Pekarangan Tubuhku: Seserpih Kisah Untukmu

 
jika kau jelajahi pekarangan tubuhku
‘kan kau temukan sekuntum mawar
dengan warna merah hampir luruh
dimakan waktu yang tak mau tahu
 
mawar itu
tumbuh di dada kiriku
aliran darah dari jantung
menghangatinya
saat musim dingin
menjalar dari ujung pulau
di tengah bulan juni
 
suatu waktu perawan belia
ingin memetik mawar itu
“bagus untuk dipajang di meja belajarku,” ujarnya
 
telah kuberikan jiwaku
melebihi sekuntum mawar
tapi dia terpukau belukar liar
yang membelit dan [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on August 19th, 2009

Tanah Tua

di tanah tua aku tiba
membawa bunga ilahi
dari jiwa yang senja
 
ayunan cahaya melampaui remang
bayang gerhana matamu-mataku
kilau kelabu dari luka masa lalu
 
di tanah tua
kita saling menduga
hidup yang fana
 
cuma ada sekerat kenangan
di celah hangat tubuhmu
namun jiwa telah paham
apa yang tak dirasa angin
 
di tanah tua
usai semua usia
pun cahaya
lupa cahaya
 
 
(Juli 2009)

No Comments »Filed under: PuisiPosted on July 30th, 2009

Peri Kecilku

 
 
tak mampu kutatap parasmu, peri kecilku
hanya bayangmu melintasi lengang petang
ke mana kau akan terbang?
sayapmu masih terlalu rapuh
untuk sekedar tetirah
 
suara serangga telah merangkum malam
kabut pun luput dari jemari tanganmu
tak usai menebar getir, menyemai airmata
 
takdirmu hanya sampai di situ
apa yang mampu kubantu
untuk sekedar mengantarmu sampai di pintu
tanganku tak kuasa merengkuhmu
 
peri kecilku, matahari di bumi
mungkin bukan [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on July 7th, 2009

Lorong Batu

menyusuri lorong batu
aku menemukan jiwaku tersesat di situ
lumut mengerak
dan aku kaku tanpa gerak
entah di mana ujung lorong batu ini
aku menepi dari hari
yang menindas kesejatianku
lorong batu
di kiri kanan rumpun bambu
seberapa jauhkah kerling matamu
hingga aku terpukau
hamparan lumut yang terus merambat
ke lubuk terkelam jiwaku
aku telah tersesat
aku biarkan diri hanyut
menyusuri lorong batu
 
Januari 2009

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 26th, 2009

Lovina (2)

dedaun waru menatap sendu
pelupuk kelabu matamu
kepiting ragu-ragu melaju
di hampar pasir hitam
jiwa galau menatap samudra
sampai dimanakah kita
lelah adalah langkah terakhir
sebelum sampai di ujung pesisir
 
Januari 2009

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 21st, 2009

Angin Telah Kembali

     -kepada ketut suwidja-
 
kemana kini arah angin bertiup
entah sampai dimana lelayang sanggup terbang
        tak tahu gerimis telah mewarnai hari
usai sudah segala mimpi masa kanak
tak satu pun mampu direguk dari bumbung waktu
suara sunari makin menjauh
usai pula percakapan di bawah temaram bulan
walau kau masih rindu melantunkan selarik sajak
         irama dalam jiwa telah mati rasa
dan kau hanya termangu [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 20th, 2009

Lovina (1)

- iv-
 
 
begitulah ombak pagi ini
menepi merayapi celah indah hatimu
 
secangkir kopi dan jiwa yang baka
mengapa mesti kau kisahkan resah
          selalu ada yang berlalu
dan kita lebih dari paham
                        untuk tidak bertanya
 
jukung telah menjemput
kita melaju menyibak ombak
bertukar kabar pada angin
berbagi kasih pada pekik camar
mengaca pada mata bening lumba-lumba
agar mengerti makna kedalaman cinta
 
iv, di manakah akhir pelayaran
         [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 12th, 2009

Singa Tua

-obituari Penyair Ketut Suwidja-
 
singa tua yang sendiri itu
telah lesap ke dalam asap
dupa dan kemenyan
tiada lagi penguasa halimun
di hutan larangan
semua suara jadi senyap
bunga-bunga kopi luruh
di tengah gerimis amis
darah beku dalam tubuh
pucuk-pucuk cengkeh
perlahan kelam
angin hanya sisa
di sela-sela dedaunnya
yang hitam yang pekat
singa berbulu kelabu itu
adalah turunan singa bersayap api
ketika muda suka mengembara
ke lembah dan ngarai
menyusuri tepi laut dan [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on February 10th, 2009

Tamu

Oh, tamuku yang datang menjelang petang. Apalah aku kini di hadapanmu? Lama kita tidak bertemu. Lalu kau sudi pula mampir ke gubugku yang hampir roboh ini. Sungguh suatu kenikmatan tak terkira bisa menjumpaimu. Sudikah kau menceritakan kisah perjalananmu? Apa saja yang telah kau temui sejauh langkahmu?
Mari berbagi sekeping roti. Mari berbagi secawan anggur.
Akan ada saat [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on January 22nd, 2009

IGAU # 5

 
Berikan apa yang jadi milikmu demi menguras sampah dalam jiwamu. Tidak ada yang tak mungkin selama kau merasa mungkin. Cangkir kopi akan kembali kering dan kau tidak perlu ragu menjauh dari sisa-sia waktu yang merongrong hidupmu dengan janji-janji busuk dan anjing-anjing jalanan akan membuka matanya demi jalanmu yang setapak itu. Lalu apa lagi yang kau [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on January 20th, 2009
Page 1 of 512345