<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com &#187; Tilas</title>
	<atom:link href="http://jengki.com/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jul 2010 02:15:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gus Dur, Imlek dan Semangat Pluralisme</title>
		<link>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 06:41:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta*
Seandainya mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih hidup, tentu beliau tersenyum sumringah menyaksikan pementasan Barongsai dan wayang Po Te Hi. Terharu melihat warga Tionghoa berduyun-duyun menuju Kelenteng merayakan Imlek dengan takzim.
Gus Dur telah tiada. Indonesia kehilangan salah satu tokoh pluralisme yang berjiwa merdeka, kontroversial dan fenomenal. Namun, jasa-jasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta*<br />
Seandainya mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih hidup, tentu beliau tersenyum sumringah menyaksikan pementasan Barongsai dan wayang Po Te Hi. Terharu melihat warga Tionghoa berduyun-duyun menuju Kelenteng merayakan Imlek dengan takzim.</p>
<p>Gus Dur telah tiada. Indonesia kehilangan salah satu tokoh pluralisme yang berjiwa merdeka, kontroversial dan fenomenal. Namun, jasa-jasa beliau yang berkaitan dengan pluralisme akan senantiasa dikenang, terlebih lagi bagi WNI etnis Tionghoa.</p>
<p>Sejak masa pemerintahan Gus Dur, Imlek bisa dirayakan dengan bebas dan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Khonghucu diakui sebagai agama nasional dan para umatnya bisa bersembahyang di kelenteng dengan lebih leluasa. Berbagai bentuk kesenian Tionghoa bisa dipentaskan tanpa perasaan cemas. Kursus-kursus bahasa Mandarin dibuka terang-terangan, huruf-huruf dan nama-nama Cina kembali mendapat tempat.</p>
<p>Tentu hal itu sangat bertolak belakang ketika Soeharto masih berkuasa. Akibat ditetapkannya PP No.14 Tahun 1967, warga etnis Tionghoa tidak pernah merasakan kebebasan seperti sekarang ini. Hampir semua kegiatan yang berbau Cina dilarang, bahkan diberangus. Pobia pada kecinaan sempat menjangkiti masyarakat Indonesia. Kecinaan sering kali menjadi bahan olok-olok dalam berbagai pergaulan, dari tingkatan anak-anak hingga orang dewasa, bahkan berkembang menjadi rasisme.</p>
<p>Gus Dur, Sang Pembebas itu, yang menjabat presiden pada 1999 hingga Juli 2001 mencabut Peraturan Pemerintah yang sangat rasis itu. Beliau telah membuat keputusan sangat penting menyangkut sejarah, harkat dan martabat bangsa Indonesia. Beliau telah meniupkan angin segar pluralisme di negeri tercinta ini.</p>
<p>Sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih, warga etnis Tionghoa menobatkan pinisepuh Nahdatul Ulama itu sebagai “Bapak Tionghoa” dalam sebuah upacara khusus di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, pada 10 Maret 2004. Gus Dur sendiri mengaku silsilah keturunannya dialiri darah Cina, dari Putri Campa, selir Raja Majapahit Brawijaya V.</p>
<p>Namun, bukan karena alasan berdarah Cina beliau membebaskan warga Tionghoa merayakan tradisi dan adat istiadatnya, melainkan semata-mata demi pluralisme. Suatu semangat yang telah berakar kuat dalam jiwanya, semangat yang sangat jarang dimiliki oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Gus Dur memang telah tiada. Namun semangat pluralisme dan jasa-jasa besarnya terhadap bangsa ini tidak akan pernah lekang dalam ingatan kita bersama. Terlebih lagi bagi keturunan Tionghoa yang sejak beradab-abad lampau telah ikut menjadi penghuni di kepulauan Nusantara ini. Bahkan, nenek moyang bangsa Indonesia, terutama ras Melayu-Mongoloid, sejak lama diyakini berasal dari Yunan, sebuah daerah di Tiongkok.<br />
 </p>
<p>Imlek dan Khonghucu</p>
<p>Secara harfiah, Imlek berarti bulan penanggalan. Im artinya bulan dan Lek berarti penanggalan. Pada jaman dulu, di Tiongkok, Imlek juga biasa disebut Nung Lek. Nung artinya pertanian. Maka, sejatinya Imlek merupakan tradisi dan perayaan bagi kaum petani dan pertanian. Sistem penanggalan Imlek menggunakan peredaran bulan sebagai acuan (lunar kalender). Di Tiongkok yang memiliki 4 musim (semi, panas, gugur, dingin), Imlek biasanya dirayakan bertepatan dengan awal tibanya musim semi. Hal ini berkaitan dengan sistem kehidupan masyarakat agraris di sana. Peredaran bulan sering dipakai acuan untuk urusan-urusan pertanian. Perhitungan yang kurang teliti bisa menyebabkan panen gagal.</p>
<p>Menurut sejumlah sumber, Kalender Imlek sendiri disusun atau ditata ulang oleh Nabi Khongcu (Konfusius). Bahan penyusunannya diolah dari penangalan Dinasti Xia (2200 SM). Pada jaman Nabi Khongcu, tahun baru jatuh pada tanggal 22 Desember. Dan, tanggal 4 Februari merupakan pergantian musim dingin ke semi. Jadi, sesungguhnya Imlek bukanlah perayaan musim semi. Karena perkiraan tanggal 1 Imlek, rentang waktunya antara 15 hari ke depan dan 15 hari ke belakang dari tanggal 4 Februari itu.  Tiap empat atau lima tahun sekali ada bulan ke-13, untuk menggenapi agar perhitungan tidak berubah.</p>
<p>Namun, ketika ajaran Konfusius berkembang dan melembaga menjadi agama, Imlek ditetapkan sebagai salah satu hari raya keagamaan Khonghucu. Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia, mengajarkan penganutnya tetap ingat pada leluhur, yang pelaksanaannya dijabarkan dalam berbagai ritual. Melalui falsafah dan etika, Konfusianisme juga mengajarkan bagaimana manusia bertingkah laku, menjaga harmoni dengan sesama manusia dan mahluk hidup lain (Ren Dao), dan bagaimana berhubungan dengan Pencipta (Tian Dao).</p>
<p>Imlek merupakan tradisi perayaan pergantian tahun yang telah digelar sejak berabad-abad lampau di daratan Tiongkok dan di sejumlah wilayah yang dihuni etnis Tionghoa. Dalam buku “Festival Budaya Tionghoa” karangan Dr. Kai Kuok Liang, disebutkan bahwa Imlek telah dirayakan sejak zaman Kaisar Huang Ti Yu (2698 SM), dan Kaisar Dinasti Qin (221-206 SM).</p>
<p>Di Indonesia, pada jaman VOC dan penjajahan Belanda, Imlek dirayakan secara bebas. Bahkan pada perayaan Cap Go Meh, rangkaian tahun baru Imlek, sering digelar pasar malam secara meriah. Saat itu di Batavia (Jakarta), pasar malam dipusatkan di kawasan Gambir dan Glodok. Pasar malam Cap Go Meh inilah yang mungkin menjadi cikal bakal berkembangnya pasar senggol yang buka saban malam di banyak tempat di Indonesia.</p>
<p>Tradisi perayaan Imlek sangat unik. Akulturasi budaya telah melahirkan perayaan Imlek yang relatif berbeda-beda di berbagai tempat. Namun inti sarinya tetap sama, memperingati pergantian tahun sekaligus mengenang jasa-jasa leluhur. Perayaan Imlek dilengkapi berbagai macam pernak-pernik ritual, seperti kertas atau kain merah yang ditulisi kata-kata bijak, kartu merah Gong Xi Fa Chai, hio wangi, mercon, kembang api, kue-kue dan masakan khas Cina. Dalam perayaan Imlek pun terkandung falsafah adiluhung, seperti penghormatan terhadap leluhur (orang tua), membantu yang lemah, berdoa untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia, kebajikan berderma pada fakir miskin (pemberian angpao), mempererat tali silahturahmi.</p>
<p>Bagi warga Tionghoa, warna merah melambangkan kemakmuran. Warna inilah yang mungkin dulu ditakuti Soeharto karena sering diasosiasikan dengan PKI, sehingga segala kegiatan berbau Cina juga dicap komunis. Mungkin itu juga salah satu cara Soeharto mencuci otak bangsa ini sehingga perlahan muncul kebencian terhadap warga etnis Tionghoa, yang tragisnya sama-sama Warga Negara Indonesia.</p>
<p>Tahun Baru Imlek 2561 (Shio Macan) yang kali ini jatuh pada tanggal 14 Februari 2010, bertepatan dengan Hari Kasih Sayang “Valentine Day”, semestinya juga dirayakan dengan perenungan dan mengenang semangat pluralisme yang ditanamkan Gus Dur. Suatu semangat yang mesti terus disemai di bumi Indonesia tercinta ini, demi tercapainya “bhineka tunggal ika” yang sesungguhnya.</p>
<p>* penyair, lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Welldo Wnophringgo, Pelukis dan Penekun Spiritual</title>
		<link>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 10:39:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[ 
Teks dan Foto Wayan Sunarta
 
 
Lelaki ini terkesan sangar. Anak-anak pasti akan lari ketakutan melihatnya. Gadis-gadis yang tidak mengenalnya mungkin buru-buru menghindar ketika kebetulan berpapasan dengannya. Kalau lelaki ini berada di tengah keramaian dia selalu menjadi pusat perhatian. Kalau kebetulan dia muncul dalam acara-acara seni rupa, dia dengan mudah dikenali. Bahkan penampilannya seringkali mengalahkan acara pameran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Teks dan Foto Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-432" title="welldo-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/12/welldo-21-226x300.jpg" alt="welldo-(2)" width="226" height="300" />Lelaki ini terkesan sangar. Anak-anak pasti akan lari ketakutan melihatnya. Gadis-gadis yang tidak mengenalnya mungkin buru-buru menghindar ketika kebetulan berpapasan dengannya. Kalau lelaki ini berada di tengah keramaian dia selalu menjadi pusat perhatian. Kalau kebetulan dia muncul dalam acara-acara seni rupa, dia dengan mudah dikenali. Bahkan penampilannya seringkali mengalahkan acara pameran itu sendiri. Dia termasuk sosok “seni rupa yang berjalan”. </p>
<p> </p>
<p>Penampilannya sangat eksentrik. Dia suka mengenakan kaos singlet atau rompi yang dipadu celana doreng butut. Berbagai pernak-pernik aneh bergelayutan di tubuhnya yang kurus. Kupingnya penuh dengan anting-anting besar. Hidungnya juga digelayuti anting-anting. Di lehernya melingkar aneka kalung bernuansa etnik, ada juga kalung tulang, gigi dan taring. Tangannya, dari lengan hingga pergelangan juga dipenuhi gelang berbagai bentuk, dari berbahan logam hingga akar bahar. Jemarinya juga tak luput dari pernak-pernik cincin perak dan batu akik. Rambutnya panjang dan gimbal dihiasi ikat kepala merah menyala. Tubuhnya penuh tatto, dari pergelangan kaki sampai kepala, termasuk alisnya juga dirajah.</p>
<p> </p>
<p>“Di tengah keseragaman, betapa sulitnya menjadi diri sendiri. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri. Dan tentu saja saya merasa nyaman dengan semuanya ini,” kata lelaki ini mengomentari penampilannya.</p>
<p> </p>
<p>Orang-orang sering memanggilnya Welldo. Lengkapnya, Welldo Wnophringgo. Dia lahir di Jakarta, 11 September 1965. Sudah lebih dari 18 tahun menetap di Bali, di kawasan Kuta. Meski penampilannya sangar, Welldo termasuk lelaki yang pendiam. Namun ketika dipancing berbicara, maka berhamburanlah berbagai pengetahuannya, terutama tentang ilmu kebatinan dalam kaitannya dengan seni rupa.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-433" title="welldo-(5)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/12/welldo-5-300x168.jpg" alt="welldo-(5)" width="300" height="168" />Ya, selain sebagai pelukis, Welldo juga dikenal sebagai guru spiritual yang memimpin paguyuban “Tandava Nrtya” dengan pengikut yang berasal dari berbagai negara. Bahkan dia sering diundang dan terlibat aktif dalam acara-acara yang digelar oleh perkumpulan paranormal. Dia juga menekuni meditasi dan yoga. Bahkan dia pernah meditasi selama 99 hari guna menggali jati diri dan merenungi misteri kehidupannya. Pengalamannya itu banyak membuahkan permenungan spiritual.</p>
<p> </p>
<p>Perenungannya tentang seni dan penjelajahan spiritualnya sering diungkapkannya lewat catatan-catatan hariannya. Dia banyak menulis untain-untain permenungan perihal kehidupan, kematian, cinta kosmis, pencarian jati diri, pendakian spiritualitas. Selain itu dia juga rajin menulis puisi yang kini ratusan jumlahnya. Semuanya itu dibendel dan dijilid sederhana. Dia termasuk perupa yang sadar akan arti penting dokumentasi karya. Semua karyanya terdokumentasi dengan baik, seperti ratusan sketsa, lukisan kanvas, catatan harian tulisan tangan, foto-foto, kliping, dan sebagainya.</p>
<p> </p>
<p>“Seni hanyalah sekedar medium, sebagaimana bahasa. Seni adalah suatu bahasa tanpa kata-kata. Sebagaimana jembatan yang mengupayakan penyatuan, sehingga lenyaplah keterpisahan jarak dan pikiran yang menciptakan komunikasi,” tulis Welldo dalam selembar catatan hariannya.</p>
<p> </p>
<p>Welldo tidak pernah mengenyam pendidikan seni secara khusus. Bakat seninya telah tumbuh alamiah sejak dia masih kanak-kanak. Pada tahun 1978, dia bekerja sebagai illustrator di sebuah majalah ibu kota. Pernah juga bekerja di dunia film tahun 1979. Pernah jadi <em>drummer</em> sebuah grup musik beraliran keras. Hanya untuk mengikuti naluri mengembara dan berkesenian, tahun 1991 dia hijrah ke Bali. Menjadi pelukis merupakan dorongan naluri bawah sadarnya. Dia belajar melukis secara otodidak.</p>
<p> </p>
<p>Sejak 1976 ketika masih usia belia, dia telah aktif menampilkan karya-karyanya dalam pameran bersama dan tunggal, di antaranya pameran di Slovia Building Jakarta (1976), pameran tunggal di IAIN Sunan Ampel Surabaya (1985), pameran Kaligrafi di Singapura (1998), pameran tunggal “Sebuah Catatan Kecil” di Ubud Bali (2001), pameran di Mad Valey Kuala Lumpur Malaysia (2006), pameran tunggal “Menelanjangi Ketelanjangan” di Salim Gallery Kuta (2006), pameran “Ar(t)mosphere” di Darga Gallery, Sanur, Bali (2007), pameran bersama Finalis Jakarta Art Awards 2008 di Gallery Pasar Seni Ancol, Jakarta (2008). Sejumlah penghargaan telah pula diraihnya, di antaranya finalis The Philip Moris Arts Awards 1994, Finalis Jakarta Art Awards 2008.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-434" title="karya-Welldo-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/12/karya-Welldo-2-300x231.jpg" alt="karya-Welldo-(2)" width="300" height="231" />Karya-karya Welldo cenderung figuratif. Teknik realis dikuasainya dengan cukup baik. Bahkan dia sering melatih dirinya dengan membuat banyak sketsa tentang suatu objek atau melukis model. Lukisan-lukisannya lebih banyak mencerminkan pengembaraan pikiran, perasaan, dan permenungannya tentang kehidupan manusia. Welldo sering menganggap karya-karya seninya sebagai buku harian atau media penumpahan berbagai macam unek-unek yang mengusik pikiran dan perasaannya. Pada sejumlah lukisan awalnya nampak berbagai simbol dan ikon saling tumpang tindih, berpadu dengan aneka macam grafiti. Lukisan-lukisannya seakan menjadi proyeksi dari dunia batin yang sedang berkecamuk, tarik ulur antara kesakralan dan keprofanan.</p>
<p> </p>
<p>“Karena sebagai catatan harian, maka karya-karya saya memiliki nuansa yang berbeda-beda, tergantung gejolak perasaan dan respon dari pikiran terhadap kehidupan dan kenyataan,” ujarnya.</p>
<p> </p>
<p>Welldo termasuk pelukis yang mengagumi keindahan perempuan. Pada sejumlah lukisannya perempuan muncul sebagai subjek sekaligus simbol untuk menggambarkan dunia batinnya yang selalu mengembara dalam proses pencarian jati diri. Bahkan dalam suatu kesempatan menggelar pameran tunggal bertajuk “Menelanjangi Ketelanjangan” (2006), Welldo berujar, “telanjangilah pikiranmu, agar kamu mampu mencapai dirimu yang sebenarnya!”</p>
<p> </p>
<p>Selain melukis di atas kanvas dan kertas, Welldo juga sering melukis di atas kemolekan tubuh perempuan dalam pertunjukan <em>body painting</em>. Karena dandanannya yang eksentrik, dia juga sering diundang tampil menyemarakkan acara peragaan busana yang dihadiri banyak model cantik. Itulah beberapa sisi unik dari Welldo.</p>
<p> </p>
<p>Karya-karya Welldo terkini lebih banyak menampilkan binatang (babi, celeng alas, monyet, tikus, anjing) yang dipakai sebagai sindiran terhadap perilaku kehidupan manusia. Ikon-ikon modernisasi dan globalisasi seperti <em>humberger</em>, coca-cola, sesekali muncul dalam lukisannya sebagai ungkapan betapa pengaruh Barat sangat terasa menguasai peradaban dunia. Dalam waktu dekat ini dia berencana memamerkan karya-karya terbarunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar pada Lebah</title>
		<link>http://jengki.com/2009/10/21/belajar-pada-lebah/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/10/21/belajar-pada-lebah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 01:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
Dunia seni rupa tidak hanya unjuk keterampilan teknis, melainkan juga pergulatan ide, pemikiran atau wacana, untuk mencoba melahirkan berbagai terobosan baru. Namun  pada kenyataannya, dunia seni rupa dipersempit dengan maraknya trend atau selera pasar dimana banyak pelukis muda terjebak menjadi bebek, tanpa memiliki pendirian jelas.
Misalnya, ketika trend lukisan tertentu banyak diminati pasar, para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-395" title="sepasang-lebah" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/sepasang-lebah-224x300.jpg" alt="sepasang-lebah" width="224" height="300" />Dunia seni rupa tidak hanya unjuk keterampilan teknis, melainkan juga pergulatan ide, pemikiran atau wacana, untuk mencoba melahirkan berbagai terobosan baru. Namun  pada kenyataannya, dunia seni rupa dipersempit dengan maraknya trend atau selera pasar dimana banyak pelukis muda terjebak menjadi bebek, tanpa memiliki pendirian jelas.</p>
<p style="text-align: left;">Misalnya, ketika trend lukisan tertentu banyak diminati pasar, para pelukis “bebek” ramai-ramai meniru trend tersebut. Bila perlu dengan menggunakan teknik-teknik canggih dan bantuan komputer beserta perangkat lunak lainnya. Pelukis-pelukis itu kemudian berlindung dibalik kata “kontemporer” tanpa memahami betul makna kata itu sendiri. Galeri dan para cukong seni rupa sering pula mendikte pelukis untuk mengikuti selera pasar. Parahnya lagi, demi terserap pasar, banyak pelukis muda kehilangan jati dirinya karena tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Kondisi ini menyebabkan dunia seni rupa lebih mirip pasar kerajinan seperti biasa dilihat di pasar Sukawati atau Ubud.</p>
<p style="text-align: left;"> Sejatinya apa yang dicari pelukis dengan karya-karyanya? Ketenaran instan? Kekayaan instan? Atau, pergulatan yang gigih demi proses kreatif berkesenian? Semua itu, memang, kembali kepada pilihan sadar masing-masing pelukisnya. Bara api kreativitas semestinya terus dijaga agar dunia seni rupa tidak merosot ke dalam kubangan “omong kosong” belaka.</p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p style="text-align: left;"><strong>Upaya Merebut Posisi</strong></p>
<p style="text-align: left;">Di Bali, ratusan pelukis muda bermunculan, berebut posisi dengan berbagai cara. Ada yang datang, ada yang menghilang. Seperti kata pepatah: mati satu, tumbuh seribu. Tentu hukum seleksi alam sangat ketat dalam rimba belantara seni rupa mutakhir. Yang kuat dari segi gagasan, keterampilan teknis, “dan lain-lain”, kemungkinan akan terus bertahan. Yang lemah dan <em>plintat-plintut</em> dipastikan akan tergerus dan menjadi lumpur kesenian. Mengerikan, memang!  </p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignright size-medium wp-image-396" title="LEBAH-LEBAH-PUTIH" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/LEBAH-LEBAH-PUTIH-239x300.jpg" alt="LEBAH-LEBAH-PUTIH" width="239" height="300" />Ketut Suasana alias Kabul termasuk salah satu pelukis muda yang gigih berebut posisi. Dia menolak menjadi pelukis sekedar atau pelukis “bebek”. Ada keinginan kuat dan berbagai percikan impian dalam dirinya, untuk terus melangkah dengan mantap menjadi pelukis yang kelak akan diperhitungkan. Energi kreatifnya terus meletup-letup. Dalam upaya merebut posisi, tentu saja dia tidak mau ikut-ikutan trend pasar seni rupa terkini. Dia bukan tipe pelukis muda yang mudah didikte oleh selera pasar. Dan semoga saja akan terus begitu. Sebab hal itu merupakan salah satu modal awal menjadi pelukis yang tidak sekedar.</p>
<p style="text-align: left;">Kabul mengenyam pendidikan seni rupa di ISI Denpasar. Kabul lahir di Apuan, Tabanan, 30 Desember 1978. Sejak 1995, ia aktif mengikuti berbagai pameran bersama, baik di Bali maupun luar Bali. Dan pada tanggal 7-17 Oktober 2009, Kabul menggelar pameran tunggal perdana bertajuk “Suasana Lebah”, bertempat di Sudana Gallery, Sanggingan, Ubud, Bali.</p>
<p style="text-align: left;">Di jaman mutakhir ini, Kabul merupakan salah satu contoh seniman yang masih hidup dalam dua kutub besar yang tarik menarik, antara tradisi dan modern. Namun hal itu tidaklah menjadi persoalan baginya. Misalnya, dia ikut <em>ngayah</em> (kerja sukarela) membuat barong di Pura Natar Sari, Apuan, Tabanan, untuk memenuhi panggilan tradisi dan relegi. Atau pada waktu lain dia menyibukkan diri menjelajahi berbagai kemungkinan yang ditawarkan seni rupa modern, melalui pergulatan dalam penguasaan keterampilan teknis, pemikiran dan perenungan mendalam dari letupan-letupan gagasan. Bias-bias seni tradisi dan modern seringkali muncul saling melengkapi dalam lukisan-lukisan awalnya. Bagaimana pun juga manusia tidak bisa sepenuhnya lari dari “ibu tradisi”.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam melukis, Kabul cenderung mengikuti selera dan naluri jiwanya. Letupan-letupan gagasan seringkali menari-nari di kepalanya yang kemudian muncul melalui karya-karyanya. Selain berbekal ketrampilan teknis yang memadai, Kabul berupaya menggali gagasan dari banyak membaca dan menggerakkan seluruh inderanya. Hal itu bisa dilihat pada lukisan-lukisan terkininya yang menampilkan lebah sebagai simbol dan metafora untuk melihat kondisi jaman.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-397" title="terbang-keluar" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/terbang-keluar-300x264.jpg" alt="terbang-keluar" width="300" height="264" />Kabul telah lama tertarik pada keindahan lebah, terlebih lagi kehidupan lebah yang sarat semangat kebersamaan. Secara serius Kabul mempelajari filosofi kehidupan lebah, serangga yang mengalami metamorfosis sempurna, yakni dari telur, larva, kepompong (pupa) dan lebah. Menurut Kabul, lebah termasuk serangga yang sangat unik. Umumnya lebah hidup berkelompok, meski ada juga jenis lebah yang suka hidup menyendiri (soliter). Lebah tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Masyarakat lebah mengenal pembagian kerja. Lebah ratu yang hanya satu ekor dalam setiap koloni bertugas mengatur semua kegiatan lebah betina dan pejantan. Lebah ratu mampu hidup hingga tiga tahun, tugas utamanya kawin dan ber<a title="Telur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Telur">telur</a>.</p>
<p style="text-align: left;">Lebah betina atau lebah pekerja bertugas mengumpulkan <a title="Serbuk sari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Serbuk_sari">serbuk sari</a> dan <em><a title="Nektar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nektar">nektar</a></em> untuk diolah menjadi madu yang disimpan dalam sarangnya. Lebah betina yang lain bertugas membersihkan sarang dan menjaga anak-anak lebah. Masa hidup lebah pekerja sekitar tiga bulan. Lebah betina terbentuk tanpa melalui perkawinan dan mandul. Lebah jantan bertugas mengawini lebah ratu dan mati setelah kawin.</p>
<p style="text-align: left;">Dunia lebah memang sangat mengagumkan. Misalnya, lebah mampu membuat sarang yang sangat rumit dan artistik. Itulah salah satu keahlian yang diberkati semesta kepada lebah. Meski bertubuh kecil, lebah mampu bekerjasama dan menyelesaikan tugas-tugas besar untuk suatu tujuan bersama. Manusia belum tentu mampu menyaingi koloni lebah dalam urusan kerjasama atau kehidupan sosial. Karena manusia masih diselimuti ego individu. Bagi lebah, hidup adalah bekerja, tanpa kenal istirahat, demi kepentingan dan kebaikan bersama. Mungkin, begitu juga bagi Kabul.</p>
<p style="text-align: left;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Kabul dan Lebah</strong></p>
<p style="text-align: left;">Melalui lukisan-lukisan dengan subjek matter lebah, Kabul ingin mengajak apresian untuk kembali merenungi kehidupan lebah. Terlebih di jaman yang serba individualis ini. Seluruh lukisan terbaru Kabul berkisah tentang dunia dan suasana lebah. Secara umum kecenderungan visual lukisan Kabul bisa dipilah menjadi bentuk-bentuk abstraksi dan deformatif.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignright size-medium wp-image-398" title="lebahh" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/lebahh-239x300.jpg" alt="lebahh" width="239" height="300" />Kecenderungan abstraksi terlihat pada upaya-upaya Kabul menciptakan efek-efek stilisasi atau pengayaan formasi-formasi kerumunan lebah. Irama yang cenderung repetitif berpadu dengan komposisi warna, garis, bidang sehingga melahirkan kedinamisan. Terkadang sapuan-sapuan warna yang membentuk latar dibuat secara acak sesuai naluri arus bawah sadarnya. Pilihan warna-warna tertentu  mewakili perasaan Kabul pada setiap sesion lukisannya.</p>
<p style="text-align: left;">Hal itu misalnya terlihat pada lukisan “Lebah-lebah Putih” yang cenderung abstraktif. Dominan warna merah muda berpautan dengan biru kehijauan dan hitam. Lebah-lebah putih nampak berkerumun pada bidang sapuan warna merah muda. Bidang-bidang lain dipenuhi formasi kerumunan lebah warna biru, kuning, coklat muda, abu-abu. Semua tersusun dalam suatu komposisi yang abstraktif.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa lukisan lain juga menunjukkan kecenderungan abstraksi yang hampir sama. Seperti pada lukisan “Sisa Kebakaran” yang penuh sapuan warna hitam dan kelabu dengan aksen warna merah. Kerumunan lebah nampak membentuk formasi tak beraturan menandakan kepanikan akibat musibah kebakaran. Lukisan ini sarat renungan ekologis dalam kaitan menjaga kelestarian hutan. Atau pada lukisan “Bunga” yang menampilkan kerumunan lebah warna kuning muda menyerbu sekuntum bunga berkelopak merah. Pada latar belakang terlihat sarang lebah berwarna ungu muda.</p>
<p style="text-align: left;">Pada lukisan “Keseimbangan” yang bernuansa spiritual, efek deformatif yang berbaur dengan abstraksi sangat terasa. Terlihat kerumunan lebah membentuk formasi simbol lingkaran “Ying-Yang”. Pada latar belakang nampak abstraksi dengan membaurkan warna ungu, putih, dan hitam yang mengesankan gejolak perasaan yang sedang berjuang menggapai keseimbangan dalam tatanan kosmis.</p>
<p style="text-align: left;">Kecenderungan abstraksi juga sangat terasa pada lukisan “Menuju Puncak” dimana nampak kerumunan lebah warna-warni berupaya meraih puncak gunung. Komposisi warna gunung dibuat dengan membaurkan warna biru, putih, dengan aksen merah di pinggirannya. Langit di seputaran gunung itu dipenuhi kerumunan lebah warna-warni membentuk komposisi terstruktur.</p>
<p style="text-align: left;">Pada lukisan “Suasana Lebah” terlihat ribuan lebah berhamburan di udara. Lebah-lebah dengan berbagai warna itu membentuk formasi. Seakan hendak memamerkan kepada dunia, meski tubuh mungil namun menyimpan kekuatan dalam kebersamaannya. Warna-warni dari kerumunan dan formasi lebah itu tertata dalam komposisi yang memikat dengan kecenderungan abstraksi.</p>
<p style="text-align: left;">Keanggunan abstraksi dari kerumunan lebah tampak pada lukisan “Populasi Lebah” dimana hampir seluruh bidang kanvas ukuran 250 x 289 cm ditutupi dengan kerumunan lebah. Pengaturan komposisi warna juga ditata sedemikian rupa untuk memunculkan kesan keindahan dari abstraksi itu. Sekelumit pembauran warna biru dan ungu di sudut kiri atas kanvas memberi kesan rekahan pada sarang lebah. Di sini bisa dilihat bagaimana ketekunan dan kesabaran pelukisnya menggurat gambar-gambar lebah yang jumlahnya ribuan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Pada lukisan “Terbang Keluar” terlihat permainan estetik Kabul menggabungkan komposisi kerumunan lebah di antara kelindan rambut atau serabut warna-warni. Lukisan ini mengesankan ribuan lebah mengrubungi rambut yang menjuntai dan berombak-ombak, menampilkan permainan komposisi yang menarik. Rekahan bidang kosong di bagian atas mengesankan ruang terbuka yang memungkinkan berbagai tafsir berkembang.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-400" title="judul_-Gedung-gedung-Lebah" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/judul_-Gedung-gedung-Lebah1-300x223.jpg" alt="judul_-Gedung-gedung-Lebah" width="300" height="223" />Kecenderungan deformatif dalam lukisan-lukisan Kabul terlihat dari bagaimana dia membangun dan mengatur komposisi kerumunan lebah sedemikian rupa yang dikaitkan dengan tema-tema mutakhir. Misalnya, dalam lukisan “Gedung-gedung Lebah” terlihat bagaimana kerumunan lebah membentuk gedung-gedung mencakar langit. Seakan dunia manusia telah dikuasai lebah. Kalau dikaitkan dengan persoalan ekologi, lukisan ini menyuratkan semacam kritik dan permenungan atas berbagai bentuk perubahan drastis yang menimpa alam. Hutan-hutan telah banyak dibabat untuk pemukiman sehingga lebah tidak bisa lagi membangun sarang. Akhirnya, masyarakat lebah menyerbu perkotaan dan membangun gedung-gedung lebah dan menguasai kota.</p>
<p style="text-align: left;">Atau pada lukisan “Level” dengan latar warna kuning nampak kerumunan lebah membentuk roda sepeda gayung, sepeda motor dan mobil. Kabul memang memusatkan perhatiannya pada roda sebagai simbolisasi dari kehidupan. Bagi Kabul, wadah atau wujud yang dikaitkan sebagai level atau label fisik bisa berbeda-beda, namun yang menggerakkan tetaplah roda. Menurut Kabul, umumnya manusia memandang keberhasilan manusia lain seringkali dari segi fisik dan materi saja. Lebih khusus lagi keberhasilan dipandang dari kendaraan yang dipakai seseorang, apakah bersepeda gayung, bermotor atau bermobil. Padahal salah satu elemen yang membuat ketiga kendaraan itu bisa berjalan adalah roda. Secara filosofi, nasib manusia memang seperti perputaran roda, kadang di bawah kadang di atas.</p>
<p style="text-align: left;">Pada lukisan-lukisan yang mencitrakan suasana alam (pepohonan) terlihat efek deformatif dimana kerumunan lebah dibuat menyerupai rimbun dedaunan dan buah-buah pepohonan. Lukisan-lukisan ini nampak surealistik. Hal itu misalnya terlihat pada lukisan “Pohon” yang menggambarkan suasana hutan berkabut dengan pohon-pohon besar yang rimbun dedaunnya terbentuk dari gerombolan lebah. Rerimbun “daun lebah” yang lebih spesifik tampak dalam lukisan ”Bayangan Pohon Lain”, “Cabang Baru”, “Nuansa Alam” dan “Buah Karma”.</p>
<p style="text-align: left;">Secara umum, isi dan bentuk dalam lukisan-lukisan Kabul telah mengalami sublimasi. Lebah sebagai simbol dan metafora seakan menemukan tempat yang tepat. Hal itu tentu didukung oleh pengolahan elemen-elemen rupa yang telah tertata. Kabul berupaya menawarkan kesegaran baru dalam dunia seni rupa dengan pilihan dan penggarapan subjek matter yang khas. Setidaknya, melalui lukisan-lukisan Kabul, manusia bisa kembali belajar pada dunia lebah, terutama perihal semangat kebersamaan.</p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p style="text-align: left;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/10/21/belajar-pada-lebah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pintu ke-34</title>
		<link>http://jengki.com/2009/07/03/pintu-ke-34/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/07/03/pintu-ke-34/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 01:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[
 
burung hantu di dahan waru
memanggilku dengan lagu pilu
jengkrik mengerik di rekah tanah
nyanyi serangga hening
di kuncup-kuncup bunga malam
merasuki jiwa galau
menerka dan menakar waktu
 
sendiri meresapi sepi
bermuka-muka dengan diri
tiada yang pasti
pada riak-riak telaga hari
 
hanya resah membuncah
mendedah kalbu
yang hampir hangus
oleh kenangan
 
mungkin di pintu terakhir
aku menunggu
kubacakan untukmu
kisah-kisah malam
sekelam igau
burung-burung hantu
 
 
(Karangasem, 22 Juni 2009)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"> </p>
<p><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">burung hantu di dahan waru</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">memanggilku dengan lagu pilu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">jengkrik mengerik di rekah tanah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">nyanyi serangga hening</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">di kuncup-kuncup bunga malam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">merasuki jiwa galau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">menerka dan menakar waktu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">sendiri meresapi sepi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">bermuka-muka dengan diri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">tiada yang pasti</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">pada riak-riak telaga hari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">hanya resah membuncah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">mendedah kalbu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">yang hampir hangus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">oleh kenangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">mungkin di pintu terakhir</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">aku menunggu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">kubacakan untukmu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">kisah-kisah malam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">sekelam igau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">burung-burung hantu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;">(Karangasem, 22 Juni 2009)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/07/03/pintu-ke-34/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Impian Usai</title>
		<link>http://jengki.com/2007/11/10/impian-usai/</link>
		<comments>http://jengki.com/2007/11/10/impian-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 04:46:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[impian usai di akhir
napak tilas yang bergegas
gagu meraba getir takdir
galau membaca jejak aksara di tapak tangan
ingatkah kau pada pasir yang mampir dan
terlunta di bening gelas anggurku?
perempuan tuntas membekas pada jiwa
usia dan tahun tiba sebelum senja
tinggal kenangan, selalu kenangan
rekah dan sumringah bagai geliat pandan
ingin membawa kita meretas
abadi dalam pasang surut musim
mimpi terpanjangku adalah keheningan
angan yang menyesatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>impian usai di akhir<br />
napak tilas yang bergegas<br />
gagu meraba getir takdir<br />
galau membaca jejak aksara di tapak tangan<br />
ingatkah kau pada pasir yang mampir dan<br />
terlunta di bening gelas anggurku?</p>
<p>perempuan tuntas membekas pada jiwa<br />
usia dan tahun tiba sebelum senja<br />
tinggal kenangan, selalu kenangan<br />
rekah dan sumringah bagai geliat pandan<br />
ingin membawa kita meretas<br />
abadi dalam pasang surut musim</p>
<p>mimpi terpanjangku adalah keheningan<br />
angan yang menyesatkan pengembara pada<br />
rahasia cuaca dan getar cahaya<br />
guratkan lagi aksara penghabisan<br />
agar sempurna kepedihan demi kepedihan</p>
<p align="center">2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2007/11/10/impian-usai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
