<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com</title>
	<atom:link href="http://jengki.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2010 06:42:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gus Dur, Imlek dan Semangat Pluralisme</title>
		<link>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 06:41:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta*
Seandainya mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih hidup, tentu beliau tersenyum sumringah menyaksikan pementasan Barongsai dan wayang Po Te Hi. Terharu melihat warga Tionghoa berduyun-duyun menuju Kelenteng merayakan Imlek dengan takzim.
Gus Dur telah tiada. Indonesia kehilangan salah satu tokoh pluralisme yang berjiwa merdeka, kontroversial dan fenomenal. Namun, jasa-jasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta*<br />
Seandainya mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih hidup, tentu beliau tersenyum sumringah menyaksikan pementasan Barongsai dan wayang Po Te Hi. Terharu melihat warga Tionghoa berduyun-duyun menuju Kelenteng merayakan Imlek dengan takzim.</p>
<p>Gus Dur telah tiada. Indonesia kehilangan salah satu tokoh pluralisme yang berjiwa merdeka, kontroversial dan fenomenal. Namun, jasa-jasa beliau yang berkaitan dengan pluralisme akan senantiasa dikenang, terlebih lagi bagi WNI etnis Tionghoa.</p>
<p>Sejak masa pemerintahan Gus Dur, Imlek bisa dirayakan dengan bebas dan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Khonghucu diakui sebagai agama nasional dan para umatnya bisa bersembahyang di kelenteng dengan lebih leluasa. Berbagai bentuk kesenian Tionghoa bisa dipentaskan tanpa perasaan cemas. Kursus-kursus bahasa Mandarin dibuka terang-terangan, huruf-huruf dan nama-nama Cina kembali mendapat tempat.</p>
<p>Tentu hal itu sangat bertolak belakang ketika Soeharto masih berkuasa. Akibat ditetapkannya PP No.14 Tahun 1967, warga etnis Tionghoa tidak pernah merasakan kebebasan seperti sekarang ini. Hampir semua kegiatan yang berbau Cina dilarang, bahkan diberangus. Pobia pada kecinaan sempat menjangkiti masyarakat Indonesia. Kecinaan sering kali menjadi bahan olok-olok dalam berbagai pergaulan, dari tingkatan anak-anak hingga orang dewasa, bahkan berkembang menjadi rasisme.</p>
<p>Gus Dur, Sang Pembebas itu, yang menjabat presiden pada 1999 hingga Juli 2001 mencabut Peraturan Pemerintah yang sangat rasis itu. Beliau telah membuat keputusan sangat penting menyangkut sejarah, harkat dan martabat bangsa Indonesia. Beliau telah meniupkan angin segar pluralisme di negeri tercinta ini.</p>
<p>Sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih, warga etnis Tionghoa menobatkan pinisepuh Nahdatul Ulama itu sebagai “Bapak Tionghoa” dalam sebuah upacara khusus di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, pada 10 Maret 2004. Gus Dur sendiri mengaku silsilah keturunannya dialiri darah Cina, dari Putri Campa, selir Raja Majapahit Brawijaya V.</p>
<p>Namun, bukan karena alasan berdarah Cina beliau membebaskan warga Tionghoa merayakan tradisi dan adat istiadatnya, melainkan semata-mata demi pluralisme. Suatu semangat yang telah berakar kuat dalam jiwanya, semangat yang sangat jarang dimiliki oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Gus Dur memang telah tiada. Namun semangat pluralisme dan jasa-jasa besarnya terhadap bangsa ini tidak akan pernah lekang dalam ingatan kita bersama. Terlebih lagi bagi keturunan Tionghoa yang sejak beradab-abad lampau telah ikut menjadi penghuni di kepulauan Nusantara ini. Bahkan, nenek moyang bangsa Indonesia, terutama ras Melayu-Mongoloid, sejak lama diyakini berasal dari Yunan, sebuah daerah di Tiongkok.<br />
 </p>
<p>Imlek dan Khonghucu</p>
<p>Secara harfiah, Imlek berarti bulan penanggalan. Im artinya bulan dan Lek berarti penanggalan. Pada jaman dulu, di Tiongkok, Imlek juga biasa disebut Nung Lek. Nung artinya pertanian. Maka, sejatinya Imlek merupakan tradisi dan perayaan bagi kaum petani dan pertanian. Sistem penanggalan Imlek menggunakan peredaran bulan sebagai acuan (lunar kalender). Di Tiongkok yang memiliki 4 musim (semi, panas, gugur, dingin), Imlek biasanya dirayakan bertepatan dengan awal tibanya musim semi. Hal ini berkaitan dengan sistem kehidupan masyarakat agraris di sana. Peredaran bulan sering dipakai acuan untuk urusan-urusan pertanian. Perhitungan yang kurang teliti bisa menyebabkan panen gagal.</p>
<p>Menurut sejumlah sumber, Kalender Imlek sendiri disusun atau ditata ulang oleh Nabi Khongcu (Konfusius). Bahan penyusunannya diolah dari penangalan Dinasti Xia (2200 SM). Pada jaman Nabi Khongcu, tahun baru jatuh pada tanggal 22 Desember. Dan, tanggal 4 Februari merupakan pergantian musim dingin ke semi. Jadi, sesungguhnya Imlek bukanlah perayaan musim semi. Karena perkiraan tanggal 1 Imlek, rentang waktunya antara 15 hari ke depan dan 15 hari ke belakang dari tanggal 4 Februari itu.  Tiap empat atau lima tahun sekali ada bulan ke-13, untuk menggenapi agar perhitungan tidak berubah.</p>
<p>Namun, ketika ajaran Konfusius berkembang dan melembaga menjadi agama, Imlek ditetapkan sebagai salah satu hari raya keagamaan Khonghucu. Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia, mengajarkan penganutnya tetap ingat pada leluhur, yang pelaksanaannya dijabarkan dalam berbagai ritual. Melalui falsafah dan etika, Konfusianisme juga mengajarkan bagaimana manusia bertingkah laku, menjaga harmoni dengan sesama manusia dan mahluk hidup lain (Ren Dao), dan bagaimana berhubungan dengan Pencipta (Tian Dao).</p>
<p>Imlek merupakan tradisi perayaan pergantian tahun yang telah digelar sejak berabad-abad lampau di daratan Tiongkok dan di sejumlah wilayah yang dihuni etnis Tionghoa. Dalam buku “Festival Budaya Tionghoa” karangan Dr. Kai Kuok Liang, disebutkan bahwa Imlek telah dirayakan sejak zaman Kaisar Huang Ti Yu (2698 SM), dan Kaisar Dinasti Qin (221-206 SM).</p>
<p>Di Indonesia, pada jaman VOC dan penjajahan Belanda, Imlek dirayakan secara bebas. Bahkan pada perayaan Cap Go Meh, rangkaian tahun baru Imlek, sering digelar pasar malam secara meriah. Saat itu di Batavia (Jakarta), pasar malam dipusatkan di kawasan Gambir dan Glodok. Pasar malam Cap Go Meh inilah yang mungkin menjadi cikal bakal berkembangnya pasar senggol yang buka saban malam di banyak tempat di Indonesia.</p>
<p>Tradisi perayaan Imlek sangat unik. Akulturasi budaya telah melahirkan perayaan Imlek yang relatif berbeda-beda di berbagai tempat. Namun inti sarinya tetap sama, memperingati pergantian tahun sekaligus mengenang jasa-jasa leluhur. Perayaan Imlek dilengkapi berbagai macam pernak-pernik ritual, seperti kertas atau kain merah yang ditulisi kata-kata bijak, kartu merah Gong Xi Fa Chai, hio wangi, mercon, kembang api, kue-kue dan masakan khas Cina. Dalam perayaan Imlek pun terkandung falsafah adiluhung, seperti penghormatan terhadap leluhur (orang tua), membantu yang lemah, berdoa untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia, kebajikan berderma pada fakir miskin (pemberian angpao), mempererat tali silahturahmi.</p>
<p>Bagi warga Tionghoa, warna merah melambangkan kemakmuran. Warna inilah yang mungkin dulu ditakuti Soeharto karena sering diasosiasikan dengan PKI, sehingga segala kegiatan berbau Cina juga dicap komunis. Mungkin itu juga salah satu cara Soeharto mencuci otak bangsa ini sehingga perlahan muncul kebencian terhadap warga etnis Tionghoa, yang tragisnya sama-sama Warga Negara Indonesia.</p>
<p>Tahun Baru Imlek 2561 (Shio Macan) yang kali ini jatuh pada tanggal 14 Februari 2010, bertepatan dengan Hari Kasih Sayang “Valentine Day”, semestinya juga dirayakan dengan perenungan dan mengenang semangat pluralisme yang ditanamkan Gus Dur. Suatu semangat yang mesti terus disemai di bumi Indonesia tercinta ini, demi tercapainya “bhineka tunggal ika” yang sesungguhnya.</p>
<p>* penyair, lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Welldo Wnophringgo, Pelukis dan Penekun Spiritual</title>
		<link>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 10:39:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[ 
Teks dan Foto Wayan Sunarta
 
 
Lelaki ini terkesan sangar. Anak-anak pasti akan lari ketakutan melihatnya. Gadis-gadis yang tidak mengenalnya mungkin buru-buru menghindar ketika kebetulan berpapasan dengannya. Kalau lelaki ini berada di tengah keramaian dia selalu menjadi pusat perhatian. Kalau kebetulan dia muncul dalam acara-acara seni rupa, dia dengan mudah dikenali. Bahkan penampilannya seringkali mengalahkan acara pameran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Teks dan Foto Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-432" title="welldo-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/12/welldo-21-226x300.jpg" alt="welldo-(2)" width="226" height="300" />Lelaki ini terkesan sangar. Anak-anak pasti akan lari ketakutan melihatnya. Gadis-gadis yang tidak mengenalnya mungkin buru-buru menghindar ketika kebetulan berpapasan dengannya. Kalau lelaki ini berada di tengah keramaian dia selalu menjadi pusat perhatian. Kalau kebetulan dia muncul dalam acara-acara seni rupa, dia dengan mudah dikenali. Bahkan penampilannya seringkali mengalahkan acara pameran itu sendiri. Dia termasuk sosok “seni rupa yang berjalan”. </p>
<p> </p>
<p>Penampilannya sangat eksentrik. Dia suka mengenakan kaos singlet atau rompi yang dipadu celana doreng butut. Berbagai pernak-pernik aneh bergelayutan di tubuhnya yang kurus. Kupingnya penuh dengan anting-anting besar. Hidungnya juga digelayuti anting-anting. Di lehernya melingkar aneka kalung bernuansa etnik, ada juga kalung tulang, gigi dan taring. Tangannya, dari lengan hingga pergelangan juga dipenuhi gelang berbagai bentuk, dari berbahan logam hingga akar bahar. Jemarinya juga tak luput dari pernak-pernik cincin perak dan batu akik. Rambutnya panjang dan gimbal dihiasi ikat kepala merah menyala. Tubuhnya penuh tatto, dari pergelangan kaki sampai kepala, termasuk alisnya juga dirajah.</p>
<p> </p>
<p>“Di tengah keseragaman, betapa sulitnya menjadi diri sendiri. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri. Dan tentu saja saya merasa nyaman dengan semuanya ini,” kata lelaki ini mengomentari penampilannya.</p>
<p> </p>
<p>Orang-orang sering memanggilnya Welldo. Lengkapnya, Welldo Wnophringgo. Dia lahir di Jakarta, 11 September 1965. Sudah lebih dari 18 tahun menetap di Bali, di kawasan Kuta. Meski penampilannya sangar, Welldo termasuk lelaki yang pendiam. Namun ketika dipancing berbicara, maka berhamburanlah berbagai pengetahuannya, terutama tentang ilmu kebatinan dalam kaitannya dengan seni rupa.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-433" title="welldo-(5)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/12/welldo-5-300x168.jpg" alt="welldo-(5)" width="300" height="168" />Ya, selain sebagai pelukis, Welldo juga dikenal sebagai guru spiritual yang memimpin paguyuban “Tandava Nrtya” dengan pengikut yang berasal dari berbagai negara. Bahkan dia sering diundang dan terlibat aktif dalam acara-acara yang digelar oleh perkumpulan paranormal. Dia juga menekuni meditasi dan yoga. Bahkan dia pernah meditasi selama 99 hari guna menggali jati diri dan merenungi misteri kehidupannya. Pengalamannya itu banyak membuahkan permenungan spiritual.</p>
<p> </p>
<p>Perenungannya tentang seni dan penjelajahan spiritualnya sering diungkapkannya lewat catatan-catatan hariannya. Dia banyak menulis untain-untain permenungan perihal kehidupan, kematian, cinta kosmis, pencarian jati diri, pendakian spiritualitas. Selain itu dia juga rajin menulis puisi yang kini ratusan jumlahnya. Semuanya itu dibendel dan dijilid sederhana. Dia termasuk perupa yang sadar akan arti penting dokumentasi karya. Semua karyanya terdokumentasi dengan baik, seperti ratusan sketsa, lukisan kanvas, catatan harian tulisan tangan, foto-foto, kliping, dan sebagainya.</p>
<p> </p>
<p>“Seni hanyalah sekedar medium, sebagaimana bahasa. Seni adalah suatu bahasa tanpa kata-kata. Sebagaimana jembatan yang mengupayakan penyatuan, sehingga lenyaplah keterpisahan jarak dan pikiran yang menciptakan komunikasi,” tulis Welldo dalam selembar catatan hariannya.</p>
<p> </p>
<p>Welldo tidak pernah mengenyam pendidikan seni secara khusus. Bakat seninya telah tumbuh alamiah sejak dia masih kanak-kanak. Pada tahun 1978, dia bekerja sebagai illustrator di sebuah majalah ibu kota. Pernah juga bekerja di dunia film tahun 1979. Pernah jadi <em>drummer</em> sebuah grup musik beraliran keras. Hanya untuk mengikuti naluri mengembara dan berkesenian, tahun 1991 dia hijrah ke Bali. Menjadi pelukis merupakan dorongan naluri bawah sadarnya. Dia belajar melukis secara otodidak.</p>
<p> </p>
<p>Sejak 1976 ketika masih usia belia, dia telah aktif menampilkan karya-karyanya dalam pameran bersama dan tunggal, di antaranya pameran di Slovia Building Jakarta (1976), pameran tunggal di IAIN Sunan Ampel Surabaya (1985), pameran Kaligrafi di Singapura (1998), pameran tunggal “Sebuah Catatan Kecil” di Ubud Bali (2001), pameran di Mad Valey Kuala Lumpur Malaysia (2006), pameran tunggal “Menelanjangi Ketelanjangan” di Salim Gallery Kuta (2006), pameran “Ar(t)mosphere” di Darga Gallery, Sanur, Bali (2007), pameran bersama Finalis Jakarta Art Awards 2008 di Gallery Pasar Seni Ancol, Jakarta (2008). Sejumlah penghargaan telah pula diraihnya, di antaranya finalis The Philip Moris Arts Awards 1994, Finalis Jakarta Art Awards 2008.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-434" title="karya-Welldo-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/12/karya-Welldo-2-300x231.jpg" alt="karya-Welldo-(2)" width="300" height="231" />Karya-karya Welldo cenderung figuratif. Teknik realis dikuasainya dengan cukup baik. Bahkan dia sering melatih dirinya dengan membuat banyak sketsa tentang suatu objek atau melukis model. Lukisan-lukisannya lebih banyak mencerminkan pengembaraan pikiran, perasaan, dan permenungannya tentang kehidupan manusia. Welldo sering menganggap karya-karya seninya sebagai buku harian atau media penumpahan berbagai macam unek-unek yang mengusik pikiran dan perasaannya. Pada sejumlah lukisan awalnya nampak berbagai simbol dan ikon saling tumpang tindih, berpadu dengan aneka macam grafiti. Lukisan-lukisannya seakan menjadi proyeksi dari dunia batin yang sedang berkecamuk, tarik ulur antara kesakralan dan keprofanan.</p>
<p> </p>
<p>“Karena sebagai catatan harian, maka karya-karya saya memiliki nuansa yang berbeda-beda, tergantung gejolak perasaan dan respon dari pikiran terhadap kehidupan dan kenyataan,” ujarnya.</p>
<p> </p>
<p>Welldo termasuk pelukis yang mengagumi keindahan perempuan. Pada sejumlah lukisannya perempuan muncul sebagai subjek sekaligus simbol untuk menggambarkan dunia batinnya yang selalu mengembara dalam proses pencarian jati diri. Bahkan dalam suatu kesempatan menggelar pameran tunggal bertajuk “Menelanjangi Ketelanjangan” (2006), Welldo berujar, “telanjangilah pikiranmu, agar kamu mampu mencapai dirimu yang sebenarnya!”</p>
<p> </p>
<p>Selain melukis di atas kanvas dan kertas, Welldo juga sering melukis di atas kemolekan tubuh perempuan dalam pertunjukan <em>body painting</em>. Karena dandanannya yang eksentrik, dia juga sering diundang tampil menyemarakkan acara peragaan busana yang dihadiri banyak model cantik. Itulah beberapa sisi unik dari Welldo.</p>
<p> </p>
<p>Karya-karya Welldo terkini lebih banyak menampilkan binatang (babi, celeng alas, monyet, tikus, anjing) yang dipakai sebagai sindiran terhadap perilaku kehidupan manusia. Ikon-ikon modernisasi dan globalisasi seperti <em>humberger</em>, coca-cola, sesekali muncul dalam lukisannya sebagai ungkapan betapa pengaruh Barat sangat terasa menguasai peradaban dunia. Dalam waktu dekat ini dia berencana memamerkan karya-karya terbarunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Mati bila Bali &#8220;Koh Ngomong&#8221;</title>
		<link>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 06:58:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai dan Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta*


Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Artinya, jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.
Orang-orang Bali yang mengalami masa kanak-kanak di bawah tahun 1980-an pasti pernah mendengar kutipan tembang sekar alit ini. Tembang yang mengandung muatan nilai-nilai rendah hati ini merupakan tembang wajib yang diajarkan di sekolah dasar di Bali. Tembang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>oleh: Wayan Sunarta*</strong></p>
<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p>Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Artinya, jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.</p>
<p>Orang-orang Bali yang mengalami masa kanak-kanak di bawah tahun 1980-an pasti pernah mendengar kutipan tembang sekar alit ini. Tembang yang mengandung muatan nilai-nilai rendah hati ini merupakan tembang wajib yang diajarkan di sekolah dasar di Bali. Tembang sederhana ini sekarang hampir hilang dari pendengaran kanak-kanak Bali, digantikan lagu-lagu anak-anak modern.</p>
<p>Kini, di Bali, antara mitos dan realitas telah menjadi suatu yang paradoks, berlawanan, bahkan saling menghancurkan. Nilai-nilai lama digantikan oleh nilai-nilai baru. Kondisi ini sangat potensial memunculkan chaos dalam ruang batin orang-orang Bali: kebingungan menentukan sikap, antara rendah hati menerima kritik atau memunculkan ego kekuasaan untuk menyerang balik si pengkritik.</p>
<p>Bagi sebagian orang Bali, kritik sering kali dianggap sebagai serangan langsung terhadap personal atau sebuah kekuasaan yang mapan. Misalnya, dalam rapat-rapat di balai banjar atau balai desa—sebuah lembaga yang seharusnya bijaksana mengakomodasi kritik—ternyata hampir tidak pernah terjadi perbedaan pendapat atau kritik yang mencolok.</p>
<p>Semua pendapat atau kritik terakumulasi menjadi satu kata ”setuju” ketika tokoh-tokoh penting yang berkuasa dan berpengaruh dalam rapat meneriakkan ”setuju?!”. Apakah ini wujud ketakutan orang Bali terhadap kekuasaan kolektif sebuah komunitas, atau pengejewantahan budaya koh ngomong (malas bicara) yang sering membelenggu pikiran orang Bali?</p>
<p><strong>”Kramak-krimik” Bali</strong></p>
<p>Di Bali, berani berbeda pendapat, apalagi meluncurkan kritik terhadap kekuasaan komunitas, berarti siap menerima pengucilan atau perlakuan tidak adil dari kekuasaan yang dikritik. Kekecewaan dan ketidaksetujuan terhadap keputusan rapat biasanya muncul dalam kasak-kusuk, keluhan-keluhan kecil di warung kopi atau warung tuak. Orang Bali sangat ngeri untuk berbeda pendapat atau melancarkan kritik dalam komunitas yang sangat menjunjung tinggi kolektivitas (walaupun terkadang bersifat semu). Dari sinilah tradisi kritik tidak muncul secara meyakinkan di Bali. Kalaupun ada, kritik akan menjalar dalam bentuk kramak-krimik atau gosip di warung-warung atau di tempat-tempat berkumpul lainnya.</p>
<p>Secara umum orang Bali tumbuh dan besar dalam tradisi yang begitu menakuti kritik. Sebisa mungkin jangan sampai ada kritik demi keharmonisan dan kestabilan komunitas. Dalam tradisi kolot itu, kritik yang muncul harus diberangus, dan pencetus kritik harus di-puikang (dimusuhi). Maka, berkembanglah tradisi basa-basi, asal bapak senang, mulut manis, dan berbagai bentuk budaya hipokrit lainnya.</p>
<p>Memang, Bali selalu penuh dengan paradoks. Seperti, misalnya, budaya koh ngomong yang berkembang di Bali. Budaya ”tutup mulut” ini sering kali menjadi perlawanan orang-orang Bali terhadap kekuasaan yang mapan. Koh ngomong yang sebenarnya diturunkan dari ajaran sekar alit di atas merupakan sikap ”jangan mengira diri pintar”.</p>
<p>Koh ngomong sering kali dipraktikkan dalam rapat banjar atau rapat desa. Penganut budaya ini sadar bahwa apa pun pendapatnya apabila tidak sesuai dengan pendapat kekuasaan jelas akan diberangus, dan tentu saja akan bisa berakibat fatal bagi si penyampai pendapat yang berlawanan dengan arus besar.</p>
<p>Di sisi lain, koh ngomong juga menjadi salah satu bentuk perlawanan diam orang Bali terhadap kritik yang menyerang dirinya. Namun, justru inilah kekuatan yang bisa berbahaya bagi si pengkritik karena bukan tidak mungkin orang yang melakukan gerakan koh ngomong diam-diam akan bereaksi tanpa menghiraukan kritik, atau menyerang (kalau muncul pikiran jahat) si pengkritik dengan kekuatan lain, misalnya dengan teror ilmu hitam dan lain sebagainya.</p>
<p>Untuk menghindari chaos lebih parah, perlu memupuk sikap rendah hati menerima kritik. Tentu saja harus ada keberanian dan kejujuran menyampaikan kritik secara terbuka.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Penulis adalah Penyair, Menetap di Bali</em></p>
<p>(Dimuat di rubrik Teroka, Kompas, Sabtu, 21 November 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggali Inspirasi dari Batu Permata</title>
		<link>http://jengki.com/2009/11/22/menggali-inspirasi-dari-batu-permata/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/11/22/menggali-inspirasi-dari-batu-permata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 05:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Ada banyak cara menggali inspirasi. Yang sudah lumrah adalah berburu ke alam bebas, merenungi hakikat dan keindahan alam, lalu menuangkannya ke kanvas. Cara lainnya, menyelam ke alam batin (bawah sadar), sehingga memunculkan karya-karya berbau surealisme, simbolisme, atau abstrakisme.
 
Namun, Satar Tacik (41 thn), pelukis dari Ampenan, Lombok, NTB, memiliki cara yang berbeda. Dia menyerap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-423" title="Satar-Tacik-(3)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/Satar-Tacik-31-300x226.jpg" alt="Satar-Tacik-(3)" width="300" height="226" />Ada banyak cara menggali inspirasi. Yang sudah lumrah adalah berburu ke alam bebas, merenungi hakikat dan keindahan alam, lalu menuangkannya ke kanvas. Cara lainnya, menyelam ke alam batin (bawah sadar), sehingga memunculkan karya-karya berbau surealisme, simbolisme, atau abstrakisme.</p>
<p> </p>
<p>Namun, Satar Tacik (41 thn), pelukis dari Ampenan, Lombok, NTB, memiliki cara yang berbeda. Dia menyerap inspirasi dari keunikan batu-batu permata. Setiap malam dia tafakur dan meneropong batu-batu permata dengan bantuan cahaya lilin. Batu permata yang bening didekatkan ke mata, mirip posisi mengintip dari lubang kunci.</p>
<p> </p>
<p>Dengan bantuan cahaya lilin dari arah depan, maka akan terlihat berbagai wujud aneh dan ajaib di dalam batu permata yang diteropong itu. Ada wujud samar manusia berkepala enam, manusia ditelan naga, burung berkepala kuda, raksasa, naga kepala tiga, dan sebagainya. Semua itu terbentuk karena serat dan urat alami batu permata ditambah kelincahan imajinasi peneropong.</p>
<p> </p>
<p>“Ini bukan klenik atau ilmu gaib. Semua orang bisa melihat wujud-wujud itu dengan meneropong batu permata. Syaratnya, permata harus bening atau tembus cahaya,” tutur Tacik.</p>
<p> </p>
<p>Sambil meneropong permata, dia membuat sketsa wujud-wujud aneh itu. Kemudian sketsa itu dipindahkannya ke kanvas melalui teknik melukis yang dikuasainya. Di dalam sebiji permata bisa ditemui banyak wujud, tergantung sudut pandang saat meneropongnya.</p>
<p> </p>
<p>Ada sekitar 30 lukisan yang ditampilkan Satar Tacik dalam pameran tunggal perdananya ini. Pameran yang bertajuk “Menembus Cahaya” ini berlangsung di Taman Budaya Mataram, Nusa Tenggara Barat, sejak 11-21 November 2009. Sebelumnya, dia telah beberapa kali menggelar pameran bersama. Tacik merupakan tamatan SMSR Denpasar. Selain melukis, kini dia bekerja sebagai staf fungsional di Taman Budaya Mataram.</p>
<p> </p>
<p>Lukisan-lukisan Tacik terkesan seram dan magis, penuh wujud-wujud ganjil. Misalnya, sebuah lukisannya menggambarkan ular naga berkepala <img class="aligncenter size-medium wp-image-424" title="lukisan-Satar-Tacik-(1)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/lukisan-Satar-Tacik-11-220x300.jpg" alt="lukisan-Satar-Tacik-(1)" width="220" height="300" />tiga dengan lidah menjulur-julur. Atau pada lukisan lain menggambarkan perempuan jelita yang bermesraan dengan raksasa. Pilihan warna yang dipakainya cenderung sama, yakni warna-warna suram penuh aroma kefanaan atau suasana asing yang tiada tara.</p>
<p> </p>
<p>Di Mataram, NTB, Tacik dikenal sebagai pelukis yang eksentrik. Suka menyepi dan berburu batu hingga ke pelosok daerah terpencil. Rumahnya yang sederhana dipenuhi berbagai macam batu dan fosil kayu berbagai ukuran. Bahkan batu-batu itu ditanam layaknya menanam pohon sehingga terciptalah sebidang taman batu.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-425" title="lukisan-Satar-Tacik-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/lukisan-Satar-Tacik-21-300x228.jpg" alt="lukisan-Satar-Tacik-(2)" width="300" height="228" />Memang, sejak lama aura batu telah menarik hatinya. Bahkan dia rela menjual sepeda motor demi mendapatkan batu yang diidamkannya. Dan, kini energi batu itu terpancar di dalam lukisan-lukisannya, menembus cahaya, merasuki jiwa apresian yang sempat menyaksikan karya-karyanya secara langsung.</p>
<p> </p>
<p>Kecintaan Tacik pada batu dimulainya sejak 1990-an. Dia berburu batu hingga ke pelosok pedalaman. Batu-batu itu ditaruhnya dalam pot atau alas tertentu sehingga menjadi seni suezeki (bonsai batu). Bukan cuma batu alam. Tahun 2000-an dia mulai menggandrungi batu permata. Ada banyak permata yang telah dikoleksinya, seperti mirah, safir, mata kucing, jamrud, kristal, akik, kecubung.</p>
<p> </p>
<p>Menurut Tacik, setiap permata memiliki energi tertentu. Energi tersebut bisa sesuai untuk seseorang, namun belum tentu untuk orang lainnya. Jika energi batu permata sesuai dengan energi pemakainya, maka batu permata itu bisa memberikan kekuatan tertentu kepada pemakainya. Setiap permata mengandung misteri dan keajaiban yang mengundang penikmatnya hanyut di dalam keindahan dan misteri batu itu.</p>
<p> </p>
<p>Dalam kaitannya dengan proses melukis, dia suka mengamati tekstur dan warna bebatuan dan kayu-kayu tua. Hal itu seringkali menjadi inspirasinya saat melukis. Lukisan-lukisan Tacik cenderung simbolis dan surealis. Dan, semua inspirasinya bersumber dari hasil peneropongannya terhadap batu permata.</p>
<p> </p>
<p>“Bukan dari imajinasi, konsep atau ide. Semua simbol yang saya lukiskan sudah ada di dalam batu yang saya teropong,” tuturnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/11/22/menggali-inspirasi-dari-batu-permata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rudat, Kesenian Islam yang Mengesankan</title>
		<link>http://jengki.com/2009/11/11/rudat-kesenian-islam-yang-mengesankan/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/11/11/rudat-kesenian-islam-yang-mengesankan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 09:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[ 
Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Siang itu, warga Muslim di Kecicang, Karangasem, berkerumun dan berdesak-desakan di sebuah lapangan kecil tak jauh dari masjid. Laki-perempuan, tua-muda, anak-anak kecil, semua menampakkan wajah sumringah. Mereka disuguhkan pementasan rudat. Mahdan, warga Kecicang, khusus mengundang kelompok kesenian rudat untuk memeriahkan pesta perkawinannya.
“Kelompok rudat itu dari kampung Kecicang,” ujar Mahdan, yang pernah menjadi anggota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"> </p>
<p align="center">Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-413" title="rudat" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/rudat-300x225.jpg" alt="rudat" width="300" height="225" />Siang itu, warga Muslim di Kecicang, Karangasem, berkerumun dan berdesak-desakan di sebuah lapangan kecil tak jauh dari masjid. Laki-perempuan, tua-muda, anak-anak kecil, semua menampakkan wajah sumringah. Mereka disuguhkan pementasan rudat. Mahdan, warga Kecicang, khusus mengundang kelompok kesenian rudat untuk memeriahkan pesta perkawinannya.</p>
<p>“Kelompok rudat itu dari kampung Kecicang,” ujar Mahdan, yang pernah menjadi anggota kelompok rudat di Kecicang.</p>
<p>Tak lama kemudian, satu regu pasukan rudat memasuki lapangan diiringi tetabuhan musik yang rancak. <em>Ance</em> atau komandan pasukan memberi aba-aba memakai lepri/sumpritan dan mengatur barisannya dengan gerak-gerik yang terkadang lucu. Penonton tertawa-tawa senang. Gadis-gadis berkerudung tersenyum simpul. Anak-anak kecil terkekeh-kekeh sambil bertepuk tangan.</p>
<p>Penampilan pasukan rudat itu memang menggelikan. Pemain yang rata-rata bertubuh kurus, meski ada juga yang tegap, mengenakan kostum unik, mirip prajurit. Dari segi kostum yang dikenakan, pasukan rudat terbagi dua. Barisan depan yang berjumlah 4 orang memakai kostum hitam lengkap dengan berbagai atribut, berselempang gemerlapan, bertopi mirip perwira, dan berkaca mata hitam. Barisan belakang yang berjumlah 12 orang mengenakan kostum serba putih, berselempeng merah menyala, berkopiah hitam. <em>Ance</em> atau komandan berada paling depan, memegang pedang komando.</p>
<p>“Tidak ada patokan khusus untuk jumlah pamain rudat. Namun, biasanya berjumlah 21 orang,” kata Mahdan.</p>
<p>Pasukan rudat memperagakan formasi baris-berbaris dan gerak-gerak bela diri sambil menyanyikan lagu dengan syair berbahasa Melayu dan Arab. Mereka bergerak ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang. Sesekali meninju, menendang, menangkis, memluntir, memasang kuda-kuda. Pada beberapa adegan, pasukan membentuk formasi memutari lapangan. Mereka terus menyanyi diiringi musik yang rancak. Komandannya terus memberi aba-aba sambil memeragakan gerak-gerak silat dan mengacung-acungkan pedang.</p>
<p>Pemain musik terdiri dari beberapa orang tua. Alat-alat musik yang dipakai adalah rebana dua buah, <em>jidur</em> (rebana besar) satu buah, <em>trenteng</em> (drum kecil) satu buah. Musik ditabuh bertalu-talu menambah semarak suasana. Pasukan rudat semakin bersemangat menarikan gerak-gerak silat. Lagu-lagu yang dinyanyikan berupa “Salam Mun Salam”, “Selamat Datang”, “Ya Muhaimin”, dan beberapa lagu pesanan.</p>
<p> “Lagu pesanan sesuai dengan jenis acaranya. Kalau acaranya perkawinan, lagu pesanan yang dibawakan tentang perkawinan,” kata Mahdan.</p>
<p> Biasanya, pementasan rudat terbagi menjadi tiga bagian penting. Bagian pertama berupa pembukaan yang berisi salam dan tabik, permisi kepada penonton. Bagian kedua berisi <em>salawat</em> (puji-pujian kepada nabi). Bagian ketiga adalah penutup yang berisi permintaan maaf kalau ada salah kata dan laku selama menari.</p>
<p>Sejak jaman kerajaan Karangasem, kesenian rudat telah berkembang dan tersebar di beberapa kampung Muslim di Karangasem. Seperti di kampung Kecicang, Ujung, Saren Jawa, Tohpati, Bukit Abuan. Selain di Karangasem, kesenian rudat juga bisa ditemui di kampung atau komunitas Islam di daerah lain di Bali, seperti di Denpasar (Kampung Jawa, Pemogan), Buleleng (Pegayaman), Klungkung, Jembrana.</p>
<p> <img class="alignright size-medium wp-image-414" title="rudat-2" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/rudat-2-300x225.jpg" alt="rudat-2" width="300" height="225" />Menurut seorang warga Kecicang, Mudahar (60), rudat di Karangasem pertama kali berkembang di Tohpati, Bebandem. Kemudian berkembang di Saren Jawa yang tidak jauh dari Tohpati, lalu ke Kecicang. Rudat di Tohpati dan Saren Jawa diperkenalkan oleh Raden Kyai Jalil yang berasal dari Jawa. Sampai kini makamnya masih ada di Tohpati.</p>
<p>“Rudat di Kecicang juga dikembangkan oleh orang Arab bernama Ami Ali Muhamad,” kata Mudahar.</p>
<p>Lebih lanjut Mudahar mengatakan, kesenian rudat di Karangasem memiliki ciri khas tertentu, yakni pada gerakan, langkah, formasi, dan adegan perang-perangannya. Kostumnya juga khas, yakni memakai gaya Turki. Nama kostumnya <em>kadet</em>. Pemain barisan depan yang berkostum hitam dan komandan rudat memakai kaca mata hitam.</p>
<p>            Di Kecicang terdapat dua kelompok rudat, yakni rudat dari Kelod-Kangin dan rudat dari Kelod-Kauh. Namun, kata Mudahar, kelompok rudat ini belum terorganisasi dengan baik, belum bersifat formal. Latihan masih bersifat insidental. “Jika ada undangan pentas, baru mereka latihan,” ujar Mudahar.</p>
<p>            Rudat biasanya dipentaskan berkaitan dengan perayaan-perayaan Islam, seperti acara perkawinan, sunatan, Maulud Nabi, atau pada saat Idul Fitri. Namun, kadangkala kelompok rudat juga diundang tampil pada acara-acara lain yang tidak berkaitan dengan perayaan Agama Islam. Misalnya, baru-baru ini kesenian rudat dipentaskan pada acara pembukaan lomba gamelan baleganjur di lapangan Bebandem, Karangasem.</p>
<p>“Biasanya kesenian rudat juga diundang pentas jika ada acara besar di Puri Karangasem,” kata Mudahar.</p>
<p> <img class="alignleft size-medium wp-image-415" title="rudat-3" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/rudat-3-300x168.jpg" alt="rudat-3" width="300" height="168" />Sampai saat ini, asal usul kesenian rudat masih simpang siur. Belum ada data pasti tentang sejarah kesenian ini. Ada yang mengatakan kesenian ini merupakan pengembangan dari <em>zikir zaman</em> dan <em>burdah</em>. Zikir zaman adalah pementasan zikir yang disertai gerakan pencak silat. Sedangkan burdah adalah jenis kesenian Islam berupa nyanyian yang diiringi tetabuhan musik rebana.</p>
<p>Sumber lain mengatakan, kesenian rudat berasal dari Turki. Masuk ke Indonesia bersamaan dengan penyebaran Agama Islam pada abad XV. Rudat berasal dari kata “raudah” yang berarti taman nabi yang terletak di Masjib Nabawi, Madinnah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/11/11/rudat-kesenian-islam-yang-mengesankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karya-karya Kolaborasi dari Kembar Beda Ibu</title>
		<link>http://jengki.com/2009/10/29/karya-karya-kolaborasi-dari-kembar-beda-ibu/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/10/29/karya-karya-kolaborasi-dari-kembar-beda-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 01:15:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta
 
Judul Pameran              : Twin Sons of Different Mothers
Seniman                           : Ida Bagus Indra dan John O’ Sullivan
Kurator                            : -
Tempat                             : Gaya Art Space, Sayan, Ubud, Bali.
Waktu                                : 6 – 30 Oktober 2009
 
Saudara kembar, mungkin, tidak harus lahir dari satu ibu. Bisa juga dari ibu yang berbeda. Kembar di sini bukanlah kembar fisik, melainkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p>Judul Pameran              : Twin Sons of Different Mothers</p>
<p>Seniman                           : Ida Bagus Indra dan John O’ Sullivan</p>
<p>Kurator                            : -</p>
<p>Tempat                             : Gaya Art Space, Sayan, Ubud, Bali.</p>
<p>Waktu                                : 6 – 30 Oktober 2009</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-408" title="lion-air-(karya-kolaborasi-" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/lion-air-karya-kolaborasi--300x209.jpg" alt="lion-air-(karya-kolaborasi-" width="300" height="209" />Saudara kembar, mungkin, tidak harus lahir dari satu ibu. Bisa juga dari ibu yang berbeda. Kembar di sini bukanlah kembar fisik, melainkan kembar atau sama secara psikis, atau lebih tepatnya kembar dari sisi jiwa kreatif. Itulah yang dirasakan oleh dua perupa, Ida Bagus Indra dan John O’ Sullivan, yang tampil kolaboratif dalam pameran ini.</p>
<p> </p>
<p>Indra adalah sosok pelukis muda yang lahir dari keluarga kasta Brahmana. Sementara John adalah seorang penganut spiritual yang sering menjelajahi berbagai belahan dunia untuk menyerap energi positif dan mendalami esensi kehidupan. Selain banyak membuat karya sketsa dan lukis, John juga dikenal sebagai penyair dan telah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal.</p>
<p> </p>
<p>Indra dan John telah berteman lebih dari enam tahun. Mereka merasa dipertemukan dan dipersatukan oleh energi kosmis. Ada kerinduan untuk selalu bersama, karena dua jiwa saling menguatkan. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk membuat karya-karya kolaborasi.</p>
<p> </p>
<p>Dalam berkarya mereka seperti saudara kembar. Indra sering merasa kembali menemukan kekuatan dirinya ketika John datang mengunjunginya. Begitu pun dengan John. Mereka saling berbagi energi kreatif dalam proses kolaborasi ini.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-409" title="bridal-release-(karya-kolab" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/bridal-release-karya-kolab-209x300.jpg" alt="bridal-release-(karya-kolab" width="209" height="300" />Visual karya kolaborasi mereka beraneka. Selain memanfaatkan dan merespon benda-benda temuan atau barang-barang bekas, mereka juga berkolaborasi di atas kanvas. Misalnya, dalam lukisan-lukisan Indra yang cenderung figuratif, John meresponnya dengan baris-baris puisi yang sarat makna atau sapuan-sapuan garis impresif. Atau di lain kesempatan, Indra menggunting-gunting karya-karya sketsa John dan menyusunnya kembali dengan pemaknaan baru.</p>
<p> </p>
<p>“Dalam kolaborasi ini tidak ada ego dan tidak ada yang merasa dirugikan. Tujuannya untuk kepuasan batin,” kata mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/10/29/karya-karya-kolaborasi-dari-kembar-beda-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keindahan dan Kekelaman</title>
		<link>http://jengki.com/2009/10/24/keindahan-dan-kekelaman/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/10/24/keindahan-dan-kekelaman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 03:09:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta
 
Judul Pameran              : Spirit Behind The Colours 2
Seniman                           : Amalia Amini
Kurator                             : -
Tempat                              : Art by Woman Gallery, Ubud, Bali
Waktu                                 : 9 September &#8211; 9 Oktober 2009
 
 
Karya-karya Amalia Amini merupakan perpaduan keindahan dan kekelaman. Karya-karyanya cenderung tercipta dari dorongan bawah sadar dan perenungan terhadap hakikat kehidupan. Benda-benda saling bersusunan membentuk simbol dan metafora. Kadang seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p>Judul Pameran              : Spirit Behind The Colours 2</p>
<p>Seniman                           : Amalia Amini</p>
<p>Kurator                             : -</p>
<p>Tempat                              : Art by Woman Gallery, Ubud, Bali</p>
<p>Waktu                                 : 9 September &#8211; 9 Oktober 2009</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-404" title="thorn-3-karya-Amalia-Amini" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/thorn-3-karya-Amalia-Amini-300x239.jpg" alt="thorn-3-karya-Amalia-Amini" width="300" height="239" />Karya-karya Amalia Amini merupakan perpaduan keindahan dan kekelaman. Karya-karyanya cenderung tercipta dari dorongan bawah sadar dan perenungan terhadap hakikat kehidupan. Benda-benda saling bersusunan membentuk simbol dan metafora. Kadang seperti alam mimpi, kelindan masa silam, berpadu dengan gerak-gerak warna penuh misteri.</p>
<p> </p>
<p>Hal itu, misalnya, bisa dilihat pada lukisan “Thorn 3” dan “Thorn 4”. Pilar-pilar berbentuk taring menyembul dari gelombang-gelombang warna yang menyerupai kain lembut. Permainan warna berlapis-lapis memberi kesan kesuraman pada lukisannya. Sapuan-sapuan warna itu tercipta dari gerak alam bawah sadar, cerminan relung jiwa paling murung yang mencecap pahit getir kehidupan. Gerakan dan sapuan warna membentuk simbol-simbol absurd.</p>
<p> </p>
<p>Pada lukisan “Look At Into My Heart”, gelombang warna menyusun diri menyerupai gulungan kain berlipat-lipat. Di antara gelombang warna biru dan coklat menyembul bentangan warna putih. Pada lukisan ini, seakan setiap lipatan gelombang warna menyimpan berbagai cerita kesedihan.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-405" title="thorn-4-karya-Amalia-Amini" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/thorn-4-karya-Amalia-Amini-298x300.jpg" alt="thorn-4-karya-Amalia-Amini" width="298" height="300" />Lukisan “Full Moon” merupakan contoh bagaimana gambaran surealistik berkaitan erat dengan kesuraman pengalaman pribadi pelukisnya. Sosok tubuh perempuan tak berdaya di antara lipatan selimut. Tepat di atas, bulan purnama yang ditampilkan separuh menyinari sosok tubuh itu dengan cahaya keemasan. Bulan itu mirip pisau gilotin yang hendak membedah tubuh tak berdaya itu. Lukisan ini memadukan kesan keindahan dan kengerian sekaligus.</p>
<p> </p>
<p>Amalia lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 9 April 1958. Pernah belajar seni lukis di STSRI ASRI Yogyakarta. Dia pernah mengekplorasi ikon-ikon etnik Dayak pada permulaan karir melukisnya. Tahun 2008 dia berpameran tunggal di Seniwati Gallery, Ubud, dengan tajuk <em>Spirit Behind The Colours</em>. Interaksinya dengan seni-budaya Bali berpengaruh pada karya-karya terkininya yang cenderung ilusif dan surealis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/10/24/keindahan-dan-kekelaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar pada Lebah</title>
		<link>http://jengki.com/2009/10/21/belajar-pada-lebah/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/10/21/belajar-pada-lebah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 01:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
Dunia seni rupa tidak hanya unjuk keterampilan teknis, melainkan juga pergulatan ide, pemikiran atau wacana, untuk mencoba melahirkan berbagai terobosan baru. Namun  pada kenyataannya, dunia seni rupa dipersempit dengan maraknya trend atau selera pasar dimana banyak pelukis muda terjebak menjadi bebek, tanpa memiliki pendirian jelas.
Misalnya, ketika trend lukisan tertentu banyak diminati pasar, para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-395" title="sepasang-lebah" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/sepasang-lebah-224x300.jpg" alt="sepasang-lebah" width="224" height="300" />Dunia seni rupa tidak hanya unjuk keterampilan teknis, melainkan juga pergulatan ide, pemikiran atau wacana, untuk mencoba melahirkan berbagai terobosan baru. Namun  pada kenyataannya, dunia seni rupa dipersempit dengan maraknya trend atau selera pasar dimana banyak pelukis muda terjebak menjadi bebek, tanpa memiliki pendirian jelas.</p>
<p style="text-align: left;">Misalnya, ketika trend lukisan tertentu banyak diminati pasar, para pelukis “bebek” ramai-ramai meniru trend tersebut. Bila perlu dengan menggunakan teknik-teknik canggih dan bantuan komputer beserta perangkat lunak lainnya. Pelukis-pelukis itu kemudian berlindung dibalik kata “kontemporer” tanpa memahami betul makna kata itu sendiri. Galeri dan para cukong seni rupa sering pula mendikte pelukis untuk mengikuti selera pasar. Parahnya lagi, demi terserap pasar, banyak pelukis muda kehilangan jati dirinya karena tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Kondisi ini menyebabkan dunia seni rupa lebih mirip pasar kerajinan seperti biasa dilihat di pasar Sukawati atau Ubud.</p>
<p style="text-align: left;"> Sejatinya apa yang dicari pelukis dengan karya-karyanya? Ketenaran instan? Kekayaan instan? Atau, pergulatan yang gigih demi proses kreatif berkesenian? Semua itu, memang, kembali kepada pilihan sadar masing-masing pelukisnya. Bara api kreativitas semestinya terus dijaga agar dunia seni rupa tidak merosot ke dalam kubangan “omong kosong” belaka.</p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p style="text-align: left;"><strong>Upaya Merebut Posisi</strong></p>
<p style="text-align: left;">Di Bali, ratusan pelukis muda bermunculan, berebut posisi dengan berbagai cara. Ada yang datang, ada yang menghilang. Seperti kata pepatah: mati satu, tumbuh seribu. Tentu hukum seleksi alam sangat ketat dalam rimba belantara seni rupa mutakhir. Yang kuat dari segi gagasan, keterampilan teknis, “dan lain-lain”, kemungkinan akan terus bertahan. Yang lemah dan <em>plintat-plintut</em> dipastikan akan tergerus dan menjadi lumpur kesenian. Mengerikan, memang!  </p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignright size-medium wp-image-396" title="LEBAH-LEBAH-PUTIH" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/LEBAH-LEBAH-PUTIH-239x300.jpg" alt="LEBAH-LEBAH-PUTIH" width="239" height="300" />Ketut Suasana alias Kabul termasuk salah satu pelukis muda yang gigih berebut posisi. Dia menolak menjadi pelukis sekedar atau pelukis “bebek”. Ada keinginan kuat dan berbagai percikan impian dalam dirinya, untuk terus melangkah dengan mantap menjadi pelukis yang kelak akan diperhitungkan. Energi kreatifnya terus meletup-letup. Dalam upaya merebut posisi, tentu saja dia tidak mau ikut-ikutan trend pasar seni rupa terkini. Dia bukan tipe pelukis muda yang mudah didikte oleh selera pasar. Dan semoga saja akan terus begitu. Sebab hal itu merupakan salah satu modal awal menjadi pelukis yang tidak sekedar.</p>
<p style="text-align: left;">Kabul mengenyam pendidikan seni rupa di ISI Denpasar. Kabul lahir di Apuan, Tabanan, 30 Desember 1978. Sejak 1995, ia aktif mengikuti berbagai pameran bersama, baik di Bali maupun luar Bali. Dan pada tanggal 7-17 Oktober 2009, Kabul menggelar pameran tunggal perdana bertajuk “Suasana Lebah”, bertempat di Sudana Gallery, Sanggingan, Ubud, Bali.</p>
<p style="text-align: left;">Di jaman mutakhir ini, Kabul merupakan salah satu contoh seniman yang masih hidup dalam dua kutub besar yang tarik menarik, antara tradisi dan modern. Namun hal itu tidaklah menjadi persoalan baginya. Misalnya, dia ikut <em>ngayah</em> (kerja sukarela) membuat barong di Pura Natar Sari, Apuan, Tabanan, untuk memenuhi panggilan tradisi dan relegi. Atau pada waktu lain dia menyibukkan diri menjelajahi berbagai kemungkinan yang ditawarkan seni rupa modern, melalui pergulatan dalam penguasaan keterampilan teknis, pemikiran dan perenungan mendalam dari letupan-letupan gagasan. Bias-bias seni tradisi dan modern seringkali muncul saling melengkapi dalam lukisan-lukisan awalnya. Bagaimana pun juga manusia tidak bisa sepenuhnya lari dari “ibu tradisi”.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam melukis, Kabul cenderung mengikuti selera dan naluri jiwanya. Letupan-letupan gagasan seringkali menari-nari di kepalanya yang kemudian muncul melalui karya-karyanya. Selain berbekal ketrampilan teknis yang memadai, Kabul berupaya menggali gagasan dari banyak membaca dan menggerakkan seluruh inderanya. Hal itu bisa dilihat pada lukisan-lukisan terkininya yang menampilkan lebah sebagai simbol dan metafora untuk melihat kondisi jaman.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-397" title="terbang-keluar" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/terbang-keluar-300x264.jpg" alt="terbang-keluar" width="300" height="264" />Kabul telah lama tertarik pada keindahan lebah, terlebih lagi kehidupan lebah yang sarat semangat kebersamaan. Secara serius Kabul mempelajari filosofi kehidupan lebah, serangga yang mengalami metamorfosis sempurna, yakni dari telur, larva, kepompong (pupa) dan lebah. Menurut Kabul, lebah termasuk serangga yang sangat unik. Umumnya lebah hidup berkelompok, meski ada juga jenis lebah yang suka hidup menyendiri (soliter). Lebah tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Masyarakat lebah mengenal pembagian kerja. Lebah ratu yang hanya satu ekor dalam setiap koloni bertugas mengatur semua kegiatan lebah betina dan pejantan. Lebah ratu mampu hidup hingga tiga tahun, tugas utamanya kawin dan ber<a title="Telur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Telur">telur</a>.</p>
<p style="text-align: left;">Lebah betina atau lebah pekerja bertugas mengumpulkan <a title="Serbuk sari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Serbuk_sari">serbuk sari</a> dan <em><a title="Nektar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nektar">nektar</a></em> untuk diolah menjadi madu yang disimpan dalam sarangnya. Lebah betina yang lain bertugas membersihkan sarang dan menjaga anak-anak lebah. Masa hidup lebah pekerja sekitar tiga bulan. Lebah betina terbentuk tanpa melalui perkawinan dan mandul. Lebah jantan bertugas mengawini lebah ratu dan mati setelah kawin.</p>
<p style="text-align: left;">Dunia lebah memang sangat mengagumkan. Misalnya, lebah mampu membuat sarang yang sangat rumit dan artistik. Itulah salah satu keahlian yang diberkati semesta kepada lebah. Meski bertubuh kecil, lebah mampu bekerjasama dan menyelesaikan tugas-tugas besar untuk suatu tujuan bersama. Manusia belum tentu mampu menyaingi koloni lebah dalam urusan kerjasama atau kehidupan sosial. Karena manusia masih diselimuti ego individu. Bagi lebah, hidup adalah bekerja, tanpa kenal istirahat, demi kepentingan dan kebaikan bersama. Mungkin, begitu juga bagi Kabul.</p>
<p style="text-align: left;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Kabul dan Lebah</strong></p>
<p style="text-align: left;">Melalui lukisan-lukisan dengan subjek matter lebah, Kabul ingin mengajak apresian untuk kembali merenungi kehidupan lebah. Terlebih di jaman yang serba individualis ini. Seluruh lukisan terbaru Kabul berkisah tentang dunia dan suasana lebah. Secara umum kecenderungan visual lukisan Kabul bisa dipilah menjadi bentuk-bentuk abstraksi dan deformatif.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignright size-medium wp-image-398" title="lebahh" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/lebahh-239x300.jpg" alt="lebahh" width="239" height="300" />Kecenderungan abstraksi terlihat pada upaya-upaya Kabul menciptakan efek-efek stilisasi atau pengayaan formasi-formasi kerumunan lebah. Irama yang cenderung repetitif berpadu dengan komposisi warna, garis, bidang sehingga melahirkan kedinamisan. Terkadang sapuan-sapuan warna yang membentuk latar dibuat secara acak sesuai naluri arus bawah sadarnya. Pilihan warna-warna tertentu  mewakili perasaan Kabul pada setiap sesion lukisannya.</p>
<p style="text-align: left;">Hal itu misalnya terlihat pada lukisan “Lebah-lebah Putih” yang cenderung abstraktif. Dominan warna merah muda berpautan dengan biru kehijauan dan hitam. Lebah-lebah putih nampak berkerumun pada bidang sapuan warna merah muda. Bidang-bidang lain dipenuhi formasi kerumunan lebah warna biru, kuning, coklat muda, abu-abu. Semua tersusun dalam suatu komposisi yang abstraktif.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa lukisan lain juga menunjukkan kecenderungan abstraksi yang hampir sama. Seperti pada lukisan “Sisa Kebakaran” yang penuh sapuan warna hitam dan kelabu dengan aksen warna merah. Kerumunan lebah nampak membentuk formasi tak beraturan menandakan kepanikan akibat musibah kebakaran. Lukisan ini sarat renungan ekologis dalam kaitan menjaga kelestarian hutan. Atau pada lukisan “Bunga” yang menampilkan kerumunan lebah warna kuning muda menyerbu sekuntum bunga berkelopak merah. Pada latar belakang terlihat sarang lebah berwarna ungu muda.</p>
<p style="text-align: left;">Pada lukisan “Keseimbangan” yang bernuansa spiritual, efek deformatif yang berbaur dengan abstraksi sangat terasa. Terlihat kerumunan lebah membentuk formasi simbol lingkaran “Ying-Yang”. Pada latar belakang nampak abstraksi dengan membaurkan warna ungu, putih, dan hitam yang mengesankan gejolak perasaan yang sedang berjuang menggapai keseimbangan dalam tatanan kosmis.</p>
<p style="text-align: left;">Kecenderungan abstraksi juga sangat terasa pada lukisan “Menuju Puncak” dimana nampak kerumunan lebah warna-warni berupaya meraih puncak gunung. Komposisi warna gunung dibuat dengan membaurkan warna biru, putih, dengan aksen merah di pinggirannya. Langit di seputaran gunung itu dipenuhi kerumunan lebah warna-warni membentuk komposisi terstruktur.</p>
<p style="text-align: left;">Pada lukisan “Suasana Lebah” terlihat ribuan lebah berhamburan di udara. Lebah-lebah dengan berbagai warna itu membentuk formasi. Seakan hendak memamerkan kepada dunia, meski tubuh mungil namun menyimpan kekuatan dalam kebersamaannya. Warna-warni dari kerumunan dan formasi lebah itu tertata dalam komposisi yang memikat dengan kecenderungan abstraksi.</p>
<p style="text-align: left;">Keanggunan abstraksi dari kerumunan lebah tampak pada lukisan “Populasi Lebah” dimana hampir seluruh bidang kanvas ukuran 250 x 289 cm ditutupi dengan kerumunan lebah. Pengaturan komposisi warna juga ditata sedemikian rupa untuk memunculkan kesan keindahan dari abstraksi itu. Sekelumit pembauran warna biru dan ungu di sudut kiri atas kanvas memberi kesan rekahan pada sarang lebah. Di sini bisa dilihat bagaimana ketekunan dan kesabaran pelukisnya menggurat gambar-gambar lebah yang jumlahnya ribuan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Pada lukisan “Terbang Keluar” terlihat permainan estetik Kabul menggabungkan komposisi kerumunan lebah di antara kelindan rambut atau serabut warna-warni. Lukisan ini mengesankan ribuan lebah mengrubungi rambut yang menjuntai dan berombak-ombak, menampilkan permainan komposisi yang menarik. Rekahan bidang kosong di bagian atas mengesankan ruang terbuka yang memungkinkan berbagai tafsir berkembang.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-400" title="judul_-Gedung-gedung-Lebah" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/judul_-Gedung-gedung-Lebah1-300x223.jpg" alt="judul_-Gedung-gedung-Lebah" width="300" height="223" />Kecenderungan deformatif dalam lukisan-lukisan Kabul terlihat dari bagaimana dia membangun dan mengatur komposisi kerumunan lebah sedemikian rupa yang dikaitkan dengan tema-tema mutakhir. Misalnya, dalam lukisan “Gedung-gedung Lebah” terlihat bagaimana kerumunan lebah membentuk gedung-gedung mencakar langit. Seakan dunia manusia telah dikuasai lebah. Kalau dikaitkan dengan persoalan ekologi, lukisan ini menyuratkan semacam kritik dan permenungan atas berbagai bentuk perubahan drastis yang menimpa alam. Hutan-hutan telah banyak dibabat untuk pemukiman sehingga lebah tidak bisa lagi membangun sarang. Akhirnya, masyarakat lebah menyerbu perkotaan dan membangun gedung-gedung lebah dan menguasai kota.</p>
<p style="text-align: left;">Atau pada lukisan “Level” dengan latar warna kuning nampak kerumunan lebah membentuk roda sepeda gayung, sepeda motor dan mobil. Kabul memang memusatkan perhatiannya pada roda sebagai simbolisasi dari kehidupan. Bagi Kabul, wadah atau wujud yang dikaitkan sebagai level atau label fisik bisa berbeda-beda, namun yang menggerakkan tetaplah roda. Menurut Kabul, umumnya manusia memandang keberhasilan manusia lain seringkali dari segi fisik dan materi saja. Lebih khusus lagi keberhasilan dipandang dari kendaraan yang dipakai seseorang, apakah bersepeda gayung, bermotor atau bermobil. Padahal salah satu elemen yang membuat ketiga kendaraan itu bisa berjalan adalah roda. Secara filosofi, nasib manusia memang seperti perputaran roda, kadang di bawah kadang di atas.</p>
<p style="text-align: left;">Pada lukisan-lukisan yang mencitrakan suasana alam (pepohonan) terlihat efek deformatif dimana kerumunan lebah dibuat menyerupai rimbun dedaunan dan buah-buah pepohonan. Lukisan-lukisan ini nampak surealistik. Hal itu misalnya terlihat pada lukisan “Pohon” yang menggambarkan suasana hutan berkabut dengan pohon-pohon besar yang rimbun dedaunnya terbentuk dari gerombolan lebah. Rerimbun “daun lebah” yang lebih spesifik tampak dalam lukisan ”Bayangan Pohon Lain”, “Cabang Baru”, “Nuansa Alam” dan “Buah Karma”.</p>
<p style="text-align: left;">Secara umum, isi dan bentuk dalam lukisan-lukisan Kabul telah mengalami sublimasi. Lebah sebagai simbol dan metafora seakan menemukan tempat yang tepat. Hal itu tentu didukung oleh pengolahan elemen-elemen rupa yang telah tertata. Kabul berupaya menawarkan kesegaran baru dalam dunia seni rupa dengan pilihan dan penggarapan subjek matter yang khas. Setidaknya, melalui lukisan-lukisan Kabul, manusia bisa kembali belajar pada dunia lebah, terutama perihal semangat kebersamaan.</p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p style="text-align: left;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/10/21/belajar-pada-lebah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Toleran Melahirkan Teror?</title>
		<link>http://jengki.com/2009/10/08/toleran-melahirkan-teror/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/10/08/toleran-melahirkan-teror/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 01:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Judul Pameran              : Tolerism Terrorance
Seniman                            : I Ketut Teler
Kurator                              : Arif B Prasetyo
Tempat                                : Hanna Art Space, Pengosekan, Ubud, Bali.
Waktu                                   : 11 – 30 September 2009
 
 
Apa kaitan toleransi dan terorisme? Pelukis Ketut Teler punya jawabannya. Dia bilang, teror bisa muncul jika kita terlalu toleran. Pengertian teror di sini bukan hanya dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Judul Pameran              : Tolerism Terrorance</p>
<p>Seniman                            : I Ketut Teler</p>
<p>Kurator                              : Arif B Prasetyo</p>
<p>Tempat                                : Hanna Art Space, Pengosekan, Ubud, Bali.</p>
<p>Waktu                                   : 11 – 30 September 2009</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-391" title="Tolerance--karya-Ketut-Tele" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/Tolerance-karya-Ketut-Tele-300x237.jpg" alt="Tolerance--karya-Ketut-Tele" width="300" height="237" />Apa kaitan toleransi dan terorisme? Pelukis Ketut Teler punya jawabannya. Dia bilang, teror bisa muncul jika kita terlalu toleran. Pengertian teror di sini bukan hanya dalam bentuk bom yang diledakkan oleh teroris. Terorisme bisa juga merambah ke wilayah ekonomi, kemanusiaan, budaya, kekerasan rumah tangga, dan sebagainya.</p>
<p> </p>
<p>“Terlalu toleran bisa memunculkan teror. Misalnya, Malaysia banyak nyolong seni budaya Indonesia. Ini suatu bentuk teror budaya, karena kita terlalu toleran, tidak punya sikap tegas,” ujar Teler.</p>
<p> </p>
<p>Begitulah. Untuk merespon makna kata toleransi dan terorisme, Teler memamerkan sejumlah karya terbarunya, dengan tajuk “Tolerism Terrorance”. Teler memakai dirinya sebagai model. Dia mengenakan jubah biksu dalam berbagai fose yang dikaitkan dengan ikon-ikon dan simbol-simbol kekinian. Selain sarat perenungan spiritualitas, lukisan-lukisannya juga menyuarakan kritik sosial-ekologi. Misalnya terlihat pada “See Rent Area”, menggambarkan Teler mengenakan jubah biksu memandang beton-beton pencakar langit di balik dinding relief kuno.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-390" title="Self-Battle-(from-spirit-of" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/10/Self-Battle-from-spirit-of.jpg" alt="Self-Battle-(from-spirit-of" width="400" height="385" />Nuansa spiritualitas Siwa-Buddha bisa dilihat pada “Self Battle (From Spirit of Ciwa-Buddha)” yang terdiri dari 2 panel. Lukisan ini menampilkan Teler mengenakan jubah biksu berinteraksi dengan Rangda. Pada panel lukisan Rangda menginjak kepala Teler, Rangda sebagai simbol Ibu. Sedangkan pada panel lukisan Teler menginjak kepala Rangda berbadan manusia, merupakan simbol pengendalian nafsu dalam diri.</p>
<p> </p>
<p>Telah lama Teler menekuni ajaran Siwa-Buddha. Sebagai pelukis, sejak tahun 2000 dia banyak mengekspresikan ajaran sinkretisme agama itu melalui karya-karyanya. Pada perkembangan berikutnya dia tertarik mengeksplorasi dirinya dan jubah sebagai simbol yang dikaitkan dengan fenomena kekinian.</p>
<p> </p>
<p> “Jubah agama sering dipakai tameng untuk membenarkan tindakan-tindakan yang sesungguhnya tidak sesuai dengan ajaran agama,” ujar Teler menjelaskan konsep karyanya.</p>
<p> </p>
<p>Teler lahir di Tembuku, Bangli 24 Oktober 1971. Dia belajar seni rupa di ISI Denpasar (1992-1998). Sejak 1992 dia telah rajin mengikuti berbagai pameran bersama di sejumlah galeri dan museum di Indonesia dan Amerika. Tahun 1995 dia mengikuti Artist Residence di Boston, Amerika. Pernah pula meraih penghargaan “Kamasra” dari ISI Denpasar (1995).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/10/08/toleran-melahirkan-teror/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mangku Jenggo, Pematung dari Umanyar, Karangasem</title>
		<link>http://jengki.com/2009/09/14/mangku-jenggo-pematung-dari-umanyar-karangasem/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/09/14/mangku-jenggo-pematung-dari-umanyar-karangasem/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 01:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[Foto dan Teks Wayan Sunarta
 
Senja belum sempurna paripurna. Temaram cahayanya menelusupi celah-celah rimbun dedaunan. Mangku Jenggo asyik menatah sebongkah batu cadas hitam. Tangannya bergerak lincah memahat dan menakik cadas mengikuti alur dan lekuk-likunya. Perlahan namun pasti, cadas yang keras menjelma patung aneh dan unik.
 
Begitulah Mangku Jenggo. Seniman desa yang sangat bersahaja. Perawakannya tinggi kurus. Wajah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Foto dan Teks Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-383" title="mangku-jenggo-(1)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/09/mangku-jenggo-1-168x300.jpg" alt="mangku-jenggo-(1)" width="168" height="300" />Senja belum sempurna paripurna. Temaram cahayanya menelusupi celah-celah rimbun dedaunan. Mangku Jenggo asyik menatah sebongkah batu cadas hitam. Tangannya bergerak lincah memahat dan menakik cadas mengikuti alur dan lekuk-likunya. Perlahan namun pasti, cadas yang keras menjelma patung aneh dan unik.</p>
<p> </p>
<p>Begitulah Mangku Jenggo. Seniman desa yang sangat bersahaja. Perawakannya tinggi kurus. Wajah dan senyum lebarnya mencerminkan keluguannya. Sikapnya yang ramah membuat orang cepat akrab dengannya.</p>
<p> </p>
<p>Karya-karya Mangku Jenggo banyak bertebaran di halaman rumah dan ladangnya. Patung-patung bercorak primitif dan naif itu selalu menuntun imajinasi saya ke jaman batu. Mangku Jenggo menatah dan memahat batu cadas dengan cara yang sangat polos dan apa adanya. Namun justru di sanalah letak kekuatan artistiknya. Kesederhanaan pahatannya memancarkan aura magis. Figur manusia atau hewan dibuat dengan gaya distorsif sehingga wujud aslinya mengalami sublimasi. Bahkan sejumlah karyanya mirip <em>totem</em> atau patung-patung yang dipakai sarana upacara persembahan pada jaman berhala.</p>
<p> </p>
<p>Mangku Jenggo lahir di Dusun Umanyar, Desa Ababi, Kec. Abang, Karangasem, Bali. Dia tidak punya data pasti tentang hari kelahirannya. Yang jelas dia masih menyimpan ingatan ketika Gunung Agung meletus pada tahun 1963. “Saat itu, saya seusia anak TK. Saya bersama keluarga ikut dalam rombongan naik truk, mengungsi ke desa tetangga,” kenangnya.</p>
<p> </p>
<p>Tanah kelahirannya sangat kaya dengan kandungan batu cadas yang berusia ratusan tahun, bekas muntahan Gunung Agung. Berdasarkan data, Gunung Agung pernah meletus lebih dari lima kali sejak tahun 1800. Warga Umanyar banyak memanfaatkan batu-batu cadas hitam itu untuk membuat tugu atau <em>pelinggih</em> (bangunan suci). Pelinggih-pelinggih yang dikerjakan secara massal itu dijual hingga ke seluruh wilayah Bali, bahkan luar negeri. Hingga kini Umanyar dikenal sebagai salah satu pusat industri batu cadas hitam di Bali.</p>
<p> </p>
<p>Namun Mangku Jenggo memilih jalan lain. Dia tidak mau ikut-ikutan warga kebanyakan. Dia memanfaatkan batu cadas itu untuk membuat patung, sesuai selera seninya. “Saya lebih senang memahat patung ketimbang membuat <em>pelinggih</em>,” ujar Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Bermodalkan bakat alam, Mangku Jenggo memulai karirnya di bidang seni pahat dengan membuat patung-patung dan topeng dari kayu. Saat itu garapannya cenderung halus. Wujud patungnya kebanyakan figur manusia dan hewan. Secara berkala dia menitipkan hasil karyanya di beberapa artshop di Klungkung dan Batubulan.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-384" title="karya-mangku-jenggo-(10)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/09/karya-mangku-jenggo-10-300x225.jpg" alt="karya-mangku-jenggo-(10)" width="300" height="225" />Ketertarikannya pada batu cadas bermula ketika seorang sahabatnya meminta dia mengukir dan memahat sebongkah batu besar dengan motif dedaunan dan figur manusia. Pada awalnya dia menolak karena tidak terbiasa memahat batu, namun akhirnya dia menyanggupi. Dia nongkrong berlama-lama di depan batu dan berpikir keras bagaimana cara menggarap batu itu menjadi benda seni. Dia memulai proyek patung batu pertamanya dengan alat-alat pahat seadanya.</p>
<p> </p>
<p>“Lama kelamaan saya jadi ketagihan memahat batu. Saya kumpulkan bongkahan batu cadas yang saya gali dari ladang. Kemudian batu-batu itu saya pahat seadanya mengikuti wujud-wujud yang terbayang dalam pikiran saya,” tuturnya.</p>
<p> </p>
<p>Sejak itu, Mangku Jenggo memiliki keasyikan tersendiri bergaul dengan batu-batu cadas. Semakin hari karya-karyanya semakin bertambah banyak sehingga nyaris memenuhi halaman rumah dan kebunnya. Sebagian besar patung itu dipajangnya di tepi jalan kecil menuju rumahnya.</p>
<p> </p>
<p>Suatu kali, sekitar 19 tahun lalu, pelukis-pengembara Made Budhiana yang sering berkelana ke wilayah Karangasem merambah Dusun Umanyar bersama beberapa kawannya. Mereka mengendarai mobil jip butut. Suara jip itu mirip helikopter sehingga mengundang anak-anak berkerumun menyaksikan mobil aneh yang parkir persis di jalan menuju rumah Mangku Jenggo. Anak-anak dusun terheran-heran mengamati mobil jip yang bersuara helikopter. Sementara itu, Budhiana yang berpakaian ala koboi termangu-mangu di depan deretan patung unik karya Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>“Anak saya yang masih kecil bilang ada helikopter di pinggir jalan. Saya buru-buru keluar rumah. Saya kemudian berkenalan dengan pengendara ‘helikopter’ yang berambut gondrong. Itulah pertemuan pertama saya dengan Made Budhiana,” kenang Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Perkenalan Mangku Jenggo dengan Made Budhiana berkembang menjadi hubungan persahabatan yang terjalin hingga kini. Setiap ada kesempatan ke Karangasem, Budhiana mampir ke rumah Mangku Jenggo. Budhiana mengagumi hasil pahatan Mangku Jenggo yang cenderung kasar, polos dan mengandung kemurnian seniman otodidak. Budhiana cukup banyak mengoleksi karya-karyanya. Mangku Jenggo pun secara tidak langsung banyak menyerap pandangan-pandangan seni dan prinsip berkesenian dari Budhiana, termasuk idealisme sebagai seniman.</p>
<p> </p>
<p>“Budhiana itu guru saya, meski dia tidak mengajarkan saya memahat,” kata Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-385" title="karya-mangku-jenggo-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/09/karya-mangku-jenggo-2-300x168.jpg" alt="karya-mangku-jenggo-(2)" width="300" height="168" />Kini, telah lebih 20 tahun Mangku Jenggo menekuni seni patung. Dia telah menciptakan ribuan patung batu dengan berbagai model dan motif. Banyak karyanya telah terjual dan menjadi koleksi kawan-kawan dekatnya. Sebagian lagi masih berserakan di ladang dan halaman rumahnya. Namun dia mengatakan belum bisa sepenuhnya menggantungkan hidup dari hasil membuat patung.</p>
<p> </p>
<p>“Tidak setiap bulan ada orang yang membeli patung. Bagi saya membuat patung hanya untuk menyalurkan bakat seni. Saya juga mengerjakan hal-hal lain untuk menghidupi anak dan istri,” tutur Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Sebagaimana umumnya seniman otodidak di Bali, Mangku Jenggo juga dikarunia sejumlah keahlian lain. Selain pematung, dia juga piawai menabuh gamelan Bali. Sesekali dia diminta bantuan membuat <em>pelinggih</em> (bangunan suci) untuk pura. Dia pandai membuat bonsai dan menata taman. Dia terampil memijat dan mengobati keseleo atau salah urat. Dia masih setia bertani dan berkebun. Di kebunnya yang luas tumbuh jeruk Bali, salak, pisang, kelapa dan tanaman lain. Dia juga memelihara sapi dan babi.</p>
<p> </p>
<p>Di sela-sela waktu senggang, beberapa anak Umanyar berkumpul di rumah Mangku Jenggo. Mereka belajar membuat patung berbahan cadas ukuran kecil, asbak dan motif-motif lainnya. Dengan senang hati Mangku Jenggo menularkan ilmu memahatnya kepada anak-anak tersebut. “Saya senang kalau ada anak-anak yang mau tekun belajar membuat patung,” ujar Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Masa kanak-kanak Mangku Jenggo sendiri cukup memilukan. Ibunya meninggal ketika dia masih bayi. Ayahnya sakit-sakitan. Sejak kecil dia diasuh oleh kakeknya. Saat masih bocah dia sering sakit-sakitan. Menurut dukun, dia keberatan nama. Kemudian kakeknya mengganti namanya dari Made Pageh menjadi Made Jenggo. Kata “Mangku” di depan namanya merupakan gelar kehormatan yang diberikan masyarakat ketika dia dipilih menjadi <em>Pemangku</em>, pemimpin ritual/upacara Agama Hindu di pura keluarga besarnya.</p>
<p> </p>
<p>Mangku Jenggo hanya sempat mencicipi pendidikan resmi sampai kelas dua sekolah dasar. Sang kakek tidak mengijinkan dia sekolah. Padahal dia sangat ingin sekolah. Kakeknya sangat takut kehilangan dia. Maklum, dia adalah pewaris satu-satunya tanah keluarga, kebun dan ladang yang sangat luas. Dan dia adalah satu-satunya anak lelaki yang akan melanjutkan keturunan keluarganya.</p>
<p> </p>
<p>“Kakek selalu menjemput dan menyuruh saya pulang ketika saya berada di sekolah. Kakek bilang tidak ada gunanya sekolah. Cukup belajar di rumah saja,” kenang Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p>Di bawah bimbingan langsung kakeknya, Mangku Jenggo belajar aksara dan sastra Bali di rumah. Kakeknya juga mengajarkan ilmu pengobatan tradisional. Namun kegiatan yang paling sering dilakoninya ketika teman-teman sebayanya sekolah adalah membantu kakeknya mengurus kebun dan ladang yang sangat luas.</p>
<p> </p>
<p>Mangku Jenggo sangat dimanja oleh kakeknya. Kecuali sekolah, apa pun yang dimintanya selalu dituruti kakeknya. Hanya satu tujuan kakeknya, membikin dia betah di rumah. Ketika remaja lain masih naik sepeda gayung, dia sudah kebut-kebutan dengan sepeda motor. Saat itu, cap <em>brandes</em> atau brandal desa cukup melekat pada dirinya.</p>
<p> </p>
<p>Suatu kali Mangku Jenggo berniat merantau ke Denpasar. Dia ingin memperluas wawasan sambil bekerja dan belajar hidup di daerah orang. Namun, kakeknya lagi-lagi tidak mengijinkan. Kakeknya sangat cemas kehilangan dia. “Saat itu saya nekat. Saya merantau ke Denpasar. Namun tak berapa lama kemudian Kakek mencari dan menyuruh saya pulang,” ujar Mangku Jenggo.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-386" title="karya-mangku-jenggo-(11)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/09/karya-mangku-jenggo-11-225x300.jpg" alt="karya-mangku-jenggo-(11)" width="225" height="300" />Merasa telah kehabisan akal dan kasihan dengan kakeknya, Mangku Jenggo akhirnya memutuskan menetap di tanah kelahirannya. Mengurus kebun dan ladang warisan kakeknya. Dia kemudian menikah dan dikarunia enam anak, satu laki dan lima perempuan. Sekitar lima tahun lalu, istrinya meninggal. Dan dua tahun setelah kepergian istrinya, dia menikah lagi dan dikarunia seorang anak perempuan.</p>
<p> </p>
<p>Kini, hampir setiap hari Mangku Jenggo menakik, menatah dan memahat batu-batu cadas hitam Umanyar menjadi patung-patung unik bernilai seni. Tidak ada lagi impian muluk-muluk dalam dirinya, kecuali terus mengabdikan hidup untuk berkesenian dan bermasyarakat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/09/14/mangku-jenggo-pematung-dari-umanyar-karangasem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
