<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com &#187; Resensi</title>
	<atom:link href="http://jengki.com/category/resensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jul 2010 02:15:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pastoral Kupukupu, Sarat Renungan Sufistik</title>
		<link>http://jengki.com/2009/01/08/pastoral-kupukupu-sarat-renungan-sufistik/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/01/08/pastoral-kupukupu-sarat-renungan-sufistik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 05:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku               : Pastoral Kupukupu
Penulis                       : I Made Suantha
Penerbit                     : Arti Foundation
Tebal                             : ix  + 143 halaman
Cetakan  Pertama     : Agustus 2008
 
Sekitar tahun 1980-an, Bali banyak ditumbuhi penyair muda. Mereka berlomba-lomba merebut ruang sastra di Bali Post yang diasuh motivator, pencari bakat, penyair sekaligus “suhu” puisi, Umbu Landu Paranggi. Saat itu, penyair muda bermunculan hampir di setiap kabupaten di Bali. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul Buku               : Pastoral Kupukupu</p>
<p>Penulis                       : I Made Suantha</p>
<p>Penerbit                     : Arti Foundation</p>
<p>Tebal                             : ix  + 143 halaman</p>
<p>Cetakan  Pertama     : Agustus 2008</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-273" title="sampul-pastoral-kupukupu" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/01/sampul-pastoral-kupukupu.jpg" alt="sampul-pastoral-kupukupu" width="113" height="156" />Sekitar tahun 1980-an, Bali banyak ditumbuhi penyair muda. Mereka berlomba-lomba merebut ruang sastra di Bali Post yang diasuh motivator, pencari bakat, penyair sekaligus “suhu” puisi, Umbu Landu Paranggi. Saat itu, penyair muda bermunculan hampir di setiap kabupaten di Bali. Bahkan penyair, atau anak-anak muda yang menggilai puisi, menjamur hingga ke tingkat kecamatan, desa, dan banjar. Umbu seakan tidak kenal lelah, bahkan hingga sekarang, untuk terus melakukan panggilan kreatif kepada anak-anak muda itu. Panggilan kreatif yang dibarengi kegiatan-kegiatan apresiasi itu membuat anak-anak muda semakin gayeng merebut ruang eksistensi untuk meneguhkan jati dirinya sebagai penyair.</p>
<p>Namun seiring irama waktu, penyair-penyair muda itu memasuki hukum rimba dan takluk pada seleksi alam. Hanya sedikit dari mereka yang masih tekun menggeluti dunia puisi hingga kini. Sebagian besar raib ditelan gelombang kehidupan yang semakin gila dengan pertarungan-pertarungan duniawi dan materialisme. Mungkin, mereka lebih memilih hidup “membumi” ketimbang merana dalam ruang “awang-awang”, kalau penyair dianggap sebagai suatu profesi yang tidak menghasilkan gaji bulanan.</p>
<p>Tersebutlah di sebuah desa bernama Sanur, sekitar pertengahan tahun 1980-an, muncul sekelompok penyair muda bernama Pojok Sanur. Mereka gayeng bertempur di ruang sastra Bali Post dengan kelompok-kelompok penyair lainnya. Dengan kecerdikannya sebagai motivator, Umbu membuatkan arena bagi mereka, yakni: Pos Pawai, Kompetisi, Kompro (Kompetisi Promosi), Pos Budaya, Solo Run, Duet-Duel, dengan beberapa variasi istilah lainnya. Darah muda bertemu arena dan “tukang kompor”, maka terjadilah pertarungan unjuk kehebatan dan pencapaian masing-masing dalam bekarya kreatif. Salah satu penyair dari Pojok Sanur yang tekun berpuisi adalah I Made Suantha.</p>
<p>I Made Suantha lahir di Sanur pada tanggal 24 Juni 1967. Di usia yang masih sangat muda, Suantha telah diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membaca sajak-sajaknya dalam Forum Puisi Indonesia 1987 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Saat itu DKJ dan TIM masih sangat angker bagi penyair dari daerah, merupakan tempat keramat dimana seseorang bisa dibaptis menjadi penyair nasional. Dua tahun kemudian Suantha menerbitkan buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama, Peniup Angin (1989). Saat itu, Suantha merupakan representasi dari impian setiap penyair muda dari daerah: diakui secara nasional dan memiliki buku puisi tunggal. </p>
<p>Kini, Suantha kembali menerbitkan buku kumpulan puisi tunggalnya, bertajuk Pastoral Kupukupu (Agustus 2008). Buku itu diterbitkan Arti Foundation atas bantuan program Widya Pataka yang digagas Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali.</p>
<p>Membaca judul buku ini, kemudian menyelami dan menyimak 65 sajak yang terangkum di dalamnya, orang bisa merasakan ruapan hawa relegius dan sufistik dari seorang penyair yang tekun menjelajahi dunia kebatinan. Dalam penjelajahan itu tentu muncul berbagai kegelisahan dan benturan berkaitan dengan penemuan kesejatian diri, Sangkan Paraning Dumadi untuk mencapai Manunggaling Kawula Gusti. Ada pertanyaan esensial “Dari mana aku, mau ke mana aku?” untuk menjelajahi dan mencapai sebuah tahapan penyatuan “aku dan Kau”, peleburan “atma dan Atman”.</p>
<p>Sajak-sajak dalam buku ini terbagi menjadi empat bagian, yakni Terracota Kupukupu (6 sajak, dibuat tahun 2003-2004), Repatriasi Kupukupu (15 sajak, 2006-2007), Restorasi Kupukupu (22 sajak, 2004), dan Pastoral Kupukupu (22 sajak, 2004-2005). Masing-masing bagian dipisah dengan ilustrasi khusus perihal kupukupu dengan makna-makna tertentu.</p>
<p>Suantha mengatakan kumpulan puisinya ini adalah potret dari perjalanan dengan nada hati yang kacau, sebuah pertanyaan yang sumbang, sebuah jawaban yang lugu. Bagi Suantha, membaca diri sama dengan memahami kupukupu menyuling madu. Orang merasakan pahit dari perasan manisnya. “Di setiap kata, bait, kalimat, ada potongan-potongan tubuh dan jiwa saya yang termutilasi, berserakan,” kata Suantha.</p>
<p>Kupu-kupu merupakan simbol yang tepat untuk menggambarkan penjelajahan diri Suantha dalam dunia puisi yang lama ditekuninya. Ia menulis sajak lebih sebagai pelepasan dari penjelajahan batinnya. Kata-kata, frase, metafora, irama, bunyi, tipografi yang aneh saling berkelindan, saling melilit dan membelit, untuk berusaha menemukan jalan kesejatian puisi. Suantha seperti seekor ulat yang menjadi kepompong dan pada akhirnya menjelma kupu-kupu yang indah dengan aneka warna sayapnya.</p>
<p>Sajak-sajak Suantha penuh dengan kegelisahan dalam merambah pengembaraan batin. Sesekali dia menemu, lalu terpesona dan terpaku pada berkas cahaya Ilahi. Di lain waktu dia jumpalitan dalam ruang muram batinnya yang penuh raung kata-kata. “Ruang di langit tak menentu. Jangan karamkan aku dalam kegelisahan ini,” teriak Suantha dalam sajak Repatriasi Kupukupu-9 (hal.35). Sekali waktu, Suantha memang “merasa menempuh jalan yang tak menentu”.</p>
<p>Ya, itulah jalan puisi sejatinya. Ada saat-saat penyair memang tidak pernah merasa menemukan tujuan. Padahal sesuatu yang bernama tujuan bermukim di dalam diri penyair itu sendiri. Suantha pada akhirnya meyakini itu, seperti ditegaskan dalam bait terakhir sajak “Repatriasi Kupukupu-9”: Aku menyeberangi detak. Aku sendiri merasa mengejamu!/Aku menyeberangi denyut jantungmu, menenggelamkan diri/Sampai yatim piatu di kemah itu!</p>
<p>Membaca sajak-sajak Suantha, kita seperti diajak mabuk kata-kata, hingga mencapai ektase dalam kesurupan kata-kata. Dalam sajaknya, kata-kata, simbol, metafora berhamburan berebut makna dan perhatian, seperti mencari jalan dan tujuan masing-masing. Di lain waktu, kita menemukan sajak-sajak Suantha seperti pertarungan tiada habis antara sosok dan bayangannya untuk mencapai kesejatian diri.</p>
<p>Di dalam sajak-sajak Suantha, kita menemukan metafora-metafora bernuansa sufistik yang banyak bertebaran. Misalnya penggunaan kata “mawar”. Mawar merupakan simbol sufi. Pada beberapa sajaknya, Suantha getol menggunakan simbol mawar. Sebagai seorang perambah rohani, Suantha juga suka menggunakan simbol jukung yang banyak muncul pada sajak-sajak awalnya. Seperti pada sajak “Suluk Kupukupu Air: Sebuah Epitaph 1” (hal.7) yang salah satu baitnya berbunyi: Siapa mengusap jelaga di peluh/Menetes seperti darah rinduku/ Dalam mengenangmu!/Mengalir kampung halaman/Gairah moyang/Dan jukung didulang hasrat/Sebuah tembang hampa!</p>
<p>Memasuki sajak-sajak Suantha seperti memasuki hutan rimba. Banyak hal tak terduga bisa ditemukan dalam rimba itu. Atau mungkin memahami sajak-sajak Suantha seperti memahami kedalaman laut yang tak terpahami. Semakin diukur semakin dalam.***</p>
<p>(Wayan Sunarta)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/01/08/pastoral-kupukupu-sarat-renungan-sufistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tema Beragam, Penuh Kejutan Metafora</title>
		<link>http://jengki.com/2008/12/25/tema-beragam-penuh-kejutan-metafora/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/12/25/tema-beragam-penuh-kejutan-metafora/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 07:07:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/12/25/tema-beragam-penuh-kejutan-metafora/</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku       : Dongeng Anjing Api
Penulis          : Sindu Putra
Penerbit         : Arti Foundation
Tebal            : viii  + 121 halaman
Cetakan  Pertama : Juli 2008

“Dongeng Anjing Api” memuat 100 sajak pilihan Sindu Putra yang terbagi menjadi dua bagian: Periode Bali (1994-2000) dan Periode Lombok (2001-2007). Lima puluh sajak dalam Periode Bali dikerjakan Sindu di Bali saat dia belum menikah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul Buku       : Dongeng Anjing Api</p>
<p>Penulis          : Sindu Putra</p>
<p>Penerbit         : Arti Foundation</p>
<p>Tebal            : viii  + 121 halaman</p>
<p>Cetakan  Pertama : Juli 2008</p>
<p><img class="size-full wp-image-257 alignleft" style="margin: 2px 3px;" title="jigsaw-in-head" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/12/jigsaw-in-head.jpg" alt="jigsaw-in-head" width="87" height="87" /></p>
<p>“Dongeng Anjing Api” memuat 100 sajak pilihan Sindu Putra yang terbagi menjadi dua bagian: Periode Bali (1994-2000) dan Periode Lombok (2001-2007). Lima puluh sajak dalam Periode Bali dikerjakan Sindu di Bali saat dia belum menikah. Sedangkan 50 sajak Periode Lombok dikerjakan Sindu ketika dia sudah menikah dan menetap di Lombok.</p>
<p>Menurut Sindu, pembagian ini didasari oleh waktu, tempat dan situasi-kondisi.</p>
<p>Membaca sajak-sajak Sindu, orang akan bertemu dengan sejumlah kata yang secara umum dianggap kurang bernilai puisi. Namun penyair kelahiran Sanur, 31 Juli 1968 ini dengan leluasa dan tanpa beban menggunakan kata-kata itu. Tidak mudah memang memasukkan kata-kata berbau modern ke dalam puisi sebab memerlukan pergulatan batin dalam memilih kata dan keterampilan berbahasa tingkat tinggi. Artinya penyair sudah tidak ada persoalan lagi dengan bahasa dan cara ungkap.</p>
<p>Sajak-sajak penyair yang bernama lengkap Ida Bagus Sindu Putra ini menjelajahi berbagai kemungkinan kata dan metafora. Sindu termasuk penyair yang terus gelisah untuk beternak sajak dalam dirinya, membiakkan anak-anak sajak dengan berbagai rupanya. Selalu saja terdapat kejutan-kejutan metafora yang dibangun dari keliaran imajinasi dan penjelajahannya terhadap kata.</p>
<p>Tema-tema yang digarap Sindu juga sangat luas dan beragam, seperti masalah dan kritik ekologi/lingkungan, kritik sosial, kritik budaya, ketuhanan, kehilangan, percintaan, pencarian jati diri, folklore, mitologi, perubahan akibat modernisasi. Terkadang dalam sebuah sajak Sindu, orang menemukan lebih dari satu pokok persoalan, atau sebuah tema yang membias ke berbagai arah layaknya cahaya yang ditembakkan ke dalam prisma. Misalnya persoalan ekologi campur aduk dengan mitologi dan perubahan akibat modernisasi.</p>
<p>Persoalan lingkungan (ekologi), misalnya, terangkai dalam baris-baris sajak “Tempat Pengalengan Ikan” (hal. 53): ke dalam akuarium kayu ini/perahu alumuniumku berlabuh/melewati pesta sungkawa/bunga-bunga jahe yang tumbuh/ dalam rumah kaca/membelit lubang telinga. Kengerian akan kehancuran alam semakin jelas terlihat pada baris berikutnya: hujan asam tumbuh dalam televisi/menekuk punggungku/warna garis api dan lekuk ozon/di garis edar satelit bumi/menganga/mulut kakus menerima setubuh semesta/kucium bau tubuhmu. bau platina&#8230;</p>
<p>Sindu cukup rajin menggarap sajak bertema kritik lingkungan yang seringkali dikaitkan dengan persoalan modernisasi. Kalau ditelisik lebih jauh, persoalan ekologi muncul hampir di sebagian besar sajak Sindu, menjelma metafora dan berkelindan dengan berbagai persoalan lainnya. Kegamangannya menghadapi modernisasi yang merambah Bali, misalnya terlukis pada sajak “Tanah Lot” (hal.56): dengan upacara air mata/aku migrasi dari pulau diri//dengan perahu beku/karam dalam diri/aku berlayar/melewati monumen keabadian/kondominium lilin setinggi pohon karet.</p>
<p>Folklore atau cerita rakyat juga menjadi perhatian Sindu. Sebuah cerita rakyat Bali yang terlupakan, Men Brayut, diangkat oleh Sindu menjadi sajak yang menarik dan sarat renungan sosial. Perhatikanlah petikan baris pembuka sajak “Ibu Kita Men Brayut” (hal.64): ibu kita men Brayut ibu sejati/dari payudaramu ibu   yatim piatu menyusu/ jadilah aku salah satu anakmu&#8230;Judul sajak ini diparodikan dari lagu “Ibu Kita Kartini”.</p>
<p>Sindu cukup piawai mengolah dongeng ke dalam sajaknya. Bahkan tampak kecenderungan sajak-sajak Sindu adalah mendongeng, dengan berbagai imajinasi liar dari negeri antah berantah bercampur aduk dengan serakan kata-kata dan metafora dari dunia modern. Misalnya, dalam sajak “Ritus Tantri” (hal.72), Sindu mengaitkan atau memparodikan dongeng Tantri dengan raja penderita insomnia dan impotensi, bahkan raja yang paranoid. Dalam sajak “Dongeng Kini Manusia Bali”, Sindu malah memlesetkan namanya menjadi artupudnis (kebalikan “sinduputra”), seakan nama tokoh dari mitologi Yunani kuno. Perhatikan pembuka baris sajak ini: di puncak bukit akropolis/dengan lumut edelweis/tatah namaku: artupudnis. Kalau membaca keseluruhan sajak ini, agaknya susah menemukan kaitan antara judul dan isinya.</p>
<p>Sajak-sajak Sindu bukanlah akhir dari jaman liris yang menurut Nirwan Dewanto telah hancur, menjadi puing dan telah berada di ambang senjakala. Justru sajak-sajak Sindu memperkaya lirisme dengan berbagai variannya. Sindu mampu memadukan, mengaduk dan meramu kata-kata dari berbagai bidang ilmu sehingga sajak-sajaknya terkesan unik dan mengagetkan bagi banyak kalangan yang masih tertib dengan lirisme.</p>
<p>Idiom-idiom dokter hewan, dunia peternakan, pertanian, modernisasi, merasuk ke dalam sajak-sajaknya. Orang sering heran, bagaimana bisa Sindu dengan berani mencantumkan kata-kata yang secara umum tidak puitis ke dalam sajaknya. Seperti kata “televisi”, “kondominium”, “impotensi”, dan lain sebagianya. Namun justru di sinilah kehebatan Sindu yang tidak terlalu silau dengan kata-kata, idiom-idiom, metafora-metafora yang secara umum disepakati bernilai sastra dan mampu membangun kerangka kuat sebuah sajak.</p>
<p>Sebagai penyair, Sindu tidak hanya asyik dengan dunia batinnya sendiri. Sindu mengamati, merasakan, berempati, bersimpati pada berbagai kejadian, dan dengan cermat menuangkan ke dalam sajak-sajaknya. Hanya saja, terkadang Sindu terlalu hanyut dengan kegelapan dan keruwetan metafora sehingga beberapa sajaknya menjadi keruh. Karena salah satu tantangan penyair adalah justru menggapai kejernihan dalam pergulatannya dengan puisi.</p>
<p>Kata-kata atau Metafora-metafora yang dibangun Sindu seringkali berbenturan atau berjumpalitan dalam sajak-sajaknya. Mungkin, bagi Sindu, menulis puisi bukan untuk menjadi penyair (Menulis Puisi, hal. 58). Mungkin, Sindu hanya ingin bermain, seperti ucapnya dalam bait sajak “Aku Bermain” (hal. 48): Melenguh menjadi sapi/melolong sebagai serigala//mengenakan topeng kertas/menjadi burung orok-orok.</p>
<p>Kelebihan Sindu sebagai penyair adalah kemampuannya untuk berenang dan bermain dalam samudera kata-kata dan imajinasi liar, sehingga melahirkan sajak-sajak yang terkesan unik. Kalau perjuangan penyair adalah menemukan metafora yang segar, maka Sindu sudah melakukannya.*** (Wayan Sunarta)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/12/25/tema-beragam-penuh-kejutan-metafora/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
