Dadu
seandainya waktu kembali
menuntun kita
pada putaran dadu
maka aku ingin lagi
mengenang jelitamu
dalam segala prasangka cuaca
(2008)
seandainya waktu kembali
menuntun kita
pada putaran dadu
maka aku ingin lagi
mengenang jelitamu
dalam segala prasangka cuaca
(2008)
walau cuaca galau dan
angin memeram benih malam
namun kau masih setia berjalan
dari waktu ke waktu pertemuan
antara kenangan dan kerinduan
lebih puisi hari-harimu kini
endapan semerbak wangi rambutmu
o, kilau cahaya yang ragu
pada batas kelam kelopak mata
ombak merayap mencapai mulus betismu
letih telah paripurna di tepian senja
dan camar yang mengembara sendiri
akan kembali pulang ke sarang jiwamu
Karangasem, [...]
kota telah menemukan namamu
tertoreh di batang-batang pohon asam
saat aku meruwat sejumput hasrat
yang digali dari batu-batu
sejauh alur waktu
kita tidak akan tersesat lagi dalam labirin itu
sebab cahaya yang merumuskan kabut
telah mencatat setiap jejak hujan
dan juga kenangan
maka biarkan bibirmu membasuh bibirku
dengan segala rindu
sebelum kasih tertimbun
puing-puing reruntuhan puri
kelak seorang pengembara akan mencatat jejak kita
dan [...]
mesti dengan apa lagi kukisahkan padamu
nubuat yang kubuat bagi keturunanmu
telah sempurna terbuka
namun kau lebih suka merayu waktu
tanpa mau menjenguk kawasanku
masa lalu telah menyerpih
dan jadi abu dalam diriku
tertimbun dalam periuk tanah liat,
bersama kalung manik-manik, gelang perunggu,
tombak usang dan kenangan lapuk
mengapa kau tiada mampu membaca nujuman itu
aku telah guratkan segala tanda di dinding tebing
[...]
tilas-tilasku akan usai di rimba keramat ini
malam demi malam telah kurambah
dan tibalah aku padamu
wahai bomo tua bermata saga
mantra dari mula mantra
aksara bergantang aksara
tergurat di gulungan lontar lapuk
yang kau semayamkan
pada bubungan rumah panggung
telah kau rafal seirama tafakur
apalah aku kini
selain menyusuri titahmu
aku cenaku dikutuk menghuni malam
mengembara dari jiwa ke jiwa celaka,
gunjo-gunjo yang penasaran [...]
/1/ Untuk: M. Arman AZ
serupa apa haru
yang tiba-tiba gagu
ketika berjumpa masa lalu
di hotel yang menggetarkan kenangan
sepi saja di sini
saat jemari waktu mengukir hari
di dinding-dinding suram kota
apa angin garam telah menumpas sisa asa
pada jiwa yang lena
di setiap musim persinggahan
perempuan-perempuan di tikungan
di bawah tiang listrik
masih menyisakan jejak perjalanan
di kota tua yang rahasia
cahaya lampu merkuri
membasuh wajahnya
dan tahulah kita
segala [...]
/1/
jerit adzan merambat
dari urat nadi toko-toko tua
di kota niaga teluk betung
burung-burung sriti
menaburi udara dengan janji
hari perlahan menanti
sebelum tiba senja
jalanan lengang
angin aroma ganggang
/2/
dari loteng
jalanan serupa bayang-bayangmu
petang akan tuntas di ujung ranjang
sisa gincu pada sarung bantal dan ujung selimut
tilas kenangan kecil pada dinding kamar pucat
dari loteng
kau lekang
aku gamang
Lampung, Agustus 2007
(dimuat di Media Indonesia, 28 Oktober 2007)
malam hampir mencekikku
sebab aku alpa pada janji semesta
sampai di mana aku kini?
kulit tubuhku dilapisi sisik ular
pundakku ditumbuhi sepasang sayap kelelawar
aku merasa hanya berputar-putar
pada lingkaran tahun yang kau bangun
segala berhala segala pelacur segala pujangga
hanya menanak mimpi jadi kerak hitam hari
apa yang mampu disembunyikan malam dariku?
malam yang dicipta dari kutukan para pendosa
kau hanya pendurhaka laknat [...]
memasuki gapura ke tiga puluh dua
akan sampai dimana kau tiba
duka telah lama berlalu dari parasmu
enyah serupa bayang-bayang pudar
selalu kau nyalakan unggunan api bagi jiwa pengembara
umpama purnama yang rekah di legam rambutmu
dingin pun menyingkir dari kerumunan halimun
agar udara leluasa berbagi cahaya dengan jiwa,
nuansa nelangsa yang memabukkan pejalan
iringi irama hari yang pergi sendiri
gairah [...]
aku mengikuti bayangmu
hingga menuju jalan berbatu itu
jalan masa lalu di bawah naungan gunung agung
aku tertegun:
rindu kepadamu begitu menggebu
apakah di tikungan itu
kau senantiasa menunggu
kehadiranku?
batu-batu lahar di rumahmu
telah ditatah menjadi candi dan arca
suatu waktu aku pun rela
menjadi patung batu
karena dikutuk rindu menggebu
rindu kepadamu
kini aku mengikuti bayangmu
ke mana pun pergi
sebab aku tidak mau [...]