/1/
fajar gemetar di ufuk dini
mengantar pilu lengking tangis
mantra pertama yang digumamkan
rasa tak rela berpisah dengan ari-ari,
saudara setia di gua garba
tahi lalat di pangkal paha kiri
oleh-oleh dari negeri seberang,
dari bapa tua penunggu waktu
sebagai bekal kali pertama
mengakrabi kilau matahari
merasakan hangatnya
sehangat dada ibuku
/2/
tanganku menggapai-gapai udara
sendiri di kasur tua
ibu, di mana [...]
- untuk: iyut fitra & jamila -
impian apa kiranya
yang mengelabui sukmamu
untuk pasrah menaiki bahtera
tanpa mualim tanpa nahkoda
fajar dan falak hanya sebatas mata
ihram yang kau idamkan
tertuju hanya kepada kekasih sejati
raut wajah yang pernah menghuni ihtilammu
akankah kembali tiba saat malam pengantin
ceritakan padaku seperti apa rasa khuldi
ihwal rindu kita sejak mula menggauli dosa
[...]
- untuk: nike ardilla -
hujan belum tuntas menderas
ketika kau menyeruak tiba
dari kerumunan taman silam
dari tilas-tilas getas usia belia
kau masih seperti dulu
raut parasmu yang lugu
menyapaku dengan lagu pilu
nirwana macam apa
kau peram dalam muram matamu
cinta apa bergetar pada alur alismu,
yang serupa bayang samar sepasang camar
mengembara di hari terakhir,
di langit akhir
ketika kata dan cinta [...]
- mengenang asia carera -
geletar pinggulmu merasuki malam pualam
dimana kematian sembunyi
dalam nyaman liang ular liar
pecundang itu tertatih mendaki licin bukitmu
berkali-kali terpeleset di jalan setapak
yang berliku dan menanjak
hingga terdampar pada hamparan lembah kelabu
dimana rumput alang-alang mengering
sebelum tiba musim semi
dalam garbamu yang gulita
aku nyalakan pelita
agar cahaya memberkati aksara
hingga sehelai puisi selesai
[...]
kau masuki rimba penuh halimun
hingga bayang tubuhmu jadi nanar
menggigilkan cuaca di puncak takdir
sekilas pertemuan, seutas kenangan
meramu senja penghabisan
tapi usia belum usai melata
pada paras belia yang jelita
yang seindah bunga sakura
miyabi, mengapa mesti
kau luruhkan busana
hanya untuk ilusi
yang tak jenuh kau suguhkan
pada akhirnya hari akan tahu
dimana mesti berhenti
untuk tidak kembali
menjenguk masa lalu
(Karangasem, Bali, November [...]
sejauh alur Batanghari
senja tiba lebih dini
hamba terus berkayuh
menjauh dari dermaga Muaratembesi,
dari nalam masa silam
Batanghari masih memeram bayang wajah hamba
mengalirkan kenangan ke dalam sanubari
berpusar menjadi lubuk-lubuk waktu
dan rindu yang terus berlagu
serupa nyanyi peri-peri penunggu sungai
senantiasa memunculkan wajah jelita
Tuan Putri Pinangmasak,
junjungan hamba dalam segala cuaca
kini hamba kembali ke sini
namun bukan untuk [...]