jika kau jelajahi pekarangan tubuhku
‘kan kau temukan sekuntum mawar
dengan warna merah hampir luruh
dimakan waktu yang tak mau tahu
mawar itu
tumbuh di dada kiriku
aliran darah dari jantung
menghangatinya
saat musim dingin
menjalar dari ujung pulau
di tengah bulan juni
suatu waktu perawan belia
ingin memetik mawar itu
“bagus untuk dipajang di meja belajarku,” ujarnya
telah kuberikan jiwaku
melebihi sekuntum mawar
tapi dia terpukau belukar liar
yang membelit dan [...]
di tanah tua aku tiba
membawa bunga ilahi
dari jiwa yang senja
ayunan cahaya melampaui remang
bayang gerhana matamu-mataku
kilau kelabu dari luka masa lalu
di tanah tua
kita saling menduga
hidup yang fana
cuma ada sekerat kenangan
di celah hangat tubuhmu
namun jiwa telah paham
apa yang tak dirasa angin
di tanah tua
usai semua usia
pun cahaya
lupa cahaya
(Juli 2009)
menyusuri lorong batu
aku menemukan jiwaku tersesat di situ
lumut mengerak
dan aku kaku tanpa gerak
entah di mana ujung lorong batu ini
aku menepi dari hari
yang menindas kesejatianku
lorong batu
di kiri kanan rumpun bambu
seberapa jauhkah kerling matamu
hingga aku terpukau
hamparan lumut yang terus merambat
ke lubuk terkelam jiwaku
aku telah tersesat
aku biarkan diri hanyut
menyusuri lorong batu
Januari 2009
dedaun waru menatap sendu
pelupuk kelabu matamu
kepiting ragu-ragu melaju
di hampar pasir hitam
jiwa galau menatap samudra
sampai dimanakah kita
lelah adalah langkah terakhir
sebelum sampai di ujung pesisir
Januari 2009
-kepada ketut suwidja-
kemana kini arah angin bertiup
entah sampai dimana lelayang sanggup terbang
tak tahu gerimis telah mewarnai hari
usai sudah segala mimpi masa kanak
tak satu pun mampu direguk dari bumbung waktu
suara sunari makin menjauh
usai pula percakapan di bawah temaram bulan
walau kau masih rindu melantunkan selarik sajak
irama dalam jiwa telah mati rasa
dan kau hanya termangu [...]
- iv-
begitulah ombak pagi ini
menepi merayapi celah indah hatimu
secangkir kopi dan jiwa yang baka
mengapa mesti kau kisahkan resah
selalu ada yang berlalu
dan kita lebih dari paham
untuk tidak bertanya
jukung telah menjemput
kita melaju menyibak ombak
bertukar kabar pada angin
berbagi kasih pada pekik camar
mengaca pada mata bening lumba-lumba
agar mengerti makna kedalaman cinta
iv, di manakah akhir pelayaran
[...]
-obituari Penyair Ketut Suwidja-
singa tua yang sendiri itu
telah lesap ke dalam asap
dupa dan kemenyan
tiada lagi penguasa halimun
di hutan larangan
semua suara jadi senyap
bunga-bunga kopi luruh
di tengah gerimis amis
darah beku dalam tubuh
pucuk-pucuk cengkeh
perlahan kelam
angin hanya sisa
di sela-sela dedaunnya
yang hitam yang pekat
singa berbulu kelabu itu
adalah turunan singa bersayap api
ketika muda suka mengembara
ke lembah dan ngarai
menyusuri tepi laut dan [...]
Oh, tamuku yang datang menjelang petang. Apalah aku kini di hadapanmu? Lama kita tidak bertemu. Lalu kau sudi pula mampir ke gubugku yang hampir roboh ini. Sungguh suatu kenikmatan tak terkira bisa menjumpaimu. Sudikah kau menceritakan kisah perjalananmu? Apa saja yang telah kau temui sejauh langkahmu?
Mari berbagi sekeping roti. Mari berbagi secawan anggur.
Akan ada saat [...]
Berikan apa yang jadi milikmu demi menguras sampah dalam jiwamu. Tidak ada yang tak mungkin selama kau merasa mungkin. Cangkir kopi akan kembali kering dan kau tidak perlu ragu menjauh dari sisa-sia waktu yang merongrong hidupmu dengan janji-janji busuk dan anjing-anjing jalanan akan membuka matanya demi jalanmu yang setapak itu. Lalu apa lagi yang kau [...]
Hujan membiaskan bayang wajahnya di pelupukmu yang basah. Aku dengar musik kematian lamat-lamat menyanyi dari kedalaman jiwamu. Jangan berhenti. Teruskan saja langkahmu. Tiriskan saja kesia-siaanmu. Ayo, kau orang punya jiwa. Mata menari seumur melodi. Dan tidakkah kau merasa sekutumu menjauh? Dan kau pun akan ambruk dalam permainan ini. Oh menarilah demi umurmu sendiri, demi waktumu, [...]