Dadu

seandainya waktu kembali
              menuntun kita
 pada putaran dadu
       maka aku ingin lagi
                 mengenang jelitamu
 dalam segala prasangka cuaca
(2008)

No Comments »Filed under: PuisiPosted on June 13th, 2008

Puisi untuk WL

walau cuaca galau dan
           angin memeram benih malam
namun kau masih setia berjalan
          dari waktu ke waktu pertemuan
antara kenangan dan kerinduan
lebih puisi hari-harimu kini
endapan semerbak wangi rambutmu
           o, kilau cahaya yang ragu
pada batas kelam kelopak mata
           ombak merayap mencapai mulus betismu
letih telah paripurna di tepian senja
     dan camar yang mengembara sendiri
                  akan kembali pulang ke sarang jiwamu
Karangasem, [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on May 29th, 2008

Singaraja

kota telah menemukan namamu
tertoreh di batang-batang pohon asam
saat aku meruwat sejumput hasrat
yang digali dari batu-batu
                             sejauh alur waktu
kita tidak akan tersesat lagi dalam labirin itu
sebab cahaya yang merumuskan kabut
telah mencatat setiap jejak hujan
              dan juga kenangan
maka biarkan bibirmu membasuh bibirku
                                   dengan segala rindu
sebelum kasih tertimbun
            puing-puing reruntuhan puri
kelak seorang pengembara akan mencatat jejak kita
            dan [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on April 17th, 2008

Sarkopagus Alasangker, Buleleng

mesti dengan apa lagi kukisahkan padamu
nubuat yang kubuat bagi keturunanmu
                               telah sempurna terbuka
namun kau lebih suka merayu waktu
tanpa mau menjenguk kawasanku
         masa lalu telah menyerpih
                            dan jadi abu dalam diriku
tertimbun dalam periuk tanah liat,
bersama kalung manik-manik, gelang perunggu,
tombak usang dan kenangan lapuk
mengapa kau tiada mampu membaca nujuman itu
aku telah guratkan segala tanda di dinding tebing
                    [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on April 17th, 2008

Cenaku*

tilas-tilasku akan usai di rimba keramat ini
malam demi malam telah kurambah
         dan tibalah aku padamu
               wahai bomo tua bermata saga
mantra dari mula mantra
aksara bergantang aksara
tergurat di gulungan lontar lapuk
               yang kau semayamkan
pada bubungan rumah panggung
telah kau rafal seirama tafakur
         apalah aku kini
selain menyusuri titahmu
aku cenaku dikutuk menghuni malam
mengembara dari jiwa ke jiwa celaka,
gunjo-gunjo yang penasaran [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 18th, 2008

Di Hotel Sriwijaya, Teluk Betung

/1/  Untuk: M. Arman AZ
serupa apa haru
yang tiba-tiba gagu
ketika berjumpa masa lalu
di hotel yang menggetarkan kenangan
sepi saja di sini
saat jemari waktu mengukir hari
di dinding-dinding suram kota
apa angin garam telah menumpas sisa asa
pada jiwa yang lena
di setiap musim persinggahan
perempuan-perempuan di tikungan
di bawah tiang listrik
masih menyisakan jejak perjalanan
di kota tua yang rahasia
cahaya lampu merkuri
membasuh wajahnya
dan tahulah kita
segala [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 17th, 2008

Di Teluk Betung, Lampung

/1/
jerit adzan merambat
dari urat nadi toko-toko tua
di kota niaga teluk betung
burung-burung sriti
menaburi udara dengan janji
hari perlahan menanti
sebelum tiba senja
jalanan lengang
angin aroma ganggang
/2/
dari loteng
jalanan serupa bayang-bayangmu
petang akan tuntas di ujung ranjang
sisa gincu pada sarung bantal dan ujung selimut
tilas kenangan kecil pada dinding kamar pucat
dari loteng
kau lekang
aku gamang
Lampung, Agustus 2007
 
(dimuat di Media Indonesia, 28 Oktober 2007)
 

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 17th, 2008

Liang Mata Si Mati

malam hampir mencekikku
sebab aku alpa pada janji semesta
        sampai di mana aku kini?
kulit tubuhku dilapisi sisik ular
pundakku ditumbuhi sepasang sayap kelelawar
aku merasa hanya berputar-putar
pada lingkaran tahun yang kau bangun
segala berhala segala pelacur segala pujangga
hanya menanak mimpi jadi kerak hitam hari
 
apa yang mampu disembunyikan malam dariku?
malam yang dicipta dari kutukan para pendosa
                kau hanya pendurhaka laknat [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 17th, 2008

Gapura 32

memasuki gapura ke tiga puluh dua
        akan sampai dimana kau tiba
duka telah lama berlalu dari parasmu
        enyah serupa bayang-bayang pudar
selalu kau nyalakan unggunan api bagi jiwa pengembara
umpama purnama yang rekah di legam rambutmu
dingin pun menyingkir dari kerumunan halimun
         agar udara leluasa berbagi cahaya dengan jiwa,
nuansa nelangsa yang memabukkan pejalan
         iringi irama hari yang pergi sendiri
gairah [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 17th, 2008

Umanyar

aku mengikuti bayangmu
hingga menuju jalan berbatu itu
jalan masa lalu di bawah naungan gunung agung
aku tertegun:
    rindu kepadamu begitu menggebu
apakah di tikungan itu
kau senantiasa menunggu
                      kehadiranku?
batu-batu lahar di rumahmu
telah ditatah menjadi candi dan arca
suatu waktu aku pun rela
                 menjadi patung batu
karena dikutuk rindu menggebu
                          rindu kepadamu
kini aku mengikuti bayangmu
           ke mana pun pergi
sebab aku tidak mau [...]

No Comments »Filed under: PuisiPosted on March 17th, 2008
Page 2 of 4«1234»