- buat feybe & robert sroka -
dua purnama bersemi
di awal dan akhir mei
berkilau begitu wangi
dua purnama bersitatap
saling membaca isyarat jiwa
begitu sumringah
bagai senyum pengantin
dua purnama berkaca di telaga
punah sudah kepedihan
sebab terbuka rahasia
dalam celah indah cahaya
bayang-bayang senja
dua purnama tertawa
dunia masih sebatangkara
Mei 2007
- buat ole dan onya-
akhirnya kalian berjalan
memasuki bui
yang dibuai angin sepoi bulan mei
wajah sumringah, jiwa pasrah
pada nafas cinta
yang menghembus dari lubuk hati
sejak bertahun-tahun lampau
ketika dermaga di utara pulau
membuka rahasia pertemuan asam gunung
dan asin laut
di jalan-jalan subak
dan pematang sawah
yang dibasuh embun dinihari
bui itu dibangun dari buai cinta
sangkar keramat sang waktu
yang [...]
masih ada sisa hari
yang memberi arti
untuk kembali
senja meresap di rel-rel kereta
di pilar-pilar peron
dan roda-roda bus yang bergegas
tapi waktu tak pernah tumpas
masih ada sisa hari
malam yang gemulai berdandan
menunggu tiba birahi
masih ada sisa hari
untuk pergi
tanpa kembali
(2007)
* dimuat di Jurnal Nasional, 20 Januari 2008
kini segala kenangan mulai memuai
menjelma serpih-serpih cahaya,
sungai-sungai cahaya,
hamparan cahaya…
aku membuncah dalam udara malam
[...]
“jangan jadi dermaga
hanya untuk satu perahu,”
desahmu
lalu kita nikmati
dan hikmati ciuman
dan pelayaran
yang memabukkan
lalu, apa setelah itu?
andai ranjang ini perahu
aku ingin kembangkan layar untukmu
agar selekasnya kau mampu
merengkuh dermaga yang menunggumu
tapi yang ada hanya
dua nyawa
dua tubuh
bergumul
seraya menggarami
luka sendiri
usai itu, dermaga akan kembali sepi
perahu-perahu berlalu tanpa tuju
ranjang berhenti menyanyi
dan bulan nglangut
di lelangit kamar [...]
apa yang bisa ditawarkan si pemabuk
kecuali dirinya sendiri
lalu, segalanya kembali nisbi
seiring denting gitar pengamen jalanan,
gemerincing receh gadis cilik pengemis,
bau baju kucel penyemir sepatu,
dan seniman gelandangan
tapi rinduku padamu
serupa suara bising bajaj
yang menumpahkan aku
di emperan ini
paripurnalah sunyata
sempurnalah sudah rasa arak
ketika aku reguk
sambil membayangkan Li Po
bercinta dengan bulan di telaga
tapi tidak ada bulan [...]
dalam bumbung bambu
tuak menggelegak bagai birahi liar perawan belia
pohon asam di sepanjang jalan menuju rumahmu
telah menyempurnakan diri
dalam siraman cahaya purnama
aku melihat bayangmu berkelebat di antara jubah malam
yang tersepuh halimun
aku tidak tahu siapakah sesungguhnya Kau?
sebab aroma tuak menyihirku
serupa lidah dan ludah manis penjaga kedai
yang kukulum di belakang gubug
para sahabat masih berceloteh
perihal padi yang [...]
dari ketinggian
yang kita ratapi hanya cahaya
dan perahu-perahu layu
di teluk lampung
malam melamun
dalam cangkir kopi
jiwaku mengaca
pada bening parasmu
o, haiku yang gagu
serpih kisah yang pasrah
dari perahan waktu
kapan kita akan berjumpa kata
dan mengakhiri air mata
pada semesta cahaya
jangan biarkan waktu melaju
kita belum usai meramu malam
rindu belum tuntas diserap meja kayu
atau terlunta pada pagar bambu
celah-celah bukit kelabu
pada hamparan jiwamu
penyap dari tatap [...]
/1/ Keberangkatan
yang menggoda adalah peluit perahu
melengking pilu
dan daratan perlahan menjelma detak nadi
gemetar di ujung buritan
kompas tak terbaca
dan peta tak punya garis lintang
masih adakah yang aku tuju?
tapi di lubuk jiwa
masih tersimpan getir debar
hari akan tahu apa yang dirasa hati
mungkin camar-camar menunjuk arah
menuntunku meraba celah indah pulaumu
muli, muli, muli
jangan biarkan impianku usai
di helai-helai rambutmu
yang gemetar dibelai [...]
singa bersayap api
menari-nari
di atas runtuhan candi
gerimis miris
mengusir hari
pohon lontar kuyu
pada basah air mata
jalan setapak berliku
dan berbatu itu
menuju ceruk kelabu jiwaku
aku tercekik udara dari kenangan
yang merambati liang pekat batu
ketika gugusan waktu memudar
pada serpih-serpih tembikar
singa bersayap api
terbang ke awang-awang
mengelabui bebayang
dan petang paripurna
dalam tarian kunang-kunang
tapi siapa menuntun ruhku
ke musim [...]