<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com &#187; Sketsa Perjalanan</title>
	<atom:link href="http://jengki.com/category/sketsa-perjalanan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jul 2010 02:15:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Di Bali Timur Kami Bertemu</title>
		<link>http://jengki.com/2008/05/23/di-bali-timur-kami-bertemu/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/05/23/di-bali-timur-kami-bertemu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 04:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/05/23/di-bali-timur-kami-bertemu/</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Wayan Sunarta
Rabu, 21 Mei 2008. Langit di atas Desa Ababi, Karangasem, Bali, cukup segar dan cerah. Cahaya matahari sore berbinar-binar bagai mata jelita gadis perawan yang menanti sang kekasih tiba. Namun hal itu seakan bertolak belakang dengan perasaanku yang gundah. Kantor Yayasan Metropoli Indonesia (YMID) tampak sepi. Dua orang kawan kantorku sedang bertugas ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p>Rabu, 21 Mei 2008. Langit di atas Desa Ababi, Karangasem, Bali, cukup segar dan cerah. Cahaya matahari sore berbinar-binar bagai mata jelita gadis perawan yang menanti sang kekasih tiba. Namun hal itu seakan bertolak belakang dengan perasaanku yang gundah. Kantor Yayasan Metropoli Indonesia (YMID) tampak sepi. Dua orang kawan kantorku sedang bertugas ke Borobudur, Magelang. Kawan lain sudah lebih pulang sebab mesti mengikuti piodalan/upacara Dewa Rambut Sedana, Sang Penguasa Harta. Hampir di setiap sudut jalan di desa berlangsung piodalan yang meriah itu.</p>
<p>Sebenarnya aku juga sudah bosan di kantor seorang diri, kalau saja tidak sedang menunggu kedatangan dua kawan penting Apsas/milis Apresiasi-Sastra (sebab mereka moderator hehehe..), Kang Sigit Susanto dan Cak Bono. Mereka sengaja bersepeda motor sejauh 80 km dari Denpasar hanya untuk menemuiku, yah..mungkin juga sekalian jalan-jalan menyusuri buntut pulau Bali hehee&#8230;.Aku jadi terharu dengan kebaikan kawanku ini. Setahun lalu Kang Sigit bersama Phutut EA juga datang mengunjungiku di Ababi. Kali ini dia datang dengan Cak Bono. Maka dengan sabar aku menunggu, tentu saja sambil mengusir kebosanan dengan mengubek-ubek dunia maya (internet) yang difasilitasi kantor tempatku bekerja.</p>
<p>Sekitar jam 16.15 mereka nongol di pintu gerbang. Ah,..akhirnya mereka mendarat (naik motor maksudnya) dan tiba jua dengan selamat di Desa Ababi, meski nampak agak keletihan. Tubuh mereka menyisakan aroma perjalanan dan bau knalpot truk-truk pasir sepanjang by-pass Denpasar-Kusamba. Begitu tiba kami bersalaman, bertegur sapa sambil membagi senyum lebar. Sigit memperkenalkan Cak Bono padaku. Meski sudah cukup lama saling kenal nama di milis Apsas, baru kali itu aku bersapa muka dengan Bono, dan langsung jadi akrab.</p>
<p>Dua pejalan yang kelelahan itu nampak santai dengan celana kolor warna biru dan kaos oblong. Yang paling santai dalam setiap perjalanan tentu saja Kang Sigit, kemana-mana lebih sering hanya pakai celana pendek dan kaos oblong sambil menggendong ransel ukuran sedang warna merah. Cak Bono yang bertindak sebagai pengemudi sepeda motor bebek itu memakai jaket jenis perasut. Mungkin dia takut masuk angin hehehe&#8230;</p>
<p>“Ada tempat untuk rebahan, Jeng?” tanya Sigit.</p>
<p>Oya, aku lupa kalau semua ruangan di kantor, kecuali ruang kerjaku, sudah dikunci. Aku buru-buru mengambil kunci aula yang merangkap perpustakaan kantor. Aku menggiring mereka masuk ke aula yang dilapisi karpet merah yang sudah bulukan karena terlalu sering diinjak dan diduduki anak-anak yang ikut kursus seni budaya di kantor YMID. “Silakan istirahat dulu,” saranku. “Mau minum apa? Kopi? Teh? Pakai gula atau pakai garam?” tawarku sambil bercanda.</p>
<p>Cak Bono dengan mantap memesan kopi. Sedang Kang Sigit minta teh manis. Aku mengambil kunci dapur dan mulai merebus air sambil menyiapkan minuman buat mereka. Tak lupa aku menyediakan camilan ringan buat pengganjal perut. Tak beberapa lama minuman “selamat datang” racikanku telah terhidang di hadapan tamu-tamu agung itu hehee&#8230;”Monggo, Mas, silakan diminum, sekalian aja sama gelasnya ya..hehee..”</p>
<p>Sigit merogoh ransel, mengeluarkan berlembar-lembar poster penulis dunia, postcard dan majalah. “Jeng, ini poster-poster buatmu,” katanya. Wah&#8230;asyik juga poster-poster itu untuk meramaikan dinding-dinding perpustakaan kantorku. Kemudian kami foto-foto dengan latar kantor YMID dan ruang baca perpustakaan. Sayang fotonya sebagian besar buram karena kurang cahaya saat pemotretan.</p>
<p>“Wah&#8230;pantas banyak dapat puisi-puisi perawan di sini,” ujar Cak Bono, mungkin terpukau dengan keindahan Karangsem di sepanjang perjalanan. Aku cuma cengar-cengir aja. “Ya&#8230;nanti Cak juga bisa mencari hawa puisi perawan di sini,” celetukku.</p>
<p>Sambil minum kopi dan teh, kami ngobrol-ngobrol tentang rencana launching buku Sigit Susanto “Menyusuri Lorong-lorong Dunia Jilid 2” di Togamas Denpasar, tanggal 24 Mei. Juga ngobrol tentang perjalanan dan acara Kang Sigit di Semarang, Malang dan Surabaya. “Wah&#8230;kenapa Gita Pratama gak diajak, dia ngambek tuh!” ujarku. Cak Bono ketawa-ketawa. Kemudian Cak Bono dan Sigit menceritakan pertemuan dengan kawan-kawan Apsas Surabaya di Stasiun Gubeng. Wah&#8230;seandainya Gita bisa ikut ke Bali kan seru ya&#8230;hehehe</p>
<p>Sekitar jam 17.00 kami cabut dari kantor YMID. Rencana awalnya mereka mau langsung balik ke Denpasar, tapi aku cegah. “Kalian nginap di kosku aja. Cukup kok buat tidur bertiga, kan tubuh kita mungil-mungil&#8230;” ajakku. Mereka nampak berpikir. “Nanti kita jalan-jalan menikmati kota Amlapura dan Taman Ujung yang asri&#8230;dan kita bisa mencicipi tuak,” bujukku lagi. Mereka saling pandang dan akhirnya menyanggupi.</p>
<p>Aku ajak mereka ke Taman Ujung, sebuah taman air milik Kerajaan Karangasem yang berlokasi dekat laut. Taman yang sangat eksotis dengan bangunan-bangunan kuno bergaya Eropa (Belanda) dan bersebelahan dengan perkampungan Islam (Bugis). Dulu ketika Kerajaan Karangasem menyerbu Kerajaan Seleparang di Lombok, mereka juga menggunakan tentara bayaran dari Bugis. Kerajaan Karangasem menang dan tentara Bugis mendapat hadiah tanah yang berlokasi dekat Taman Ujung. Di tanah itulah mereka membentuk komunitas Islam dan beranak-pinak hingga sekarang.</p>
<p>Perjalanan ke Taman Ujung sangat memukau karena melewati kota tua Amlapura dan persawahan luas yang dilatari Gunung Agung dan Gunung Lempuyang. Sesungguhnya wilayah Kabupaten Karangasem masih banyak menyimpan da(e)rah perawan yang belum terjamah turis. Aura spiritual dan magisnya masih terasa. Itu pula sebabnya wilayah Karangasem dicanangkan sebagai daerah tujuan wisata spiritual.</p>
<p>Tiba di Taman Ujung kami langsung menghampiri pedagang ikan bakar dan sate ikan laut. Kang Sigit membeli tiga ekor ikan bakar, ketupat, sayur urap, pisang goreng, air mineral, camilan. Di sebuah pendopo tua tanpa atap, yang mirip bangunan Yunani kuno, makanan tersebut digelar. Kami bersantap sore sambil duduk lesehan menghadap hamparan Selat Lombok. Maka jadilah kami seperti turis yang sedang piknik di Taman Ujung. Sempat pula foto-foto dengan latar bangunan antik itu. Dulu pada jaman kerajaan, bangunan dengan pilar-pilar antik itu biasa dipakai oleh raja Karangasem beserta permaisurinya sebagai tempat bersantai dan melamun seraya mengagumi keindahan Taman Ujung dan Selat Lombok yang membentang biru. Dan kini kami pun merasakan keindahan yang sama, meski pada waktu yang jauh berbeda.</p>
<p>Beberapa pengunjung nampak duduk-duduk santai sambil menatap keindahan Taman Ujung. Ada juga sepasang calon pengantin dengan pakaian ala Kerajaan Karangasem sedang berpose di depan bangunan kuno itu. Mungkin foto itu akan dicetak di kartu undangannya agar terkesan lebih elegan dan artistik. Beberapa pasang remaja tanggung asyik pacaran di sudut-sudut taman. Sedangkan kami tenggelam dalam obrolan-obrolan ngalor ngidul seputar dunia kesusastraan dan perjalanan.</p>
<p>“Wah&#8230;kunci motornya mana ya?” tiba-tiba saja Cak Bono kebingungan mencari kunci motornya. Wajah Kang Sigit mulai cemas. Hari sudah hampir gelap. Aku juga ikut-ikutan bingung. Aku periksa tempat kami duduk. Tapi tak ada kunci yang tergeletak.</p>
<p>“Coba inget-inget, tadi naruh kuncinya dimana,” saranku. Aku juga menyarankan agar memeriksa ke tempat kami beli ikan bakar tadi. Siapa tahu jatuh di sana. Cak Bono buru-buru keluar ke arah gerbang taman, kemudian balik lagi ke arah kami duduk.</p>
<p>“Ketemu?” seru Kang Sigit. </p>
<p>Sambil cengar-cengir, seakan menyadari kepikunannya, Cak Bono menunjukkan dompetnya. “Ternyata aku masukkan ke dompet tadi. Aku pikir uang recehan,” serunya dengan wajah tanpa dosa. “Ternyata pikun itu menular ya?” katanya lagi. </p>
<p>Kang Sigit yang ternyata juga mengidap pikun mesem-mesem, sebab merasa kena sindiran Cak Bono. Aku ketawa-ketawa, ”Ah, kalian dua-duanya pikunan hehee..Udah pada tuek seh&#8230;”</p>
<p>Senja semakin merambat ke arah malam. Sebenarnya aku ingin mengajak mereka lebih lama di Taman Ujung untuk menyaksikan bulan yang jelita muncul dari bawah laut. Pada tahun lalu (2007) di tempat yang sama dan pada hari yang sama (sehari setelah Waisak) aku pernah begitu terpukau dengan cahaya purnama yang berpendaran memenuhi hamparan Selat Lombok. Tapi kini bulan terlambat muncul atau mungkin tertutup awan atau bisa jadi malu melihat kami yang akan menatap dan menggodanya. Akhirnya aku memutuskan mengajak mereka pulang ke kos.</p>
<p>Tiba di kosku yang berantakan, Kang Sigit langsung menceburkan diri ke kasur, membaca buku sambil tiduran. Aku menyalakan komputer, menghidupkan musik. Cak Bono duduk-duduk sambil merokok. Aku menunjukkan foto-foto saat perjalanan ke Yogya dan Boja. Kang Sigit dan Cak Bono antusias mengamati foto-foto di layar komputer. Naluri guide Kang Sigit kambuh lagi. Dia langsung menjelaskan dan mengomentari peristiwa, orang-orang dan tempat-tenpat di foto-foto itu. Cak Bono hanya manggut-manggut sambil senyum-senyum. </p>
<p>Kemudian aku putarkan film dokumentar Bali 1930-an. Cak Bono terpukau menonton perempuan-perempuan Bali yang menari bertelanjang dada. Pada jaman itu semua perempuan Bali memang telanjang dada. Hanya mengenakan kain penutup dari pinggang hingga tumit kaki. Itulah budaya Bali tahun 1930-an. Akhirnya kami pun terlibat diskusi ringan tentang budaya Bali dan Jawa. Saat itu keluar juga ilmu Antropologi yang dulu kupelajari di kampus.</p>
<p>Sekitar jam setengah sepuluh aku mengajak Sigit dan Bono mencari minum di warung yang tidak jauh dari kos. Kadang-kadang ketika lagi sumpek aku suka nongkrong di warung itu sambil minum sebotol bir. Penjaga warungnya manis sih&#8230;.Namun sayang malam itu dia kehabisan bir. Jadi terpaksalah kami minum greensand sambil ngobrol-ngobrol dengan penjaga warung yang asyik SMS-an dengan penggemarnya yang lain..Jam sepuluhan kami balik ke kos.</p>
<p>Tetangga kosku sedang pesta tuak di halaman kos. Kami diundang ikut minum. Aku memperkenalkan Kang Sigit dan Cak Bono kepada para tetangga kosku yang bekerja sebagai sales rokok, penjaga hotel dan pekerja bengkel sepeda motor. Kami minum tuak sambil ngobrol ngalor ngidul. Entah bagaimana awalnya, kemudian malam itu Kang Sigit menjadi bintang dan pembicara tunggal. Kang Sigit Bondet banyak berkisah tentang pengalamannya selama menjadi guide di Bali, tentang pertemuan-pertemuan indah dengan beberapa turis yang dipandunya, sejarah awal mula dia menekuni yoga dan meditasi, tentang trik-trik mendekati cewek bule, perihal menumbuhkan kepercayaan diri, tips-tips agar nampak mengesankan, cara menjalin relasi dan interaksi personal agar tidak mudah dilupakan orang, dan masih banyak lagi. Bondet benar-benar menggeber ilmunya. Kawan-kawan tetangga kosku pada bengong melongo. Cak Bono nampak tepekur menikmati tegukan demi tegukan tuak bagiannya. </p>
<p>Di hadapan Kang Sigit, malam itu kami menjadi pendengar yang takzim, sesekali tersenyum dan berkomentar kalau ada kisah-kisah lucu dan konyol. Waduh&#8230;malam itu Kang Sigit nampak sebagai kepala suku atau suhu sebuah perguruan silat yang sedang menurunkan ilmu kepada murid-muridnya. Atau mungkin malam itu kami lebih mirip gerombolan suku Indian yang sedang berpesta di bawah purnama. Duduk bersila di halaman membentuk lingkaran kecil. Di tengah-tengah kami satu morong (tempat air dari plastik) berisi tuak, beberapa bungkus kacang dan kue-kue. Kami minum bergantian dengan gelas yang sama. Nampak hangat dan kekeluargaan. Sayang kami lupa bikin api unggun&#8230;</p>
<p>Gerombolan tuak itu baru bubar sekitar jam setengah dua dinihari. Embun sudah membasahi rambut kami sejak tadi. Cak Bono nampak mengantuk. Aku juga. Kami masuk kamar. Kang Sigit langsung nyungsep di kasur dan tak bangun-bangun lagi hingga keesokan harinya. Ajaib banget ini orang, pikirku. Baru saja bicara berbusa-busa tentang berbagai hal, kini sudah langsung bisa melayang ke alam mimpi. </p>
<p>“Itu berkat latihan yoga-nya, dia bisa menyetel kapan ngoceh, kapan tidur,” ujar Cak Bono sambil membaca buku, seakan tahu apa yang kupikirkan. Wah&#8230;malam itu aku tidur ditemani dua tamu yang “sakti-sakti” rupanya.</p>
<p>Hingga jam setengah tiga pagi aku belum bisa tidur. Cak Bono juga gak bisa tidur. Dia asyik baca Satre sambil tiduran. Sesekali kami ngobrol tentang trauma masa lalu masing-masing. Ah&#8230;lucu juga pertemuanku dengan Bono, ternyata kami punya trauma yang sama.</p>
<p>Beberapa saat kemudian aku terlelap. Kang Sigit tidur di sebelah kiriku, Bono di sebelah kananku, aku di tengah-tengah mereka. Lucu juga. Aku yang berambut panjang dan kuping beranting-anting diapit dua lelaki berambut pendek. Kalau ada orang iseng mengintip, mungkin dipikirnya ada dua lelaki sedang mengeloni seorang cewek manis&#8230;hehehe&#8230;</p>
<p>Karangasem, Bali, 22 Mei 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/05/23/di-bali-timur-kami-bertemu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Ke Yogya dan Boja</title>
		<link>http://jengki.com/2008/05/12/perjalanan-ke-yogya-dan-boja/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/05/12/perjalanan-ke-yogya-dan-boja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 09:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sketsa Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/05/12/perjalanan-ke-yogya-dan-boja/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
Rabu, 30 April 2008
Aku janjian dengan Sigit Susanto di Terminal Ubung. Dia telah lebih dulu tiba di Bali. Saat ketemu di terminal, kami saling bertukar salam dan ngobrol ngalor ngidul. Dia memberiku oleh-oleh sebuah buku kumpulan puisi tentang kota-kota. “Ini bisa kamu jadikan perbandingan untuk menulis puisi tentang nama-nama tempat,” ujarnya. Aku menerima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p>Rabu, 30 April 2008</p>
<p>Aku janjian dengan Sigit Susanto di Terminal Ubung. Dia telah lebih dulu tiba di Bali. Saat ketemu di terminal, kami saling bertukar salam dan ngobrol ngalor ngidul. Dia memberiku oleh-oleh sebuah buku kumpulan puisi tentang kota-kota. “Ini bisa kamu jadikan perbandingan untuk menulis puisi tentang nama-nama tempat,” ujarnya. Aku menerima buku yang berisi CD itu dengan senang hati. Sigit selalu membawa oleh-oleh bila pulang dari Swiss. Oleh-oleh itu dibagi-bagikan ke teman-temannya, ada berupa buku, ada juga baju kaos. Aku juga dapat sebuah baju kaos yang bergambarkan sketsa James Joyce.</p>
<p>Dari Terminal Ubung, kami sama-sama akan melakukan perjalanan ke Yogya dan Kendal. Sekitar jam 3 sore bus patas yang kami tumpangi berangkat meninggalkan terminal. Sigit membawa sebuah koper besar yang ditaruh di bagasi, dan satu tas ransel yang selalu dibawanya. Sedangkan aku hanya membawa sebuah ransel berisi perlengkapan selama perjalanan. Kami berangkat bertiga. Ada seorang teman lama Sigit yang tinggal di Bali ikut serta dalam perjalanan; dia akan turun di Semarang.</p>
<p>Sepanjang perjalanan naik bus, kami ngobrol berbagai hal, tentang rencana acara di Yogya dan Kendal, tentang dunia sastra Indonesia yang penuh intrik, dan sebagainya. Dalam bus sempat juga membahas novel “Ayat-ayat Cinta” yang fenomenal itu. Aku belum membaca buku itu. Sedangkan Sigit baru beli di Denpasar untuk dijadikan bahan diskusi sastra di Yogya nantinya. Dalam bus Sigit menunjukkan sejumlah kelemahan novel itu, terutama pandangan stereotip penulisnya tentang orang kulit putih, seakan-akan semua kulit putih dianggap Amerika. Sebagai orang desa dari Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah yang kenyang dengan pengalaman merantau dan melanglang buana, pemahaman Sigit sangat luas tentang makna multikultur dan sikap menghargai perbedaan ras. Inilah salah satu sisi yang kusukai dari Sigit.</p>
<p>Bus berhenti di Pasir Putih. Kami makan malam di sana. Aku memuaskan diri merokok, sebab selama dalam bus aku tidak bisa merokok dan ini tentu saja sangat menyiksa diriku. Beberapa menit kemudian bus kembali melanjutkan perjalanan. Lampu dalam bus dimatikan agar para penumpang bisa beristirahat dengan tenang. Namun karena kebiasaan begadang, aku susah sekali tidur. Aku berusaha memejamkan mata, tidur-tidur ayam. Namun usaha itu tidak selalu berhasil. Bersyukur ada yang nelponku sekitar jam dua belas malam. Jadilah aku ngobrol di telpon sampai jam tiga pagi. Sementara itu Sigit tidur dengan pulas. Aku baru bisa tidur setelah lewat jam tiga.</p>
<p>Kamis, 1 Mei 2008</p>
<p>Bus memasuki Solo ketika subuh. Kami turun. Wah lega rasanya menghirup udara pagi dan menghembuskan asap rokok. Kami mencari becak. Tujuan kami adalah Stasiun Balapan. Tiba-tiba teringat lagu Dedi Kempot. Sambil naik becak beriringan, aku menikmati suasana pagi di jalan-jalan Solo. Aneh juga rasanya, tiba di suatu daerah asing di pagi yang asing, sebab aku sangat jarang bisa bangun pagi.</p>
<p>Tiba di stasiun lebih awal dari waktu yang diperkirakan. Tujuan Sigit mampir di Solo adalah untuk menemui kawan lama kami, Nurul. Sigit hendak mengambil pesanannya pada Nurul, berupa dua poster yang telah dibingkai. Dua poster itu akan dibawa ke Kendal untuk dipajang di Pondok Maos Guyub. Tapi sayangnya tukang bingkai belum buka sepagi itu. Kami ngobrol sambil minum kopi di sebuah warung di sudut stasiun. Aku kenal dengan Nurul saat di rumah Sigit di Batubulan, Bali, sekitar tahun 2004. Dan ini adalah perjumpaan keduaku dengannya.</p>
<p>Kami menunggu kereta jurusan Yogya yang berangkat sekitar jam sepuluhan. Nurul pamit pulang untuk mengambil poster yang dibingkai. Aku dan Sigit menunggu kereta di peron stasiun. Aku sempat jeprat-jepret suasana stasiun. Sigit pun ingin jeprat-jepret. Dia merogoh ranselnya hendak mengambil kamera. Dan betapa kagetnya dia.</p>
<p>“Wah&#8230;kameraku hilang!” ujar Sigit.</p>
<p>Dia kembali merogoh tasnya. “Jam tanganku juga tidak ada! Pasti saat kita tidur itu ya&#8230;” duganya</p>
<p>Sigit tidak begitu panik. Dia hanya terheran-heran kenapa kedua benda itu bisa hilang dalam bus.</p>
<p>“Mas, coba periksa yang benar. Koper besar juga diperiksa. Siapa tahu salah taruh,” saranku.</p>
<p>Sigit kemudian memeriksa ransel dan koper besarnya. Namun hasilnya nihil. “Kenapa tidak aku taruh di koper besar aja ya!?” tanya Sigit untuk dirinya sendiri. “Tapi gak apa. Kamera itu juga kamera lama kok. Mungkin udah saatnya diganti. Tapi jam tangan itu sebenarnya kuoleh-olehkan buat kakakku. Sayang ya? Tapi gak apa. Toh masih ada pembungkusnya. Jadi ini bisa kutunjukkan ke kakakku. Mungkin  dia belum beruntung dapat oleh-oleh,” celoteh Sigit berusaha menenangkan dirinya.</p>
<p>Pintar juga maling dalam bus itu. Hanya yang diambil jam nya saja. Sedangkan pembungkusnya masih disisakan, kataku dalam hati. Dan yang aneh lagi, Sigit menaruh ranselnya di dekat kakinya. Mungkin saat tertidur pulas sambil memeluk “Ayat-ayat Cinta”, maling itu menggerayangi ranselnya.</p>
<p>“Tapi, Jeng, ini pelajaran buat kita. Hati-hati dalam bus malam,” ujar Sigit lagi. Aku manggut-manggut dengan wajah sedih. Kasihan juga kawanku yang baik ini.</p>
<p>Sebenarnya ranselku juga sempat digerayangi. Posisi ransel yang kutaruh di atas tempat duduk telah berubah. Namun syukurnya aku lebih cekatan. Kamera aku masukkan ke dalam kantong jaket. Sedangkan ranselku hanya berisi baju dan buku.</p>
<p>“Kamu pinter ya, Jeng. Kamera kamu taruh di saku,” kata Sigit sambil memamerkan senyum khasnya.</p>
<p>Kehilangan di pagi hari itu menjadi suatu peristiwa lucu yang menyedihkan. Namun agaknya Sigit telah diincar sejak dari Terminal Ubung. Sebab dia membawa koper besar dan penampilannya kayak turis yang sedang piknik. Nah maling itu pasti mengira Sigit membawa banyak benda berharga dalam koper dan ranselnya.</p>
<p>Kereta jurusan Yogya datang. Kami bergegas naik ke gerbong. Nurul tiba-tiba nongol dengan menenteng dua poster yang terbingkai. Wah&#8230;pas sekali waktunya. Kami bertiga menuju Yogya. Dalam kereta yang dijejali penumpang, instingku memintaku agar lebih waspada, apalagi setelah kejadian yang menimpa Sigit. Namun hatiku cukup tenang sebab di depanku ada cewek cakep sedang asyik ngobrol dengan teman cowoknya. Jadi aku pun asyik cuci mata dengan mencuri-curi pandang. Agaknya cewek itu tahu kalau wajah ayunya dicuri pandang oleh mataku. Dia semakin genit memamerkan kecantikannya. Dan aku pun semakin gemas&#8230;.</p>
<p>Kereta tiba di Stasiun Tugu. Oh, Yogya, aku kembali lagi ke haribaanmu. Kami naik taxi ke jalan Kaliurang Km 7. Kami menuju rumah kontrakan cerpenis yang kini ikut-ikutan menjadi penulis seni rupa, Phutut EA. Di depan pintu Phutut menyambut dengan gaya khasnya. “Hai, penyair, gimana kabarmu! Wah&#8230;perjalanan yang melelahkan ya?”</p>
<p>Sudah lama aku tidak ketemu Si Anak Panda, panggilan mesra Phutut. Jadilah kami ngobrol panjang lebar dan ngalor ngidul. Aku menceritakan Sigit kehilangan kamera dan jam di bus. Phutut kaget. Tapi ya mau gimana lagi?</p>
<p>Aku mengeluarkan dua botol besar arak Bali. “Untuk kamu satu botol, untuk Saut satu botol ya&#8230;”ujarku. Dengan wajah sumringah Si Anak Panda menyimpan arak api tersebut dalam kulkas. Sementara itu aku mengambil satu botol bir besar dari kulkasnya.</p>
<p>“Wah&#8230;kawanku ini sudah makmur rupanya,” kataku. Si Phutut kemudian menceritakan sejarah rumah kontrakan itu dalam kaitannya dengan proyek penulisan seni rupanya. “Aku sekarang punya manager, Jeng,” ujarnya bangga. “Managerku yang mencarikan aku proyek-proyek tulisan. Jadi aku tinggal menulis saja,” sambungnya. Hehehe&#8230;hebat juga penulis satu ini, punya manager segala&#8230;</p>
<p>Aku sebenarnya mau istirahat, tapi obrolan kadung asyik untuk diteruskan. Ya..namanya juga kangen-kangenan. Kami makan siang di rumah Phutut. Agak sore aku tidur, sangat pulas sekali.</p>
<p>Jam tujuh malam kami meluncur ke Kedai Ceker milik Faiz Ahsoul di dekat kampus UGM. Di tempat itu diadakan diskusi dan kopi darat kawan-kawan Apsas. Sampai di kedai aku langsung menyodorkan sebotol arak api kepada Saut. “Wah&#8230;ini upeti dari raja Bali untuk raja Batak ya&#8230;?”kelakarnya sambil ketawa. Padahal sejak Saut launcing buku “Otobiografi”nya di Bali, dia telah wanti-wanti aku agar tidak lupa bawa arak api ke Yogya. Sebelum diskusi kami makan bubur ceker ayam. Enak juga. Wah&#8230;Si Faiz pintar juga buka kedai.</p>
<p>Tema diskusi tentang “Sastra Milik Siapa?”. Aguk Irawan mengupas “Ayat-ayat Cinta” dalam kaitannya dengan fenomena pasar. Kami bahas kenapa novel yang dari segi mutu tidak begitu menarik, menjadi laris manis di pasar perbukuan. Yang kami bahas adalah sistem pasar dan trend goreng menggoreng buku. Kami juga mengritik sejumlah kelemahan mencolok dalam novel itu. Aku sendiri menganggap novel itu sebagai sarana untuk mencuci otak orang-orang yang sedang mengalami histeria pasar. Diskusi berlangsung seru dan hangat. Hadir dalam diskusi itu antara lain Saut Situmorang, Dwi Cipta, Shiho Sawai, TS Pinang, Ari Saptaji, Sunlie Alexander Thomas, Thowaf Zuharon, Phutut Ea, Aguk Irawan, Faiz, Adi Toha, dan beberapa nama lain yang tidak aku hafal. Diskusi selesai sekitar jam setengah sebelas. Saut dan Aguk lebih dulu kabur dari diskusi dengan urusan masing-masing. Sebelum pulang Sigit membagi-bagikan buku bahasa asing oleh-oleh dari Swiss, masing-masing orang dapat satu buku.</p>
<p>Kami (aku, Sigit, Phutut dan Anwar Insist) kembali ke rumah kontrakan Phutut. Di sana mereka kembali ngobrol, sedang aku asyik ngrumpi pakai Hp dengan seseorang. Larut malam kami tidur, pulas&#8230;</p>
<p>Jumat, 2 Mei 2008</p>
<p>Aku bangun agak siang. Phutut membikinkan aku kopi. Kemudian dia memamerkan latihan Yoga Asana yang ditekuninya kepadaku. Sigit asyik dengan urusannya. Aku dan Phutut asyik diskusi tentang Yoga dan ilmu kebatinan. Agak siang Thowaf datang untuk menjemputku. Dan siang itu kami masing-masing punya acara sendiri-sendiri. Phutut dengan Sigit, aku dengan Thowaf.</p>
<p>Ada beberapa tempat yang ingin aku tuju. Dan syukur Thowaf punya waktu untuk mengantarku. Kami (aku dan Thowaf) pertama-tama pergi ke sekretariat majalah Balairung di kampus UGM. Aku mencari data tentang Umbu yang pernah dimuat di majalah tersebut. Kemudian aku menyiarahi deretan tujuh cemara di depan rektorat UGM. Rupanya dulu di sinilah Umbu suka nongkrong “meracuni” anak-anak kampus dengan puisi. Kemudian kami mampir ke Fakultas Sosiatri UGM, melihat suasana. Thowaf dulu kuliah di sini.</p>
<p>Dari UGM kami meluncur ke rumah kontrakan cerpenis Satmoko Budi Santosa. Aku juga lama tidak ketemu Satmoko. Kini dia telah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Dia menyambutku dengan hangat. Kami pun ngobrol ngalor ngidul dan kangen-kangenan sambil minum kopi. Kami ngobrol seputar dunia kepenulisan dan rencana-rencana ke depan. Rupanya Satmoko dan Thowaf sedang membentuk LSM yang bergerak di bidang seni, budaya, lingkungan dan anak-anak.</p>
<p>Kami tidak terlalu lama di rumah Satmoko, karena harus ke Malioboro membeli oleh-oleh buat beberapa kawan di Bali. Sebelum itu kami makan sate kambing di pojok Stasiun Tugu sambil melihat kesibukan stasiun. “Ini warung sate langganan Emha Ainun Najib,” kata Thowaf. Aku hanya manggut-manggut sambil membayangkan betapa Emha begitu melankolik dan nostalgik menikmati sate di pojok Stasiun Tugu. Dulu Emha dan anak-anak muda anggota Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi biasa begadangan di sepanjang Malioboro sambil menunggu wahyu puisi jatuh dari langit Yogya. Namun kini Malioboro telah berubah dan semakin menor dengan dandanannya. “Yang abadi kan perubahan,” kata suara hatiku.</p>
<p>Dari Malioboro kami menuju Toko Buku Togamas. Di sana ada launcing buku “Lesbumi”. Aku tidak begitu mengikuti acaranya. Aku hanya memenuhi janjiku untuk ketemu Saut. Dia mau mengajakku nge-bir sambil menikmati kota Yogya malam hari.</p>
<p>Selesai acara, saat ke luar ruangan aku dikuntit oleh sorang cewek berjilbab. Tergesa-gesa dia menyusulku ke luar ruangan. “Mas, Mas, kenalkan saya Ndari,” ucapnya. Aku menoleh dan menyalaminya, berkenalan. Kami sebenarnya sudah beberapa kali email-emailan. Dia pernah mengunjungi dan ngasik komentar di blogku (www.jengki.com). Dan baru kali ini bertemu muka. Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar dan foto bersama. Aku kenalkan dia kepada Sigit dan Thowaf. Mereka sempat ngobrol sebentar. Lalu kami berpisah. Aku dengan Thowaf mengikuti Saut yang membonceng Katrin Bandel pulang ke rumahnya di daerah Mantrijeron, Yogya.</p>
<p>Di rumah Saut, aku dan Thowaf berpisah. Aku sampaikan terima kasih kepada Thowaf yang banyak menemaniku selama di Yogya. Kini aku boncengan dengan Saut menuju kawasan Malioboro. Kami membelok ke sebuah jalan kecil yang ramai dipenuhi orang. Saut memasuki sebuah kafe langganannya, Kafe Bintang. Aku mengikuti. Kafe itu telah dipenuhi macam-macam orang. Ada banyak bule juga. Syukur masih ada beberapa tempat duduk yang lowong. Kami duduk dan memesan bir. Musik reggae mengalun rancak melantunkan lagu-lagu Bob Marley. Saut termasuk penggemar musik Reggae. Beberapa hari sebelumnya ketika Saut di Bali, aku menemaninya nongkrong di Apache Bar, bar dengan musik reggae di kawasan Legian Kuta.</p>
<p>Di Kafe Bintang, kami minum beberapa botol bir. Rupanya Saut cukup akrab dengan tempat itu. Banyak orang menyapanya. Kemudian muncul Leni, seorang pematung yang menetap di Singapura. Leni adalah kawan lama Saut. Dia sedang liburan ke Yogya. Kami kembali ditraktir bir. Sebenarnya kondisiku agak drop karena kecapekan jalan-jalan dan kurang tidur. Tapi kupaksakan juga minum beberapa gelas bir lagi hingga aku agak oleng.</p>
<p>Sekitar jam 1 malam kami meninggalkan kafe. “Aku lapar nih! Kita cari babi, yuk!” ajak Saut. Aku agak kaget. Emangnya ada jual daging babi di Yogya? “Kalau aku tidak dapat daging babi, pusing aku,” ujar Saut lagi. Saut kemudian mengajakku makan nasi dengan lauk babi kecap khas Tapanuli di emperan Malioboro. Kata Saut yang punya kedai itu mantan preman besar di Malioboro yang kini sudah almarhum karena sakit. Usaha itu kemudian diteruskan oleh anaknya. Dan rupanya kedai itu adalah langganan Saut. Dia sangat akrab dengan para penjaga kedai. Aku masih penasaran dengan perihal daging babi itu. Kalau di Bali sih gampang nyarik daging babi. Dan tentu saja yang paling terkenal adalah masakan babi gulingnya. Tapi ini di Yogya yang penduduknya mayoritas muslim. “Daging babi ini diimport dari Semarang,” jelas Saut memenuhi rasa penasaranku. “Banyak orang Cina pelihara babi di sana,” tambahnya. Masakan babi kecap Tapanuli itu cukup enak, meski agak asin di lidahku. Saut saja sampai makan dua porsi babi kecap. Ah, dasar perut gentong, pikirku. Jangan banyak-banyak makan daging babi, entar bisa berubah jadi babi lho&#8230;hehehee</p>
<p>Selesai makan, kami ngelayap di kawasan Malioboro dan sekitarnya. Sekitar jam 4 pagi Saut mengantarku ke rumah kontrakan Phutut di Jl. Kaliurang Km 7.  Sempat bingung juga mencari rumah Phutut karena Saut belum pernah ke sana dan aku juga baru pertama kalinya ke sana. Setelah sempat nyasar kami pun sampai di rumah Phutut. Namun penghuni rumah telah lelap dalam tidurnya. Beberapa kali aku telpon hpnya, tapi gak diangkat. Aku gedor saja pintunya berkali-kali. Phutut keluar sambil mengucek-ucek matanya.</p>
<p>Kondisi badanku benar-benar drop sekarang. Perutku juga mules-mules. Agaknya aku masuk angin, atau mungkin terlalu banyak minum bir dan begadangan. Sampai di kamar aku tidak langsung tidur. Kemas-kemas dulu untuk perjalanan ke Kendal. Setelah itu aku hanya dapat tidur sampai jam 8 pagi. Aku pasang alarm di hp agar bisa bangun tepat waktu.</p>
<p>Sabtu, 3 Mei 2008</p>
<p>Jam 8 aku bangun dan langsung mandi. Sigit juga sudah bangun. Kemudian kami ngopi sambil ngobrol sebentar. Phutut mencarikan kami (aku dan Sigit) taxi untuk pergi ke terminal. Kami melanjutkan perjalanan ke Kendal dengan naik bus patas jurusan Semarang, sekitar 3 jam.</p>
<p>Aku pingin tidur dalam bus karena masih mengantuk. Tapi tidak bisa tidur. Kami ngobrol-ngobrol sebentar. Kemudian Sigit tertidur. Sepanjang jalan aku hanya melihat-lihat pemandangan dari kaca bus. Penumpang tidak terlalu banyak. AC bus sangat dingin sehingga aku kebelet pipis. Tapi sialnya bus tidak dilengkapi WC. Ternyata Sigit juga tidak bisa tidur nyenyak. Rupanya dia juga kebelet pipis. Kami lantas merembugkan bagaimana caranya agar bisa kencing. “Kalau keadaan kepepet kita pakai tas kresek aja, Jeng,” usul Sigit sambil menoleh ke deretan bangku belakang yang kosong melompong. Dengan wajah pasrah aku menatap tas kresek bekas pembungkus camilan itu. Tapi niatku untuk pipis kemudian aku urungkan. Kembali Sigit mengusulkan agar aku mengalihkan pikiran dari kantung kemih yang telah penuh itu. Aku kemudian mengalihkan pikiran dengan menikmati perjalanan, melihat kota-kota kecil, pegunungan, sawah, hutan dan jalan-jalan desa serta suasana yang asing bagiku. Bus memasuki Kota Ambarawa, kemudian Salatiga dan berakhir di sebuah terminal kecil. Kami buru-buru turun dari bus dan langsung menyerbu WC. Ah, dengan bayar Rp.1000,-&#8230;.lega rasanya!</p>
<p>Perjalanan ke Kecamatan Boja di Kendal kami lalui dengan naik taxi, sekitar 40 menit. Kami melewati jalan-jalan pegunungan yang berudara sejuk. Sigit mengajak sopir taxi ngobrol-ngobrol, sedangkan aku hanya mendengarkan saja, namun sesekali menimpali. Aku asyik melihat-lihat pemandangan sepanjang jalan.</p>
<p>Taxi berhenti di depan Pondok Maos (Baca) Guyub, Desa Bebengan, Boja, Kendal. Sigit membayar taxi Rp.125 ribu. Saat itu telah ada beberapa anak muda desa yang menunggu kedatangan kami. Ternyata Pondok Maos Guyub didirikan di rumah kelahiran Sigit. Pondok itu dikelola oleh salah seorang keluarga Sigit, Mas Hartono. Aku disambut dengan ramah di sana, dan langsung akrab dengan Mas Hartono yang berusia sekitar 58 tahun. Mas Hartono sangat enerjik dan suka mengisahkan tentang masa lalunya yang pernah merantau ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Denpasar, Bali. Hartono juga banyak menceritakan tentang keberadaan Pondok Maos Guyub yang telah mampu mengakomodasi kebutuhan pembaca di 102 desa. Wah&#8230;luar biasa sekali.</p>
<p>Aku mengamati Pondok Maos Guyub. Ada dua ruangan (kamar tidur dan ruang tamu cukup luas) yang disulap menjadi perpustakaan. Rak-rak yang dipenuhi berbagai jenis buku tertata rapi. Lantai dilapisi karpet hijau untuk kenyamanan membaca buku sambil lesehan. Dinding-dindingnya ditempeli poster-poster penulis dunia yang setiap tahun dibawa oleh Sigit dari Swiss. Ada poster James Joyce, Frans Kafka, Albert Camus, dan sebagainya. Pondok baca itu juga mengoleksi puluhan buku terbitan luar negeri yang berbahasa Inggris, Perancis dan Jerman. Buku-buku itu kebanyakan novel, puisi, cerpen, esai karya penulis-penulis ternama di dunia, kebanyakan karya-karya pemenang penghargaan sekelas Nobel dan Pulitzer. Buku-buku itu sebagain besar dibawa oleh Sigit dari Swiss setiap dia pulang kampung. Aku berdecak kagum mengamati pondok baca itu. Aku membayangkan kelak akan lahir banyak penulis dari Boja. Sebab keinginan menulis biasanya juga didasari oleh kesukaan membaca buku.</p>
<p>Kunjunganku ke Pondok Maos Guyub juga kumaksudkan sebagai studi banding. Sebab di Desa Ababi, Karangasem, Bali, aku juga sedang ditugasi merintis perpustakaan untuk warga desa. Perpustakaan di Desa Ababi itu dibangun atas usaha Yayasan Metropoli Indonesia, sebuah yayasan pengembangan seni budaya untuk anak-anak desa, tempatku bekerja.</p>
<p>Ada banyak pelajaran yang bisa kupetik dari Pondok Maos Guyub. Aku melihat bagaimana beberapa anak muda mau ikut turun tangan mengatur-atur buku yang berserakan dan membantu Sigit dan Hartono memasang poster-poster yang baru dibawa dari Swiss. Bahkan ada seorang pemuda yang bisu-tuli dengan semangat membantu merapikan buku-buku karya Hemingway. Pemuda itu menurut Hartono sangat rajin datang ke pondok dan rajin membaca buku. Malah dia yang paling sering jengkel jika ada pembaca yang tidak menghargai buku. Misalnya, kalau dia melihat ada pembaca yang membiarkan buku berserakan sehabis dibaca, maka dia langsung menegur pembaca itu dengan bahasa isyaratnya. “Kadang-kadang saya juga suka ditegur kalau teledor menaruh buku di rak,” ujar Hartono sambil senyum-senyum.</p>
<p>Pondok itu ternyata juga dipakai sebagai wadah berkumpul oleh anak-anak muda desa. Biasanya setiap malam minggu anak-anak muda itu berkumpul di situ, bermain musik, terkadang sambil minum anggur kolesom. Sayang aku hanya membawa setengah botol arak api sisa dari Yogya. Aku tidak tahu kalau anak-anak muda di sana juga doyan alkohol. Hartono yang sangat disegani di desanya mampu merangkul anak-anak muda dari berbagai kalangan untuk ikut menjaga dan menghidupkan Pondok Maos Guyub.</p>
<p>Keluarga Sigit menyuguhkan makan siang. Kami makan sambil ngobrol. Agak sore Maria Boniok, seorang mantan TKW yang kini jadi penulis dan mengelola Rumah Rumbia (semacam komunitas baca dan kegiatan kesenian) di Wonosobo datang bersama suaminya. Kami berkenalan dan langsung hanyut dalam obrolan. Maria Boniok termasuk perempuan yang sangat enerjik dan berwawasan luas serta selalu ingin belajar tentang hal-hal yang menarik perhatiannya. Aku salut dengan perjuangannya menjadi seorang penulis.</p>
<p>Karena capek di perjalanan dan kurang tidur, aku menyempatkan diri untuk tidur. Aku terbangun ketika matahari hampir terbenam. Mas Hartono menyuguhkan kopi. Kami kembali terlibat obrolan. Sekitar jam tujuh malam, kami berangkat ke SMU 1 Boja yang lokasinya tidak jauh dari Pondok Maos Guyub. Malam itu aku menjadi pembicara perihal puisi di depan anak-anak Teater Tetas SMU 1 Boja. Ada sekitar 50-an remaja SMU hadir. Mereka sangat antusias mengikuti acara diskusi.</p>
<p>Pertama-tama acara diisi dengan pementasan teater, baca puisi, dan musikalisasi puisi. Panggung ditata sedemikian rupa dengan aksen kain poleng (hitam putih seperti papan catur) khas Bali. Dalam hati aku bertanya, dimana mereka mendapatkan kain poleng untuk tata panggung. Ah, ini hanya pertanyaan bodoh saja. Siapa tahu di Pasar Boja juga ada yang jual kain poleng. Namun yang membuat aku terharu, sambutan mereka begitu mengesankan dan penuh kekeluargaan. Dan anak-anak Teater Tetas dibawah asuhan Mas Didik cukup kreatif dalam meramu pagelaran mereka. Aku jadi terkenang ketika dulu sering mendampingi anak-anak Teater Angin SMU 1 Denpasar dalam setiap latihannya. Memang masa-masa SMU begitu indah bila bisa menikmatinya dengan kegiatan yang positif.</p>
<p>Pada sesion diskusi aku memaparkan seluk beluk puisi dan pengalaman serta proses kreatifku ketika menulis puisi. Aku menggiring diskusi ke arah tukar pengalaman sehingga diskusi tidak menjadi suatu yang menegangkan. Hasilnya banyak peserta yang bertanya tentang teknik menulis puisi, mencari ilham, proses kreatif, kiat-kita mengirim karya, kepuasan menulis puisi, dan sebagainya. Aku meladeni dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sabar dan gembira.</p>
<p>Diskusi berlangsung hingga hampir jam 11 malam. Pada akhir diskusi aku memberikan kenang-kenangan kepada Teater Tetas, berupa tiga kumpulan puisiku. Kemudian acara dilanjutkan dengan ngobrol santai sambil main gitar dan organ. Kebetulan malam itu anggota Teater Tetas yang baru akan dilantik, jadi mereka begadangan sampai larut malam. Sigit, Maria dan suaminya mendahului pulang ke pondok. Sedang aku menemani anak-anak teater dan pembinanya hingga jam satu. Beberapa anggota teater sudah tertidur. Namun ada juga yang masih berjaga, main gitar dan ngerumpi dengan teman-temannya. Aku jadi terkenang lagi masa-masa SMU-ku.</p>
<p>Aku pulang ke Pondok Maos Guyub dengan cara memanjat pagar sekolah, sebab pintu gerbang sudah dikunci dan penjaga sekolahnya entah ke mana. Tiba di Pondok Maos, beberapa anak muda nampak asyik main organ tunggal sambil dangdutan dan minum anggur di emperan. Mas Hartono juga tampak asyik menemani mereka. Di ruang tamu Sigit juga masih asyik ngobrol dengan wartawan dari Suara Merdeka dan beberapa kawan lainnya. Aku pun ikut nimbrung bersama mereka. Mas Suparno, seorang guru Bahasa Inggris yang tinggal di sebelah Pondok Maos menghampiriku. Mas Suparno usianya sekitar 60-an tahun, namun tampak masih berjiwa muda. Aku diajaknya diskusi tentang kondisi perekonomian bangsa, strategi menghadapi hidup, kiat-kiat mencapai sukses dalam hidup dan berbagai topik lainnya. Sebenarnya mataku sudah berat sekali, tapi aku ladeni kuliah menjelang subuhnya dengan manggut-manggut, mungkin juga karena mengantuk. Kemudian Mas Parno mengambil gitar dan mulai memainkan teknik gitar klasik ketika aku berbasa-basi bilang pingin belajar main gitar. Dia mencoba mengajariku teknik cepat memainkan kunci-kunci gitar. Tentu saja aku susah mengikuti pelajarannya di waktu yang tidak tepat itu. Aku minta agar dia bernyanyi saja. Biar ada hiburan maksudku. Kemudian Mas Parno menyanyikan beberapa lagu lawas dengan teknik gitar klasik.</p>
<p>Sekitar jam tiga pagi, aku pamit tidur. Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi.</p>
<p>Minggu, 4 Mei 2008</p>
<p>Aku bangun tidur sekitar jam setengah sepuluh. Di luar terdengar ramai suara anak-anak. Sigit tampak sibuk mengatur anak-anak SD dan sepedanya. Beberapa pemuda desa juga nampak sibuk. Pagi itu akan diadakan acara naik sepeda keliling desa sambil belajar menulis catatan perjalanan. Aku pergi mandi dan sarapan, kemudian minum kopi.</p>
<p>Hampir jam sepuluh lebih anak-anak belum juga diberangkatkan. Rupanya Sigit masih menunggu Shiho Sawai, cewek Jepang yang sedang meneliti komunitas sastra di Indonesia. Shiho kepingin ikut naik sepeda. Shiho masih dalam perjalanan dengan bus dari Yogya. Beberapa menit kemudian Shiho tiba. Sempat istirahat dan ngobrol sebentar, lalu menyongsong rombongan naik sepeda.</p>
<p>Hari pertama acara naik sepeda itu, ada beberapa tempat yang dikunjungi, yakni pasar hewan, pasar Boja dekat terminal Boja, tempat pembuatan genteng, kebun karet, kemudian istirahat makan siang di Pondok Baca Ajar di Desa Meteseh yang dikelola oleh Heri C. Santosa, alumni Universitas Diponegoro Semarang. Dari Pondok Baca Ajar kemudian balik lagi ke Pondok Maos Guyub.</p>
<p>Perjalanan bersepeda ini ternyata sangat mengasyikkan. Tapi paha dan lututku jadi pegal-pegal karena tumben lagi naik sepeda. Dulu ketika masih SD, SMP, SMU dan awal-awal kuliah aku biasa naik sepeda setiap bepergian. Setelah itu dimanjakan dengan sepeda motor. Ternyata dengan naik sepeda banyak hal yang bisa kita nikmati. Selain berolah raga, kita juga bisa menikmati keindahan alam lebih seksama.</p>
<p>Kami naik sepeda melalui jalan-jalan desa yang masih asri. Melewati jalan tanah setapak, persawahan, dan melintasi perumahan penduduk. Aku terpesona dengan rumah-rumah joglo tua. Setiap persinggahan kami berhenti. Sigit memandu anak-anak dan memperkenalkan mereka pada alam desanya sendiri. Beberapa anak tampak mencatat apa yang dilihatnya. Ketika akan menuju Dusun Selamet, Maria Boniok jatuh dari sepedanya. Dia nyungsep di parit dangkal yang syukurnya tidak berair. Medan yang lumayan berat dan jauh membuat badan jadi letih. Mungkin karena kecapean atau kurang hati-hati yang membuat Maria tertindih sepeda mininya. Tapi dia malah ketawa-tawa, dan anak-anak yang lain juga ketawa. Seru juga. Maria segera bangkit dan kembali menggenjot sepedanya. Tiba-tiba muncul Adi Toha yang menyusul perjalanan kami. Dia baru sampai di Boja, kemudian segera menyusul rombongan.</p>
<p>Sekitar jam 12.30 kami tiba di Pondok Baca Ajar di Dusun Selamet, Meteseh. Kami disambut alunan musik campur sari khas Jawa Tengahan. Sigit mengira ada hajatan pernikahan. Ternyata musik yang disetel dengan pengeras suara kencang itu untuk menyambut kami. Ada juga sebuah panggung yang ditata sederhana tempat anak-anak pentas.</p>
<p>Kami istirahat dan makan siang di sana. Kami makan dengan lahap sekali, jelas karena lapar dan letih. Masakan yang dihidangkan masakan khas desa. Ada juga jajanan desa. Aku makan dengan pincuk, wadah nasi dari daun pisang. Wah&#8230;nikmat sekali. Heri mengomandoi anak buahnya untuk persiapan pentas. Langit mulai mendung.</p>
<p>Seusai makan siang, kami menonton pementasan anak-anak desa. Ada permainan band dengan menggunakan kaleng bekas, pentas drama berbahasa Jawa, modern dance yang dimainkan oleh remaja putri yang manis-manis dan imut. Anak-anak Dusun Selamet ternyata kreatif juga. Warga dusun berbondong-bondong datang menyaksikan pementasan. Ketika pementasan drama dimulai, hujan turun deras. Semua penonton segera mencari tempat teduh. Beberapa pemuda mengamankan sound sistem. Namun pementasan terus berlanjut, hujan-hujanan, beberapa pemain menggunakan payung. Semangat pentas mereka sangat luar biasa. Pementasan di panggung terbuka itu menjadi seru karena mereka bermain sambil hujan-hujanan. Penonton tertawa-tawa ketika mereka melontarkan banyolan-banyolan lucu.</p>
<p>Usai pementasan drama, hujan perlahan reda. Acara dilanjutkan dengan pementasan modern dance anak-anak dan remaja. Aku asik jeprat-jepret mengambil gambar. Kemudian dilanjutkan dengan foto bersama pemain dan undangan. Beberapa anak-anak dan remaja ingin foto bersama Shiho. Mungkin mereka merasa eksotis melihat ada orang Jepang kluyuran di dusun mereka.</p>
<p>Kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Pondok Maos Guyub, di Desa Bebetan. Shiho mulai keteter. Langit masih menurunkan gerimis. Shiho kemudian dibonceng panitia. Sedangkan kami masih terus menggenjot sepeda. Dan akhirnya tiba juga di Pondok Maos, sekitar jam enam sore. Semua kelelahan dan badan lembab karena gerimis.</p>
<p>Di pondok kami saling bertukar cerita. Maria sudah mandi. Namun nampak dia masih kelelahan. Aku segera mandi dan tidur-tiduran. Kemudian ngobrol-ngobrol ringan bersama kawan-kawan. Setelah itu kami makan malam. Lapar&#8230;</p>
<p>Malam harinya digelar acara diskusi tentang pengelolaan taman bacaan. Pembicaranya Maria Boniok, Bu Yahya, dan Hartono. Bu Yahya yang mengelola Taman Bacaan Kirana datang dari Wonogiri bersama suaminya, Pak Yahya (salah satu moderator milis Apsas). Maria membeberkan suka duka mengelola taman bacaan. Tentang buku yang banyak hilang setelah dipinjam, tentang ketidakdesiplinan para peminjam, dan sebagainya. Kemudian Bu Yahya  membeberkan tentang perjalanan taman bacaan Kirana. Dia juga membagikan kiat-kiat mengelola taman bacaan. Mas Hartono kemudian melanjutkan mengupas tentang keberadaan Pondok Maos Guyub yang telah memiliki pembaca di 102 desa. Acara diskusi berlangsung hangat. Beberapa anak muda dan tokoh-tokoh desa juga hadir dan banyak memberikan komentar tentang keberadaan pondok baca itu.</p>
<p>Usai diskusi dilanjutkan dengan obrolan ringan. Di emperan pondok, anak-anak muda bermain musik sambil danggutan, dan tentu saja minum anggur. Aku diundang minum anggur oleh Mas Hartono, menemani anak muda dari desa tetangga. Ada seorang anak muda bernama Aji yang tertarik menulis puisi sejak menonton film “Ada Apa Dengan Cinta?” Aji telah beristri dan mempunyai seorang anak yang diberinya nama Rangga, sesuai dengan tokoh di film yang digemarinya itu. Istrinya bekerja jadi TKW di Arab Saudi. Ketika kangen kepada istrinya, Aji suka mengungkapkan isi hatinya atau curhat lewat buku harian yang kemudian dikirimkannya kepada istrinya di Arab sana. Aji hanya tamatan SMP. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya menulis puisi. Sambil minum anggur kolesom kami pun diskusi puisi. Karena terharu dengan semangatnya, aku pun menghadiahinya sebuah buku kumpulan puisiku. Dia sangat gembira menerima buku itu.</p>
<p>Malam kian larut, aku pergi tidur.</p>
<p>Senin, 5 Mei 2008</p>
<p>Aku bangun jam sepuluh. Letih sekali badanku. Hari ini aku mesti meninggalkan Pondok Maos Guyub, pulang ke Bali. Usai mandi, aku sarapan dan kemudian kemas-kemas. Aku pamitan dengan para penghuni pondok dan kawan-kawan yang masih berada di sana. Sebenarnya aku masih pingin berlama-lama di sana, sebab masih ada beberapa acara dan lanjutan jalan-jalan naik sepeda dengan rute yang berbeda. Mas Hartono juga berusaha menahanku agar tidak buru-buru pulang. Aku terharu dengan kehangatan kawan-kawan di Pondok Maos Guyub dan terutama keluarga Sigit. Namun apa daya, ada banyak pekerjaan yang masih menungguku di Yayasan Metropoli Indonesia, tempatku bekerja. Akhirnya dengan berat hati aku meninggalkan pondok. Heri mengantarku dengan sepeda motor menuju Kota Semarang.</p>
<p>Ternyata perjalanan dari Boja ke Semarang lumayan jauh. Tiba di Semarang aku dan Heri sempat mampir ke Universitas Diponegoro Semarang. Heri mesti mengembalikan kain layar hitam yang dipinjamnya untuk pementasan teater di Pondok Baca Ajar. Dari kampus kami langsung bergerak menuju agen tiket bus Safari Dharma Raya. Aku mesti kejar-kejaran dengan waktu. Sampai di agen kebetulan masih ada kursi yang kosong yakni di belakang, dekat WC. Aku dapat di kursi cadangan. Tak mengapalah, yang penting dapat tiket.</p>
<p>Urusan tiket sudah aman. Aku mesti ada di agen jam 2. Jadi aku dan Heri masih punya waktu satu jam untuk singgah ke Rumah Seni Yaitu, milik Tubagus. Tidak enak rasanya telah berada di Semarang, tapi tidak mampir ke sana. Aku kenal dengan Tubagus ketika sama-sama menjadi pembicara seni rupa di Galeri Nasional, Jakarta, pada pertengahan 2007. Ternyata Tubagus juga kawan sekolah Sigit sewaktu di Semarang. Sigit juga akan launching buku “Menyusuri Lorong-lorong Dunia Jilid 2” di Rumah Seni Yaitu pada Senin, 12 Mei 2008.</p>
<p>Tubagus mengajak kami makan siang di warung langganannya. Kami ngobrol sambil mengisi perut. Aku sempat menanyakan kabar Triyanto Triwikromo. Ternyata umur panjang dia. Beberapa menit kemudian Triyanto nelpon ke Hp Tubagus. Tubagus mengabari aku ada di Semarang dan sedang makan siang. Aku sempat ngobrol sebentar via Hp dengan Triyanto. Dia memintaku mampir ke kantor Suara Merdeka. Namun aku sedang terburu-buru dengan waktu.</p>
<p>Selesai makan Tubagus mengajak kami ke Galeri Semarang melihat pameran Bob Sick. Lihat pameran hanya 10 menit, lalu buru-buru ke agen bus Safari yang tidak jauh dari galeri itu. Aku pamitan dengan Tubagus dan Heri, kemudian masuk bus.</p>
<p>Bus perlahan berangkat meninggalkan Kota Semarang yang panas. Sepanjang jalan aku terkenang dengan kisah-kisah di Boja. Di sebelahku duduk seorang bapak tua. Ehm&#8230;coba kalau yang duduk di sampingku seorang gadis manis, tentu perjalanan pulang tidak membosankan. Karena tidak ada teman ngobrol, aku berbasa-basi juga dengan bapak tua itu. Dia sedang melakukan perjalanan tugas kantor ke Denpasar.</p>
<p>Karena duduk di bangku cadangan, otomatis kursi tidak bisa diatur. Dan ini tentu saja menyiksaku hingga pagi. Aku tidak bisa tidur dengan baik dan benar selama perjalanan. Badanku sudah drop karena letih. Aku juga tidak kebagian selimut.</p>
<p>Di deretan tengah duduk segerombolan cowok dan cewek gaul (mungkin mahasiswa) yang hendak berlibur ke Bali. Pakaian dan potongan rambutnya aneh-aneh. Ada yang berjambul, gimbal, gondrong nanggung, ada pula yang setengah gundul. Ada yang bibirnya ditindik, ada yang pakai anting-anting besar. Aku menguping obrolan dan banyolan mereka. Dari logatnya aku menduga mereka dari Bandung. Aku tersenyum-senyum dalam hati melihat tingkah polah mereka. Nampaknya mereka sangat bahagia dan menikmati perjalanan.</p>
<p>Aku tertarik melihat salah satu cewek manis yang berada di tengah-tengah gerombolan yang mirip penyamun itu. Cewek manis itu juga nampak sumringah dan selalu tersenyum manis kepada teman-teman cowoknya. Agaknya dia gadis yang manja. Sebuah boneka bulu warna kuning cerah selalu berada dalam dekapannya. Aku membayangkan seandainya cewek manis itu duduk di sampingku, tentu perjalanan pulangku lebih punya kesan. Tapi tak mengapa, ada untungnya aku duduk dekat WC. Jadi setiap cewek manis itu kebelet pipis dan hendak ke WC, aku bisa mencuri pandang dari balik naungan topiku, tentu saja sebelum dia masuk WC dan menutup pintunya hehehee&#8230;</p>
<p>Sepanjang perjalanan imajinasi dan pikiranku berkelebat kesana kemari. Malam merangkak perlahan. Bapak tua di sampingku berusaha tidur-tidur ayam karena dia juga susah mengatur letak kakinya di bangku cadangan yang sumpek itu. Yang membuat aku tambah sakau, aku tidak bisa merokok. Jadilah aku gelisah sepanjang perjalanan. Mataku mulai berat karena mengantuk dan capek dengan kelebatan pikiranku sendiri. Di belakang tempat dudukku ada sebuah dipan kecil tempat sopir cadangan tidur. Kebetulan dipan kosong. Tanpa pikir panjang aku membajak tempat tidur sopir. Sempat merebahkan diri dengan nyaman beberapa saat sebelum akhirnya aku dibangunkan oleh sopir yang hendak tidur. Kembali aku duduk sambil terkantuk-kantuk di kursi cadangan yang tidak bisa ditekuk itu. Syukurlah beberapa saat kemudian bus berhenti di Ngawi. Para penumpang bergegas turun untuk makan malam.</p>
<p>Setelah puas makan dan merokok, bus kembali berjalan. Beberapa saat kemudian penumpang sepi karena banyak yang sudah tertidur, termasuk gerombolan remaja tanggung yang mirip penyamun itu. Aku berusaha tidur-tidur ayam sambil duduk dengan punggung tegak di kursi sialan itu. Pikiranku sibuk mencari cara yang enak buat tidur, namun tidak juga berhasil. Akhirnya aku begadangan sambil merokok diam-diam.</p>
<p>Menjelang subuh bus memasuki pelabuhan Ketapang. Aku bersorak girang dalam hati. Ya, sebentar lagi aku tiba di tanah kelahiranku, Bali. Hanya satu keinginanku sampai di rumah, yakni tidur sepuas-puasnya.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/05/12/perjalanan-ke-yogya-dan-boja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
