<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com &#187; Resensi/Ulasan Buku</title>
	<atom:link href="http://jengki.com/category/resensiulasan-buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jul 2010 02:15:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sekilas Sajak: SUARA DAN PINTU WAYAN SUNARTA</title>
		<link>http://jengki.com/2008/09/05/sekilas-sajak-suara-dan-pintu-wayan-sunarta/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/09/05/sekilas-sajak-suara-dan-pintu-wayan-sunarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 05:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/09/05/sekilas-sajak-suara-dan-pintu-wayan-sunarta/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Hudan Hidayat*

&#8220;Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sublim, dari mana saya bisa belajar banyak hal, terutama kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun mosaik kaca menjadi cermin, dari mana saya mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga jejak-jejak perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Hudan Hidayat*</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/09/sampul-impian-usai.jpg" title="sampul buku"><img src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/09/sampul-impian-usai.jpg" alt="sampul buku" /></a></p>
<p>&#8220;Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sublim, dari mana saya bisa belajar banyak hal, terutama kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun mosaik kaca menjadi cermin, dari mana saya mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga jejak-jejak perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses, yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.&#8221;</p>
<p>itulah kata kata penyair wayan sunarta untuk pengantar buku puisinya, yang saya ambil di apsas. saya pertama kali berkenalan dengan wayan melalui dunia cerita pendek. saya membaca cerpennya dalam lomba cerpen cwi yang, seingat saya, telah berlangsung empat kali lalu mati itu. di sanalah saya dengan ahmadun, maman dan beberapa kawan secara bergantian tiap tahun membaca naskah naskah yang masuk. dan rasanya selalu saya menemukan wajah wayan di sana. selalu dia menjadi finalis dan selalu dia gugur di tahap tahap naskah final oleh juri yang banyak itu.</p>
<p>barusan saya melihat buku puisinya secara utuh, dan melihat pula bagaimana pandangannya sebagai seorang penyair melihat dunia perpuisian. ada yang menyentuh di sana: bagaimana wayan kecil mencuri curi di jam jam istirahatnya untuk membacai buku buku puisi.</p>
<p>sekedar semangkuk bakso, terasa sangat mewah bagi saya waktu itu, kata wayan.</p>
<p>pengalaman seorang pengarang di manapun sama saja: menghabiskan masa kanaknya untuk sebuah dunia sunyi. dunia kata kata yang dibangun oleh penyair lain. sebelum ia menuliskan dunianya sendiri.</p>
<p>(menarik dunia sunyi yang digeluti saut situmorang dalam pengembaraannya belasan tahun di luar negeri. dunia sunyi macam apa yang melanda dirinya)</p>
<p>sebuah dunia mengembara, di mana tiap nilai dikocok dan dibenturkan dalam realitas hidup. dari hidup yang sunyi. dari dunia yang sunyi.</p>
<p>tapi hendak bagaimanakah kita memaknai kesunyian itu, kalau bukan sunyi dari sebuah eksistensi, dari sebuah diri yang seolah terhampar begitu saja di tengah dunia. di seputar kita banyak orang ramai. tapi kita merasakan sunyi.</p>
<p>sunyi mungkin kutuk bagi para penyair. tapi penyair diangkat dalam kitabnya.</p>
<p>dari banyak puisi wayan di buku puisinya, saya langsung mengambil sebuah puisi pendek ini. saya selalu tertarik dengan sebuah suara. saya selalu tertarik dengan sebuah pintu.</p>
<p>suara dan pintu, bagi saya dua keadaan yang mengandung mistik sunyinya diri. karena suara, karena pintu, maka tiap penulis bersedia untuk mengambil jalan yang tak lazim itu. seolah dengan suara gejolak gejolak bertemu, dan meminta jalan jalan keluarnya melalui pintu. simbolik ini agaknya menjadi ciri paling hakiki dari tiap manusia. ciri yang mewujud ke dalam banyak suara dan banyak pintu.</p>
<p>suara wayan adalah suara yang masuk ke dalam malam &#8211; simbolik dari dunia tiap tiap kemungkinan. dari dunia yang tak dikenal. di mana malam berlapis sebagai suara tapi juga berfungsi sebagai pintu &#8211; pintu masuk ke dalam malam. maka lihatlah bagaimana judul puisi ini bersetubuh langsung dengan larik pertama puisi: suaramu di pintu &#8211; senja baru saja berangkat.</p>
<p>aduh berangkat ke mana wayan kalau bukan masuk menemu malam? malam dari burung balam dari yang coba diidiomkan oleh penyair pakcik. malam dari arak arak api tapi malam pula dari zikir zikir sunyinya diri.</p>
<p>masuk ke mana wayan?</p>
<p>belum apa apa malam yang meninggalkan tingkap telah mengejutkan kita dengan seseorang bertamu.</p>
<p>(tingkap, di tingkap malam, bukankah tingkap rumah kita juga di mana kita angankan bahagia di sana?)</p>
<p>siapakah yang mengejutkan itu? siapakah yang mengetuk pintu itu? suara siapakah yang datang di tingkap malam?</p>
<p>tak ada sesiapa di luar<br />
hanya desir dingin</p>
<p>(dari desir angin)</p>
<p>maka sang penyair pun balik ke biliknya lagi. penyair yang tak bersedih kecuali isenga saja.</p>
<p>mungkin angin<br />
yang ngetuk<br />
pintuku, katanya.</p>
<p>mungkin sang penyair sudah tak punya kesedihan lagi dalam hidupnya, sehingga dia dingin saja. dia iseng saja.</p>
<p>hudan<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;&#8212; &#8212;&#8212;-<br />
Suaramu di Pintu</p>
<p>senja baru saja berangkat<br />
meninggalkan tingkap</p>
<p>kudengar ketukan<br />
di pintu</p>
<p>siapa bertamu?</p>
<p>kubuka pintu<br />
tak ada sesiapa di luar<br />
hanya desir dingin</p>
<p>aku balik ke bilik<br />
mungkin angin<br />
yang ngetuk<br />
pintuku</p>
<p>1993</p>
<p>* Sastrawan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/09/05/sekilas-sajak-suara-dan-pintu-wayan-sunarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Estetika (Puisi) dan Spiritualitas Post-Relegi</title>
		<link>http://jengki.com/2008/04/29/estetika-puisi-dan-spiritualitas-post-relegi/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/04/29/estetika-puisi-dan-spiritualitas-post-relegi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 08:09:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/04/29/estetika-puisi-dan-spiritualitas-post-relegi/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yudhis M Burhanuddin 
 
 
Judul       : Malam Cinta
Penulis    : Wayan Sunarta
Penerbit  : Bukupop
Cetakan   : Desember 2007
Tebal        : v-xii 104 halaman
DELAPAN puluh lima puisi dalam karya ini bernafaskan cinta. Tetapi dalam Pura Jati, Batur, Pura Sakenan, dan Puisi XXII, cinta itu bernafaskan spritualitas: cinta fisik mampu disublimasi menjadi cinta mistik-vertikal. Karya sastra “menggantikan” agama-lahiriah ketika ia menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Yudhis M Burhanuddin </p>
<p> <a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/04/malam-cinta.jpg" title="malam"><img src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/04/malam-cinta.thumbnail.jpg" alt="malam" /></a><br />
 </p>
<p>Judul       : Malam Cinta<br />
Penulis    : Wayan Sunarta<br />
Penerbit  : Bukupop<br />
Cetakan   : Desember 2007<br />
Tebal        : v-xii 104 halaman</p>
<p>DELAPAN puluh lima puisi dalam karya ini bernafaskan cinta. Tetapi dalam Pura Jati, Batur, Pura Sakenan, dan Puisi XXII, cinta itu bernafaskan spritualitas: cinta fisik mampu disublimasi menjadi cinta mistik-vertikal. Karya sastra “menggantikan” agama-lahiriah ketika ia menjadi pengabdian mistik-vertikal, mampu membebaskan dari ikatan duniawi (dukha), dan jauh dari keindahan artifisial. Beberapa karya sastra sekarang ini mencoba mengartikulasikan semangat itu dengan cara memasukkan teks kitab suci ke dalamnya dan atau diungkapkan secara implisit. Celakanya, upaya itu gagal secara estetis. Taruhlah misalnya interteks dijadikan pembenaran untuk itu; diskursus intertekstualitas mesti dipahami dalam teks-konteks hologram dan pengaruhnya terhadap teks-teks sesudahnya sebagaimana maksud Julia Kristeva.</p>
<p>Sejarah kesusastraan mencatat bahwa kidung-kidung Nirartha, puisi-puisi Rumi, Tagore, dan Amir Hamzah misalnya, adalah contoh terbaik sublimasi percintaan fisik menjadi percintaan mistik-vertikal antara hamba dan sang adikodrati yang melampaui agama lahiriah sehingga pembaca berlatar-belakang budaya apapun bisa menerimanya. Dalam karya seperti ini, keindahan tubuh juga disublimasi sehingga ikonisasi tubuh perempuan misalnya, tidak terjebak keindahan artifisial yang keropos.</p>
<p>Bagaimanapun, puisi adalah hasil olah rasa estetis dalam wujud kata dan atau untaian kata. Sutardji Calzoum Bachri pernah mendobrak estetika kata dalam bunyi. Bagi kaum strukturalis, olah rasa estetis diwujudkan melalui ungkapan kiasan, serta diksi denotatif dan konotatif, dan bukan sekadar “muntahan” yang bersifat psuedo-kebebasan. Pada sisi lain, estetika sebagai filsafat keindahan menelusup jauh ke dalam, merangsang kontemplasi, dan membangkitkan spritualitas. Pada akhirnya, puisi adalah sublimasi objek dan peristiwa.</p>
<p>Dalam Pura Jati, Batur, tertulis: pepohonan memekarkan bunganya / pinus, endapan lahar batur, cemara / bersahutan dalam nyanyi sunari / begitu dalam percintaan kita / cinta yang dihantar wangi bunga / wangi dupa, hening tirta / dan tatapan lugu mata bocah. Kiasan epos perbandingan (epic simile) dalam teks ini bagai lukisan percintaan fisik. Tidak satupun kata dalam puisi ini yang merujuk pada objek adikodrati, pun juga bebas dari teks kitab suci.</p>
<p>Larik sebelumnya yang berbunyi: kini pesonamu begitu memukau / merangkum lahir dan batinku mengantarkan imaji pembaca pada figur tertentu meski masih tebakan. Selanjutnya, ungkapan tak henti membungkus semadiku / aku hangat dalam dekapmu yang menutup stanza ini memperjelas figur tersebut melalui diksi ‘semadi’. Meski demikian, ini belum memadai.</p>
<p>Lapis metafisis dimensi vertikal-mistik puisi di atas dapat dicermati dari: pemahaman hereustik, konteks peristiwa, dan kode budaya yang melingkupinya. Semua ini saling terkait dalam gerak melingkar penafsiran (hermeneutical circle) menurut bacaan Hermeneutika karena kegiatan menafsirkan, demikian Ricouer, bersamaan dengan kegiatan memahami sehingga tidak ada penafsiran tanpa pemahaman. Dengan kata lain, untuk mencapai pemahaman lapis metafisis kandungan cinta mistik-vertikal puisi di atas, teks-teks puisi tersebut pertama-tama harus dipahami secara hereustik (semantik). Artinya, kata ‘semadi’ misalnya, atau frase ‘endapan lahar batur’, secara hereustik dipahami masing-masing sebagai ‘hubungan-intens’ dan ‘gejala alam’. Dari sana kemudian direfleksikan dengan “ke-situasi-an” (situatedness) dalam istilah Gadamer. Setelah itu, barulah terbayang lapis peristiwa yang sebenarnya bahwa paling tidak, itu menggambarkan kegiatan tertentu yang merujuk pada kegiatan spritual di tempat tertentu pula.</p>
<p>Pemahaman ini masih kasar dan karena itu, kode budaya yang melingkupinya juga harus dikuak yang dalam hal ini misalnya, dimulai dari menguak kata ‘wangi bunga’, ‘wangi dupa’, dan ‘hening tirta’. Kata-kata ini merujuk ke kode budaya masyarakat Hindu-Bali. Kode budaya dalam gerak melingkar penafsiran berperan penting untuk memahami makna simbol-simbol secara eksistensial—makna simbol dalam-dirinya.</p>
<p>Kecuali judulnya, dalam puisi Pura Sakenan juga tidak ditemukan diksi tertentu yang dengan itu pembaca dengan gampang menebaknya bersifat spritual. Tetapi, ungkapan: terlahir aku kembali / dengan wujud yang berbeda / hingga kesunyian rindu / melabuhkan aku di pesisirmu; adalah simbolisasi untuk itu. Kode budaya berada dalam pengertian luas dan sempit sehingga agama dan filsafat mencakup di dalamnya. Bahwa berdasarkan prinsip intertekstualitas dan hermeneutika, teks-teks ini bisa ditelusuri sampai ke lontar-lontar tattwa-jnana, bahkan Weda, tentang reinkarnasi, moksa, dan sunyata. Dalam Puisi XII misalnya kata ‘sunyata’ digunakan. Filsafat Hindu sebagai kode budaya sangat berperan atas interpretasi simbolik konsep moksa, reinkarnasi,dan sunyata dalam teks puisi ini.</p>
<p>Pura Jati, Batur, Pura Sakenan, dan Puisi XXII adalah puisi yang mengandung spritualitas post-religi. Alasannya, ia menyublimasi percintaan fisik menjadi percintaan mistik-vertikal antara hamba dan sang adikodrati. Kedua, meskipun terminologi Hindu digunakan sebagai judul, namun ketiga puisi ini tidak menonjolkan aspek lahiriah ke-Hindu-an dan karena itu, pembaca non-Hindu bisa menikmatinya tanpa merasa “di-Hindu-kan” oleh teks. Ini berarti, Wayan Sunarta membebaskan terminologi-terminologi khas Hindu dari ikatan-ikatan partikularnya karena ketika teks telah terbebas dari belenggu lahiriah, di saat itu ia diterima secara luas. Kesenian, sebagai bahasa universal, melampaui agama-lahiriah karena esensi berkesenian adalah: “siwam-satyam-sundaram”.</p>
<p>Sumber: Bali Post, Minggu, 13 April 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/04/29/estetika-puisi-dan-spiritualitas-post-relegi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dalam Dekapan Takdir Sunyi</title>
		<link>http://jengki.com/2008/04/29/dalam-dekapan-takdir-sunyi/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/04/29/dalam-dekapan-takdir-sunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 02:27:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/04/29/dalam-dekapan-takdir-sunyi/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Hasan Aspahani
Judul           : Impian Usai
Pengarang  : Wayan Sunarta
Penerbit     : Kubu Sastra, Denpasar
Cetakan I   : Agustus 2007
Tebal           : 131 halaman
INILAH buku penting seorang penyair dari Bali bernama Wayan Sunarta. Buku ini berisi 99 sajak dari rentang kepenyairannya selama lima belas tahun. Wayan membagi lima belas tahun itu dalam tiga penggal. Penggal pertama dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Hasan Aspahani</p>
<p>Judul           : Impian Usai<br />
Pengarang  : Wayan Sunarta<br />
Penerbit     : Kubu Sastra, Denpasar<br />
Cetakan I   : Agustus 2007<br />
Tebal           : 131 halaman</p>
<p>INILAH buku penting seorang penyair dari Bali bernama Wayan Sunarta. Buku ini berisi 99 sajak dari rentang kepenyairannya selama lima belas tahun. Wayan membagi lima belas tahun itu dalam tiga penggal. Penggal pertama dari tahun 1992-1996. Penggal kedua 1997-2001. Dan penggal terakhir 2002-2006. Adakah yang berubah dalam periode lima tahunan itu? Ataukah ini sekedar pembagian untuk kemudahan saja? Mari kita telusuri.</p>
<p>Saya sepenuhnya setuju pada kata sagangan Joko Pinurbo di sampul belakang buku ini. Katanya, sajak-sajak Wayan mengajak kita mabuk sepi agar bisa sampai ke bening yang dalam itu. Ia bilang juga, memasuki sajak Wayan adalah menghirup hawa bening yang meruap dari hamparan kata-kata yang tampak tenang di luar tapi penuh gejolak di dalam.</p>
<p>Ini bukan setuju yang asal setuju. Mari kita hitung berapa kata &#8220;sunyi&#8221; dan variannya dalam sajak-sajak di buku ini. Sebelumnya sepakati saja bahwa yang saya sebut varian dari sepi itu adalah &#8220;sayup-sayup&#8221;, &#8220;sepi&#8221;, &#8220;hening&#8221;, &#8220;lirih&#8221;, &#8220;tanpa suara&#8221;, &#8220;kebisuan&#8221;, &#8220;keheningan&#8221;, dan &#8220;bisu&#8221;.</p>
<p>Kata-kata &#8220;sunyi&#8221; dan kawan-kawannya itu muncul 42 kali dalam 99 sajak. Ini kemunculan yang sangat sering. Hampir satu dari dua sajak dalam buku ini mengandung kata itu. Jadi memasuki dunia sajak Wayan di buku ini adalah petualangan yang disambut dengan bisikan lirih, &#8220;Selamat memasuki dunia sunyi.&#8221;</p>
<p>Saya mencemaskan, bahwa kehadiran sunyi itu jika tidak didukung oleh penggarapan yang kuat, akan sangat membosankan. Untung saja, kecenderungan jumlah kehadiran sunyi itu dalam tiga penggal waktu lima tahunan semakin berkurang. Pertama ada 17 kali dalam 32 sajak, lalu 15 kali dalam 37 sajak, dan terakhir semakin berkurang karena hanya 10 kali dalam 30 sajak.</p>
<p>Masalahnya adalah apakah sepinya Wayan telah ia suling sehingga hadir menjadi sepi yang tidak membuat pembaca jenuh? Ataukah ia sekadar mengikuti saja sepi yang ia rasakan apa adanya? Apakah ia mengendalikan atau ia dikendalikkan sepi? Sebaiknya kita rasakan saja apa yang berdetak dalam sajaknya untuk meraba-raba jawaban pertanyaan-pertanyaan tadi. Saya pilih tiga sajak dari masing-masing tiga periode lima tahunan tadi.</p>
<p>Sajak pertama:</p>
<p>Takdir Sunyi</p>
<p>mesti berapa musim lagi<br />
kujelmakan takdir ini</p>
<p>takdirku senantiasa bernama adam<br />
yang kesepian sejauh perih waktu<br />
burung-burung tersesat<br />
bermusim-musim dalam alir nadiku</p>
<p>pada bening keningmu aku bercermin<br />
meneliti guratan masa silam<br />
yang ranggas bersama buah-buahan kutukan<br />
o, begitu buruk rupaku?<br />
angin liar menampar kesangsian<br />
aku makin asing dari wajahku</p>
<p>mesti berapa musim lagi<br />
kejelmakan takdir ini</p>
<p>ular-ular bersarang dalam nafsuku<br />
mengerami telur-telur hawa<br />
dan dosa semakin hangat<br />
dalam dekapan takdir sunyi ini</p>
<p>1994</p>
<p>Inilah saya kira dasar dari keterpesonaan Wayan pada sepi itu. Ia memahami bahwa takdirnya sebagai manusia yang kebetulan berjenis kelamin lelaki adalah takdir seorang Adam. Adam kesepian di dunia. Bertahun-tahun terpisah dari Hawa, dan ini adalah bagian dari hukuman itu. Ia tahu, ia akan mewariskan hukuman ini pada anak-anaknya. Karena sepi itu, ia seperti burung-burung yang bermigrasi mengikuti perubahan musim pun dan tersesat, bermusim-musim.</p>
<p>Dan orang yang kesepian itu tak mengenal lagi wajahnya, sebab ditampar oleh kesangsian angin liar. Orang yang bertakdir sepi itu terbantu oleh seorang berkening bening sehingga ia bisa bercermin di situ. Hubungan antara lelaki dan wanita &#8211; Adam dan Hawa &#8211; adalah motif yang hampir selalu hadir menggerakkan seluruh sajak-sajak Wayan.</p>
<p>Sepi itu, entah berapa musim lagi akan ada, si aku tidak tahu. Ia hanya mengulangi tanya, berapa musim lagi. Dan sajak ini ditutup dengan bait yang sangat baik. Si aku menikmati sepi itu, sebab sepi yang ia terima sebagai takdir itu, membuat ular-ular bersarang dalam nafsunya, mengerami telur-telur hawa, meski ia tahu dalam dekapan takdir sunyi itu ada dosa yang semakin hangat. Adam memang dibuang ke surga karena dosa.</p>
<p>Ini sebuah sajak yang utuh, jalinan imajinya padu, dan sunyi yang hadir di sana adalah sunyi tidak biasa. Sebuah sunyi yang kuat. Sebuah sunyi hakiki yang hadir dari kecermatan mendalami hidup dan hakikat hidup itu sendiri. Wayan berhasil menerjemahkan sepi yang ia rasakan menjadi sepi yang menjadi milik semua manusia. Ia berhasil mengatasi diri sendiri, sebagaimana amanat Subagio Sastrowardoyo tentang sajak yang bermakna, kemudian menautkan diri dengan kehidupan yang lebih luas.</p>
<p>Sajak kedua:</p>
<p>Potret Diri</p>
<p>lebih sepi kau kini<br />
sehelai puisi tak selesai<br />
puntung rokok dan kerak kopi<br />
makin kusam dalam gelas malam<br />
waktu seperti risau<br />
menunggu di ujung gang itu</p>
<p>seperti apa paras bulan<br />
saat langit muram<br />
puisi tak selesai<br />
hidup merambat lambat<br />
racun tembakau dan mariyuana<br />
telah sampai pada pusaran nadi</p>
<p>lalu kau temukan diri<br />
dengan sepotong pena rombeng<br />
dan seberkas mimpi usang</p>
<p>1999</p>
<p>Lima tahun kemudian, Wayan menghadirkan sepi yang lain. Ia merasakan sepi yang lebih. Sepi yang justru membuat sehelai puisi tak selesai. Sepi yang mulai menjadi masalah, sehingga waktu terasa merisaukan dan ia perlu hal lain untuk mengatasinya: rokok dan kopi.</p>
<p>Sepi dalam periode lima tahun kedua ini akhirnya hanya mengantarkan aku pada kesadaran, pada penemuan diri sendiri dengan sepotong pena rombeng dan seberkas mimpi usang. Ada apa? Kenapa keberhasilan mengatasi perhatian pada diri sendiri dalam periode lima tahun pertama justru tak berhasil diulang kali ini? Kenapa Wayan justru masuk semakin dalam dalam ke dirinya sendiri?</p>
<p>Saya kira kualitas sepi dan kualitas sajaknya, jika dianggap cukup diwakili dengan satu sajak ini, pada periode lima tahun kedua ini, semakin merosot. Sayang&#8230;</p>
<p>Dan inilah pilihan sajak yang ketiga, sajak yang sekaligus menjadi judul buku ini:</p>
<p>Impian Usai</p>
<p>impian usai di akhir<br />
napak tilas yang bergegas<br />
gagu meraba getir takdir<br />
galau membaca jejak aksara di tapak tangan<br />
ingatkah kau pada pasir yang mampir dan.<br />
terlunta di bening gelas anggurku?</p>
<p>perempuan tuntas membekas pada jiwa<br />
usia dan tahun tiba sebelum senja<br />
tinggal kenangan, selalu kenangan<br />
rekah dan sumringah bagai geliat pandan<br />
ingin membawa kita meretas<br />
abadi dalam pasang surut musim</p>
<p>mimpi terpanjangku adalah kebeningan<br />
angan yang menyesatkan pengembara pada<br />
rahasia cuaca dan getar cahaya<br />
guratkan lagi aksara penghabisan<br />
agar sempurna kepedihan demi kepedihan</p>
<p>2006</p>
<p>Jika di sajak yang mewakili masa lima tahun kedua, si penyair merasa bertemu sajak yang tak bisa ia selesaikan, maka di sajak ini ia justru menemukan lagi hakikat sepi itu. Hidup tetap saja tak pasti. Takdir yang getir hanya bisa dengan gagu diraba, tak pernah terpegang. Tapi impian telah usai. Sebuah napak tilas telah tuntas. Tapi bukan berarti impian yang usai itu membawa ketenangan. Aksara di tapak tangan tetap saja dibaca dengan galau. Hidup tetap saja tak mudah. Ibarat pasir yang ada di bening gelas.</p>
<p>Motif hubungan lelaki dan perempuan menguat lagi di sajak ini. Adam itu, lelaki itu, penyair itu, si aku itu, menyadari bahwa perempuan tetap membekas pada jiwa. Usia tak bisa ditolak. Banyak keinginan. Selalu ada keinginan. Seperti abadi. Keinginan-keinginan itulah, rencana-rencana itulah yang membawa manusia meretas dalam pasang surut musim. Sebuah pencapaian kesadaran yang menggugah.</p>
<p>Hidup adalah kesiapan menerima luka, merasakan kepedihan. Si aku menyadari, atau memberi tahu dirinya sendiri bahwa mimpi terpanjang adalah kebeningan angan. Mimpi dan angan. Keduanya bukankah hanya akan menyesatkan kita pada rahasia cuaca dan getar cahaya? Si aku sadar, bahwa ia harus menulis sajak, harus meninggalkan jejak, harus melakukan sesuatu. Walaupun sesuatu yang dilakukan itu, jejak yang ditinggalkan itu, sajak yang dituliskan itu hanya menyempurnakan kepedihan demi kepedihan.</p>
<p>Tanpa kehadiran kata sunyi, pilihan sajak yang terakhir ini justru menghadirkan sunyi yang lebih padat, lebih kental, lebih menumbuk ulu hati. Saya amat menikmatinya, saya ikut merasakan sepi itu.</p>
<p>Jika penerbitan buku ini adalah tonggak kepenyairan Wayan Sunarta, penyair kelahiran Denpasar 22 Juni 1975 ini, maka saya kira tantangan berikutnya bagi dia adalah bagaimana kemudian dia mulai menapak lagi, agar tidak berputar-putar saja pada tonggak ini. Jika buku ini berhasil memperdengarkan erangan-erangan dan geliat Wayan Sunarta dalam dekapan takdir sunyi, maka saya kira langkah kepenyairan Wayan berikutnya harus lepas dari dekapan itu. Wayan tentu lebih tahu, apa yang tengah mendekap dia saat ini, atau apa yang sedang dan ingin ia dekap saat ini.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.sejuta-puisi.blogspot.com/">www.sejuta-puisi.blogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/04/29/dalam-dekapan-takdir-sunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepiawaian Penyair Membangun Metafora</title>
		<link>http://jengki.com/2008/04/28/kepiawaian-penyair-membangun-metafora/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/04/28/kepiawaian-penyair-membangun-metafora/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 02:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/04/28/kepiawaian-penyair-membangun-metafora/</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Yudhis M Burhanuddin

Judul          : Impian Usai
Penulis       : Wayan Sunarta
Penerbit     : Kubu Sastra, Denpasar
Cetakan I   : Agustus 2007
Tebal          : ii + 131 halaman
BEGITU LUAS dan dalamnya lautan puisi sehingga alam dasar-bawahnya pun beribu panorama. Maka, mengarungi dan menyelami lautan puisi bagaikan menyaksikan keindahan dasar-bawah yang, setiap kali mata berkedip secara refleks, setiap kali itu pula, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/04/impian-usai-hight.jpg" title="impian"></a></p>
<p>Oleh: Yudhis M Burhanuddin</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/04/impian-usai-hight.jpg" title="impian"><img src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/04/impian-usai-hight.thumbnail.jpg" alt="impian" /></a></p>
<p>Judul          : Impian Usai<br />
Penulis       : Wayan Sunarta<br />
Penerbit     : Kubu Sastra, Denpasar<br />
Cetakan I   : Agustus 2007<br />
Tebal          : ii + 131 halaman</p>
<p>BEGITU LUAS dan dalamnya lautan puisi sehingga alam dasar-bawahnya pun beribu panorama. Maka, mengarungi dan menyelami lautan puisi bagaikan menyaksikan keindahan dasar-bawah yang, setiap kali mata berkedip secara refleks, setiap kali itu pula, warna mutiara berganti. Sebagai salah satu capaian estetik, puisi yang luas dan dalamnya bak lautan itu, bisa dihampiri, dikenali, dikaji, dan dipahami dari dua aspek: aspek dalam dan luarnya.</p>
<p>Adalah penyair muda Bali, Wayan Sunarta, dalam sebuah buku kumpulan puisinya yang bertajuk Impian Usai, menyuguhkan beribu panorama dan sekaligus ruang pengenalan, pengkajian, dan pemahaman dari dua aspek tersebut di atas. Sebanyak sembilan puluh sembilan puisi di dalamnya, yang rentang kelahirannya sejak tahun 1992 hingga 2006, mewakili kesaksian sang penyair akan perjalanan hidup.</p>
<p>Dalam suatu perbincangan singkat di kamarnya yang kecil, di antara sesaknya buku-buku, majalah-majalah, kertas-kertas koran serta kertas-kertas kerja lainnya, ia mengungkapkan bagaimana sulit dan beratnya menerbitkan buku puisi di zaman “dikte pasar” ini. Mungkinkah kegundahan itu yang kemudian merangsangnya untuk menorehkan: mimpi terpanjangku adalah keheningan / angan yang menyesatkan pengembara pada / rahasia cuaca dan getar cahaya / guratkan lagi aksara penghabisan / agar sempurna kepedihan demi kepedihan&#8230; Petikan ini adalah stanza terakhir dari puisinya, Impian Usai (hal. 126). Sebelumnya, di stanza awal pada puisi yang sama, ia memekikkan: galau membaca jejak aksara di tapak tangan. Sebelum meneliti struktur puisi itu sendiri, sebaiknya kita tinggalkan pertanyaan tentang makna puisi.</p>
<p>PADA hakekatnya, puisi adalah “reinkarnasi” sistem tanda konvensional yang beredar lepas di kehidupan maha luas ini menjadi sistem tanda yang lebih segar dan menggugah rasa. Sistem tanda yang kini menjadi puisi menyuguhkan cita-rasa plus ruang-ruang tafsir baru. Kecerdasan seniman dan atau sastrawan terletak di sini: bahwa ia telah “me-reinkarnasi-kan” sistem tanda. Tidak sulit untuk melacak reinkarnasi ini. Misalnya, kata aksara pada larik puisi di atas, yang dalam sistem tanda konvensionalnya berarti huruf, “berubah” makna seratus persen menjadi garis hidup—atau sederhananya garis tangan. Kesimpulan ini berangkat dari: pertama, bahwa diksi-puitik yang relevan bagi kata ‘huruf’ atau ‘garis-garis’ adalah ‘aksara’; kedua, secara keseluruhan (koherensi) dan korespondensi, kata ini terdeterminasi oleh kata-kata pada periodesitas (baris sajak menurut sistem) sebelumnya, misalnya oleh ‘rahasia cuaca’ dan ‘agar sempurna kepedihan demi kepedihan’.</p>
<p>Di samping itu, beberapa petikan bait puisi di atas adalah salah satu contoh metafora-implisit (implied-metaphor), dengan kehadiran tenornya (principal-term) saja, tanpa kehadiran vehicle-nya yang mengikat sebagai term-kedua (secondary-term). Kealpaan term-kedua itulah kemudian, metafora-implisit yang banyak ditemukan dalam puisinya mengakibatkan ruang-ruang tafsir terbuka dan bisa ( seringkali secara arbitrer) dikaitkan dengan apa saja yang lain yang relevan.</p>
<p>Metafor sesungguhnya seringkali ditemukan di setiap, atau bahkan di semua puisi. Prinsip metafor adalah menyatakan persamaan sesuatu hal—yang sama ataupun tidak sama—dengan sesuatu yang lain walaupun yang dipersamakan itu memang tidak sama. Ambiguisitas berlaku di sini—dan memang puisi selalu demikian. Metafora adalah cara yang paling pas—untuk menghindari kata “gampang”—dalam mengekspresikan rasa. Dengan medium ini estetika bahasa tercapai. Penyair-penyair terdahulu semisal Amir Hamzah, WS Rendra atau Subagio Sastrowardoyo seringkali menggunakan medium ini dalam beberapa puisi mereka (Pradopo, 2005:66-68).</p>
<p>Dari hampir seratus puisi yang terangkum  dalam buku ini, setidaknya sepuluh persen di antaranya menggunakan metafora, baik yang implisit maupun yang non-implisit. Puisi-puisi yang dimaksud adalah Nyanyian Menara (hal.7), Laut Jiwamu (hal.17), Perempuan Kupu-Kupu (hal.42), Bermalam Di Toyabungkah (hal.47), Birahi Biru (hal.60), Requiem (hal.89), Larik Ombak (hal.92), Bulan pun Layu &#8211; buat: pelukis kardana- (hal.95), Malam Pantai Canggu (hal.100), Bukit Venus (hal.102), Di Kafe Tera, Rawamangun, Jakarta (hal.106), Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam (hal.116-117), dan Surat dari Rumah Pantai (hal.127). </p>
<p>Dalam puisi Bukit Venus misalnya, Wayan Sunarta berharap: aku tiba pada hamparan bukit venus / milikmu yang penuh pesona / pada tebing merah muda / di antara rerimbun pinus / sebuah pancuran di atas gua / mengalir air ibu bumi. Pada bait ini dan seterusnya ia menyamakan (metafor) seseorang yang lain dan juga “diri” (nya) dengan katakanlah masing-masing perbukitan dengan segala isinya dan seorang pertapa dengan hasrat dan perasaannya setelah menikmati perjalanan itu. Yang menjadi tenor (principal-term) dalam puisi ini adalah keindahan-tubuh (perempuan) dan kelezatan “senggama”, sementara tenor-keduanya (secondary-term) berada di masing-masing benak pembaca. Itulah kepiawaian dan kelenturan-rasa Wayan Sunarta dalam membangun metafora untuk mencapai estetika bahasa dan makna-di-balik-makna.</p>
<p>Sumber: Bali Post, Minggu, 26 Agustus 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/04/28/kepiawaian-penyair-membangun-metafora/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tokoh-tokoh Rekaan dan Pengarang Tiran</title>
		<link>http://jengki.com/2008/04/25/tokoh-tokoh-rekaan-dan-pengarang-tiran/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/04/25/tokoh-tokoh-rekaan-dan-pengarang-tiran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 07:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/04/25/tokoh-tokoh-rekaan-dan-pengarang-tiran/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Warih Wisatsana

Belakangan ini, setiap kali membaca karya fiksi terutama cerita pendek, saya kerap tergoda untuk menelisik lebih jauh bagaimana tokoh-tokoh rekaan itu dilahirkan dan sekaligus dihadirkan oleh para pengarangnya.  Seringkali, mungkin seperti  pembaca lainnya, saya dibuat tercengang, bukan oleh jalan ceritanya yang menakjubkan, melainkan karena tokoh-tokoh itu dituturkan bertingkah-polah aneh dan ganjil. Peristiwa-peristiwa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Warih Wisatsana</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/04/purnama-di-atas-pura-hight3.jpg" title="purnama"><img src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/04/purnama-di-atas-pura-hight3.thumbnail.jpg" alt="purnama" /></a></p>
<p>Belakangan ini, setiap kali membaca karya fiksi terutama cerita pendek, saya kerap tergoda untuk menelisik lebih jauh bagaimana tokoh-tokoh rekaan itu dilahirkan dan sekaligus dihadirkan oleh para pengarangnya.  Seringkali, mungkin seperti  pembaca lainnya, saya dibuat tercengang, bukan oleh jalan ceritanya yang menakjubkan, melainkan karena tokoh-tokoh itu dituturkan bertingkah-polah aneh dan ganjil. Peristiwa-peristiwa yang dialami mereka pun cenderung terjadi serba kebetulan, tak disertai suatu hubungan sebab-akibat yang meyakinkan. Sisi lainnya, tak jarang juga ditemui sosok wong cilik yang kelewat cerdas, kelewat tak masuk akal dalam jalinan kejadian yang pada dasarnya biasa-biasa saja.</p>
<p>Tokoh-tokoh “kikuk” itu (bukan unik), baik yang mencoba absurd, yang ingin sureal, atau bahkan yang tampil real-senyatanya, akhirnya mengesankan tengah “diperalat” oleh sang empu cerita. Sosok mereka tidak lebih semacam duplikasi angan dan ingin yang tak terkendali dari si pengarangnya. Karena itu karakter dasar atau perwatakan mereka akhirnya pun menjadi tak terjaga. Tokoh-tokoh itu tampil klise atau stereotipe; moralis atau jahat umumnya, dan akibatnya terkesan kurang leluasa mengekspresikan sikapnya, bahkan kehilangan peluang untuk menjadi dirinya sendiri. Sang pengarang, justru disebabkan otoritas penciptaannya, terdorong untuk bersikap tiran; sesuka hati memberkati para tokoh itu dengan nasib baik, atau sebaliknya menghukumnya dengan takdir buruk.</p>
<p>*</p>
<p>Purnama di Atas Pura adalah buku kumpulan cerpen kedua sastrawan Wayan “Jengki” Sunarta, yang memuat 15 cerita pendek, dengan rentang waktu penciptaan sepuluh tahun (1995-2005). Berbeda dengan kumpulan cerpennya yang pertama, Cakra Punarbhawa (Gramedia, Februari 2005), buku kedua ini justru menyertakan karya-karya awal dari karier kepenulisannya. Tentu saja fakta ini menarik disimak lebih jauh, dan dengan sendirinya hal itu memungkinkan kita untuk memperoleh gambaran yang jernih dari proses dan perkembangan kreatif Wayan Sunarta.</p>
<p>Kesan awal dari keseluruhan cerpen-cerpen ini memang menunjukkan adanya usaha yang cukup gigih dari pengarang, yang tidak hanya melakukan eksplorasi atas kemungkinan “bentuk” kisahannya, melainkan juga dalam upayanya untuk menggali dan menyuguhkan tema-tema yang beraneka.</p>
<p>Sebagaimana kumpulan cerpennya yang terdahulu, kali ini Sunarta juga mendalami aneka gaya tutur; antara lain bersifat absurd-imajinatif, realis, atau bercorak filosofis. Sebagian besar tokoh-tokoh yang dihadirkannya lebih merupakan gambaran dari orang-orang biasa, lelaki atau perempuan yang tengah murung, sedih oleh patah hati atau oleh bentuk-bentuk kekecewaan lainnya. Tidak ada tokoh-tokoh luar biasa, yang tampil dengan citra heroik atau dilukiskan memiliki kelebihan yang menakjubkan. Kalau pun hadir figur-figur yang terbilang misterius, seperti sosok perempuan dalam cerpen Muli Sikep atau nenek sakti tanpa identitas dalam Kekasih Menjelma Cahaya, juga gadis penjual kopi di Lembah Batur, pengarang tidak berpretensi untuk mendeskripsikannya secara berlebihan.</p>
<p>Berbeda halnya dengan buku Cakra Punarbhawa, yang memang kebanyakan tokoh-tokohnya bukan dari kalangan orang biasa, atau setidaknya tampil dengan gambaran yang lebih heroik/dramatik. Semisal sosok camat, dalam cerpen Rumput Liar, yang dilukiskan mati secara tragis dililit oleh rumput liar; atau sosok simbolik yang nan karikatural dalam cerpen Jimat Tikus; juga tokoh sang aku yang menitis berulang dan mengalami aneka kekerasan dalam cerpen Cakra Punarbhawa.</p>
<p>Tokoh-tokoh “sakit hati” ini, ditangan Sunarta, tidak dipertautkan dalam suatu jalinan cerita yang penuh kompleksitas.  Sebagian besar cerpen  dalam buku keduanya ini cenderung realis, tak jauh berjarak dari kenyataan sehari-hari. Kisahannya mengalir linear, bahkan dalam cerpen-cerpen awalnya mudah ditebak akan berakhir di mana. Unsur surprise di akhir cerita, yang oleh sebagian pengarang diyakini sebagai salah satu kekuatan genre ini, tak terlalu mengobsesi Sunarta.</p>
<p>Disadari atau tidak, dan memang terbukti mendominasi kumpulan ini, pengarang justru lebih terobsesi untuk mengisahkan tokoh-tokoh penuh kecewa dan bernasib malang karena kasihnya yang tak sampai, atau pengharapannya yang harus kandas di tengah jalan. Misalnya, pertemuan melankoli antara dua sosok yang terluka karena dikhianati pasangan sebelumnya (Dua Kisah Sedih), tokoh “aku” yang ditinggal berulang oleh kekasih-kekasihnya (Boneka Monyet), sosok Dampar yang menyaksikan selingkuh kekasihnya (Pulang), atau tokoh “aku”  yang gamang dalam Pondok Bambu dan juga dalam Serenade Jakarta. Mereka memang sosok-sosok yang mengalami trauma cinta. Begitu dalam luka batin itu, bahkan di antaranya ada yang nyaris hilang kepercayaannya akan sisi baik dari manusia.</p>
<p>Sunarta juga menghadirkan sosok-sosok sakit hati yang problemnya tidak lagi persoalan cinta antar kekasih, namun satu pergolakan batin yang menggambarkan tema kekerasan adat dan tradisi, atau tema kekerasan terhadap kehidupan. Sosok Mangku Teguh, contohnya, dalam cerpen yang judulnya sama dengan tokohnya, digambarkan berjiwa teguh-kukuh atas panggilan hidupnya. Sebagai pemangku di sebuah pura, orang tua yang telah ditinggal mati istrinya itu, harus berhadapan dengan kenyataan yang tak terelakan, yaitu intimidasi dari para penanam modal yang bersikeras ingin memiliki tanah pelaba pura, yang hendak dijadikan proyek pariwisata. Pertentangan kepentingan dan ketakberdayaan tercemin di dalam gejolak batin Mangku Teguh. Ia seakan mewakili satu tipikal kesetiaan dari orang-orang tradisi, yang taat dan patuh akan wasiat leluhurnya. Di akhir cerita, sosok Mangku Teguh yang digambarkan soleh dan religius itu justru memilih gantung diri sebagai bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan. Sebuah pilihan sikap yang mencerminkan kenyataan yang paradoks; taat dan religius di satu sisi, dan di sisi lainnya justru bertindak menyalahi ajaran-ajaran agama yang diyakininya itu: membunuh diri atau mati ulah pati. Sedang dalam cerpen Aryati dan Purnama di Atas Pura, tema kekerasan ditampilkan hanya sebagai latar, bukan sebagai pokok cerita.</p>
<p>Selain itu, cerpenis yang juga penyair ini, punya kecenderungan untuk menghadirkan sosok tokoh yang sedari awal digambarkan secara misterius. Simak saja cerpen Lelaki Tua dan Tas Kresek, Muli Sikep, Kekasih Menjelma Cahaya atau pun juga cerpen Pondok Bambu. Bila pada ketiga judul cerpen terakhir ini, Sunarta menghadirkan aroma mistis sebagai latar penjelas sosok tokoh-tokohnya, sebaliknya dalam Lelaki Tua dan Tas Kresek, ia mengedepankan kemisterian sehari-hari dari sesosok lelaki tua yang biasa berjalan seorang diri sambil membawa tas kresek.</p>
<p>Ke empat cerpen ini memiliki peluang membangun jalinan cerita yang memikat, seandainya penggambaran watak dan karakter tokohnya dilakukan lebih rinci serta lebih mencerminkan konflik psikologi yang dialami mereka. Tuturan yang berlebihan tentang latar cerita yang kasat mata, atau suatu deskripsi fisik belaka, sepatutnya dihindari. Sebab boleh jadi hal itu akan mendorong cerita menjadi artifisial, disamping memperlemah  kecamuk batin yang tengah dialami para tokoh itu. Akibatnya, misteri yang telah terbangun sejak awal, akan kehilangan pesona-pukaunya sebelum sampai ke akhir cerita.</p>
<p>Menariknya, pengarang ini tidak melulu menciptakan tokoh-tokoh yang berasal dari Bali, dia juga menghadirkan tokoh-tokoh legenda yang hidup dalam masyarakat Lampung, semisal kisah seorang kakak yang dikutuk jadi Naga dalam cerpen Naga Dasar Danau, atau sosok perempuan misterius yang konon mati bunuh diri dalam Muli Sikep. Upaya menggali cerita dari latar kultur yang lain, memang patut diteruskan, dan ini tentulah akan menjadi tantangan kreatif tersendiri.</p>
<p>*</p>
<p>Tidak dapat dipungkiri lagi, tokoh-tokoh dalam cerita pendek sejatinya memang memegang peranan yang sentral. Mereka tidak hanya bagian dari cerita, melainkan kerap juga menjadi cerita itu sendiri. Oleh sebab itu, justru atas nama kebebasan dalam penciptaan, seyogyanya pengarang mampu mengendalikan diri untuk tidak berlaku sewenang-wenang. Bukankah salah satu ciri kematangan seorang pengarang adalah ditentukan juga oleh kemampuannya dalam mengendalikan imajinasi, bukan sebaliknya malahan hanyut atau jadi tawanan dari keliaran imajinasinya  sendiri. </p>
<p>Dan patut disadari, upaya menahan diri dan mengendalikan imajinasi, pada galibnya berbanding lurus dengan usaha pengarang untuk menemukan (sekaligus menyelaraskan) stilistik dan tematik yang akan menjadi ciri dan kekuatannya. Ini bukan pekerjaan gampang. Apalagi cerita pendek, terlebih bila dibandingkan dengan novel, kenyataannya memang menuntut penggunaan bahasa yang lebih hemat dan ketat. Maka dengan sendirinya, kesewenang-wenangan pengarang atas nasib tokoh rekaannya akan berakibat pada goyah dan lemahnya bangunan peristiwa dalam cerpen secara keseluruhan. Jalinan kejadian akhirnya menjadi tidak utuh, tokoh-tokoh kehilangan hakikat kisahannya, dan akhirnya cerpen tergelincir menjadi serpihan pernyataan-pernyataan, bukan suatu  penggambaran “kenyataan” yang padu, atau sebuah “dunia yang menjadi” sebagaimana yang dicapai dalam penciptaan puisi yang mumpuni.</p>
<p>*</p>
<p>Tokoh-tokoh orang biasa dalam Purnama di Atas Pura, memang telah diusahakan oleh pengarangnya, setidaknya secara tersirat,  untuk tampil “wajar” dan selaras dengan gaya bertutur pilihannya. Namun, yang tersurat mengesankan tokoh-tokoh itu masih “tersandera” oleh obsesi kesedihan dan kemurungan yang tampaknya amat mengungkung keseharian pengarangnya. Keunikan watak para tokoh itu belum sepenuhnya tergarap, dan sikap mereka tidak terpaparkan secara konsisten.</p>
<p>Ke depan, selain terus berjuang untuk mempercanggih teknik tutur dan mempertajam konflik antar-tokohnya, Wayan Sunarta juga patut berusaha melepaskan diri, minimal berupaya menciptakan jarak dari kungkungan obsesi tersebut. Sosok tokoh Mangku Teguh, yang leluasa mengekspresikan karakter dan kecamuk batinnya, adalah salah contoh dari kepiawian yang selayaknya terus diupayakan oleh cerpenis ini.***<br />
 </p>
<p>Sumber: Esai Penutup Buku Kumpulan Cerpen &#8220;Purnama di Atas Pura&#8221; (Grasindo, 2005)                                   <br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/04/25/tokoh-tokoh-rekaan-dan-pengarang-tiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicari: Cerpen Sekelas Cakra Punarbhawa</title>
		<link>http://jengki.com/2008/04/25/dicari-cerpen-sekelas-cakra-punarbhawa/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/04/25/dicari-cerpen-sekelas-cakra-punarbhawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 02:08:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/04/25/dicari-cerpen-sekelas-cakra-punarbhawa/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Nuryana Asmaudi
 
Judul           : Cakra Punarbhawa
Pengarang  : Wayan Sunarta
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama, 2005
Tebal            : ix + 146 halaman
&#8220;Kau beri aku kembara tanpa dengan kekal. Aku ulang alik, berpindah dari satu tubuh ke lain tubuh. Seperti burung-burung yang diusir musim dingin. Pintu rahim siapa mesti kuketuk lagi, demi ruh yang tak henti mengembara. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Nuryana Asmaudi</p>
<p> <a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/04/sampul-cakra-punarbawa.jpg" title="cakra punarbawa"><img src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/04/sampul-cakra-punarbawa.thumbnail.jpg" alt="cakra punarbawa" /></a><br />
Judul           : Cakra Punarbhawa<br />
Pengarang  : Wayan Sunarta<br />
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama, 2005<br />
Tebal            : ix + 146 halaman</p>
<p>&#8220;Kau beri aku kembara tanpa dengan kekal. Aku ulang alik, berpindah dari satu tubuh ke lain tubuh. Seperti burung-burung yang diusir musim dingin. Pintu rahim siapa mesti kuketuk lagi, demi ruh yang tak henti mengembara. Aku letih menyusuri garis edarku sendiri. Aku bukan matahari, bukan bulan, bukan bumi. Aku noktah pada hamparan semesta-Mu. Bila aku mengakui ada-Mu, apa harus aku mempercayaimu?</p>
<p>Bila Kau titiskan aku lagi, beri aku sebilah kelewang berkilau dan kuda putih. Aku hanya sudi menjelma ketika usia bumi meratap tua. Itulah akhir titah-Mu, akhir kembaraku. Itulah saat aku mengukur umurku sendiri, mengumpulkan remah-remah karma.</p>
<p>Atau titiskan aku lagi 666 tahun kemudian, ketika bumi menjadi lapisan es. Aku akan menjelma ikan-ikan cahaya, yang menghuni lubuk paling kelam dari samudera membeku, dari jiwa paling kelabu. Dan Kau? Kau membeku dalam istana-Mu!&#8221;<br />
Hidup selalu berakhir dengan kematian. Tapi kematian bukan akhir dari segalanya. Konon, setelah kematian masih ada kehidupan lagi. Terutama bagi penganut faham reinkarnasi, setelah kematian seseorang (mahluk hidup) masih bisa hidup kembali, menjelma pada sosok yang lain, yang disebut dengan reinkarnasi. Kadang seseorang malah bisa berulangkali hidup-mati dalam beragam penjelmaan, dalam kurun waktu tak terhingga.</p>
<p>Hal itu setidaknya tergambar dalam cerpen &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221;, salah satu cerpen yang tergabung dalam buku kumpulan cerpen dengan tajuk yang sama, karya Wayan Sunarta. Cerpen tersebut berbicara tentang reinkarnasi, yang secara kronologis menceritakan kejadian-kejadian yang dialami tokoh dalam cerpen ini, yakni tokoh &#8220;aku&#8221;. Aku yang berulangkali lahir-hidup-mati, untuk menjalani karma (suratan takdir) dari-Nya di alam fana ini.  </p>
<p>Sang aku yang &#8220;beruntung&#8221; karena berkali-kali hidup dalam kurun waktu yang sangat lama, yakni sejak zaman Majapahid (abad ke-14) hingga abad ke 21 (saat tragedi Bom Bali), tapi di lain sisi nasibnya &#8220;apes&#8221; karena selalu dihidupkan dalam karma yang &#8220;buruk&#8221; dan kurang menyenangkan. Tokoh aku selalu hidup menjadi pecundang, terpuruk, dan berada dalam kubangan lumpur kenistaan. Di satu waktu sang aku lahir menjadi penjudi, centeng pelabuhan, mucikari, gigolo; di lain waktu menjadi bromocoreh-begundal-sundal-bajingan. Kadang lahir sebagai anak nelayan, kadang menjadi anak pelacur, lalu menjadi anak buruh tani yang orang tuanya digorok dan dibantai karena kasus politik, bahkan kadang menjadi anak raja tapi tidak diakui.</p>
<p>Dan, ironisnya, sang aku tak pernah mampu melawan karma-takdir &#8220;apes&#8221;-nya itu. Ia hanya bisa pasrah menerima dan menjalani takdir bagai roda yang berputar di luar kehendaknya sendiri, tanpa bisa menolak apalagi melawan. Ia lelah. Lelah menghadapi karma buruk yang berkali mendera dan menjeratnya, sampai akhirnya ia hanya bisa mengeluh sambil melenguh dan berharap dengan memelas seperti yang terungkap pada bagian akhir cerpen yang dikutipkan di awal tadi.</p>
<p>Cerpen &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221; boleh dibilang merupakan  masterpiece-nya Wayan Sunarta dalam buku ini. Setelah dimuat di harian Kompas (Minggu), dan kemudian masuk Nominasi Cerpen Pilihan Kompas 2004, cerpen ini sempat menjadi bahan perbincangan (&#8220;kontroversi&#8221;) kalangan sastra. Sastrawan Yogyakarta, misalnya,  menilai dan memberi perhargaan &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221; sebagai Cerpen Terbaik Kompas&#8221; sebagai &#8216;keputusan tandingan&#8217; atas penilaian para juri dari Kompas yang hanya memasukkan  cerpen tersebut sebagai nominasi dalam seleksi cerpen tahunan Kompas.</p>
<p>Cerpen ini dinilai bagus dari segi isi maupun bahasanya. Cerpen ini konon adalah puisi panjang (10 halaman) yang kemudian diubah formatnya menjadi cerpen. Karenanya unsur puitiknya sangat kental.<br />
Buku kumpulan cerpen pertama wayan Sunarta ini memuat 14 cerpen. Selain &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221;, adalah cerpen &#8220;Menunggu Hening Malam&#8221;, &#8220;Penjaga Kamar Mayat&#8221;, &#8220;Birgit&#8221;, &#8220;Kembar Buncing&#8221;, &#8220;Kutukan&#8221;, &#8220;Jimat Tikus&#8221;, &#8220;Kematian Ayah&#8221;, &#8220;Puncak Ke Tujuh&#8221;, &#8220;Penggalan Kepala Patung&#8221;, &#8220;Laut Kelabu&#8221;, Ratih&#8221;, &#8220;Rumput Liar&#8221;, dan &#8220;Anjing dan Dendam&#8221;. Hampir semua cerpen yang tergabung dalam buku ini sudah pernah diumumkan di media masa mulai dari Kompas, Jurnal Cerpen Indonesia, Suara Merdeka, hinga Bali Post. Selain &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221;, beberapa cerpen lain juga pernah memperoleh penghargaan, yakni &#8220;Puncak Ketujuh&#8221; (Masuk Nominasi &#8220;Anugerah sastra majalah Horison 2004&#8243;), dan &#8220;Kematian Ayah&#8221; (Masuk Nominasi &#8220;Lomba Penulisan Cerpen Nasional Depdikbud CWI Jakarta 2004&#8243;).</p>
<p>Tema cerpen-cerpen dalam buku ini cukup beragam, mulai dari masalah re-inkarnasi, konflik adat, hingga renungan eksistensi hidup, dan dilema kekerasan sosial. Cerpen &#8220;Kembar Buncing&#8221; (hal.11-22), misalnya menceritakan tentang sepasang suami-istri yang punya anak lahir kembar laki-perempuan (Kembar Buncing) yang mendapat sangsi adat di desanya yang (warganya) masih mempercayai bayi kembar buncing adalah aib dan karenanya harus diasingkan di tepi kuburan desa, akhirnya pasangan suami-istri tersebut memutuskan meninggalkan desanya untuk bermukim di kota demi &#8220;melawan&#8221; sangsi adat yang dinialinya tidak manusiawi tersebut. Lalu cerpen  &#8220;Puncak Ketujuh&#8221; mengangkat tema eksistensi perjuangan hidup, dimana dikisahkan enam warga desa yang bertaruh nyawa untuk mencapai puncak gunung (puncak ketujuh) yang ternyata secara nyata puncak ke tujuh tersebut tidak ada (hal29-37).</p>
<p>Cerpen &#8220;Jimat Tikus&#8221; misalnya lagi, menggambarkan fenomena kehidupan di Indonesia yang manusianya gemar melakukan koruspi. Orang yang berusaha ingin memberantas korupsi pada akhirnya terjerembab dan menjadi koruptor pula (Hal.99-115). Cerpen &#8220;Kematian Ayah&#8221; (hal.91-98) lagi, menceritakan tentang tokoh &#8220;aku&#8221; yang selama ini setia menjaga dan merawat ayahnya yang menderita stroke, tapi pada akhirnya dianggap gila lalu diikat oleh kerabatnya, hanya lantaran menertawakan kerabat dan tetangganya yang pura-pura nangis dan berduka saat ayah sang aku itu meninggal, padahal saat sang ayah masih hidup (sakit di pembaringan) mereka tak pernah perduli bahkan menengok pun tidak. </p>
<p>Cerpen-cerpen dalam buku ini memang cukup beragam dan beberapa di antaranya idenya menarik. Hanya saja penggarapannya belum semuanya berhasil secara maksimal  baik dari kelancaran berbahasa (cercerita/bertutur) dan juga upaya penggalian yang lebih dalam. Kadang malah nampak kurang utuh, bertele-tele, kedodoran dan hanya menarik pada bagian-bagian tertentu saja, dalam masing-masing cerpen. Hanya cerpen &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221; yang menarik dan memikat baik dari cerita maupun bahasanya.</p>
<p>Sayang cerpen yang bagus seperti &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221; hanya ada satu buah dalam buku ini. Seandainya ada beberapa buah lagi cerpen sekelas &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221; maka &#8217;sejarah&#8217; buku ini (dan juga nasib Sunarta) bisa jadi akan menjadi &#8220;lain&#8221;.<br />
Karenanya, sambil menunggu cerpen sekelas &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221; yang lahir dari tangan Sunarta, buku yang sudah ada ini penting untuk dibaca dan dikoleksi oleh siapapun, terutama pecinta sastra. Karena bagaimanapun buku ini layak menghiasi kepustakaan kita.***</p>
<p>Sumber : Bali Post Minggu, 5 Juni 2005<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/04/25/dicari-cerpen-sekelas-cakra-punarbhawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Cakra Punarbhawa</title>
		<link>http://jengki.com/2008/04/25/membaca-cakra-punarbhawa/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/04/25/membaca-cakra-punarbhawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 02:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/04/25/membaca-cakra-punarbhawa/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Sigit Susanto
Membaca bagiku adalah kegiatan yang melelahkan. Tapi bila bacaan itu
menarik, bisa bikin dahi mengkerut atau merenung serius, tertawa, dan
setidaknya bisa menghibur hati. Tentu saja bacaan itu akan cepat tuntas.
Kalau kita hanya sekadar membaca karya, aku kira tak begitu sulit. Yang
lebih sulit, kalau kita juga punya inisiatif untuk memberikan catatan kecil
atau sejenis apresiasi atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Sigit Susanto</p>
<p>Membaca bagiku adalah kegiatan yang melelahkan. Tapi bila bacaan itu<br />
menarik, bisa bikin dahi mengkerut atau merenung serius, tertawa, dan<br />
setidaknya bisa menghibur hati. Tentu saja bacaan itu akan cepat tuntas.<br />
Kalau kita hanya sekadar membaca karya, aku kira tak begitu sulit. Yang<br />
lebih sulit, kalau kita juga punya inisiatif untuk memberikan catatan kecil<br />
atau sejenis apresiasi atau lebih umumnya disebut komentar. Karena jenis<br />
apresiasi, komentar ini tentu akan cenderung menuruti isi hati pembaca.<br />
Seandainya ada 10 pembaca yang ingin memberi apresiasi, bisa jadi akan<br />
terjadi 10 apresiasi atau komentar yang berbeda. Kritik, komentar, dan<br />
apresiasi menurutku bagian dari sastra itu sendiri. Sehingga tidak<br />
berlebihan, bila seseorang sehabis membaca karya, kemudian timbul gagasan<br />
pribadi untuk membuat catatan-catatan di benaknya. Usaha ini bukan<br />
berpretensi gagah-gagahan atau mengumbar kritik. Tanpa usaha kecil-kecilan<br />
seperti itu, buku sastra akan jadi pajangan belaka. Lama-kelamaan akan<br />
menjadi barang antik, yang dipuja-puji luarnya, tanpa menyinggung isinya<br />
atau menunggu dilap debunya di rak buku sebulan sekali.<br />
Kendala lain yang muncul, ketika kita akan memberi komentar sebuah karya.<br />
Ternyata penulisnya sudah kita kenal secara pribadi. Ada semacam beban<br />
psikologis, apabila kita memberi komentar pedas. Tapi demi sebuah kejujuran<br />
berapresiasi, selayaknya perkenalan dengan penulisnya harus diabaikan.<br />
Angankan, bila kita tak mengenal penulisnya sama sekali.<br />
Kumpulan cerpen „Cakra Punarbhawa“ karangan Wayan Sunarta ini sudah aku baca<br />
di atas kereta api. Buku terbitan Gramedia setebal 146 halaman itu memuat 14<br />
cerpen. Tema-tema yang diangkat Wayan, kebanyakan tentang kehidupan<br />
sehari-hari di Bali. Baik kehidupan anak-anak muda, perubahan modernitas<br />
maupun hiruk-pikuk adat Bali. Karena Wayan juga penyair, terasa sekali pada<br />
kalimat-kalimat pendeknya sering puitis. Persamaan akhiran, bunyi, dan<br />
ungkapan sering tersisipkan secara sadar atau sudah terjaga rapi. Akan<br />
tetapi, ketika Wayan menceritakan tema yang agak genting. Maka kalimatnya<br />
mengalir deras, tak pedulikan lagi; apakah akan bernada puitis atau tidak.<br />
Sepertinya dia sedang mengejar alur cerita yang sudah di otak. Kalau sudah begini,<br />
rasanya pilihan bunyi dan metafora tak<br />
menjadi hal penting lagi. Atau mungkin jauh dari kesadaran itu.</p>
<p>Dari 14 cerpen itu yang menjadi favouritku ada 3 buah yang berjudul:</p>
<p>1.„Jimat Tikus“, 2.“Cakra Punarbhawa“, 3.“Birgit“. Sedang 11 cerpen sisanya<br />
aku anggap biasa. Maksudnya biasa, aku sering menemukan jenis cerpen seperti<br />
itu di media lain atau pada cerpenis lain. Misal, cerpen „Ratih“, kisah<br />
seorang pemandu wisata perempuan bernama Ratih yang dilematis. Satu sisi dia<br />
diharapkan incomenya oleh suaminya. Dan di sisi lain, dia harus dicurigai,<br />
karena sering terlambat pulang malam. Bagiku cerpen ini kurang menggigit.<br />
Tema kecemburuan pada cerpen ini terasa biasa. Toh si Ratih hanya<br />
dicemburui, karena dia diantar pulang oleh sopirnya. Tak ada bukti otentik<br />
dan riel. Tak ada kasus yang mendasari.</p>
<p>Kemudian cerpen berjudul „Penjaga<br />
Kamar Mayat“, menurutku faktor kebetulan sangat dominan. Meskipun kebetulan<br />
itu bisa terjadi dalam kehidupan nyata, tapi 1001 saja kebenarannya. Mayat<br />
Mr.X dimungkinkan adalah anak Pak Tabah. Faktor kebetulan yang lain pada<br />
cerpen „Kutukan“ diakhiri dengan berita dikoran tentang pemeras yang dibacok<br />
orang. Sebelumnya sang tokoh sudah sumpah serapah dan mendoakan akan terjadi<br />
karmaphala pada si pemeras. Nah, karma phalanya atau harapan si penulis<br />
sendiri terkabulkan di ending cerita. Hal ini juga terjadi pada cerpen<br />
„Birgit“, si tokoh gondrong sendirian di pantai Kuta. Dia muram, karena<br />
cewek Jerman si Birgit tak menghubungi lagi lewat HPnya. Karena Birgit masuk<br />
cafe yang melarang orang lokal. Di sini tokoh gondrong bersumpah serapah di<br />
pantai Kuta;“Seandainya aku bisa bikin bom, cafe yang diskriminatif itu<br />
sudah aku bom. Eh,…ending cerita ini ada suara gelegar, yang dikira gardu<br />
listrik yang meledak. Ternyata benar-benar ada bom meledak. Padahal kata<br />
bom tadi sudah disinggung terlebih dahulu di pantai Kuta. Kesanku, penulis<br />
tergesa-gesa akan memasuki klimaks yang dahsyat. Seandainya penulis tak<br />
mengumbar kata karmapala dan bom di kedua cerpen itu. Pembaca akan menikmati<br />
dengan begitu sempurna.<br />
Wayan suka memakai objek yang sama di sekitar Renon, Denpasar. Ini bisa<br />
dibuktikan pada dua cerpennya berjudul „Kutukan“dan „Birgit“, kedua cerpen<br />
tersebut ada objek di Renon. Memang aku tahu, lapangan Renon itu asyik untuk<br />
pacaran. Tokoh cerpen Wayan juga sering makan jagung bakar di Renon.</p>
<p>Cerpen „Jimat Tikus“ aku nilai paling bagus. Penulis mampu membawa pembaca<br />
secara perlahan mengikuti cerita dukun pemberi jimat tikus. Sebuah cerpen<br />
yang penuh kritik sosial maha halus. Apalagi zaman sekarang budaya korupsi<br />
sudah menjamur di mana-mana. Parodi tikus di kantor dan tikus jadi-jadian,<br />
sungguh menyentuh. Sehingga tikus jadi-jadian dari waker itu bisa<br />
mendengarkan bahasa tikus kantor yang ternyata bosnya sendiri.</p>
<p>Günter Grass menulis „Tikus dan Kucing“, Kafka menulis „Metamorfosa“. Wayan<br />
berhasil membuat kritik lewat sastra dengan sangat memukau.</p>
<p>Cerpen „Cakra Punarbhawa“ aku anggap lebih berjiwa puisi. Maksudku tak hanya<br />
isi yang menonjol, namun metafora dalam cerpen itu bertumpuk-tumpuk.<br />
Apalagi, kita tahu cikal bakal cerpen itu berasal dari sebuah puisi panjang<br />
yang dipermak menjadi berantai. Baris-baris itu seperti ditambal lem,<br />
sehingga menjadi kalimat yang punya cerita. Membaca cerpen ini, kita rasakan<br />
pilihan katanya sangat kuat.</p>
<p>Cerpen „Birgit“ ini tentang skripsi dan sedikit bayangan romantis. Si<br />
gondrong membayangkan dapat menggaet si Birgit. Meskipun hanya dalam impian.<br />
Sumpah serapah, kejengkelan si gondrong tertumpah-ruah. Alur bergerak maju<br />
dan tak terasa kita terbuai dengan ritme lamban yang menuntut kita<br />
menyelesaikan bacaan.<br />
Sekian saja, mungkin ada kawan yang sudah baca kumpulan cerpen ini. Bolehlah<br />
berbagi rasa dan kesan dari hasil bacaan kita.</p>
<p>sumber: Milis Apresiasi-Sastra<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/04/25/membaca-cakra-punarbhawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Reinkarnasi Gaya &#8220;Jengki&#8221;</title>
		<link>http://jengki.com/2008/04/24/tafsir-reinkarnasi-gaya-jengki/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/04/24/tafsir-reinkarnasi-gaya-jengki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 08:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/04/24/tafsir-reinkarnasi-gaya-jengki/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yudhis Muh. Burhanudin
ANATOMI antologi cerpen Cakra Punarbhawa secara keseluruhan bisa dibagi ke dalam tiga pembagian teks dan konteks. Yang pertama adalah teks-konteks yang merujuk pada sifat-sifat manusia yang simbolis dan keyakinan yang bersifat filosofis, terutama filsafat Hindu (Bali). Yang kedua adalah teks-konteks yang membincangkan soal sosio-budaya Bali (Hindu-Bali), sesekali berkaitan dengan yang pertama tadi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Yudhis Muh. Burhanudin</p>
<p>ANATOMI antologi cerpen Cakra Punarbhawa secara keseluruhan bisa dibagi ke dalam tiga pembagian teks dan konteks. Yang pertama adalah teks-konteks yang merujuk pada sifat-sifat manusia yang simbolis dan keyakinan yang bersifat filosofis, terutama filsafat Hindu (Bali). Yang kedua adalah teks-konteks yang membincangkan soal sosio-budaya Bali (Hindu-Bali), sesekali berkaitan dengan yang pertama tadi. Dan yang ketiga adalah teks-konteks yang mengajak pembaca untuk menyimak persoalan sosial dari sudut pandang sosiologis, tepatnya sosiologi-sastra, terhadap persoalan-persoalan sosial-kemasyarakatan yang masih tersisa hingga saat ini, semisal korupsi.</p>
<p>Cerpen-cerpen (cerita pendek) yang keseluruhannya digarap oleh I Wayan “Jengki” Sunarta adalah cerpen-cerpen yang ditulis dalam proses perjalanannya menulis cerpen di tahun 2000 hingga 2004. Sehingga, praktis beberapa cerpen dari keempat belas cerpen yang diterbitkan oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2005 ini, sangat kental nuansa sosio-budayanya (Hindu-Bali) dan beberapa tema dan pesannya masih relevan untuk pembaca hari ini.</p>
<p>Misalnya cerpen Kembar Buncing, Anjing dan Dendam atau Ratih, adalah cerpen-cerpen yang menjadikan persoalan sosio-budaya Bali sebagai refleksi hidup. Sedangkan cerpen yang lain seperti Kematian Ayah masih terkesan ambigu teks-konteksnya. Maksudnya, cerpen ini mengangkat tema yang bersifat filosofis tapi juga secara implisit ia pun bersifat sosio-kultural Bali. Cerpen lain yang juga ambigu seperti yang tadi adalah Menunggu Hening Malam, dan Kutukan.</p>
<p>Kemudian, ada dua cerpen yang tumben menyelinap, dan ini bisa dikatakan keluar dari diskursus Cakra Punarbhawa sebagai judul keseluruhan antologi tersebut adalah Rumput Liar dan Birgit. Kedua cerpen ini secara umum bertemakan persoalan sosiologis saja. Dan kalaupun ada teks-teks di dalamnya yang bersangkut paut dengan soal-soal filosofis dan budaya Bali, hal itu hanya sebagai pelengkap alur cerita (plot) dan settingnya saja. Sedangkan cerpen-cerpen lain yang memang berhubungan dengan, yang pertama judul antologi cerpen ini dan yang kedua dengan benang merah antologi ini secara keseluruhan ialah, cerpen Cakra Punarbhawa, Penggalan Kepala Patung, Puncak Ketujuh, Laut Kelabu, Kutukan dan Penjaga Kamar Mayat.</p>
<p>Garis besar dari antologi ini memang tidak bisa dilepaskan dari konsepsi-konsepsi filosofis (filsafat Hindu-Bali) dan sosio-budaya di Bali. Kedua persoalan ini bisa disimak dari berbagai sudut pandang khasanah kesusastraan yang ada.</p>
<p>Apabila pembaca teks sastra cukup jeli memperhatikan setting, tentu ia akan cepat menangkap apa dan bagaimana kemauan sang pengarang dalam cerpen-cerpennya. Akan tetapi, apabila seorang pembaca mengedepankan aspek plotnya, tentu ia sedikit kebingungan dengan lompatan-lompatan cerita dan peristiwa yang terjadi di sana-sini, terutama cerpen-cerpen yang bertemakan persoalan filsafat Hindu.</p>
<p>Di sisi lain, penampakan atau penguatan unsur karakter (characterization), baik itu secara psikologis dan fisiologis (psychological and physiological characters) tokoh-tokoh yang terdapat di dalam cerpen-cerpen ini, secara kesuluruhan, kecuali tokoh “aku” pada cerpen-cerpen filosofis misalnya, tidak ada yang bisa mengejutkan atau membuat pembaca terenyuh. Mungkin yang bisa dikatakan hampir mendekati dan menggelitik rasa (emosional) empati ataupun simpati dari pembacanya adalah tokoh Darsa dan istrinya Luh Sarni dalam Kembar Buncing. Namun, itupun belum maksimal karena masih ada persoalan teknis atau keterbatasan yang namanya cerpen. Sebenarnya, tokoh Pak Tabah dalam cerpen Penjaga Kamar Mayat bisa mendekati aspek penggelitikan rasa emosional pembaca misalnya, jika saja, pengarang mampu menghadirkan klimaks cerita dan antiseden di dalamnya.</p>
<p>Tapi perlu diingat juga, seperti kata Dr. Nyoman Dharma Putra yang mengulas beberapa bagian cerpen ini pada peluncurannya 22 Mei 2005 yang lalu di Danes Art Veranda, bahwa cerpen-cerpen ini lebih menyerupai novel yang belum selesai. Hal itu benar jika meyimak tematiknya dan bukan struktur cerpen tersebut. Karena, belum ada batasan yang jelas tentang berapa (halaman) panjang pendeknya sebuah naskah cerita pendek.</p>
<p>Dan terakhir, dari aspek intrinsik susastra lainnya seperti introduction dan denoument dari keseluruhan cerpen dalam antologi ini sama sekali tidak diperhatikan. Hal ini mungkin disebabkan adanya otoritas sebuah rekonstruksi struktur cerita dari pengarangnya. Dan kedua, mungkin juga ini disebabkan oleh keterbatasan ruang yang namanya cerita pendek. Padahal, sebenarnya dua unsur cerita ini tidak bisa disepelekan mengingat, dengan kemampuan menghadirkan pembuka dan penutup dengan narasi yang betul-betul menyengat pembaca teks sejak awal, adalah salah satu daya tarik sebuah cerita sehingga cerita itu bisa menyentuh jidat dan jantung pembacanya.</p>
<p>KATA ‘Cakra’ dan kata ‘Punarbhawa’ bagi yang memercayai filsafat Hindu, tentu sudah tidak asing lagi. Tapi bagi pembaca teks susastra yang masih awam dengan konsepsi filsafat (agama) Hindu, tentu kedua kata tersebut perlu dicarikan kamus (kamus filsafat) dulu. Kata Cakra bagi penganut Hindu sendiri paling tidak memilki dua konotasi makna. Dan kata Punarbhawa bagi ummat Hindu adalah sebuah pandangan hidup. Dan ketika, orang Hindu (Bali) mendengar kata ini, ia akan diingatkan pada: Karma dan Reinkarnasi.</p>
<p>Pertama bahwa Cakra merupakan senjata Dewa Vishnu yang menyerupai bentuk cakram dan kedua ia merupakan sebuah sesuatu yang berputar: siklus kehidupan. Sedangkan kata ‘Punarbhawa’ sendiri bisa dipahami sebagai proses kelahiran kembali.</p>
<p>Sehingga, secara kontekstual, frase ini merujuk pada sebuah “keyakinan” akan sebuah proses siklus kehidupan yang berulang-ulang—sampai ke titik tertentu, moksa, dari sebuah realitas fisik dan non-fisik terhadap apa yang ada (kehidupan dengan segala warna di dalamnya) di hadapan kita manusia. Pertanyaannya, apakah teks-teks dalam antologi cerpen Cakra Punarbhawa ini berbicara seperti itu?</p>
<p>Membaca teks-teks cerpen Cakra Punarbhawa, Penggalan Kepala Patung, Puncak Ketujuh, Laut Kelabu dan Kutukan akan menggiring alam imajinasi pembacanya pada sebuah titik: perjalanan spritual, mistisme Hindu, dan takdir atau nasib. Cerpen-cerpen ini begitu kuat ingin menjembatani atau menyampaikan kepada pembaca perihal konsepsi pandangan hidup sang pengarang, walaupun, di bagian lain beberapa teksnya terkesan masih bersifat verbal. Artinya bahasa simbol yang digunakan dalam ragam ceritera ini memang sudah tepat, akan tetapi, pembaca belum bisa menemukan karakteristik diri sang pengarang tentang filsafatnya umpamanya, atau kekuatan “aku”-nya si pengarang dalam bernarasi. Yang didapat adalah, kita pembaca, disuguhi beberapa bentuk wacana pemikiran langsung dari mulut (pena) sang pengarang dan yang hadir di situ bukan diri sang pengarang.</p>
<p>Perkecualian di sini adalah cerpen Cakra Punarbhawa, yang memang diakui sendiri oleh pengarang, awalnya cerpen ini adalah puisi panjang. Kesuksesan pengarang yang mampu menghadirkan dirinya, terdapat dalam cerpen ini. Penilaian ini terlepas dari sudut pandang tokoh “aku”. Artinya, bagaimana pengarang mengolah gejolak pemikiran dan jiwanya dalam cerpen ini bisa dirasakan ketika tokohnya diambil alih oleh pembacanya. Secara tidak sadar, pembaca akan ikut terobsesi mengikuti alur teksnya. Akan tetapi, di sisi lain, tokoh “aku” dalam cerpen Cakra Punarbhawa adalah ke-aku-an yang hanya bisa diselami oleh mereka yang memang yakin dengan pemikiran Hindu.</p>
<p>Mistisme Hindu dan nasib (pre-destination), secara tematis terdapat dalam beberapa bagian dalam alur ceritera cerpen-cerpen tersebut, kecuali Kutukan. Dalam cerpen Kutukan, konsep karma dihadirkan oleh pengarang dalam plot kontemporer—situasi dan kondisi yang sering kita saksikan di lapangan Renon misalnya.</p>
<p>Lebih spesifik lagi pada cerpen Penggalan Kepala Patung. Di sini pengarang menunjukkan sebuah keterkungkungan lingkaran siklus kehidupan dan konsep kehidupan kembali. Pada halaman 26 paragraf kedua, di situ ditemukan sebuah makna teks yang merujuk pada sebuah penolakan akan kembalinya jiwa itu kepada jiwa yang lebih tinggi atau perjalanan Atman menuju Brahman. Akan tetapi, paradoks yang coba dihadirkan ada pada paragraf keempat di halaman yang sama. Di sini, lagi-lagi, pengarang menujukkan sikap penolakannya yang halus dan bersifat puitis.</p>
<p>Walaupun sebenarnya, pengarang berusaha menghadirkan sebuah “penolakan” atas kepercayaan reinkarnasi umpamanya, akan tetapi, jika ditelusuri dan dikaitkan dengan isi ceritera dalam Puncak Ketujuh dan Laut Kelabu, pengarang bisa dikatakan mengakui lingkaran atau siklus kelahiran kembali itu.</p>
<p>Cerpen Laut Kelabu menampilkan penggambaran simbolis dan metaforis akan sebuah keyakinan pada kehadiran jiwa yang belum sempurna ke dalam tubuh orang lain. Dalam agama Hindu-Bali, keyakinan seperti sangat melekat. Bagaimana misalnya, tokoh Nadha dan Nadhi, keduanya ternyata adalah titisan dari selir dan pembantu raja yang selingkuh dan dihukum mati. Karma yang didapatkan adalah, kedua jiwa ini akan terus menerus hidup dalam tubuh yang lain, di lain waktu dan tempat selama karmanya belum bisa menebus kesalahannya di masa lampau.</p>
<p>Cerpen Puncak Ketujuh adalah cerpen yang tokoh dan alur ceriteranya mudah ditebak bagi pembaca yang sudah akrab dengan kisah dan tokoh Mahabharata. Cerpen ini juga merupakan penggambaran simbolis akan sebuah perjalanan spritual manusia. Konteksnya, manusia hidup di dunia ini sama dengan perjalanan yang dipenuhi cobaan-cobaan hidup. Pada akhirnya, manusia akan menemukan dirinya sendiri, yaitu Puncak Ketujuh setelah ia berhasil melewati rintangan. Dan rintangan yang paling berat, dalam konsep Hindu, adalah mengalahkan ego-sendiri. Untuk mencapai ini, latihan Yoga dan semadi adalah salah satu cara untuk mengendalikan itu.</p>
<p>Selain dari cerpen-cerpen yang telah disebutkan di atas, seperti cerpen Kembar Buncing, Ratih, Anjing dan Dendam, dan Kematian Ayah, adalah cerpen-cerpen yang kental nuansa sosio-kultur Bali-nya. Artinya, secara kontekstual, pengarang menghadirkan situasi dan kondisi masyarakat Bali, baik itu secara langsung atau tidak langsung, dalam sebentuk struktur narasi. Bagi pembaca, hal ini memudahkan untuk mempelajari apa dan bagaimana budaya sangat berperan dalam lingkungan si pengarang. Di lain kasus, pengarang, ia juga menelanjangi sebagian dari sekian banyak unsur-unsur sakral dari pemahaman budaya setempat. Khusus dalam cerpen Ratih, pengarang menyampaikan sebuah kasus patriarki dan ungkapan misoginis serta status perempuan dalam keluarga Bali.</p>
<p>Ungkapan yang misoginis dan bersemngat patriarki dalam cerpen Ratih misalnya: “Kau selalu pulang larut malam. Apa saja kerjamu dengan bule-bule itu!” Lalu ungkapan misoginis lainnya misalnya: “Ah! Banyak omong kau. Mentang-mentang gajimu besar, beraninya kau melawanku. Aku suamimu, kepala keluarga di rumah ini&#8230;”</p>
<p>Bentakan suami  Ratih di atas merupakan potret keluarga patriarki yang sudah umum dan terkesan masih wajar terjadi di negeri yang masih berbau feodal dan bercita rasa agraris. Sedangkan ungkapan yang misoginis, menurut kalangan feminist seperti Dr. Gadis Arivia, adalah ungkapan yang berkonotasi pada memojokkan, menghina dan mengasosiasikan perempuan dan kelamin permepuan dengan sesuatu yang nista, buruk dan selalu salah. Bukan saja kalangan awam yang terbiasa berpikir dan berbicara yang misoginistik, bahkan orang-orang yang berpendidikan pun masih demikian. Dalam desertasi Arivia disebutkan bahwa, filsuf pun menilai dan memperlakukan perempuan sedemikian rendah dan nistanya, termasuk proposisi-proposisi filsafat yang masih memihak kaum laki-laki. Artinya kenyataan ini adalah sebuah realitas budaya patriarki, bukan kepintaran apalagi titel, semisal S.S, M.Si, M.Hum atau SH, MH umpamanya. Titel-titel ini bukan jaminan laki-laki pasti bersikap adil dan menghargai perempuan sebagai manusia.</p>
<p>Sedangkan cerpen Menunggu Hening Malam, di sini pengarang berusaha mengolah sebuah kertekungkungan nasib dan keyakinan akan nasib itu sendiri. Dalam cerpen ini, kematian dan nasib adalah dua hal yang identik bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Kenyataan ini juga tidak jauh dari konsepsi filsafat dan agama Hindu itu sendiri.</p>
<p>Cerpen Jimat Tikus, Rumput Liar dan Birgit adalah cerpen-cerpen yang keluar, atau tidak berhubungan dengan wacana antologi ini, Cakra Punarbhawa. Cerpen-cerpen ini bersifat sosiologi mentah. Bahasa-bahasa simbol dan metafor bisa ditemukan dalam cerpen-cerpen ini, meskipun tidak seluruhnya dikatakan berhasil dalam pengemasannya. Artinya, terlepas dari persoalan sosial yang dihadirkan dalam ceritanya, cerpen ini masih datar dari segi narasi dan tokoh. Yang kuat justru adalah narasi sosialnya. Pada titik ini, cerpen ini relevan dengan konsep sosiologi sastra: “cermin masyarakat” dari Abrams. Namun untuk mengulas lebih jauh, ceritera ini terlalu pendek untuk itu. Tapi secara tematik, ia sudah masuk dalam kategori Abrams dan Ian Watts, yaitu sastra sebagai dokumen sosial.</p>
<p>Yang merusak keseluruhan antologi ini dari sudut pandang diskursus Cakra Punarbhawa adalah “menyusupnya” atau “terselipnya” tiga cerpen barusan: Jimat Tikus, Rumput Liar dan Birgit. Karena hermenutika teks melihat wacana Cakra Punarbhawa secara keseluruhan: dari semua isi cerpen di dalamnya, walaupun mungkin pilihan ketiga cerpen ini bersifat aksidensi (kebetulan), akhirnya pilihan frase Cakra Punarbhawa itu sendiri lebih bersifat pragmatis ketimbang mewakili isi frase tersebut: alam pikiran, hasrat, kekuatan, imajinasi dan ekspresi pengarang. Semoga diskursus Cakra Punarbhawa dipilih bukan karena “keanehan” kata itu saja. Semoga ia dipilih sebagai sebuah kesadaran diri.</p>
<p>Sumber: Majalah Suardi, Bali, tahun 2005</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/04/24/tafsir-reinkarnasi-gaya-jengki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilema Kekerasan Antologi Cerpen &#8220;Cakra Punarbhawa&#8221;</title>
		<link>http://jengki.com/2008/04/23/dilema-kekerasan-antologi-cerpen-cakra-punarbhawa/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/04/23/dilema-kekerasan-antologi-cerpen-cakra-punarbhawa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 07:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/04/23/dilema-kekerasan-antologi-cerpen-cakra-punarbhawa/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: I Nyoman Darma Putra
Cerpen-cerpen dalam antologi Cakra Punarbhawa (2005) karya Wayan Sunarta berada di antara puisi dan novel. Karakter di antara kedua genre ini menguntungkan sekaligus merugikan. Inilah salah satu kesan saya setelah membaca ke-14 cerpen dalam antologi Cakra Punarbhawa. Kesan lain, gaya cerpen tampak beragam yang mengindikasikan bahwa pengarangnya masih dalam proses mencari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: I Nyoman Darma Putra</p>
<p>Cerpen-cerpen dalam antologi Cakra Punarbhawa (2005) karya Wayan Sunarta berada di antara puisi dan novel. Karakter di antara kedua genre ini menguntungkan sekaligus merugikan. Inilah salah satu kesan saya setelah membaca ke-14 cerpen dalam antologi Cakra Punarbhawa. Kesan lain, gaya cerpen tampak beragam yang mengindikasikan bahwa pengarangnya masih dalam proses mencari jati diri sebagai cerpenis. Yang ini adalah sesuatu yang wajar bagi cerpenis muda.</p>
<p>Karakter puisi terlihat dalam sejumlah cerpen yang menggunakan bahasa liris, seperti ungkapan-ungkapan bahasa puitik. Kesan ini nampak kuat pada cerpen “Cakra Punarbhawa” dan “Puncak Ketujuh”.  Kesan bahasa puitis cerpen “Cakra Punarbhawa” sempat memikat perhatian kritikus sastra Melani Budianta ketika mengomentari cerpen ini dalam buku kumpulan cerpen pilihan Kompas 2004. Melani menulis bahwa dalam menuturkan kisahnya, cerpen ini menggunakan “larik-larik prosa liris” dan kemudian menyandingkannya dengan novel Cala Ibi, suatu komparasi yang promotif bagi Sunarta.</p>
<p>Sifat novel terlihat dari tema yang jamak yang bertaburan dalam cerpen. Dalam cerpen yang baik, tema biasanya tunggal. Tema tunggal itu digarap secara mendalam dan menyentuh. Dalam cerpen-cerpen Sunarta, tema-tema yang bertaburan itu tidak digarap dengan tuntas sehingga mau tak mau cerpen-cerpennya menyerupai novel yang belum jadi. Hal ini terlihat dalam cerpen “Anjing dan Dendam” yang dilumuri topik konflik keluarga, nyentana , kekerasan, dan moral. Tidak satu pun dari tema-tema potensial itu digarap dengan fokus, dengan menyentuh, sehingga pembaca bingung apa sebetulnya yang hendak disampaikan pengarang. Contoh lain adalah cerpen “Kutukan” yang menawarkan tema percintaan remaja, hukum karma, kutukan, dan kekerasan. Pengarang membiarkan tema-tema tersebut bertaburan.</p>
<p>Dalam tema-tema yang bertaburan itu, ada satu tema atau topik yang muncul berulang dan hampir dalam semua cerpen antologi Cakra Punarbhawa. Tema itu adalah kekerasan. Tema kekerasan muncul dalam berbagai bentuknya. Tema ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu kekerasan politik/kekuasaan, kekerasan adat/tradisi, dan kekerasan terhadap kehidupan.</p>
<p>Tema kekerasan politik/ kekuasaan terpancar kuat dalam cerpen “Cakra Punarbhawa”, salah satu cerpen terbaik yang pernah ditulis Wayan Sunarta. Dalam cerpen ini, meminjam istilah Melani Budianta, siklus ‘kekerasan Nusantara’ digambarkan dengan bahasa dan narasi yang dinamis dan menakjubkan, mulai dari kekerasan perang zaman Majapahit, revolusi, dan zaman Orde Baru. Kekerasan itu selalu membuat tokoh ‘aku’ mampus atau terbunuh. Rentang waktu yang dicakup cerpen ini begitu panjang sehingga narasi menjadi meloncat-loncat. Penulis kekuarangan ruang untuk memperdalam temanya. Konsekuensinya, cerpen menjadi semacam novel yang belum rampung.</p>
<p>Tema kekerasan politik/ kekuasaan yang tergambar dalam cerpen “Rumput Liar”, yang menggambarkan secara simbolik kemarahan rakyat dalam proses menjatuhkan penguasa (sayang dalam cerpen ini, penguasa itu hanya disimbulkan sebagai seorang ‘Camat’). Tindakan anarkisme Rakyat yang disimbulkan dengan ‘rumput liar’ berhasil membuat Pak Camat mampus, mati dililit rumput liar.</p>
<p>Tema kekerasan adat/ tradisi bisa dibaca dalam cerpen “Kembar Buncing” dan “Laut Kelabu”. Kedua cerpen ini menggarap kelahiran kembar buncing yang dianggap sebagai aib dalam sistem kepercayaan adat Bali. Cerpenis mencoba menunjukkan ironi dalam cerpen-cerpen ini dengan mempertanyakan mengapa si kembar buncing dan keluarga mereka harus dikucilkan, dikenakan sanksi adat, padahal hukum adat seperti itu sudah lama dihapuskan di Bali. Tema kekerasan adat/tradisi seperti ini dan juga yang lain seperti ihwal “kasta”, sudah kerap menjadi santapan para sastrawan Bali, namun kebanyakan di antara mereka takluk dalam perlawanan yang direkayasa dalam cerita. Artinya, nyaris tidak ada tokoh cerita yang bisa keluar dan menjungkir-balikkan kekerasan adat dalam karya-karya sastrawan Bali. Kebanyakan sastrawan Bali yang mencoba menggugat kekerasan adat dan tradisi menghasilkan cerita-cerita yang mengukuhkan kekuatan tradisi yang hendak dilawan.</p>
<p>Tema kekerasan kehidupan, mungkin karena politik/ kekuasaan atau tradisi, terdapat dalam cerpen “Jimat Tikus”, “Birgit”, “Kutukan”, dan “Ratih”.  Dalam cerpen “Jimat Tikus”, Sunarta secara simbolik berbicara tentang tradisi korupsi yang sulit diberantas. Istilah ‘tikus’ dalam cerpen ini dengan mudah diberi makna sebagai ‘koruptor’. Cerpen ini diungkapkan dari sudut pandang pegawai kelas rendah, seorang waker (penjaga malam). Dari sudut pandang itu, pembaca diajak memasuki dunia perusahaan milik negara yang penuh koruptor, termasuk dan terutama pimpinan perusahaan tersebut. Usaha si waker untuk memberantas tikus, atau korupsi, berakhir dengan kegelian, karena dia sendiri ditemukan berubah menjadi tikus oleh istrinya akibat minum ‘jimat tikus’. Korupsi telah menjadi semacam tradisi sehingga tidak saja sulit diberantas tetapi menimbulkan efek kekerasan dan penindasan pada rakyat kebanyakan.</p>
<p>Pada cerpen “Ratih”, cerpenis mencoba berbicara kekerasan rumah tangga dalam konteks kesetaraan gender. Tokoh cerpen, seorang istri muda,  yang bekerja sebagai pemandu wisata dicurigai selingkuh oleh suaminya. Konflik mereka berakhir pada sebuah tamparan suami terhadap istri. Cerpen ini tidak bisa dipisahkan dari usaha untuk menyindir tradisi kekerasan patriarkhi dengan mengambil setting dunia domestik. Kekerasan ini tidak menimbulkan kematian fisik, tetapi kematian gagasan memperjuangkan kesetaraan gender, khsusunya dalam lapangan pekerjaan.</p>
<p>Kekerasan dalam kehidupan yang menimbulkan kepedihan fisik dan bahkan kematian tertuang dalam cerpen “Birgit” dan “Kutukan”. Cerpen Birgit (dan juga “Cakra Punarbhawa”) mendapat inspirasi dari ledakan bom di Kuta Oktober 2002 yang menewaskan lebih dari 202 orang. Sedangkan dalam cerpen “Kutukan”, terungkap tokoh pemeras yang biasa melakukan kekerasan dilukiskan mati dibacok orang. Pembacokan itu dikaitkan pengarang dengan ‘kutukan’ yang diucapkan tokoh perempuan cerpen ini yang pernah hendak diperas saat pacaran di lapangan gelap (Renon).</p>
<p>Pertanyaan yang muncul kini, mengapa Sunarta gemar melukiskan kekerasan dan juga kematian-kematian dalam cerpen-cerpennya? Adakah ini dilakukan secara sadar, atau hasil proses bawah sadar yang tidak pernah dirancang sebagai suatu kekhasan? Jawabannya mungkin terkait dengan kegemaran pengarang terhadap cerita-cerita Mahabharata, yang disaksikan dalam pentas pewayangan dan dijadikan dasar cerpen-cerpennya dalam antologi ini. Epos Mahabharata dan juga Ramayana serta  sekian banyak lakon drama gong Bali selalu dipenuhi dengan perang dan tindak kekerasan. Aspek kekerasan itu menjadi bagian dari penuangan konflik yang membuat cerita menjadi memikat. Sayangnya, dalam cerpen-cerpen Sunarta, kekerasan itu kurang berhasil dijadikan landasan untuk membangun konflik. Akibatnya, cerpen-cerpen Sunarta, termasuk dalam arus kebanyakan cerpen-cerpen sastrawan Indoensia yang lemah konflik.</p>
<p>Alasan lain yang bisa diberikan adalah karena Sunarta menulis dalam rentang waktu ketika Indonesia dipadati dengan tindakan kekerasan. Jika dilihat tahun-tahun cerpen-cerpen ini ditulis, antara 2000-2004, jelaslah bahwa Indonesia diliputi berbagai tindakan kekerasan dalam periodi tersebut. Kekerasan menjadi menu percakapan, berita koran, tayangan televisi, dan wacana publik. Sadar atau tidak, pengarang yang memang merupakan makhluk sosial yang kesadaran dirinya ditentukan oleh kesadaran sosial daripada sebaliknya, ikut terbawa dalam arus kekerasan sosial. Tema-tema kekersan juga menjadi salah satu trend tema cerpen-cerpen Indonesia, seperti bisa dibaca dalam cerpen “Perempuan Semua Orang” karya Teguh Winarsho AS, yang melukiskan pembantaian dan pemerkosaan etnis Cina di Jakarta.</p>
<p>     ***</p>
<p>Ada yang menarik dalam cerpen-cerpen Sunarta jika dilihat dari kaca mata kajian budaya (cultural studies). Tokoh Kajian Budaya berkulit hitam, Stuart Hall (1992) menegaskan bahwa salah satu perhatian penting dari kajian budaya adalah miatnya yang kuat pada hubungan antara kekuasaan dan politik (connection to matters of power and politics), kebutuhan pada perubahan reresentasi kaum marginal atau yang dimarjinalkan khususnya dalam klass, gender, dan ras. Hal ini disampaikan karena bagi Hall, pengetahuan (yang menjadi sumber kekuasaan), bukanlah sesuatu yang netral tetapi tergantung dari sudut pandang mana dan siapa yang merepresentasikan. Dalam cerpen-cerpen Sunarta, kita melihat terbukanya ruang bagi kaum marginal seperti waker (penjaga kantor), rakyat (rumput liar), wanita (dalam cerpen “Ratih” dan “Kembar Buncing”), aku anak jadah atau anak pelacur (dalam ‘Cakra Punarbhawa), untuk berbicara dan melukiskan realitas kehidupan sosial politik. Narasi kehidupan dan catatan sejarah dihidangkan Sunarta dari kaca mata kelas yang termajinalkan dalam wacana besar bangsa, di mana sejarah dan politik selalu menjadi urusan laki-laki, penguasa dan orang-orang besar.</p>
<p>Cerpen-cerpen Sunarta menunjukkan adanya perubahan sudut pandang representasi. Akan tetapi, dari kebanyakan cerpennya, nada representasi dari wong cilik itu selalu berakhir dengan kemurungan. Kita tidak melihat kemenangan perjuangan kaum yang termajinalkan dalam cerpen-cerpen Sunarta. Tokoh suami dan istri yang pindah ke kota dalam usaha menentang kekerasan tradisi (adat), toh masih digelayuti pemikiran akan kerinduan untuk kembali ke desa yang dicintainya. Mencintai desa identik dengan menerima kekersan tradisi yang tidak pernah lenyap dimakan zaman. Tokoh Ratih yang menjadi guide tidak bisa dijadikan lambang keberhasilan perjuangan kesetaraan gender karena profesinya tidak diterima oleh suaminya secara utuh. Perkecualian yang melukiskan kemenangan perjuangan kaum marjinal bisa dilihat dalam cerpen “Rumput Liar”, karena cerpen diakhiri dengan matinya sang penguasa dililit rumput (grass root). Akan tetapi, cerpen ini tidak memberikan optimisme masa depan dalam sistem kekuasaan di wilayah tersebut. Di sinilah dilema kekerasna cerpen-cerpen Sunarta.</p>
<p>     ***</p>
<p>Dalam hal gaya penceritaan, cerpen-cerpen Sunarta menunjukkan dia sedang memamerkan gaya-gaya absurd-imajinatif, gaya realis, dan filososfis. Dalam beberapa cerpen, gaya realis bercampur baur dengan imajinatif seperti dalam cerpen “Jimat Tikus”. Gaya filosofis bisa dibaca dalam cerpen “Puncak Ketujuh”, yang mengisahkan perjalanan sejumlah tokoh, yang namanya adalah kebalikan dari nama-nama tokoh Pandawa, seperti Mabi (Bima) dan Lakuna (Nakula), ke alam impian. Gaya ini bisa dilihat sebagai teknik yang biasa diterapkan penulis dalam menulis sajak karena sajak cenderung filosofis.  Gaya realis kentara dalam cerpen “Kutukan”.</p>
<p>Persoalannya, apakah Sunarta akan bertahan dalam salah satu dari tiga gaya yang telah dia coba selama ini atau justru meramu ketiga gaya itu menjadi ‘gaya khas Sunarta Jengki’. Gaya apa pun yang dipakai, kewajiban mengebor tema sampai dalam dan menyentuh adalah tugas penting cerpenis daripada menjajarkan banyak tema dalam satu cerpen seperti yang menjadi masalah dalam cerpen-cerpen antologi  Cakra Punarbhawa.</p>
<p>Sumber: Makalah dalam Acara Launching “Cakra Punarbhawa” pada Minggu, 22 Mei 2005, di Danes Art Veranda, Denpasar.<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/04/23/dilema-kekerasan-antologi-cerpen-cakra-punarbhawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Bawah Bayang Determinisme, Tentang Cakra Punarbhawa Wayan Sunarta</title>
		<link>http://jengki.com/2008/04/23/di-bawah-bayang-determinisme-tentang-cakra-punarbhawa-wayan-sunarta/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/04/23/di-bawah-bayang-determinisme-tentang-cakra-punarbhawa-wayan-sunarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 02:29:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi/Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/04/23/di-bawah-bayang-determinisme-tentang-cakra-punarbhawa-wayan-sunarta/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Arif Bagus Prasetyo
We have gained a crucial insight: history consists of a swarm of narratives, narratives that are passed on, made up, listened to and acted out; the people does not exist as a subject; it is a mass of thousands of little stories that are at once futile and serious, that are sometimes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Arif Bagus Prasetyo</p>
<p>We have gained a crucial insight: history consists of a swarm of narratives, narratives that are passed on, made up, listened to and acted out; the people does not exist as a subject; it is a mass of thousands of little stories that are at once futile and serious, that are sometimes attracted together to form bigger stories, and which sometimes disintegrate into drifting elements, but which usually hold together well enough to form what we call the culture of a civil society.</p>
<p>Jean-François Lyotard, Lessons in Paganism </p>
<p>CAKRA Purnabhawa (Gramedia Pustaka Utama, 2005) adalah buku kumpulan cerpen perdana karya Wayan Sunarta (kelahiran Denpasar, 1975). Buku ini memuat 14 cerpen yang ditulis pada tahun 2000-2004. Kecuali 3 judul, semua cerpen sudah pernah dipublikasikan di sejumlah media-massa dan berbagai lomba penulisan cerpen tingkat nasional (kemudian dibukukan dalam antologi cerpen bersama karya penulis lain). Beberapa cerpen pernah meraih penghargaan, termasuk dari institusi bergengsi seperti Koran Kompas dan Majalah Sastra Horison.</p>
<p>#<br />
Determinisme, lewat satu atau lain cara, membayangi sebagian besar cerpen Sunarta yang terhimpun dalam buku Cakra Purnabhawa. Paham ini mengklaim bahwa setiap kejadian atau tindakan, baik yang menyangkut jasmani atau rohani, merupakan konsekuensi dari kejadian-kejadian sebelumnya dan di luar kemauan. Manusia (juga alam semesta) tercipta dengan maksud dan tujuan tertentu, sesuai desain tunggal yang kekal, final dan permanen, sejak dari sono-nya dulu sampai akhir zaman kelak. Dunia mempunyai suatu tujuan dan dikendalikan oleh hukum-hukum tertentu. Segala sesuatu, makhluk hidup maupun benda mati, memiliki suatu “kodrat” dan mengejar tujuan yang “kodrati” baginya, yang ditetapkan oleh seorang pencipta dari luar, atau memang sudah tertanam pada dirinya secara internal.</p>
<p>Segenap kehidupan, karakter dan perilaku individu – pokoknya segala yang kita alami dan lakukan – bukan terjadi secara acak dan kebetulan belaka, melainkan bagian dari, serta dikendalikan oleh, “keseluruhan” yang lebih besar, lebih luhur dan lebih sejati. Setiap peristiwa sejatinya tidak pernah berdiri sendiri. Tiap kejadian adalah tak lebih daripada satu mata-rantai dalam jalinan panjang sebab-akibat dengan berbagai kejadian lain yang mendahuluinya di masa lampau atau menyusulnya di masa depan (determinisme kausal), dan keseluruhan rantai-kejadian itu terulur ke arah tertentu (determinisme teleologis).</p>
<p>Keyakinan deterministik akan rantai-kejadian yang niscaya itu telah dikumandangkan oleh berbagai tradisi mistis dan religius sejak zaman kuno, misalnya lewat doktrin tentang Karma atau Suratan Takdir. Kedatangan zaman Pencerahan di Eropa meruntuhkan determinisme teistik, tapi hanya untuk menggantinya dengan determinisme sekuler. Pemikiran Pencerahan menggulingkan Tuhan, atau kekuasaan supra-manusiawi lainnya, dengan menobatkan rasionalitas sebagai satu-satunya Tuan. Nalar rasional percaya bahwa ada kebenaran objektif yang universal dan abadi, dan kebenaran ini pasti bisa diketahui dengan memberlakukan prosedur baku yang dapat dipelajari dan diajarkan – seperti terbukti dalam sukses ilmu pengetahuan alam. Sebagaimana determinisme teistik pra-modern, determinisme sekuler modern mengklaim bahwa segala sesuatu pada hakikatnya saling terkait mengikuti hukum kausalitas, dan membentuk suatu harmoni universal yang sempurna.</p>
<p>Dalam kosmologi deterministik, tak ada tempat bagi kehendak bebas manusia. Manusia ibarat robot yang hanya bergerak menurut mekanisme yang telah diprogramkan padanya. Tanpa kebebasan bertindak atas dasar kehendak dan pilihannya sendiri, manusia tidak dapat dikenai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya. Segenap ukuran moral ataupun kriteria etis – baik-buruk, bejat-bajik, benar-salah – tidak relevan. Di haribaan determinisme, bahkan bajingan yang paling jahanam pun hanyalah “korban” dari kuasa Tuhan, atau alam, atau struktur sosial, atau apapun di luar kedaulatan si bajingan sendiri. Inilah konsekuensi determinisme yang ditentang para penganut paham kebebasan manusia.         </p>
<p>#</p>
<p>Dalam bentuknya yang cukup purba, yakni doktrin tentang kelahiran-kembali (reinkarnasi), determinisme tampil mencolok sebagai tulang-punggung bergulirnya rangkaian peristiwa fiksional dalam cerpen “Cakra Purnabhawa” – sebuah cerita yang mutu literernya memuncaki kumpulan cerpen Sunarta. Lewat sudut-pandang orang pertama (pencerita akuan), cerpen ini secara kronologis memaparkan kejadian demi kejadian yang dialami tokoh Aku yang lahir dan mati berkali-kali, sejak zaman Majapahit pada abad ke-14 hingga Peristiwa Bom Bali pada abad ke-21. </p>
<p>Berulang-kali mengalami reinkarnasi, tokoh Aku terus terpuruk tanpa bisa lolos dari rantai kenistaan yang digariskan untuknya oleh keniscayaan karma. Bukan tuan atas nasibnya sendiri, ia harus pasrah menjalani hidupnya yang “berputar seperti roda yang tak bisa ditolak oleh manusia” – mengutip pengantar di sampul belakang buku Cakra Purnabhawa. Di bagian penutup cerpen “Cakra Purnabhawa”, tokoh Aku dengan memelas mengutarakan keletihannya setelah sekian lama, dan entah untuk berapa lama lagi, ruhnya mesti terperangkap dalam pengapnya penjara raga yang silih-berganti, sambil menelan pahitnya karma. Keletihan yang sama diungkapkan tokoh Aku dalam cerpen “Penggalan Kepala Patung”, yang tepekur mempertanyakan dasar eksistensinya di hadapan segumpal patung yang terpenggal kepalanya di pelataran candi tua.</p>
<p>Menurut doktrin reinkarnasi yang deterministik, kehidupan-kini adalah buah dari kehidupan-silam, sekaligus benih bagi kehidupan-kelak. Dikisahkan dalam cerpen “Laut Kelabu”, pada abad ke-19 ada seorang abdi istana menjalin asmara rahasia dengan selir raja. Hubungan cinta terlarang ini ketahuan raja, dan dua sejoli pelakunya diganjar hukuman mati dengan ditenggelamkan ke laut. Terlaknat mengusung dursila kehidupan-silam, berabad kemudian sepasang kekasih gelap itu dilahirkan kembali sebagai kembar buncing – kembar laki-perempuan yang sampai sekarang dianggap aib oleh tradisi kolot di beberapa desa di pelosok Bali. Warga desa, yang takut kelahiran kembar buncing akan mengundang malapetaka ke desa mereka, mengucilkan si jabang bayi-kembar beserta orang-tuanya ke pinggiran desa dekat kuburan selama tiga bulan. Tapi sanksi adat ini belum cukup. Warga terus meneror keluarga kembar buncing, sehingga akhirnya mereka terpaksa menyingkir dari desa, dan bermukim di daerah pantai.</p>
<p>Berbeda dari cerpen “Cakra Purnabhawa”, posisi narator cerpen “Laut Kelabu” tidak konsisten. Fragmen cerita kehidupan-kini dituturkan dari sudut-pandang orang pertama (pencerita akuan), sementara fragmen cerita kehidupan-silam dibawakan lewat sudut-pandang orang ketiga (pencerita diaan). Perubahan posisi narator ini mengisyaratkan bahwa terjadinya reinkarnasi tidak disadari oleh tokoh-tokoh yang mengalaminya. Itu sebabnya, tokoh Aku di kehidupan-kini hanya bisa bertanya-tanya heran tentang ketertarikannya kepada panorama laut kelabu yang selalu memedihkan hatinya, juga tentang rasa cintanya kepada saudari kembarnya yang melebihi hubungan kakak-adik biasa. Tanpa tahu kenapa.       </p>
<p>Determinisme menata carut-marut realitas ke dalam sistem yang koheren, sehingga realitas menjadi masuk-akal dan bermakna. Kepercayaan deterministik akan hukum karma, misalnya – bahwa setiap perbuatan, cepat atau lambat, pasti akan menuai balasan – memberikan kepastian sekaligus rasa aman di tengah kalut dan kejamnya dunia. Atas garansi determinisme, sebagaimana dikisahkan cerpen “Kutukan”, seorang preman benar-benar mampus dibacok setelah dikutuk agar mati tak wajar oleh korban yang pernah diperasnya. Itulah keniscayaan mutlak.  </p>
<p>Biar bagaimana pun bobrok dan brengseknya, kenyataan hidup yang dialami seseorang tidak terjadi secara acak atau kebetulan belaka, bukanlah khaos yang berhamburan tanpa kendali, melainkan bagian integral dari skema Kebenaran (the Truth) yang melampaui ruang dan waktu. Determinisme memaknai kesalahan, keburukan, kekacauan, sebagai tak lebih daripada batu penghalang, atau justru gerbang yang tersamarkan, menuju terpenuhinya tujuan yang sejati. Di mata determinisme, segala sesuatu pasti ada alasannya, ada hikmahnya. Dalam cerpen “Birgit”, betapa pun terasa menyebalkan, perlakuan diskriminatif yang menimpa Dika dan batalnya agenda pertemuan Birgit di sebuah klub terkenal di Legian ternyata justru menyelamatkan mereka dari ledakan maut bom teroris. Begitu pula, kesadaran tokoh Aku dalam cerpen “Cakra Purnabhawa” yang menstrukturkan riwayat kelamnya dalam kerangka deterministik reinkarnasi adalah langkah awal untuk menyingkap hikmah di balik kenyataan yang porak-poranda, dan menjadikan hidupnya bermakna. Karena itu di ujung cerita ia masih bisa berharap suatu saat Tuhan berkenan membebaskannya dari kubangan karma. Mengizinkannya untuk moksa. Mencapai kesejatian paling sejati.</p>
<p>Dengan menerakan suatu pola yang pasti pada semua kejadian, determinisme menebus absurditas kehidupan. Tapi mungkin, karena bodoh atau alpa, seseorang gagal melihat pola itu. Kegagalan ini rawan terhadap jebakan fatalisme. Pandangan deterministik bahwa “semua pasti ada penyebabnya” bisa merosot jadi pandangan fatalistik bahwa “apa yang terjadi pasti terjadi”. Dunia seorang duda tua budiman, dalam cerpen “Penjaga Kamar Mayat”, berubah menjadi panggung fatalisme yang murung, manakala segala karma baiknya selama bertahun-tahun ternyata berbuah duka kehilangan anak lanang semata wayang yang teramat dicintai dan dibanggakannya. Dalam cerpen “Menunggu Hening Malam”, tiga lelaki menderita krisis batin akibat terjebak fatalisme teologis yang memulangkan begitu saja semua perkara duniawi kepada takdir atau kehendak Tuhan belaka. Karena ditinggal mati istri saat melahirkan, seorang lelaki jadi pemabuk berat dan penghujat Tuhan, dan seorang lelaki lain mendekati gila – tanpa pernah memeriksa, misalnya, kemungkinan terjadinya kasus malapraktik. Sementara lelaki yang satu lagi begitu ketakutan diteror hantu nasib buruk, sehingga malah lari dari kenyataan bahwa istrinya sedang terkapar menanggung beratnya proses persalinan.   </p>
<p>Seringkali seseorang memang tidak bisa menjawab kenapa sesuatu harus terjadi sebagaimana yang terjadi, dan bukan sebaliknya. Tapi berbeda dengan fatalisme yang menihilkan semua jawaban, determinisme mendalilkan bahwa jawaban yang benar pastilah ada, dan pasti ada yang mengetahuinya – entah orang lain atau Tuhan, entah kini atau nanti. Pada cerpen “Puncak Ketujuh”, referensi kepada episode “Pandawa Naik ke Surga” dalam epos Mahabarata – kisah lima-bersaudara Pandawa dan Drupadi masuk surga setelah melunaskan karma masing-masing – menjadi perspektif yang menerangi ekspedisi pendakian gunung yang absurd, di mana enam warga desa bertaruh nyawa demi mencapai puncak gunung yang tak ada, tanpa alasan yang jelas. Lakon pewayangan yang sama, dalam cerpen “Anjing dan Dendam”, mengurapkan cahaya hikmah pada peristiwa terbunuhnya seekor anjing kesayangan, sehingga perseteruan antar-kerabat tidak pecah jadi pertumpahan darah.</p>
<p>Di tingkat sosial, determinisme mereduksi jaringan pengalaman individual yang kompleks dan majemuk ke dalam pola kehidupan umum yang diyakini bersama oleh anggota suatu masyarakat. Ketika mayoritas orang pada masa tertentu berbagi sikap dan perasaan yang sama tentang suatu realitas, maka sikap dan perasaan itu pun dianggap terbukti kebenarannya, dan menjelma jadi konstruksi sosial yang spesifik. Masalahnya kemudian, karena didukung oleh orang banyak dalam waktu yang lama, hakikat konstruksi sosial sebagai realitas kultural lambat-laun cenderung terlupakan. Masyarakat jadi gampang memperlakukan konstruksi sosial sebagai realitas alami, seolah konstruksi itu ajek dan tak pernah dikondisikan secara kultural.</p>
<p>Determinisme sosial menaturalkan realitas kultural, lalu menggaransinya dengan seperangkat aturan atau pakem yang berlaku untuk semua individu. Setiap penyimpangan terhadapnya harus dihukum, bukan saja karena melanggar kesepakatan sosial, tapi terutama lantaran melawan “kodrat”. Dalam cerpen “Kembar Buncing”, sebuah keluarga yang baru saja dianugerahi bayi kembar buncing, yang dianggap aib bagi desa, terpaksa hijrah ke kota demi menghindari sanksi adat. Cerpen “Ratih” menyoroti rapuh dan repotnya posisi perempuan yang harus memenuhi berbagai tuntutan kehidupan modern dalam sistem sosial tradisional-patriarkhal, yang menggariskan bahwa perempuan (istri) mesti tunduk di bawah lelaki (suami). Dan dalam cerpen “Kematian Ayah”, seorang anak yang berbakti merasa senang ketika maut akhirnya membebaskan ayahnya dari derita dunia, tapi itu bertentangan dengan norma kepatutan sosial yang penuh hipokrisi, sehingga dia dianggap gila dan harus diberangus.</p>
<p>Buku Cakra Purnabhawa adalah sebuah interogasi terhadap kedaulatan manusia di tengah pelbagai kekuatan deterministik yang mengepungnya.</p>
<p>#</p>
<p>Pada dasarnya, cerpen-cerpen dalam buku Cakra Purnabhawa bertendensi realis. Berbagai peristiwa fiksional dalam cerpen Sunarta bisa terjadi dalam kehidupan nyata, mungkin saja dialami oleh manusia berdarah-daging betulan di luar teks.</p>
<p>Memang ada cerita yang sepintas kelihatan aneh bin ajaib, misalnya cerpen “Cakra Purnabhawa”. Tapi cerpen ini sebetulnya tak aneh amat. Cobalah baca masing-masing fragmen riwayat kehidupan tokoh cerpen ini sebagai cerita-lepas yang mandiri, tak terkait dengan fragmen riwayat sang tokoh pada masa yang lain. Dijamin, keanehannya langsung punah. Apa anehnya, misalnya, kisah tentang anak-haram raja Majapahit yang dibuang, lalu akhirnya gugur di medan laga sebagai prajurit kerajaan. Atau kisah tentang orang yang lahir pada zaman geger Gestok ’65, dari bapak yang mati digorok dan ibu yang gila, terus menjadi wartawan, dan belakangan raib diculik tentara. Kalau pun ada yang menganggap aneh, kejadian semacam itu jelas bukan mustahil.</p>
<p>Cerpen “Cakra Purnabhawa” hanya tampak ganjil ketika fragmen-fragmen riwayat itu digandengkan dalam satu kesatuan, sehingga tokoh cerita terkesan lahir dan mati berulang-kali – kejadian yang menurut logika normal adalah muskil. Tapi ingat, cerpen ini berbicara tentang reinkarnasi. Dan dalam perspektif reinkarnasi, justru peristiwa kelahiran dan kematian berulang itulah yang real, normal, masuk-akal. Karakter realis cerpen ini bahkan kian terasa tajam dengan banyaknya acuan yang menunjuk pada fakta historis yang nyata: Gajahmada, penjajahan Belanda dan Jepang, Soekarno, pembantaian ’65, penculikan aktivis, gigolo Pantai Kuta sampai Bom Bali.</p>
<p>Peristiwa dalam cerpen “Jimat Tikus” dan “Rumput Liar” memang ajaib, tapi tetap gampang dinalar, bukan irasional atau mengada-ada. Kedua cerpen ini cuma menyindir realitas dengan gaya parodik. Acuannya kepada kondisi sosial real (korupsi) dan situasi politik real (perlawanan rakyat tertindas, people power) terlalu gamblang. Begitu pula dengan cerpen “Puncak Ketujuh” yang terlalu terang-terangan merujuk kepada produk kultural real berupa lakon pewayangan “Pandawa Naik ke Surga” – bahkan nama tokoh-tokohnya pun cuma dibolak-balik hurufnya. Adegan ngobrol dengan malam dalam cerpen “Menunggu Hening Malam” juga masuk-akal, karena dilakukan oleh orang yang kondisi kejiwaannya terguncang.   </p>
<p>Karena mengusung referensi yang kuat kepada realitas, cerpen Sunarta cenderung memancing pikiran pembaca untuk mencocokkan kenyataan-fiksional dengan kenyataan-faktual. Sayangnya, justru kecenderungan itulah yang kurang diantisipasi pengarang. Sejumlah ketimpangan antara gambaran dalam cerpen dan referensinya di alam nyata bukan menghasilkan subversi cerdas atas realitas, tapi sekedar mengundang senyum konyol.</p>
<p>Sekadar contoh, cermatilah fragmen ke-2 pada cerpen masterpiece Sunarta, “Cakra Purnabhawa”. Di situ dituturkan bahwa ibunda tokoh cerita keseringan ditiduri para penjajah “bermata biru” dan “lelaki kuning bermata sipit”, sehingga sang tokoh tak tahu lagi siapa sesungguhnya ayahnya – serdadu Belanda ataukah Jepang. Artinya, perempuan itu hamil ketika balatentara Nippon sudah masuk ke Indonesia, yaitu tahun 1942. Taruhlah pada tahun itu ibu sang tokoh langsung mengandung, maka sang tokoh paling cepat dilahirkan pada tahun 1943.</p>
<p>Selanjutnya sang tokoh mengisahkan: “Aku tumbuh menjadi penjudi, centeng pelabuhan, pemain perempuan, sekaligus mucikari bagi priyayi. Hingga tiba suatu waktu, aku tersihir api revolusi yang menyembur dari mulut Soekarno”. Kemudian dia menjadi pejuang kemerdekaan dengan “pin merah-putih di peci…revolver di pinggang dan senapan di tangan”. Kita tahu Soekarno memproklamirkan kemerdekaan RI pada tahun 1945. Maka logikanya, jika sang tokoh lahir tahun 1943, maka pada tahun 1945, ketika dia sudah menjadi preman-tengik dan berangkat memenuhi panggilan tugas Revolusi, usianya sekitar 2 tahun. Hebat betul!</p>
<p>Dokumen sejarah mencatat, pada bulan Agustus/November 1949, berlangsung penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda ke Pemerintah Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Sejak itu berakhirlah konflik bersenjata antara tentara Belanda dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Tapi cerpen menuturkan bahwa sang tokoh gugur saat “memimpin pasukan menyerbu tangsi dan gudang senjata”, dan ini berarti sebelum KMB. Kesimpulannya, sang tokoh (kelahiran 1943) mati terhormat sebagai komandan dan kusuma bangsa di medan laga selambat-lambatnya pada pertengahan tahun 1949, dalam usia 6 tahun. Apa ini Irasionalisme? Surrealisme? Jangan-jangan lebih pas disebut “pelecehan akal-sehat”..</p>
<p>Sunarta adalah penyair yang tergoda menulis cerpen. Puisinya digarap dengan intensitas tinggi, dan jelas jauh lebih kuat dan lebih lezat dibanding cerpennya. Ruh puisi, teristimewa puisi lirik seperti yang lazim ditulis Sunarta, bersemayam dalam imaji (visual-musikal) yang digali kata demi kata. Sementara cerpen pada dasarnya adalah cerita, dan hakikat cerita adalah narasi peristiwa. Rata-rata cerpen Sunarta lemah dalam mengeksplorasi bangunan peristiwa, lahir maupun batin, yang dihuni tokoh-tokohnya. Kebanyakan cerpennya laksana tarian yang ditarikan oleh penari yang berbakat, tapi malas menari. Tak ada sengatan gairah dalam gerak. Tiada didih. Tiada merih.</p>
<p>Di masa depan, kedangkalan dan kehambaran peristiwa dalam cerpen adalah problem yang seyogianya dipecahkan oleh Sunarta.</p>
<p>Sumber: Makalah dalam Acara Launching “Cakra Punarbhawa” pada Minggu, 22 Mei 2005, di Danes Art Veranda, Denpasar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/04/23/di-bawah-bayang-determinisme-tentang-cakra-punarbhawa-wayan-sunarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
