang, Karangasem, berkerumun dan berdesak-desakan di sebuah lapangan kecil tak jauh dari masjid. Laki-perempuan, tua-muda, anak-anak kecil, semua menampakkan wajah sumringah. Mereka disuguhkan pementasan rudat. Mahdan, warga Kecicang, khusus mengundang kelompok kesenian rudat untuk memeriahkan pesta perkawinannya.</p>
<p>“Kelompok rudat itu dari kampung Kecicang,” ujar Mahdan, yang pernah menjadi anggota kelompok rudat di Kecicang.</p>
<p>Tak lama kemudian, satu regu pasukan rudat memasuki lapangan diiringi tetabuhan musik yang rancak. <em>Ance</em> atau komandan pasukan memberi aba-aba memakai lepri/sumpritan dan mengatur barisannya dengan gerak-gerik yang terkadang lucu. Penonton tertawa-tawa senang. Gadis-gadis berkerudung tersenyum simpul. Anak-anak kecil terkekeh-kekeh sambil bertepuk tangan.</p>
<p>Penampilan pasukan rudat itu memang menggelikan. Pemain yang rata-rata bertubuh kurus, meski ada juga yang tegap, mengenakan kostum unik, mirip prajurit. Dari segi kostum yang dikenakan, pasukan rudat terbagi dua. Barisan depan yang berjumlah 4 orang memakai kostum hitam lengkap dengan berbagai atribut, berselempang gemerlapan, bertopi mirip perwira, dan berkaca mata hitam. Barisan belakang yang berjumlah 12 orang mengenakan kostum serba putih, berselempeng merah menyala, berkopiah hitam. <em>Ance</em> atau komandan berada paling depan, memegang pedang komando.</p>
<p>“Tidak ada patokan khusus untuk jumlah pamain rudat. Namun, biasanya berjumlah 21 orang,” kata Mahdan.</p>
<p>Pasukan rudat memperagakan formasi baris-berbaris dan gerak-gerak bela diri sambil menyanyikan lagu dengan syair berbahasa Melayu dan Arab. Mereka bergerak ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang. Sesekali meninju, menendang, menangkis, memluntir, memasang kuda-kuda. Pada beberapa adegan, pasukan membentuk formasi memutari lapangan. Mereka terus menyanyi diiringi musik yang rancak. Komandannya terus memberi aba-aba sambil memeragakan gerak-gerak silat dan mengacung-acungkan pedang.</p>
<p>Pemain musik terdiri dari beberapa orang tua. Alat-alat musik yang dipakai adalah rebana dua buah, <em>jidur</em> (rebana besar) satu buah, <em>trenteng</em> (drum kecil) satu buah. Musik ditabuh bertalu-talu menambah semarak suasana. Pasukan rudat semakin bersemangat menarikan gerak-gerak silat. Lagu-lagu yang dinyanyikan berupa “Salam Mun Salam”, “Selamat Datang”, “Ya Muhaimin”, dan beberapa lagu pesanan.</p>
<p> “Lagu pesanan sesuai dengan jenis acaranya. Kalau acaranya perkawinan, lagu pesanan yang dibawakan tentang perkawinan,” kata Mahdan.</p>
<p> Biasanya, pementasan rudat terbagi menjadi tiga bagian penting. Bagian pertama berupa pembukaan yang berisi salam dan tabik, permisi kepada penonton. Bagian kedua berisi <em>salawat</em> (puji-pujian kepada nabi). Bagian ketiga adalah penutup yang berisi permintaan maaf kalau ada salah kata dan laku selama menari.</p>
<p>Sejak jaman kerajaan Karangasem, kesenian rudat telah berkembang dan tersebar di beberapa kampung Muslim di Karangasem. Seperti di kampung Kecicang, Ujung, Saren Jawa, Tohpati, Bukit Abuan. Selain di Karangasem, kesenian rudat juga bisa ditemui di kampung atau komunitas Islam di daerah lain di Bali, seperti di Denpasar (Kampung Jawa, Pemogan), Buleleng (Pegayaman), Klungkung, Jembrana.</p>
<p> <img class="alignright size-medium wp-image-414" title="rudat-2" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/rudat-2-300x225.jpg" alt="rudat-2" width="300" height="225" />Menurut seorang warga Kecicang, Mudahar (60), rudat di Karangasem pertama kali berkembang di Tohpati, Bebandem. Kemudian berkembang di Saren Jawa yang tidak jauh dari Tohpati, lalu ke Kecicang. Rudat di Tohpati dan Saren Jawa diperkenalkan oleh Raden Kyai Jalil yang berasal dari Jawa. Sampai kini makamnya masih ada di Tohpati.</p>
<p>“Rudat di Kecicang juga dikembangkan oleh orang Arab bernama Ami Ali Muhamad,” kata Mudahar.</p>
<p>Lebih lanjut Mudahar mengatakan, kesenian rudat di Karangasem memiliki ciri khas tertentu, yakni pada gerakan, langkah, formasi, dan adegan perang-perangannya. Kostumnya juga khas, yakni memakai gaya Turki. Nama kostumnya <em>kadet</em>. Pemain barisan depan yang berkostum hitam dan komandan rudat memakai kaca mata hitam.</p>
<p>            Di Kecicang terdapat dua kelompok rudat, yakni rudat dari Kelod-Kangin dan rudat dari Kelod-Kauh. Namun, kata Mudahar, kelompok rudat ini belum terorganisasi dengan baik, belum bersifat formal. Latihan masih bersifat insidental. “Jika ada undangan pentas, baru mereka latihan,” ujar Mudahar.</p>
<p>            Rudat biasanya dipentaskan berkaitan dengan perayaan-perayaan Islam, seperti acara perkawinan, sunatan, Maulud Nabi, atau pada saat Idul Fitri. Namun, kadangkala kelompok rudat juga diundang tampil pada acara-acara lain yang tidak berkaitan dengan perayaan Agama Islam. Misalnya, baru-baru ini kesenian rudat dipentaskan pada acara pembukaan lomba gamelan baleganjur di lapangan Bebandem, Karangasem.</p>
<p>“Biasanya kesenian rudat juga diundang pentas jika ada acara besar di Puri Karangasem,” kata Mudahar.</p>
<p> <img class="alignleft size-medium wp-image-415" title="rudat-3" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/rudat-3-300x168.jpg" alt="rudat-3" width="300" height="168" />Sampai saat ini, asal usul kesenian rudat masih simpang siur. Belum ada data pasti tentang sejarah kesenian ini. Ada yang mengatakan kesenian ini merupakan pengembangan dari <em>zikir zaman</em> dan <em>burdah</em>. Zikir zaman adalah pementasan zikir yang disertai gerakan pencak silat. Sedangkan burdah adalah jenis kesenian Islam berupa nyanyian yang diiringi tetabuhan musik rebana.</p>
<p>Sumber lain mengatakan, kesenian rudat berasal dari Turki. Masuk ke Indonesia bersamaan dengan penyebaran Agama Islam pada abad XV. Rudat berasal dari kata “raudah” yang berarti taman nabi yang terletak di Masjib Nabawi, Madinnah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/11/11/rudat-kesenian-islam-yang-mengesankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mangku Jenggo, Pematung dari Umanyar, Karangasem</title>
		<link>http://jengki.com/2009/09/14/mangku-jenggo-pematung-dari-umanyar-karangasem/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/09/14/mangku-jenggo-pematung-dari-umanyar-karangasem/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 01:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[Foto dan Teks Wayan Sunarta
 
Senja belum sempurna paripurna. Temaram cahayanya menelusupi celah-celah rimbun dedaunan. Mangku Jenggo asyik menatah sebongkah batu cadas hitam. Tangannya bergerak lincah memahat dan menakik cadas mengikuti alur dan lekuk-likunya. Perlahan namun pasti, cadas yang keras menjelma patung aneh dan unik.
 
Begitulah Mangku Jenggo. Seniman desa yang sangat bersahaja. Perawakannya tinggi kurus. Wajah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Foto dan Teks Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-383" title="mangku-jenggo-(1)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/09/mangku-jenggo-1-168x300.jpg" alt="mangku-jenggo-(1)" width="168" height="300" />Senja belum sempurna paripurna. Temaram cahayanya menelusupi celah-celah rimbun dedaunan. Mangku Jenggo asyik menatah sebongkah batu cadas hitam. Tangannya bergerak lincah memahat dan menakik cadas mengikuti alur dan lekuk-likunya. Perlahan namun pasti, cadas yang keras menjelma patung aneh dan unik.</p>
<p> </p>
<p>Begitulah Mangku Jenggo. Seniman desa yang sangat bersahaja. Perawakannya tinggi kurus. Wajah dan senyum lebarnya mencerminkan keluguannya. Sikapnya yang ramah membuat orang cepat akrab dengannya.</p>
<p> </p>
<p>Karya-karya Mangku Jenggo banyak bertebaran di halaman rumah dan ladangnya. Patung-patung bercorak primitif dan naif itu selalu menuntun imajinasi saya ke jaman batu. Mangku Jenggo menatah dan memahat batu cadas dengan cara yang sangat polos dan apa adanya. Namun justru di sanalah letak kekuatan artistiknya. Kesederhanaan pahatannya memancarkan aura magis. Figur manusia atau hewan dibuat dengan gaya distorsif sehingga wujud aslinya mengalami sublimasi. Bahkan sejumlah karyanya mirip <em>totem</em> atau patung-patung yang dipakai sarana upacara persembahan pada jaman berhala.</p>
<p> </p>
<p>Mangku Jenggo lahir di Dusun Umanyar, Desa Ababi, Kec. Abang, Karangasem, Bali. Dia tidak punya data pasti tentang hari kelahirannya. Yang jelas dia masih menyimpan ingatan ketika Gunung Agung meletus pada tahun 1963. “Saat itu, saya seusia anak TK. Saya bersama keluarga ikut dalam rombongan naik truk, mengungsi ke desa tetangga,” kenangnya.</p>
<p> </p>
<p>Tanah kelahirannya sangat kaya dengan kandungan batu cadas yang berusia ratusan tahun, bekas muntahan Gunung Agung. Berdasarkan data, Gunung Agung pernah meletus lebih dari lima kali sejak tahun 1800. Warga Umanyar banyak memanfaatkan batu-batu cadas hitam itu untuk membuat tugu atau <em>pelinggih</em> (bangunan suci). Pelinggih-pelinggih yang dikerjakan secara massal itu dijual hingga ke seluruh wilayah Bali, bahkan luar negeri. Hingga kini Umanyar dikenal sebagai salah satu pusat industri batu cadas hitam di Bali.</p>
<p> </p>
<p>Namun Mangku Jenggo memilih jalan lain. Dia tidak mau ikut-ikutan warga kebanyakan. Dia memanfaatkan batu cadas itu untuk membuat patung, sesuai selera seninya. “Saya lebih senang memahat patung ketimbang membuat <em>pelinggih</em>,” ujar Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Bermodalkan bakat alam, Mangku Jenggo memulai karirnya di bidang seni pahat dengan membuat patung-patung dan topeng dari kayu. Saat itu garapannya cenderung halus. Wujud patungnya kebanyakan figur manusia dan hewan. Secara berkala dia menitipkan hasil karyanya di beberapa artshop di Klungkung dan Batubulan.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-384" title="karya-mangku-jenggo-(10)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/09/karya-mangku-jenggo-10-300x225.jpg" alt="karya-mangku-jenggo-(10)" width="300" height="225" />Ketertarikannya pada batu cadas bermula ketika seorang sahabatnya meminta dia mengukir dan memahat sebongkah batu besar dengan motif dedaunan dan figur manusia. Pada awalnya dia menolak karena tidak terbiasa memahat batu, namun akhirnya dia menyanggupi. Dia nongkrong berlama-lama di depan batu dan berpikir keras bagaimana cara menggarap batu itu menjadi benda seni. Dia memulai proyek patung batu pertamanya dengan alat-alat pahat seadanya.</p>
<p> </p>
<p>“Lama kelamaan saya jadi ketagihan memahat batu. Saya kumpulkan bongkahan batu cadas yang saya gali dari ladang. Kemudian batu-batu itu saya pahat seadanya mengikuti wujud-wujud yang terbayang dalam pikiran saya,” tuturnya.</p>
<p> </p>
<p>Sejak itu, Mangku Jenggo memiliki keasyikan tersendiri bergaul dengan batu-batu cadas. Semakin hari karya-karyanya semakin bertambah banyak sehingga nyaris memenuhi halaman rumah dan kebunnya. Sebagian besar patung itu dipajangnya di tepi jalan kecil menuju rumahnya.</p>
<p> </p>
<p>Suatu kali, sekitar 19 tahun lalu, pelukis-pengembara Made Budhiana yang sering berkelana ke wilayah Karangasem merambah Dusun Umanyar bersama beberapa kawannya. Mereka mengendarai mobil jip butut. Suara jip itu mirip helikopter sehingga mengundang anak-anak berkerumun menyaksikan mobil aneh yang parkir persis di jalan menuju rumah Mangku Jenggo. Anak-anak dusun terheran-heran mengamati mobil jip yang bersuara helikopter. Sementara itu, Budhiana yang berpakaian ala koboi termangu-mangu di depan deretan patung unik karya Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>“Anak saya yang masih kecil bilang ada helikopter di pinggir jalan. Saya buru-buru keluar rumah. Saya kemudian berkenalan dengan pengendara ‘helikopter’ yang berambut gondrong. Itulah pertemuan pertama saya dengan Made Budhiana,” kenang Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Perkenalan Mangku Jenggo dengan Made Budhiana berkembang menjadi hubungan persahabatan yang terjalin hingga kini. Setiap ada kesempatan ke Karangasem, Budhiana mampir ke rumah Mangku Jenggo. Budhiana mengagumi hasil pahatan Mangku Jenggo yang cenderung kasar, polos dan mengandung kemurnian seniman otodidak. Budhiana cukup banyak mengoleksi karya-karyanya. Mangku Jenggo pun secara tidak langsung banyak menyerap pandangan-pandangan seni dan prinsip berkesenian dari Budhiana, termasuk idealisme sebagai seniman.</p>
<p> </p>
<p>“Budhiana itu guru saya, meski dia tidak mengajarkan saya memahat,” kata Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-385" title="karya-mangku-jenggo-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/09/karya-mangku-jenggo-2-300x168.jpg" alt="karya-mangku-jenggo-(2)" width="300" height="168" />Kini, telah lebih 20 tahun Mangku Jenggo menekuni seni patung. Dia telah menciptakan ribuan patung batu dengan berbagai model dan motif. Banyak karyanya telah terjual dan menjadi koleksi kawan-kawan dekatnya. Sebagian lagi masih berserakan di ladang dan halaman rumahnya. Namun dia mengatakan belum bisa sepenuhnya menggantungkan hidup dari hasil membuat patung.</p>
<p> </p>
<p>“Tidak setiap bulan ada orang yang membeli patung. Bagi saya membuat patung hanya untuk menyalurkan bakat seni. Saya juga mengerjakan hal-hal lain untuk menghidupi anak dan istri,” tutur Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Sebagaimana umumnya seniman otodidak di Bali, Mangku Jenggo juga dikarunia sejumlah keahlian lain. Selain pematung, dia juga piawai menabuh gamelan Bali. Sesekali dia diminta bantuan membuat <em>pelinggih</em> (bangunan suci) untuk pura. Dia pandai membuat bonsai dan menata taman. Dia terampil memijat dan mengobati keseleo atau salah urat. Dia masih setia bertani dan berkebun. Di kebunnya yang luas tumbuh jeruk Bali, salak, pisang, kelapa dan tanaman lain. Dia juga memelihara sapi dan babi.</p>
<p> </p>
<p>Di sela-sela waktu senggang, beberapa anak Umanyar berkumpul di rumah Mangku Jenggo. Mereka belajar membuat patung berbahan cadas ukuran kecil, asbak dan motif-motif lainnya. Dengan senang hati Mangku Jenggo menularkan ilmu memahatnya kepada anak-anak tersebut. “Saya senang kalau ada anak-anak yang mau tekun belajar membuat patung,” ujar Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Masa kanak-kanak Mangku Jenggo sendiri cukup memilukan. Ibunya meninggal ketika dia masih bayi. Ayahnya sakit-sakitan. Sejak kecil dia diasuh oleh kakeknya. Saat masih bocah dia sering sakit-sakitan. Menurut dukun, dia keberatan nama. Kemudian kakeknya mengganti namanya dari Made Pageh menjadi Made Jenggo. Kata “Mangku” di depan namanya merupakan gelar kehormatan yang diberikan masyarakat ketika dia dipilih menjadi <em>Pemangku</em>, pemimpin ritual/upacara Agama Hindu di pura keluarga besarnya.</p>
<p> </p>
<p>Mangku Jenggo hanya sempat mencicipi pendidikan resmi sampai kelas dua sekolah dasar. Sang kakek tidak mengijinkan dia sekolah. Padahal dia sangat ingin sekolah. Kakeknya sangat takut kehilangan dia. Maklum, dia adalah pewaris satu-satunya tanah keluarga, kebun dan ladang yang sangat luas. Dan dia adalah satu-satunya anak lelaki yang akan melanjutkan keturunan keluarganya.</p>
<p> </p>
<p>“Kakek selalu menjemput dan menyuruh saya pulang ketika saya berada di sekolah. Kakek bilang tidak ada gunanya sekolah. Cukup belajar di rumah saja,” kenang Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Di bawah bimbingan langsung kakeknya, Mangku Jenggo belajar aksara dan sastra Bali di rumah. Kakeknya juga mengajarkan ilmu pengobatan tradisional. Namun kegiatan yang paling sering dilakoninya ketika teman-teman sebayanya sekolah adalah membantu kakeknya mengurus kebun dan ladang yang sangat luas.</p>
<p> </p>
<p>Mangku Jenggo sangat dimanja oleh kakeknya. Kecuali sekolah, apa pun yang dimintanya selalu dituruti kakeknya. Hanya satu tujuan kakeknya, membikin dia betah di rumah. Ketika remaja lain masih naik sepeda gayung, dia sudah kebut-kebutan dengan sepeda motor. Saat itu, cap <em>brandes</em> atau brandal desa cukup melekat pada dirinya.</p>
<p> </p>
<p>Suatu kali Mangku Jenggo berniat merantau ke Denpasar. Dia ingin memperluas wawasan sambil bekerja dan belajar hidup di daerah orang. Namun, kakeknya lagi-lagi tidak mengijinkan. Kakeknya sangat cemas kehilangan dia. “Saat itu saya nekat. Saya merantau ke Denpasar. Namun tak berapa lama kemudian Kakek mencari dan menyuruh saya pulang,” ujar Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-386" title="karya-mangku-jenggo-(11)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/09/karya-mangku-jenggo-11-225x300.jpg" alt="karya-mangku-jenggo-(11)" width="225" height="300" />Merasa telah kehabisan akal dan kasihan dengan kakeknya, Mangku Jenggo akhirnya memutuskan menetap di tanah kelahirannya. Mengurus kebun dan ladang warisan kakeknya. Dia kemudian menikah dan dikarunia enam anak, satu laki dan lima perempuan. Sekitar lima tahun lalu, istrinya meninggal. Dan dua tahun setelah kepergian istrinya, dia menikah lagi dan dikarunia seorang anak perempuan.</p>
<p> </p>
<p>Kini, hampir setiap hari Mangku Jenggo menakik, menatah dan memahat batu-batu cadas hitam Umanyar menjadi patung-patung unik bernilai seni. Tidak ada lagi impian muluk-muluk dalam dirinya, kecuali terus mengabdikan hidup untuk berkesenian dan bermasyarakat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/09/14/mangku-jenggo-pematung-dari-umanyar-karangasem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedampal Belum Terjamah Listrik</title>
		<link>http://jengki.com/2009/06/19/kedampal-belum-terjamah-listrik/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/06/19/kedampal-belum-terjamah-listrik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 01:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[

Oleh: Wayan Sunarta
 
 
 (sebuah pura di Kedampal)


Ketika malam mulai merambati perbukitan beberapa anak nampak duduk di amben rumahnya. Mata mereka menerawang menembusi kegelapan malam di lembah Kedampal, tertuju kepada kerumunan cahaya jauh di bawah lembah yang berbatasan dengan lautan. 
“Bintang-bintangnya makin banyak ya!” seru seorang anak yang nampak begitu terpesona dengan kerumunan cahaya yang berasal dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 14pt;" lang="IN"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Oleh: Wayan Sunarta</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> <img class="size-medium wp-image-360    aligncenter" title="odalan-di-kedampall" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/06/odalan-di-kedampall-300x225.jpg" alt="odalan-di-kedampall" width="300" height="225" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> (sebuah pura di Kedampal)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Ketika malam mulai merambati perbukitan beberapa anak nampak duduk di amben rumahnya. Mata mereka menerawang menembusi kegelapan malam di lembah Kedampal, tertuju kepada kerumunan cahaya jauh di bawah lembah yang berbatasan dengan lautan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">“Bintang-bintangnya makin banyak ya!” seru seorang anak yang nampak begitu terpesona dengan kerumunan cahaya yang berasal dari lampu-lampu kafe, restaurant, villa, hotel, rumah penduduk di wilayah objek wisata Amed dan Tulamben. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Menyaksikan bintang gemintang di lembah merupakan hiburan mereka satu-satunya ketika malam yang gelap gulita mengepung wilayah Kedampal. Banyak anak yang tidak tahu kalau cahaya yang mereka anggap sebagai bintang gemintang itu berasal dari lampu listrik. Kedampal, sampai saat ini, memang belum terjamah listrik.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Kedampal termasuk desa tua yang berada di bawah perbekelan Datah, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali. Kedampal berlokasi di lereng timur Gunung Agung, sekitar 850 meter di atas permukaan laut. Jalan menuju ke Kedampal cukup terjal dan berliku-liku membelah lereng-lereng bukit dengan aspal yang rusak di sana-sini akibat tergerus air ketika banjir. Ketika musim hujan tiba, air meluap menggerus jalan aspal yang berlokasi di daerah rendah. Anak-anak pun jarang yang masuk sekolah kalau hujan tiba. Mereka takut dihanyutkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">blabar</em>, banjir bercampur lumpur yang datang dari lereng Gunung Agung. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Hanya ada satu sekolah dasar di Kedampal, bernama SDN 5 Datah yang berlokasi tidak jauh dari Pura Puseh desa adat setempat. Baru-baru ini dibuka sebuah sekolah menengah pertama, bernama SMP 1 Atap. Sekolah itu baru berjalan tiga tahun, masih menumpang di SDN 5 Datah. Tenaga pengajarnya juga masih menggunakan guru di SD tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Kedampal sebenarnya termasuk daerah yang sangat indah. Puncak Gunung Agung yang anggun terlihat sangat dekat. Udaranya sejuk, hutan-hutannya masih lebat dengan pohon besar-besar yang telah tumbuh ratusan tahun. Pemandangan lembah di sana sungguh memesona mata. Dari ketinggian lereng, bentangan biru lautan berpadu hijau lembah memancarkan keindahan tersendiri. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Namun yang ironis, sampai saat ini Kedampal, salah satu daerah miskin dan terpencil di Karangasem, belum bisa menikmati listrik. Penduduk menjalani kehidupan hampir dalam keadaan terisolasi dari banyak informasi dan hiburan. Karena tidak ada listrik, mereka tidak bisa menikmati siaran televisi. Baru-baru ini muncul sebuah televisi di rumah seorang warga di Kedampal. Listrik diperoleh dari sumber terdekat di Desa Datah dengan membentangkan kabel ribuan meter ke rumahnya. Meski agak susah menangkap siaran, televisi itu seringkali ditonton beramai-ramai oleh anak-anak dan remaja. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Beberapa warga mencari hiburan dari radio yang dihidupkan dengan tenaga baterai. Warga di sana juga jarang yang memiliki ponsel (telepon genggam) karena alat ches baterai tidak akan berfungsi tanpa ada listrik. Warga yang memiliki ponsel harus meminta/meminjam listrik ke banjar tetangga yang terdekat untuk menches baterai ponselnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Warga Kedampal memang sangat haus dengan hiburan. Baru-baru ini sebuah yayasan kesenian di Karangasem mengadakan pemutaran film di Jaba Pura Puseh Kedampal. Tenaga listrik diambil dari genzet yang khusus dibawa untuk kegiatan itu. Warga turun dari lereng-lereng bukit berbondong-bondong datang menonton film Wayang Cengblong. Meski tidak begitu mengerti dengan jalan ceritanya, karena mereka jarang nonton wayang, mereka nampak antusias menonton sampai film yang berlangsung tiga jam itu selesai diputar. Mereka tetap tidak mau pulang ketika panitia berkemas-kemas membereskan alat-alat pemutaran film. Mungkin mereka berpikir akan diputar film berikutnya sampai menjelang subuh.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Kalau ada <em style="mso-bidi-font-style: normal;">odalan</em> (upacara agama) besar di Pura Puseh atau pura lainnya, warga menyewa genzet untuk membangkitkan listrik dan menerangi pura dengan beberapa lampu neon yang hemat energi. Warung-warung sederhana yang banyak muncul saat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">odalan</em> juga menyewa masing-masing sebuah lampu neon untuk menerangi warung ala kadarnya. Semua bersumber dari sebuah genzet.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Ketika malam, warga menggunakan penerangan dari lampu minyak tanah. Untuk memasak makanan mereka menggunakan kayu bakar. Ketika terjadi krisis minyak tanah, warga Kedampal yang paling kena imbas. Mereka harus berhemat menggunakan minyak tanah untuk penerangan di malam hari.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">“Tanpa lampu minyak tanah, desa ini akan menjadi gelap gulita di malam hari,” ujar Ketut Giri, seorang anak muda dari Kedampal.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Sementara itu Wayan Daging, salah satu tokoh desa, menjelaskan bahwa mereka telah berkali-kali mengajukan permohonan listrik kepada pemerintah dan anggota dewan. Namun sampai sekarang belum ada hasil. Ada beberapa hambatan listrik susah masuk ke wilayah Kedampal. Antara lain, secara geografis wilayah Kedampal sangat sulit dijangkau, letak rumah penduduk terpencar-pencar, biaya yang dikeluarkan PLN tidak sebanding dengan pemasukannya. Maka kemungkinan permohonan listrik hanya akan membeku menjadi permohonan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Ironisnya setiap akan menjelang Pemilu, banyak caleg yang mengunjungi desa itu mengumbar janji macam-macam. Bagi para caleg di wilayah Karangasem, terutama kecamatan Abang, wilayah Kedampal merupakan potensi suara yang lumayan besar untuk mendongkrak perolehan suaranya. Penduduk Kedampal berjumlah sekitar 470 KK atau 1950 jiwa yang menetap terpencar-pencar di tengah ladang dan lereng-lereng perbukitan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">“Jadi jangan heran kalau baru-baru ini banyak mobil mewah parkir di Kedampal. Mereka itu para caleg yang ingin meraup suara di Kedampal. Umbar janji ini-itu, namun satu pun tak terbukti,” ujar Giri dengan nada sinis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Warga Kedampal hidup dari hasil bercocok tanam di ladang dan kebun. Hasilnya berupa jambu mete (musiman), ketela, singkong, kacang-kacangan. Mereka juga mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya ke desa tetangga dan dipakai untuk keperluan sehari-hari. Anak-anak muda Kedampal banyak yang memilih merantau ke Denpasar dan Kuta. Mereka bekerja tanpa pendidikan dan keterampilan yang memadai. Maka pekerjaan yang dilakoni hanya sebatas menjadi pembantu rumah tangga, penjaga toko, buruh junjung, buruh bangunan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Lalu, sampai kapankah daerah Kedampal akan gelap gulita tanpa listrik? Ini merupakan PR besar untuk pemerintah dan anggota dewan di Karangasem agar lebih sungguh-sungguh memerhatikan kehidupan rakyat jelata di pedesaan.***</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/06/19/kedampal-belum-terjamah-listrik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Bawah Lindungan Ida Bhatara Arak Api</title>
		<link>http://jengki.com/2009/05/28/di-bawah-lindungan-ida-bhatara-arak-api/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/05/28/di-bawah-lindungan-ida-bhatara-arak-api/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 10:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Wayan Sunarta
 

 
Ni Nyoman Noti (50) dengan sabar meniup bara di dalam tungku, perapian dari tanah liat, untuk menjaga api agar tetap menyala. Lebih dari tiga jam dia menjerang atau merebus tuak dalam belek, kaleng bekas tempat minyak goreng, yang tampak hitam dan kusam terbungkus jelaga. Di depan, tidak jauh dari belek, tampak jerigen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Oleh : Wayan Sunarta</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><img class="aligncenter size-medium wp-image-356" title="buat-arak-merita" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/05/buat-arak-merita-225x300.jpg" alt="buat-arak-merita" width="225" height="300" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Ni Nyoman Noti (50) dengan sabar meniup bara di dalam tungku, perapian dari tanah liat, untuk menjaga api agar tetap menyala. Lebih dari tiga jam dia menjerang atau merebus tuak dalam <em style="mso-bidi-font-style: normal;">belek</em>, kaleng bekas tempat minyak goreng, yang tampak hitam dan kusam terbungkus jelaga. Di depan, tidak jauh dari <em style="mso-bidi-font-style: normal;">belek</em>, tampak jerigen besar yang juga telah kusam. Sebentang <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pengantang</em>, buluh bambu sepanjang satu setengah meter, menghubungkan lubang belek yang tertutup rapat dengan lubang jerigen besar. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">“<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Tiang</em> (saya) sedang <em style="mso-bidi-font-style: normal;">mumpunin</em>,” ujar Noti.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span lang="IN">Mumpunin</span></em><span lang="IN"> adalah istilah lokal untuk proses menyuling tuak menjadi arak, minuman beralkohol yang sangat populer di Bali. Ni Nyoman Noti adalah salah seorang pembuat arak di Banjar Adat Merita, Kecamatan Abang, Karangasem, Bali. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Kelian Banjar Adat Merita, I Gede Tulamben (52), mengatakan ada sekitar 400 KK (Kepala Keluarga) yang berprofesi sebagai pembuat arak dari 480 KK yang menghuni Merita. “Jadi mayoritas penduduk Merita berprofesi sebagai pembuat arak,” kata I Gede Tulamben.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Keahlian penduduk Merita membuat arak diwariskan secara turun temurun sejak jaman nenek moyang mereka. Proses penyulingan arak yang dikerjakan oleh lelaki dan perempuan telah menjadi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">home industri</em> di Merita. I Gede Tulamben memperkirakan tradisi membuat arak di Merita telah berlangsung sejak tahun 1700-an.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Proses membuat arak secara tradisional juga bisa ditemui di beberapa tempat di Kecamatan Sidemen, Karangasem. Berbeda dengan arak Merita yang umumnya disuling dari tuak <em style="mso-bidi-font-style: normal;">ental</em> (lontar/siwalan), di Sidemen kebanyakan proses penyulingan arak menggunakan bahan baku tuak <em style="mso-bidi-font-style: normal;">nyuh</em> (kelapa). Tradisi membuat arak juga berkembang di beberapa tempat di sekitar Merita, seperti Culik dan Kubu. “Dulu ketika gadis Merita menikah ke luar desa, dia akan membawa dan mengembangkan teknik membuat arak di tempatnya yang baru,” ujar I Gede Tulamben.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Namun produser arak tradisional terbesar di Bali terdapat di Merita. Arak Merita yang sering disebut <em style="mso-bidi-font-style: normal;">arak Karangasem</em> atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">arak api</em> terkenal hingga ke Denpasar, bahkan luar Bali. “Biasanya para pemasok dan pedagang arak dari berbagai tempat akan datang ke Merita untuk membeli arak,” kata Ni Nyoman Noti.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Di Merita harga sebotol arak murni (tanpa campuran) kelas/nomor satu Rp.10.000, kelas dua Rp.8.000, kelas tiga Rp.5.000. Harga tersebut meningkat secara bervariasi ketika arak dijual di luar Merita. Sebagai contoh, di Kota Amlapura (ibu kota kabupaten Karangasem) harga sebotol arak kelas satu bisa mencapai Rp.15.000. Sedangkan di Denpasar harga sebotol arak kelas satu bisa mencapai Rp.20.000. Kadangkala sampai di Denpasar arak sudah tidak murni lagi, biasanya dicampur dengan air, demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Bahkan pernah arak dicampur dengan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">methanol</em> sehingga mengakibatkan kebutaan bahkan kematian bagi peminumnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Proses membuat arak kelas/nomor satu sangat lama dan rumit. Perlu waktu 4 jam merebus tuak untuk menghasilkan uap yang bermutu. Api dalam tungku tidak boleh besar dan tidak boleh kecil. Bahan bakar yang dipakai biasanya kayu pilihan, seperti kayu pohon jambu mente, pohon juwet dan intaran. Satu kali proses penyulingan memerlukan tuak sebanyak 3 ember kecil, hitungan umum yang dipakai produser arak di Merita, atau sekitar 10 liter tuak. <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Belek</em> tidak boleh diisi penuh agar uap tuak lebih mudah mengalir ke dalam jerigen melalui <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pengantang</em>. Dari satu kali proses penyulingan itu akan didapat sekitar 1,5 liter arak kelas/nomor satu. Sedangkan untuk membuat arak kelas dua, tuak direbus 2-3 jam dengan nyala api yang cukup besar. Proses membuat arak kelas dua lebih cepat dibandingkan dengan arak kelas satu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Ni Nyoman Noti, misalnya, setiap hari <em style="mso-bidi-font-style: normal;">mumpunin</em>, dari dinihari hingga jam satu siang, bahkan tidak jarang hingga jam sepuluh malam. Di sela-sela kegiatan membuat arak, dia tetap menjalankan tugas-tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Kalau cuaca lagi bagus, sehari Nyoman Noti bisa menghasilkan 4-5 botol arak kelas satu. “Kalau musim hujan tuak susah didapat dan mutunya kurang bagus untuk bahan pembuatan arak,” jelas Noti.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Sebelum orang mengenal belek dan jerigen, dahulu wadah proses penyulingan arak menggunakan periuk tanah liat dan guci. Periuk tanah liat untuk merebus tuak dan guci untuk menampung uap hasil penyulingan. “Uap yang akan menjadi arak kelas satu bunyinya <em style="mso-bidi-font-style: normal;">meklenting</em> (berbunyi bening) ketika jatuh ke dalam guci,” jelas Nyoman Kariata, warga Merita yang pernah membantu neneknya membuat arak. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Sementara itu, I Gede Nyoman Geria, warga Merita, menjelaskan ciri-ciri arak kelas satu adalah banyak keluar <em style="mso-bidi-font-style: normal;">lobong</em> (buih) ketika dikocok. Arak kelas dua <em style="mso-bidi-font-style: normal;">lobong</em> lebih sedikit dan arak kelas tiga tidak keluar <em style="mso-bidi-font-style: normal;">lobong</em>. “Arak kelas satu kalau disulut dengan korek, apinya menyala kebiru-biruan, daya tahannya sangat kuat dan lama. Arak kelas dua nyala apinya berwarna agak kekuningan dan lebih lemah. Sedangkan arak kelas tiga tidak menyala ketika disulut,” jelas Geria. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Arak nomor satu biasanya dipakai sebagai jamu obat kuat dalam bentuk arak ramuan atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">arak base</em> dan campuran obat luar yang biasa disebut <em style="mso-bidi-font-style: normal;">boreh</em> untuk mengatasi rematik dan gatal-gatal. Umumnya orang tidak berani meminum arak nomor satu tanpa campuran minuman lain. Kadar alkohol arak nomor satu sangat tinggi, kira-kira lebih dari 40 %. Untuk pesta minum, orang biasanya memilih arak kelas/nomor dua, itu pun sering dicampur dengan madu (arak madu), coca-cola (arak kuk), es batu (arak es), atau air jeruk. Arak kelas tiga biasanya dipakai untuk <em style="mso-bidi-font-style: normal;">arak tabuh</em>, salah satu elemen penting dalam setiap ritual Hindu di Bali.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Ida Bhatara Arak Api</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Setiap satu kali proses penyulingan tidak selalu akan mendapatkan arak kelas satu. Kadangkala meski merebus tuak hingga empat jam, hasil yang didapat adalah arak kelas dua.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>“Mendapatkan arak api kelas satu juga tergantung rejeki dan anugerah dari Ida Bhatara Arak Api,” jelas Nyoman Noti.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Pembuat arak di Merita sangat percaya dengan kekuatan Dewa Arak Api atau biasa disebut <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Ida Bhatara Arak Api</em> yang berstana di sebuah pura keluarga atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">dadia</em> yang bernama Njung Pura. Setiap upacara atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Ngusaba</em> <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Dangsil</em> yang jatuh pada Purnama <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Kaenam</em> (sekitar Desember) dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Ngusaba Ayu</em> pada Purnama <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Kadasa</em> (sekitar pertengahan Maret) menurut perhitungan kalender Bali, Ida Bhatara Arak Api diiring atau diundang ke Pura Desa. Saat itu penduduk Merita yang berprofesi sebagai pembuat arak akan menghaturkan sesajen khusus dan melakukan persembahyangan bersama di hadapan Ida Bhatara Arak Api, memohon berkah dan perlindungan agar produksi arak tetap lancar di Merita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Ida Bhatara Arak Api merupakan pelindung dan penganugerah para pembuat arak di Merita. Sebelum memulai proses membuat arak, warga akan menghaturkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">canang</em>, sesajen khusus, di atas <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pelangkiran</em> (tempat menaruh sesajen) di dapur dan di atas tungku untuk memohon perlindungan dan berkah Ida Bhatara Arak Api. “Setiap <em style="mso-bidi-font-style: normal;">rehaninan</em> (hari-hari penting), seperti Purnama, Tilem, Kajengkliwon, Anggar Kasih, kami juga menghaturkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">canang sari</em> dan tipat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">kelan</em>,” ujar Nyoman Noti.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Karena kemurahatian Ida Bhatara Arak Api, kadangkala para pembuat arak bisa mendapatkan arak <em style="mso-bidi-font-style: normal;">barak</em> (merah) dan arak <em style="mso-bidi-font-style: normal;">selem</em> (hitam) pada saat proses penyulingan. Arak jenis ini tidak banyak, hanya beberapa tetes. Menurut Nyoman Noti, arak barak berwarna merah kecoklatan seperti air teh, sedangkan warna arak selem seperti injin (beras hitam kusam). Arak barak dan selem banyak dicari orang untuk ramuan obat penyakit tertentu. Arak jenis langka ini disimpan dalam botol khusus sebagai jimat yang ditaruh di atas <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pelangkiran</em> dan sewaktu-waktu diberikan sedikit kepada orang yang memerlukannya untuk obat. Warga yang mendapatkan berkah arak barak atau arak selem akan menghaturkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">caru</em>, sesajen khusus, berupa <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pitik</em> <em style="mso-bidi-font-style: normal;">biing</em> (anak ayam berwarna merah kecoklatan) atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pitik selem</em> (anak ayam warna hitam) sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Ida Bhatara Arak Api. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Selain itu, kepercayaan yang diwariskan dari leluhur orang-orang Merita adalah tidak boleh menghina atau mencela arak Merita. Karena hal itu akan membuat Ida Bhatara Arak Api murka dan bisa menghukum si penghina dan pencela arak tersebut. Mitos ini sangat kuat dan menyebar hingga ke daerah-daerah di luar Merita. I Gede Nyoman Geria menuturkan, pernah ada kejadian orang dari luar Merita sesumbar dan mencela arak Merita ketika sedang menggelar pesta minum di Merita. Baru minum dua seloki, orang itu langsung mabuk berat dan terkapar. “Padahal orang itu terkenal sangat kuat minum arak,” ujar Geria. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Geria menuturkan lagi, sekitar tahun 2007 ketika razia pedagang arak sedang marak, rumah salah seorang pembuat arak di Merita digerebeg sejumlah polisi yang datang menggunakan dua mobil. Arak yang dengan susah payah dibuat warga diobrak-abrik polisi. Arak yang tersimpan dalam jerigen dituang ke tanah sehingga warga merasa terhina dan mengalami kerugian. Warga Merita marah dan membunyikan kentongan atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">kulkul</em> <em style="mso-bidi-font-style: normal;">bulus</em>. Ruas-ruas jalan di Merita disabotase dan para polisi dikepung oleh warga. Syukur kemarahan warga bisa diredam setelah pihak kepolisian minta maaf dan berjanji tidak akan mengusik para pembuat arak di Merita. “Sejak kasus itu polisi tidak berani menangkap para pembuat arak di Merita. Polisi hanya menangkap pemasok dan pedagang arak,” ujar Geria.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Agaknya produksi arak di Merita sulit dihentikan, apalagi ditutup, karena berkaitan dengan asap dapur atau profesi warga secara turun temurun. Profesi yang berjalinan erat dengan tradisi, budaya dan kepercayaan setempat yang telah berusia ratusan tahun. Arak Merita berada di bawah perlindungan Ida Bhatara Arak Api. *** </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="mso-spacerun: yes;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/05/28/di-bawah-lindungan-ida-bhatara-arak-api/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sadha dan Sompret</title>
		<link>http://jengki.com/2009/05/13/sadha-dan-sompret/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/05/13/sadha-dan-sompret/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 10:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
Oleh Wayan Sunarta
 
 
 
 
 
Bakat seninya telah muncul sejak dia masih kanak-kanak. Karena tidak mampu melanjutkan sekolah, dia menghabiskan waktunya bermain di pantai dan belajar menggambar di atas pasir. Dia suka menggambar kartun figur-figur manusia jelata. Seringkali seekor anjing liar menemaninya menggambar di pantai. 
 
“Setiap saya menggambar di pantai anjing itu selalu muncul entah dari mana. Lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center;" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 14pt; mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-family: Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center;" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Oleh Wayan Sunarta</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: center;" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 14pt; mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-family: Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> <img class="aligncenter size-medium wp-image-353" title="ajeg-bali-apa-adep-bali" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/05/ajeg-bali-apa-adep-bali-218x300.jpg" alt="ajeg-bali-apa-adep-bali" width="218" height="300" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Bakat seninya telah muncul sejak dia masih kanak-kanak. Karena tidak mampu melanjutkan sekolah, dia menghabiskan waktunya bermain di pantai dan belajar menggambar di atas pasir. Dia suka menggambar kartun figur-figur manusia jelata. Seringkali seekor anjing liar menemaninya menggambar di pantai. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">“Setiap saya menggambar di pantai anjing itu selalu muncul entah dari mana. Lama kelamaan saya jadi suka menggambar anjing di pasir,” kenang Wayan Sadha, kartunis asal </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Sadha lahir di Jimbaran, </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">, 29 Juli 1948. Pendidikan resmi yang sempat ditempuhnya hanya sampai kelas dua Sekolah Rakyat. Orang tuanya yang nelayan tidak mampu menyekolahkannya karena keterbatasan biaya. Pada tahun 1960-an dia merantau ke Singaraja, berharap disekolahkan di </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">sana</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> oleh pamannya. Namun dia malah dijadikan pembantu dan diperlakukan sangat kasar. Tahun 1965 dia kembali pulang ke Jimbaran.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Kemudian Sadha banyak belajar dan menimpa ilmu secara otodidak, baik dari membaca buku dan koran, maupun dari pengalaman dan pergaulannya yang luas dengan kawan-kawannya. Berbagai bidang pekerjaan pernah dilakoninya. Ia pernah menjadi pedagang kayu bakar, pedagang ikan, nelayan, buruh gali, fotografer keliling, hingga wartawan. Saat menjadi fotografer keliling dan wartawan itulah ia banyak menyerap berbagai realita kehidupan, dari kelas bawah sampai atas. Pengalaman itu kemudian dituangkannya ke dalam karya-karya kartunnya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Ketika dia memutuskan menjadi kartunis, sosok anjing kacang masa kecilnya selalu muncul sebagai maskot dalam kartun-kartunnya. Anjing kacang itu dinamainya Sompret yang selalu nyeletuk dan menutup percakapan tokoh-tokoh kartunnya yang berwujud manusia, seperti Nang Kocong, Nang Eblong, I Jebug, Tut Dalut, Men (Bu) Klecung, I Baglur, I Gede Tanglus, Si Fudin, Mas Bejo, Si Badrun. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Sadha merasa cocok dengan nama “Sompret” sebagai maskot kartun-kartunnya. Sompret bukan sekadar nama anjing kacang yang beraninya hanya menggonggong ketimbang menggigit. “Sebenarnya Sompret itu saya artikan sebagai “trompet” yang sesekali berbunyi di tengah keriuhan bunyi-bunyi lainnya. Kalau Taufik Rahzen memaknai Sompret sebagai Sombong tanpa Pretensi,” ujarnya terkekeh.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Sejak tahun awal 1990-an, kartunnya yang khas Bali banyak menghiasi majalah dan koran pariwisata yang terbit di Bali, di antaranya Majalah Archipelago, English Corner (sisipan Bali Post), Bali Echo. Kemudian kartun-kartunnya dimuat di </span><span style="mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">Harian Nusa, Majalah Sarad dan Majalah Taksu.</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> Sadha juga pernah beberapa kali ikut pameran kartun, di antaranya pameran bersama Prakarti dan pameran di </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">ARMA</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Museum</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">, Ubud, </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">“Tahun 1994 saat masih di English Corner, kartun-kartun saya juga pernah dikritik oleh seorang kartunis </span><span style="mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"> sebagai kartun sampah yang tidak layak dimuat media </span><span style="mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">massa</span><span style="mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">. Tapi saya tidak peduli, saya terus berkarya,” ujarnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Kartun-kartun Sadha yang cenderung bertutur banyak mengungkap berbagai permasalah sosial yang berkembang di sekitarnya. Fenomena masyarakat itu kemudian bertautan dengan berbagai persoalan lain yang mengepung Bali, seperti masalah lingkungan, adat, budaya, agama, perilaku manusianya, pariwisata, trend budaya, hingga hal-hal yang riskan dan berbau politik. Tidak sulit bagi Sadha mencari ide untuk membuat kartun. Pengalaman hidup merupakan sumur inspirasi yang tiada habis-habisnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">“Ketika mendapatkan ide suatu kartun, saya tertawa sendiri. Saya juga tertawa geli saat menggambar ide-ide itu menjadi kartun. Barangkali itulah kebahagiaan saya sebagai kartunis,” ungkapnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Pada tahun 1994, kartun-kartun Sadha dihimpun dalam buku berjudul “Bali di Mata Sompret” yang diterbitkan oleh Pustaka Bali Post. Namun karena alasan khusus buku itu tidak jadi diedarkan. Dan pada tahun 2008, dikuratori Jean Couteau, sebanyak 165 kartun Sadha kembali dihimpun dan diterbitkan menjadi buku berjudul “The Dog of Bali Sompret, Celoteh Anjing Bali” (Pustaka Larasan). Dalam buku itu, pesan-pesan kartun yang memakai Bahasa </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Namun, sebagai seorang kartunis, penghasilan Sadha tidaklah seberapa. Untuk menyambung hidup, dia masih tetap mengambil pekerjaan sebagai fotografer dan mengisi rubrik di Majalah Taksu.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Keuangan Sadha juga banyak dibantu oleh seorang kawan akrabnya dari Amerika. Bahkan anaknya juga diberikan beasiswa oleh orang Amerika itu. “Saya pernah membantu orang Amerika itu penelitian tentang orang sakit jiwa di </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">. Sejak itu kami berkawan akrab,” kenang Sadha.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Tidak hanya menggambar kartun, Sadha juga menulis cerpen dan sesekali melukis. Tidak jauh dengan kartunnya, tema-tema lukisannya kebanyakan tentang kehidupan rakyat jelata.</span><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"> Lukisannya yang bernuansa kartun pernah terpilih dan ditampilkan dalam pameran Bali Bienalle 2007. Selain itu, Sadha juga menulis cerpen berbahasa </span><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">Bali</span><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">. Pada tahun ini buku cerpennya yang berjudul “Leak Pemoroan” akan diterbitkan oleh Balai Bahasa Denpasar. Kebanyakan cerpennya juga diolah dari ide-ide kartunnya, dan tentu saja selalu muncul tokoh anjing cerdas bernama Sompret.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Sadha sengaja membubuhkan gambar-gambar kartunnya dengan banyak pesan. Hal ini karena kebiasaan Sadha ingin menyampaikan pesan sejelas-jelasnya. Pesan-pesan kartun Sadha sangat blak-blakan, bahkan pada beberapa kartun terkesan vulgar. Namun ia tidak terlalu peduli dengan estetika kartun yang sering didegung-degungkan oleh para kartunis dari kalangan akademis. Ia terus berkarya dengan ciri khasnya sendiri: karya-karya yang sangat jelata, apa adanya, bikin kebakaran jenggot bagi yang terkena percikan api sindirannya. Kartun-kartun Sadha sangat khas </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">. Bukan hanya karena teks pesannya yang memakai Bahasa Bali, namun penokohan, suasana dan atribut-atribut pakaiannya juga khas </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Kartun-kartun Sadha jarang menyerang orang per orang atau tokoh per tokoh. Ia lebih banyak menukik ke realitas sosial. Kartun-kartunnya lebih mengarah ke aliran realisme-sosial. Ia mengritik atau menyindir sepedas-pedasnya terhadap apa yang terjadi dalam realitas sosial. Kartun-kartunnya sarat dengan berbagai macam kritik dan sindiran dari berbagai gejala sosial, lingkungan, pariwisata, budaya, agama, adat yang terjadi di </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">. Bahkan Sadha tak segan-segan menelanjangi perilaku orang </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> yang dianggapnya ironis, paradoks, konyol dan tolol. Misalnya, ketimpangan perilaku orang </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> menghadapi pendatang dan turis, interaksi orang </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> dengan lingkungan hidup dan komunitasnya, cara orang </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> menghadapi perubahan sosial.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Dengan penggambaran yang kumuh, kadang seronok, apa adanya, kartun-kartun Sadha memang kebanyakan berkisah tentang rakyat jelata. Tentang ketidakberdayaan para jelata </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> menghadapi berbagai macam kekuasaan dan berbagai permasalahan yang berkembang di masyarakat. Kekuasaan tersebut bisa berupa kekerasan dan diskriminasi adat, kebijakan pemerintah, kesewenang-wenangan investor. Juga ketidakberdayaan menghadapi serbuan warga pendatang yang mengadu nasib di </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">. Secara perlahan warga pendatang memunculkan masalah kecemburuan sosial karena persaingan ekonomi dan perebutan lahan kerja yang kian menjadi-jadi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Ketika wacana Ajeg Bali diumbar oleh pemerintah </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> dan penguasa koran terbesar di </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> hingga ke pelosok desa, banyak bermunculan ironi dan hal-hal paradoks. Wacana Ajeg Bali merupakan reaksi keras terhadap tragedi bom Kuta. Razia KTP digelar di mana-mana dengan sasaran utama kaum pendatang, para pemulung dan kuli-kuli bangunan yang menghuni bedeng-bedeng. Razia KTP dilakukan oleh hansip dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pecalang</em> (petugas keamanan adat) yang bertampang sangar dan bersenjatakan keris. Penjagaan di pelabuhan Gilimanuk diperketat. Pecalang juga dikerahkan. Namun seiring perjalanan waktu, penjagaan di pintu gerbang Bali-Jawa itu semakin longgar. Banyak penjaga yang tak tahan ditempeli duit sepuluh ribuan. Ini tentu sangat ironis dengan wacana keamanan dan pengamanan </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Wacana Ajeg Bali kian hari kian semarak dan merebak ke mana-mana. Semua lini kehidupan di </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> dikaitkan dengan Ajeg Bali. Wacana yang sangat politis itu menjadi semacam budaya tanding terhadap para pendatang. Wacana Ajeg Bali bahkan merambah wilayah kuliner. Melalui promosi di media terbesar di Bali, berkembangkan Bakso Krama Bali yang memakai daging babi sebagai tandingan terhadap semaraknya Warung Jawa, Rumah Makan Banyuwangi, Warung Padang, Sate Madura, Bakso Malang yang telah mengepung Bali. Bakso Krama Bali bahkan telah merambah hingga ke pelosok-pelosok desa. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Melalui kartun-kartunnya, Sadha banyak mengritik wacana Ajeg Bali itu. Mulai dari konsep dan perilaku orang </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> berkaitan dengan wacana Ajeg Bali sampai ke persoalan Bakso Krama Bali yang dianggap berasa <em style="mso-bidi-font-style: normal;">lawar</em> (makanan khas </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">). Orang </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;"> terbiasa membuat lawar, namun tidak bisa membuat bakso. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Kepada pemerintah dan para penguasa di </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">, Sompret, si anjing kacang </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">, melontarkan pertanyaan yang sangat keras: “Ajeg Bali atau Adep (jual) </span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">Bali</span><span style="mso-ansi-language: EN-US;">?” ***</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="mso-ansi-language: EN-US;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/05/13/sadha-dan-sompret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tradisi Nyepi Luh dan Nyepi Muani di Desa Ababi, Karangasem</title>
		<link>http://jengki.com/2009/03/31/tradisi-nyepi-luh-dan-nyepi-muani-di-desa-ababi-karangasem/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/03/31/tradisi-nyepi-luh-dan-nyepi-muani-di-desa-ababi-karangasem/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 00:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta

 
 

 
 
Umat Hindu mengenal Hari Raya Nyepi yang digelar satu tahun sekali. Berdasarkan kalender Bali, Nyepi jatuh pada Tilem (bulan mati) Kasanga, sekitar bulan Maret. Nyepi ini berkaitan dengan pergantian Tahun Baru Caka dan telah menjadi hari libur nasional. Saat Nyepi, Bali menjadi sepi dan hening. Tempat-tempat umum ditutup sementara, seperti terminal, bandara, pasar, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Oleh: Wayan Sunarta</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"><span lang="IN"></span></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </p>
<div id="attachment_334" class="wp-caption aligncenter" style="width: 293px"><img class="size-full wp-image-334" title="mejurag" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/03/mejurag.jpg" alt="Warga Mejurag Nasi Takepan di Pura Dalem, Ababi" width="283" height="159" /><p class="wp-caption-text">Warga Mejurag Nasi Takepan di Pura Dalem, Ababi</p></div>
<p></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Umat Hindu mengenal Hari Raya Nyepi yang digelar satu tahun sekali. Berdasarkan kalender Bali, Nyepi jatuh pada <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Tilem</em> (bulan mati) <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Kasanga</em>, sekitar bulan Maret. Nyepi ini berkaitan dengan pergantian Tahun Baru Caka dan telah menjadi hari libur nasional. Saat Nyepi, Bali menjadi sepi dan hening. Tempat-tempat umum ditutup sementara, seperti terminal, bandara, pasar, kantor. Umat Hindu melaksanakan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">tapa brata</em> yang terdiri dari empat macam larangan, yakni <em>Amati Lelungaan</em> (tidak bepergian), <em>Amati Lelanguan</em> (tidak menikmati hiburan), <em>Amati Karya</em> (tidak bekerja) dan <em>Amati Gni</em> (tidak menyalakan api dan lampu).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Desa Adat Ababi, sebuah desa tua di Karangasem, selain merayakan Nyepi nasional, sejak jaman dahulu sampai sekarang masih mempertahankan tradisi unik merayakan Nyepi lokal yang biasa disebut <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Nyepi Luh</em> dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Nyepi Muani</em>. Tradisi yang telah diwariskan sejak jaman nenek moyang secara turun temurun ini harus digelar setiap tahun. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Menurut sesepuh desa, Drs. Made Adnyana, Ababi termasuk salah satu desa tua yang telah berdiri sejak jaman Raja Anak Wungsu berkuasa di Bali, sekitar 1049-1077 Masehi. Kata “Ababi” berkaitan dengan buah pohon <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Ehe</em> (sejenis beringin) yang dahulu banyak tumbuh di desa ini. Buah Ehe itu biasa disebut “babi”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">“Raja yang berkuasa saat itu menyebut warga yang hidup di daerah ini sebagai <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Karaman I Hara Babi</em>. Hal itu tercantum dalam prasasti yang berisi tentang pemberian keringanan pajak, yang hingga kini masih tersimpan di Pura Puseh Ababi. Dari kata <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Hara Babi</em> mengalami perubahan suara menjadi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Ababi</em>,” jelas Made Adnyana.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Sampai saat ini Ababi, sekitar 80 Km arah timur Denpasar, dikenal sebagai salah satu daerah yang sangat subur di Karangasem. Ababi dengan suasana alamnya yang sangat indah merupakan salah satu pusat atau sumber mata air terbesar di Karangasem. Bahkan PDAM Karangasem banyak memasok air dari desa tersebut. Ababi juga terkenal dengan objek wisata Taman Tirtagangga, sebuah taman air peninggalan Kerajaan Karangasem.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span lang="IN">Made Adnyana menuturkan, Nyepi Luh (istri) dilaksanakan sehari setelah </span><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">piodalan</span></em><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"> atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">ngusaba</em> (upacara) di Pura Ulun Suwi yang lebih dikenal dengan sebutan Pura Kedaton yang jatuh setiap <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Tilem Kapitu</em>, sekitar Januari, bertepatan dengan Hari Raya Siwaratri. Sedangkan Nyepi Muani (lanang) dirayakan sebulan kemudian, yakni sehari setelah puncak <em style="mso-bidi-font-style: normal;">ngusaba</em> di Pura Dalem yang jatuh pada <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Tilem Kawulu</em>, sekitar bulan Februari. Pelaksanaan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Nyepi Luh </em>dan<em style="mso-bidi-font-style: normal;"> Nyepi Muani</em> selalu didahului dengan ritual <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Majurag Nasi Takepan </em><span style="mso-spacerun: yes;"> </span>yang digelar di Pura Kedaton dan Pura Dalem. Nyepi Luh dan Nyepi Muani berlangsung dari jam enam pagi sampai </span><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">lima</span><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"> sore.</span><span lang="IN"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Pada saat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Nyepi Luh</em> atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Nyepi Istri</em>, para perempuan dilarang bekerja (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">Amati Karya</em>), seperti berdagang, kerja rumah tangga, bekerja di sawah, kerja kantor. Bahkan pekerjaan memasak untuk keluarga juga dibebankan kepada lelaki. Perempuan menjadi ratu dalam sehari. Perempuan secara khusus menikmati libur lokal. Sedangkan para lelaki bekerja seperti biasa. Kaum perempuan menikmati Nyepi Luh dengan berleha-leha atau melancong sesuka hatinya. Kepercayaan setempat mengatakan saat Nyepi Luh, perempuan menemani atau mengiring Ida Bhatara Sri yang berstana di Pura Kedaton <em style="mso-bidi-font-style: normal;">mesesanjan</em> (berjalan-jalan). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span lang="IN">Sedangkan pada saat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Nyepi Muani</em> atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Nyepi Lanang</em> giliran para lelaki tidak boleh bekerja, baik di sawah, ladang, maupun kantor. Para perempuan bekerja atau beraktivitas seperti biasa. Para lelaki akan melancong-lancong atau bermain-main sesuka hatinya. Pada saat Nyepi Muani, kaum lelaki dipercaya menemani atau mengiring Dewa Siwa yang berstana di Pura Dalem yang dipersonifikasikan sebagai <em style="mso-bidi-font-style: normal;">purusa</em> (lelaki) <em style="mso-bidi-font-style: normal;">mesesanjan</em>.</span><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;" lang="IN"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Pada saat Nyepi Luh dan Nyepi Muani, sekolah akan meliburkan muridnya dan kantor pemerintah tingkat desa akan tutup sementara. Warga Ababi yang bekerja di luar desa pun akan minta ijin pulang kampungnya untuk ikut merayakan tradisi Nyepi yang unik tersebut. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">“Ketika masih bekerja di Kuta, saya khusus minta ijin pada bos untuk pulang kampung merayakan Nyepi Luh,” ujar Ni Ketut Suriani, seorang warga Ababi yang pernah lama merantau dan bekerja di Kuta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;">Majurag</span></strong><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Ngusaba di Pura Kedaton dan Pura Dalem selalu dirangkaikan dengan ritual <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Majurag Nasi Takepan</em>, rebutan nasi berkah. Nasi Takepan yang di-<em style="mso-bidi-font-style: normal;">kales</em> (dibungkus) dengan daun enau dan janur merupakan nasi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">caru</em> yang dibuat secara khusus di Pura Puseh oleh warga Ababi. Satu <em style="mso-bidi-font-style: normal;">kales</em> Nasi Takepan terdiri dari 25 <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pilit</em>/lintingan daun enau atau janur. Untuk ngusaba di Pura Dalem jumlah satu <em style="mso-bidi-font-style: normal;">kales</em> lebih banyak. Seusai upacara, Nasi Takepan yang khusus dibungkus janur dibagikan kepada para pemangku dan sesepuh desa. Sementara nasi yang dibungkus daun enau diberikan kepada warga dalam ritual Majurag. Nasi caru merupakan persembahan untuk dunia bawah yang dihuni para <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Bhutakala</em> agar tidak mengganggu kehidupan manusia. <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Pecaruan</em> adalah ritual untuk menjaga keseimbangan semesta, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Sekala dan Niskala</em>, dunia nyata dan dunia maya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Nasi Takepan dibuat dengan cara mencampur nasi dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">lawar</em> atau olahan daging hewan caru atau hewan kurban. Warga diwajibkan menghaturkan nasi sebanyak satu setengah kilo yang nantinya akan dikumpulkan dan dicampur dengan daging caru yang terdiri dari daging <em style="mso-bidi-font-style: normal;">asu</em> (anjing) berwarna <em style="mso-bidi-font-style: normal;">belangbungkem</em>, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">siap</em> (ayam) warna <em style="mso-bidi-font-style: normal;">brumbun</em>, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">kucit butuhan</em> (anak babi yang belum dikebiri) dan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">godel</em> (anak sapi) jantan yang belum dicocok hidungnya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">“Anak sapi jantan yang dipakai caru adalah jenis godel <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pagorsi</em> yakni terdapat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">usuan</em> atau pusaran bulu di keningnya dan dari lutut hingga kaki berbulu hitam,” jelas Wayan Siwi, seorang warga Ababi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Biasanya, menjelang ngusaba, godel yang dimiliki warga belum ditusuk hidungnya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada desa memilih godel yang memenuhi syarat dijadikan caru, istilah setempatnya godel <em style="mso-bidi-font-style: normal;">kaciren</em>. Warga akan membawa godelnya ke jaba Pura Puseh untuk dipilih sebagai caru. Dulu, godel <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pagorsi</em> yang terpilih akan langsung dihaturkan ke Pura Puseh oleh pemiliknya. Sekarang karena harga godel cukup mahal, maka godel yang terpilih dibayar setengah harga oleh pihak desa. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Menurut penuturan Wayan Siwi, dahulu pernah ada warga yang jahil, tidak mau menghaturkan godel pagorsi miliknya. Si pemilik langsung menusuk hidung godelnya sehingga tidak terpilih sebagai caru. “Akibatnya perbuatannya yang tidak ikhlas itu, si pemilik godel tertimpa musibah. Mungkin pemilik godel mendapat hukuman dari dunia Niskala,” jelas Wayan Siwi.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Ritual Majurag Nasi Takepan yang berlangsung sekitar jam enam sore sangat seru. Warga Ababi berkumpul di seputar areal Pura. Begitu Nasi Takepan selesai dihaturkan ke hadapan Bhatara, warga yang terdiri dari kaum lelaki, perempuan, orang tua-tua, para remaja dan anak-anak, ramai-ramai berebut nasi yang dipercaya sebagai berkah tersebut. Suasana Majurag terlihat seperti tawuran massal, mereka saling senggol, bahkan ada yang sampai terjatuh ketika rebutan nasi takepan. Bahkan nasi takepan yang sudah dipegang pun bisa direbut oleh warga lainnya. Warga terlihat seperti orang-orang yang benar-benar kelaparan. Pembungkus nasi dari daun enau itu sampai robek dan koyak di sana-sini. Bahkan butir-butir nasi berhamburan di sekitar arena dan sebagian nyangkut di sela-sela rambut warga yang ikut Majurag. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">“Dulu malah pernah sampai terjadi perkelahian di antara anak-anak muda saat Majurag,” ujar Wayan Siwi yang juga menjadi Ketua Pecalang Desa Adat Ababi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Nasi Takepan merupakan berkah dan lambang kesuburan. Selesai Majurag, warga pulang ke rumah masing-masing membawa Nasi Takepan. Nasi tersebut dimakan ala kadarnya, disebar di pekarangan, ditaburi di sawah sebagai rabuk agar sawah subur dan panen berhasil. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><span style="mso-tab-count: 1;">            </span>Masyarakat Ababi sangat kuat memegang tradisi ini. Ritual Majurag harus diadakan saat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">ngusaba</em> di Pura Kedaton dan Pura Dalem, dirangkai dengan Nyepi Luh dan Nyepi Muani. Pada zaman penjajahan Jepang, tradisi ini pernah tidak digelar karena kehidupan warga sedang mengalami masa sulit dan rakyat dilarang makan nasi. Akibatnya tanaman padi yang tampak subur dan menguning, ternyata <em style="mso-bidi-font-style: normal;">puyung</em> (tidak mengandung beras) ketika dipanen. Selain panen gagal, wabah penyakit atau <em style="mso-bidi-font-style: normal;">gering</em> juga merebak di desa itu. Sejak peristiwa itu tradisi ini terus dilaksanakan secara turun temurun dari tahun ke tahun.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"><span lang="IN"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">Menurut Wayan Siwi, beberapa desa tua di Karangasem, seperti Peladung, Temega, dan Abang, juga mengenal tradisi Nyepi Desa. Bahkan aturannya lebih ketat, seperti tidak boleh keluar rumah dan bekerja, serta tidak boleh menerima tamu. Aturan Nyepi Desa ini hampir mirip dengan Nyepi yang diakui pemerintah. Bagi yang melanggar akan kena denda <em style="mso-bidi-font-style: normal;">pis bolong</em> (uang kepeng) dan beras dengan jumlah yang telah ditentukan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">awig-awig</em> atau undang-undang desa adat setempat. Warga yang kena sanksi juga dibahas dalam <em style="mso-bidi-font-style: normal;">sangkepan</em> atau rapat desa adat untuk mempermalukan dan membuat jera warga yang melanggar aturan tersebut. “Bahkan dulu kendaraan tidak boleh lewat di jalan-jalan desa yang sedang melaksanakan Nyepi Desa,” kata Wayan Siwi.*** </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="color: black; mso-ansi-language: EN-US; mso-no-proof: no;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">(pernah dimuat di The Jakarta Post, Kamis, 12 Maret 2009)</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/03/31/tradisi-nyepi-luh-dan-nyepi-muani-di-desa-ababi-karangasem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Megibung, Tradisi Makan Bersama Penuh Aturan Ketat</title>
		<link>http://jengki.com/2009/01/22/megibung-tradisi-makan-bersama-penuh-aturan-ketat/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/01/22/megibung-tradisi-makan-bersama-penuh-aturan-ketat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 09:21:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Setelah usai upacara adat, beberapa kelompok orang duduk bersila dan membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran terhidang gundukan nasi beserta lauk pauk di atas nampan. Mereka makan sesuap demi sesuap dengan tertib. Acara makan diselingi obrolan-obrolan ringan. Inilah budaya makan ala Karangasem, Bali, yang disebut megibung.
Tradisi megibung dimulai dari tahun 1614 Caka (atau 1692 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-293" title="megibung-1" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/01/megibung-1.jpg" alt="megibung-1" width="320" height="240" />Setelah usai upacara adat, beberapa kelompok orang duduk bersila dan membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran terhidang gundukan nasi beserta lauk pauk di atas nampan. Mereka makan sesuap demi sesuap dengan tertib. Acara makan diselingi obrolan-obrolan ringan. Inilah budaya makan ala Karangasem, Bali, yang disebut megibung.</p>
<p>Tradisi megibung dimulai dari tahun 1614 Caka (atau 1692 Masehi), ketika salah satu Raja Karangasem, I Gusti Anglurah Ktut Karangasem, berperang menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sasak (Lombok). Di kala para prajurit istirahat makan, beliau membuat aturan makan bersama yang disebut megibung. Hingga saat ini tradisi megibung masih dilaksanakan di Karangasem dan Lombok, dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Kini, megibung sering digelar berkaitan dengan berbagai jenis upacara adat dan agama (Hindu), seperti upacara potong gigi, otonan anak, pernikahan, ngaben, pemelaspasan, piodalan di Pura.</p>
<p>Megibung penuh dengan tata nilai dan aturan yang khas. Dalam megibung, nasi dalam jumlah banyak ditaruh di atas dulang (alas makan dari tanah liat atau kayu) yang telah dilapisi tamas (anyaman daun kelapa). Namun sekarang acara megibung jarang menggunakan dulang, diganti dengan nampan atau wadah lain yang dialasi daun pisang atau kertas nasi. Gundukan nasi dalam porsi besar ditaruh di atas nampan dan lauk pauk ditaruh dalam wadah khusus. Orang-orang yang makan duduk bersila secara teratur dan membentuk lingkaran.</p>
<p>Satu porsi nasi gibungan (nasi dan lauk pauk) yang dinikmati oleh satu kelompok disebut satu sela. Pada jaman dulu satu sela harus dinikmati oleh delapan orang. Kini satu sela bisa dinikmati oleh kurang dari delapan orang, seperti 4-7 orang. Ketika makan, masing-masing orang dalam satu sela harus mengikuti aturan-aturan tidak tertulis yang telah disepakati bersama.</p>
<p>Megibung biasanya terdiri dari lebih dari satu sela, bahkan puluhan sela. Setiap sela dipimpin oleh pepara, orang yang dipercaya dan ditugasi menuangkan lauk-pauk di atas gundukan nasi secara bertahap. Setiap satu sela biasanya mendapatkan lauk pauk dan sayuran yang terdiri dari pepesan daging, urutan (sosis), sate kablet (lemak), sate pusut (daging isi), sate nyuh (sate kelapa), sate asem (sate isi dan lemak), lawar merah dan putih, sayur daun belimbing, pademara, dan sayur urap.  </p>
<p>Orang-orang yang megibung harus mengikuti tata tertib dan aturan makan yang ketat. Sebelum dimakan, nasi diambil dari nampan dengan cara dikepal memakai tangan. Kemudian dilanjutkan dengan mengambil daging dan lauk-pauk lainnya secara teratur. Sisa makanan dari mulut tidak boleh berceceran di atas nampan. Harus dibuang di atas sebidang kecil daun pisang yang telah disediakan untuk masing-masing orang. Air putih untuk minum disediakan di dalam kendi dari tanah liat. Untuk satu sela disediakan dua kendi. Minum air dilakukan dengan nyeret, air diteguk dari ujung kendi sehingga bibir tidak menyentuh kendi. Untuk kepraktisan, kini air kendi diganti dengan air mineral kemasan. Di beberapa tempat, selesai megibung biasanya dilanjutkan dengan acara minum tuak.</p>
<p>Wayan Siwi, warga Desa Ababi, Karangasem, mengatakan saat megibung tidak boleh bicara dan ketawa keras, berteriak-teriak, bersendawa, bersin, berdahak, meludah, dan kentut. Ketika selesai makan, orang tidak boleh sembarangan meninggalkan tempat. Harus menunggu orang atau sela lain menyelesaikan makannya. Ketika semua orang atau sela telah menyelesaikan makannya, maka pepara mempersilakan orang-orang meninggalkan tempat. Makan bersama ini harus diakhiri secara bersama-sama juga.</p>
<p>“Aturan megibung di setiap tempat di Karangasem biasanya berbeda-beda sesuai desa (wilayah), kala (waktu), patra (kondisi) setempat. Aturan megibung di Lombok bahkan lebih ketat, seperti jaman kerajaan dulu,” ujar Siwi yang pernah ikut megibung di Lombok.</p>
<p>Biasanya setiap usai acara megibung selalu ada makanan sisa. Dulu, makanan sisa ini dikumpulkan oleh para fakir miskin yang berasal dari daerah-daerah tandus dan miskin di Karangasem. “Sekarang hampir tidak ada lagi orang yang mau mengumpulkan makanan sisa megibung. Biasanya makanan sisa tersebut diberikan kepada tetangga untuk makanan babi,” tutur Wayan Siwi. </p>
<p>Megibung penuh dengan nilai-nilai kebersamaan. Dalam megibung secara umum tidak ada perbedaan jenis kelamin, kasta atau catur warna. Anggota satu sela, misalnya, bisa terdiri laki dan perempuan, atau campuran dari golongan brahmana, ksatrya, wasya dan sudra. Mereka bersama-sama menghadapi bhoga (hidangan) sebagai berkah Hyang Widhi. Nilai kebersamaan ini telah dicanangkan sejak jaman I Gusti Anglurah Ktut Karangasem, dan sudah menjadi tradisi hingga kini, baik di Karangasem maupun Lombok.</p>
<p>“Orang-orang yang tidak terbiasa megibung atau yang fanatik dengan kasta akan susah mengikuti acara makan ini jika kebetulan diundang menghadiri upacara adat atau agama,” jelas Wayan Siwi.</p>
<p>Lalu, bagaimana jika ada orang yang berpenyakit menular atau orang yang dianggap bisa ngeleak (ilmu hitam) ikut megibung dalam satu sela? Wayan Siwi menjelaskan bahwa prinsip megibung adalah kebersamaan dan tidak membeda-bedakan orang. “Jadi orang-orang seperti itu sah-sah saja ikut megibung. Namun sekarang biasanya setiap sela diisi oleh orang-orang yang sudah saling mengenal,” kata Siwi.</p>
<p>Tradisi megibung tidak hanya dilakukan oleh orang Karangasem dan Lombok yang beragama Hindu. Komunitas Muslim di Karangasem, seperti Kecicang, Saren Jawa dan Tohpati, juga biasa menggelar acara megibung. Tentu lauk pauknya tidak menggunakan daging babi. Menurut Mudahar yang berasal dari Kecicang, megibung dalam komunitas Muslim biasanya berkaitan dengan acara pernikahan, sunatan, Lebaran, Maulud Nabi dan acara-acara bernafaskan Islam lainnya. “Kami juga biasa mengundang tetangga-tetangga Hindu-Bali untuk ikut megibung,” kata Mudahar.</p>
<p>Bahkan untuk melestarikan tradisi megibung, Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg, pernah menggelar acara megibung massal pada 26 Desember 2006 di Taman Sukasada, Ujung, Karangasem. Megibung massal yang tercatat dalam rekor MURI itu diikuti oleh 20.520 orang dari berbagai lapisan dan komponen masyarakat di wilayah Karangasem dan ratusan undangan lainnya.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/01/22/megibung-tradisi-makan-bersama-penuh-aturan-ketat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tradisi Metuakan di Karangasem, Bali</title>
		<link>http://jengki.com/2008/12/16/tradisi-metuakan-di-karangasem-bali/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/12/16/tradisi-metuakan-di-karangasem-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 01:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/12/16/tradisi-metuakan-di-karangasem-bali/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta

 (dua orang tua sedang menikmati senja bersama tuak di warung tuak pinggir jalan di Karangasem)
Pada sebuah sore yang indah, di sebuah warung tuak di Karangasem, sekelompok orang tua duduk melingkar beralaskan tikar. Di tengah-tengah lingkaran terhidang lima botol tuak, sate babi, lawar dan camilan lainnya. Sambil meneguk tuak, mereka tampak asyik bercengkerama tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/12/tuak-gaul-3-cm.jpg" title="tuak"><img src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/12/tuak-gaul-3-cm.jpg" alt="tuak" /></a></p>
<p> (dua orang tua sedang menikmati senja bersama tuak di warung tuak pinggir jalan di Karangasem)</p>
<p>Pada sebuah sore yang indah, di sebuah warung tuak di Karangasem, sekelompok orang tua duduk melingkar beralaskan tikar. Di tengah-tengah lingkaran terhidang lima botol tuak, sate babi, lawar dan camilan lainnya. Sambil meneguk tuak, mereka tampak asyik bercengkerama tentang padi-padi yang mulai panen, tentang kesibukan para caleg mengobral janji-janji membela rakyat jelata, tentang situasi desa, dan sebagainya.</p>
<p>Para orang tua itu hampir setiap sore datang ke warung tuak langganannya. Mereka bukan hanya melampiaskan keinginan minum tuak, namun juga kebutuhan bertemu teman-teman sebaya dan ngobrol berbagai hal yang menarik dibicarakan. Secara tidak tertulis mereka telah membuat semacam sekehe metuakan, kelompok minum tuak.</p>
<p>Seringkali acara metuakan telah menjadi semacam forum tidak resmi yang menampung berbagai aspirasi yang tidak tersalurkan pada lembaga-lembaga resmi. Berbagai macam unek-unek, keluh kesah, kritik, gosip, dan obrolan tentang berbagai pokok persoalan yang nyangkut di pikiran mereka menemui pelepasan dalam forum yang penuh aroma alkohol tersebut.</p>
<p>Tuak dibuat dari sadapan air bunga pohon jake (enau), nyuh (kelapa), dan ental (lontar/siwalan). Dari sana muncul istilah tuak jake, tuak nyuh dan tuak ental. Tuak jake banyak dibuat di Tenganan, Gumung dan Bebandem. Tuak Nyuh dibuat di daerah yang banyak pohon kelapanya, seperti Pikat, Pidpid, Gunaksa. Sedangkan tuak ental dikenal di daerah yang banyak ditumbuhi pohon ental, seperti Merita, Culik, Tianyar, Kubu. Tuak jake lebih terasa enak, bersifat netral, proses dalam tubuh cepat dan sering kencing.  Tuak Nyuh kadar alkoholnya lebih keras dari tuak jake, peminum umumnya cepat merasa pusing. Sedangkan tuak ental lebih berat kadar alkoholnya dibanding tuak nyuh, rasanya lebih gurih, cepat membuat mabuk. Secara umum orang-orang Karangasem lebih menggemari tuak jake.</p>
<p>Proses membuat tuak jake sangat lama, bisa memakan waktu sampai 21 hari. Dimulai dari ngayunan, bunga jake diayun-ayun sampai satu jam. Kemudian dilanjutkan dengan proses notok, batang bunga jake dipukul-pukul berulang-ulang setiap hari selama satu jam dan berlangsung sampai dua minggu. Setelah dirasa cukup umur, maka dilanjutkan dengan nimpagang, mengiris batang bunga dan mengecek ada air atau tidak pada bunga jake itu. Kemudian dilanjutkan dengan nadah, batang bunga jake disadap dengan brengkong, wadah yang dibuat dari pelepah pohon pinang. Satu batang bunga jake bisa menghasilkan satu brengkong setiap kali menurunkan tuak yang dilakukan dua kali dalam sehari, yakni pagi dan sore. Kalau lagi untung dalam sehari bisa mendapatkan dua jerigen (isi 8 botol) tuak. Dan satu pohon jake bisa menghasilkan tuak hingga tiga bulan. Pada prinsipnya proses mencari tuak nyuh dan ental hampir sama dengan tuak jake.</p>
<p>Tuak yang baru turun dari pohonnya akan terasa manis. Maka untuk membuat rasanya lebih gurih, tuak dicampur dengan ramuan khusus yang disebut lau. Secara umum lau berpengaruh pada rasa dan kadar alkohol tuak. Lau yang paling bagus diolah dari babakan (serbuk) kayu pohon kutat dicampur dengan serbuk kulit pohon cabe tabia bun. Kalau cara mengolah lau kurang pas, maka tuak akan terasa kecing atau masam.</p>
<p>Berbeda dengan arak, tuak tidak berumur panjang. Tuak paling enak diminum ketika baru diturunkan dari pohonnya. Orang Karangasem mengenal rasa tuak yang nasak badung, rasanya lebih tawar dan agak masam, namun masih bisa diminum. Ada tuak yang rasanya lebih netral, tidak terlalu tua dan tidak terlalu masam, dan masih enak untuk diminum. Tuak jenis ini disebut semedah. Tuak wayah adalah tuak yang telah tersimpan satu sampai dua hari. Kalau tuak telah tersimpan dua sampai tiga hari disebut tuak bayu. Dan tuak yang tersimpan lebih dari tiga hari akan menjadi cuka.</p>
<p>Di Karangasem, alat untuk menampung atau minum tuak bermacam-macam jenisnya. Untuk menampung tuak dari pohonnya dipakai brengkong dan kele (bumbung bambu ukuran besar dan panjang). Sebelum morong populer, dahulu orang menyimpan tuak menggunakan cekel, bumbung bambu agak besar lengkap dengan tutupnya dan di ujung atasnya terdapat saluran yang dibuat dari buluh bambu kecil. Agak mirip dengan cekel disebut ganjreng dimana saluran tuaknya terletak di bawah/dasar wadah. Untuk tempat minum tuak dipakai bumbung (gelas bambu ukuran sedang, setara dengan gelas jus), dasar (cawan dari kau atau batok kelapa), dan beruk (cawan ukuran sedang dari kau atau batok kelapa). Nama wadah tuak ini sering berbeda-beda di tempat lainnya di Bali. Sekarang, untuk kepraktisan, wadah tuak tradisional itu diganti dengan jerigen, morong, botol dan gelas.</p>
<p>Sekehe-sekehe metuakan dengan mudah bisa ditemui di sudut-sudut jalan pedesaan di Karangasem. Mereka membuat kelompok berdasarkan pertemanan, biasanya berjumlah antara 3-5 orang. Anggota baru agak susah bergabung ke dalam kelompok karena harus mampu beradaptasi dan mempelajari karakter kelompok. Pada saat metuakan, orang-orang tua berkelompok dengan sesama orang tua, anak-anak muda membuat kelompok dengan teman-teman sebayanya. Jarang ditemui kelompok campuran, antara anak muda dan orang tua. Karena kelompok campuran biasanya akan kesulitan pada saat ngobrol atau diskusi. Obrolan anak-anak muda terkadang tidak nyambung dengan obrolan orang-orang tua.</p>
<p>“Dalam membuat sekehe, kami mengajak kawan-kawan akrab yang kami sudah tahu tabiat dan tingkatan mabuknya. Kami sangat menghindari peminum yang suka bikin onar saat mabuk. Kami metuakan bukan untuk cari ribut, melainkan untuk kumpul-kumpul dengan teman-teman dan menghilangkan stress,” ujar Made Kaler, seorang peminum dari Jungsri, Bebandem.</p>
<p>Namun seringkali sekehe metuakan juga disusupi kader-kader partai politik pada saat musim-musim kampanye. Tujuannya jelas untuk mencari massa. Kader-kader partai politik ini biasanya mentraktir anggota sekehe minum tuak sepuas-puasnya. Di pertengahan acara minum, kader partai mengarahkan obrolan kepada soal-soal partai, janji-janji partai, dan buntutnya sekehe diharapkan memilih dirinya. Untuk masuk dan bisa diterima dalam sekehe metuakan, tentu kader-kader partai harus mampu beradaptasi dan memilih sasaran secara tepat. Karena tidak semua sekehe metuakan mau mendengar ocehan para kader partai atau caleg yang sekarang berlomba-lomba mencari massa.</p>
<p>Tradisi metuakan di Karangasem sudah terkenal sejak dahulu. Karangasem merupakan penghasil tuak terbesar di Bali. Hampir di setiap desa bisa dijumpai warga yang berprofesi sebagai pembuat tuak dan pedagang tuak. Bahkan tuak itu dikirim dan dijual hingga ke daerah-daerah lain, termasuk Denpasar. Karangasem juga dikenal dengan kesenian Genjek dan Cakepung dimana peranan tuak sangat penting dalam kesenian tersebut. Para pemain Genjek dan Cakepung bergiliran minum tuak sambil menyanyi dengan musik mulut dan menari-nari di tengah lingkaran. Kesenian ini sangat semarak dan penuh dengan nuansa pesta pora.</p>
<p>Sekehe metuakan biasanya memiliki aturan-aturan tertentu yang disepakati bersama diantara anggota sekehe. Aturan-aturan tak tertulis ini terkadang berbeda-beda antara sekehe satu dengan lainnnya, atau antara daerah satu dengan lainnya. Ada aturan yang mewajibkan masing-masing anggota sekehe membawa tuak dari rumah sesuai kemampuan dan keperluan minum. Kalau tempat berkumpulnya di warung tuak, anggota sekehe akan patungan membeli tuak. Terkadang ada anggota sekehe yang mentraktir kawan-kawannya minum tuak. Di Karangasem, harga sebotol tuak sekitar Rp.1500. Dalam acara metuakan, satu kelompok yang terdiri dari 5 orang bisa menghabiskan 10 botol tuak, bahkan terkadang lebih.      </p>
<p>Acara metuakan diatur oleh seseorang yang biasa disebut bandar. Bandar bertugas menuangkan tuak ke dalam gelas dan membagikan secara bergiliran kepada anggota sekehe. Kadangkala kalau terjadi diskusi atau perdebatan, bandar juga bertugas menjadi moderator. Anggota sekehe minum secara bergiliran dengan menggunakan satu gelas. Penggunaan gelas secara sendiri-sendiri tidak diperkenankan. Dan bahkan bisa memunculkan ketersinggungan dari anggota sekehe lainnya. Apalagi kalau ada anggota yang baru bergabung, lalu minum tuak menggunakan gelasnya sendiri, dianggap egois dan tidak tahu aturan minum. Anggota baru ini bisa membuat perasaan anggota sekehe lain tidak enak. Penggunaan satu gelas secara bersama-sama dianggap sebagai bentuk rasa solidaritas dan memupuk kebersamaan dan kekeluargaan di antara anggota sekehe.</p>
<p>“Aturan lain, cara meminum tuak harus sekali minum. Kalau ada orang minum tuak seperti minum kopi, pelan-pelan dan sedikit-sedikit, orang itu biasanya akan jadi bahan olok-olok,” kata Ketut Gingsir, pemuda yang suka nongkrong di warung tuak di Ababi, Karangasem.     </p>
<p>Menurut Made Adnyana, seorang sesepuh desa Ababi yang hobi minum tuak, dalam metuakan ada delapan urutan minum yang dikaitkan dengan tingkat kemabukan. Secara umum hitungan minumnya adalah bumbung atau gelas.</p>
<p>Pertama, Eka Padmasari, peminum baru mulai minum tuak. Satu bumbung untuk tegukan pertama. Aliran tuak terasa nyaman dalam tubuh, apalagi diselingi obrolan-obrolan ringan dan bersenda gurau. Acara minum tuak masih diliputi semangat kebersamaan dan kekeluargaan.</p>
<p>Kedua, Dwi Angemertani, peminum mengangkat bumbungnya yang kedua. Pada tahap ini tuak merupakan amerta, air kehidupan. Biasanya setiap sore orang-orang tua akan menyuruh anak atau cucunya membeli tuak satu botol untuk diminum sehabis makan nasi. Minum satu atau dua gelas tuak menjadi penyempurna perut yang kenyang. Pada tingkatan ini tuak tidak membuat mabuk.</p>
<p>Ketiga, Tri Raja Busana, peminum sudah menenggak 3 bumbung tuak. Pada tahapan ini tanda-tanda awal mabuk sudah kelihatan. Wajah menjadi bersemu merah. Peminum mulai berlagak dan bertingkah seperti raja, main perintah sana-sini. Bahkan gaya duduknya sudah kayak sikap raja.</p>
<p>Keempat, Catur Kokila Basa, ini tahapan ketika peminum sudah meneguk 4 bumbung tuak. Tingkah lakunya sudah seperti burung kutilang, banyak berkicau. Jika mau mengorek rahasia seseorang bisa dimulai pada tahapan ini. Semua rahasia yang sebelumnya tersimpan rapat akan dibeberkan dengan tanpa beban oleh si peminum yang agak mabuk. Omongan ngelantur ke sana-sini. Acara minum menjadi ramai. Kadang kala omongan si peminum kebablasan sehingga membuat teman jadi tersinggung.</p>
<p>Kelima, Panca Wanara Konyer, tahap dimana peminum sudah menghabiskan 5 bumbung tuak. Kepala sudah mulai pusing. Namun nafsu minum masih bergejolak. Ingin nambah terus. Pada tahap ini perilaku peminum seperti monyet yang lincah, nakal dan usil. Perilaku aneh-aneh juga muncul, seperti menari-nari sendiri, ngoceh tidak jelas, atau kebut-kebutan menyerempet bahaya di jalan. Kalau acara metuakan diikuti lebih dari lima orang, maka tembang-tembang genjek mulai berkumandang menambah semarak suasana minum. Pada tahap ini kadangkala terjadi pertengkaran kecil di antara peminum karena persoalan-persoalan sepele. Alkohol telah mengacaukan syaraf. Kata-kata yang terlontar menjadi tidak terkendali.</p>
<p>Keenam, Sad Wanara Rukam, peminum sudah memasuki tahap bumbung keenam. Perilakunya seperti monyet kena sampar atau penyakit, lebih banyak duduk diam dan mengkerut. Selera usil dan iseng perlahan mereda. Alkohol sudah memenuhi aliran syaraf. Kepala semakin pusing. Peminum terlihat lebih banyak melamun dan tidak banyak bicara.</p>
<p>Ketujuh, Sapta Ketoya Baya, bumbung ketujuh telah diteguk. Inilah tahap yang rawan baya (bahaya). Saat dimana kadar alkohol dalam tubuh dengan mudah bisa mendatangkan malapetaka. Keributan dan perkelahian dengan mudah meledak di antara peminum. Perilaku mabuk yang aneh-aneh pun bermunculan. Yang paling parah adalah mengamuk gelap mata. Endapan-endapan emosi meledak, menemui pelepasan.</p>
<p>Kedelapan, Asta Kebo Dangkal, peminum sudah memasuki bumbung kedelapan. Peminum sudah benar-benar melampaui ambang mabuk. Pikiran sehat jadi macet total. Pada tahap ini banyak peminum yang tergeletak di sembarang tempat, tidur mendengkur seperti kerbau (kebo).</p>
<p>“Paling sehat adalah minum satu sampai dua gelas tuak sehabis makan. Namun yang lebih sehat lagi tidak minum tuak. Cukup air putih saja,” ujar Made Adnyana sembari ketawa.</p>
<p>Memang, lebih sehat tidak minum tuak. Apalagi minum tuak dengan satu gelas beramai-ramai. Kuman atau virus penyakit menular dengan mudah berpindah tempat melalui bibir gelas. Namun, siapa yang peduli kuman atau virus kalau sedang “on” alias mabuk? ***</p>
<p>           <br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/12/16/tradisi-metuakan-di-karangasem-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
