<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.2.2" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com</title>
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 08:41:08 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Magelang</title>
		<link>http://jengki.com/2008/11/11/magelang/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/11/11/magelang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 08:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/11/11/magelang/</guid>
		<description><![CDATA[- untuk pelukis deddy paw-
bau tembakau di akhir agustus
merambah kotamu
serupa aroma pagi yang jernih
udara bagai hembusan nafas bayi
di warung nasi senerek bu atmo
jamuanmu mewarnai sedulur
lembah tidar, pakuning tanah jawi
dalam gelinjang wayang lukisan kaca ardhi gunawan
aku menemukan pijakan pengembaraan masa silam
malam-malam nyanyian serangga, lampu sentir, kelir kain kasa,
kresna dari daun jepun dan arjuna dari daun nangka
timbul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>- untuk pelukis deddy paw-</p>
<p>bau tembakau di akhir agustus<br />
merambah kotamu<br />
serupa aroma pagi yang jernih<br />
udara bagai hembusan nafas bayi</p>
<p>di warung nasi senerek bu atmo<br />
jamuanmu mewarnai sedulur<br />
lembah tidar, pakuning tanah jawi</p>
<p>dalam gelinjang wayang lukisan kaca ardhi gunawan<br />
aku menemukan pijakan pengembaraan masa silam<br />
malam-malam nyanyian serangga, lampu sentir, kelir kain kasa,<br />
kresna dari daun jepun dan arjuna dari daun nangka<br />
timbul tenggelam dari kubang kenangan masa kanak</p>
<p>pagi menepi ditemani lagu-lagu lawas leo kristi<br />
melewati alun-alun magelang, mesjid kauman,<br />
klenteng tua pacinan, gereja di sudut jalan, bayangan candi,<br />
tombak laskar tionghoa yang ditinggalkan, makam kyai sepanjang,<br />
serdadu, perwira, berpadu teriakan berani mati</p>
<p>aku melihat ribuan khuldi emas mengambang di telaga seroja<br />
di tengah-tengahnya buddha semadi, menggapai nirwana<br />
“cinta dan kasih dimulai dari sebiji khuldi,” ujarmu</p>
<p>cemara bukit tidar<br />
lagu angin dalam genggaman,<br />
gesekan biola<br />
tarian atau dansa penghabisan<br />
hijau, hijau, hijau<br />
bagai jelita dara perawan<br />
lima gunung melingkar benteng terakhir kota<br />
andong, merapi, merbabu, sumbing, sindoro</p>
<p>senja tiba membawa kata-kata tak tuntas<br />
membekas pada hamparan kanvasmu<br />
serupa tilas-tilas cinta di bening mata perempuan<br />
yang menatapmu dalam hening kelambu peraduan<br />
mulus tubuhnya, berkas-berkas yang tersusun<br />
dari kedalaman jiwa<br />
tak sepenuhnya mampu kita baca</p>
<p>malam, kawan setia pejalan itu<br />
sekian bulan mati kita tiba<br />
menjelma kelelawar kelabu</p>
<p>darimana datangnya suara seruling<br />
yang merintih perih itu<br />
begitu rupa menyayat sukma<br />
hingga kita jadi terbiasa<br />
ditikam kepiluan petani-petani tembakau</p>
<p>magelang jelang larut malam<br />
lentera-lentera jalanan muram<br />
tembang macopatan melantun<br />
merambat di tembok-tembok tua kota<br />
mengiringi sesuap demi sesuap nasi<br />
di warung pojok jalan jenderal sudirman</p>
<p>sulur-sulur sinar fajar<br />
seperti bilur-bilur fana pada jiwaku<br />
kembara dari kota ke kota<br />
dari desa ke desa<br />
menyelami semesta raya puisi<br />
dalam semesta diriku<br />
 </p>
<p>(Agustus 2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/11/11/magelang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menyemai Benih, Melahirkan Matahari Baru</title>
		<link>http://jengki.com/2008/11/04/menyemai-benih-melahirkan-matahari-baru/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/11/04/menyemai-benih-melahirkan-matahari-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 03:49:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/11/04/menyemai-benih-melahirkan-matahari-baru/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta

 
Perkawinan merupakan sebuah upaya untuk menegaskan kehadiran, terutama kehadiran manusia dalam belantara kehidupan dunia ini. Bagi sebagian orang, perkawinan merupakan momok menakutkan, karena berbagai alasan, seperti persoalan ekonomi, kehilangan kebebasan, ketidaksiapan mental dan alasan personal lainnya. Namun bagi sebagian yang lain, perkawinan merupakan pilihan hidup sekaligus anugerah Tuhan yang mesti disyukuri, karena melalui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/11/men-brayut-i-139x100-2008.jpg" title="men brayut"></a></p>
<p> <a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/11/men-brayut-i-139x100-2008.jpg" title="kun"><img src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/11/men-brayut-i-139x100-2008.thumbnail.jpg" alt="kun" /></a><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/11/men-brayut-i-139x100-2008.jpg" title="kun"></a><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2008/11/men-brayut-i-139x100-2008.jpg" title="men brayut"></a></p>
<p>Perkawinan merupakan sebuah upaya untuk menegaskan kehadiran, terutama kehadiran manusia dalam belantara kehidupan dunia ini. Bagi sebagian orang, perkawinan merupakan momok menakutkan, karena berbagai alasan, seperti persoalan ekonomi, kehilangan kebebasan, ketidaksiapan mental dan alasan personal lainnya. Namun bagi sebagian yang lain, perkawinan merupakan pilihan hidup sekaligus anugerah Tuhan yang mesti disyukuri, karena melalui perkawinan manusia diberi tugas dan tanggung jawab untuk meneruskan keturunan.</p>
<p>Wayan Kun Adnyana, seorang pelukis, penulis seni rupa, kurator dan dosen seni rupa ISI Denpasar, sedang berbahagia. Ia telah melepas masa lajangnya dengan mengawini gadis pujaannya, Ayu Ketut Putri Rahayuning, pada tanggal 1 Oktober 2008. Dan kebahagiaan Kun semakin sempurna karena pada 19 Oktober 2008 pesta resepsi perkawinannya dirayakan dengan peristiwa kesenian, yakni pameran bertajuk “Look! Who is Talking?” di Tonyraka Art Gallery, Mas, Ubud, Bali, berlangsung hingga tanggal 2 November 2008. Ini merupakan pameran tunggal Kun yang ketiga setelah pameran  Kamasukha (2003) dan New Totem for Mother (Mei-Juni 2008).</p>
<p>Selain menulis, Kun sangat produktif dalam melukis. Karya-karya pelukis kelahiran Bangli, Bali, 4 April 1976 ini banyak berbicara tentang tubuh, ibu, bayi, dalam kaitannya dengan cinta kasih manusia. Hal itu, misalnya, bisa dilihat pada periode Kamasukha dimana Kun banyak mendedahkan persoalan erotisme tubuh lelaki-perempuan dalam persenggamaan. Pada periode ini Kun banyak menyerap inspirasi dari kitab Kamasutra. Kemudian pada periode New Totem for Mother, Kun banyak berkisah tentang sosok ibu, bukan hanya dalam pengertian ibu fisik (ibu kandung) melainkan juga ibu bumi tempat dimana kehidupan ditumbuhkan dan dipelihara dengan cinta dan kasih. Pada periode ini Kun lebih menukik ke arah persoalan interaksi ibu (perempuan) dengan lelaki (bapak) dimana ibu cenderung berada pada pihak yang tereksploitasi, terancam, teraniaya, dan sebagai korban berbagai bentuk kekerasan rumah tangga.</p>
<p>Pada pameran tunggalnya kali ini, Kun lebih banyak berbicara tentang bayi dan benda-benda di seputaran bayi. Tajuk pameran ini sendiri mengadopsi judul film lawas yang dibintangi Jhon Travolta yang berkisah tentang dunia bayi. Dan tentu saja periode bayi ini bisa ditelusuri benang merahnya hingga periode Kamasukha dan New Totem for Mother. Ketiga periode ini merangkum persoalan tubuh, kesuburan, dan keberlangsungan generasi umat manusia di dunia ini. Dan bukan suatu kebetulan periode bayi ditampilkan pada acara resepsi perkawinannya. Kun telah merencanakan, merancang, dan menyiapkannya sedemikian rupa. Tentu di balik semua itu terkandung harapan dan impian akan sebuah bahtera yang baru, yakni keluarga yang berbahagia dan saling mengasihi dimana kehidupan baru pun tumbuh dan bersemi sewajarnya. Bagi Kun, bayi adalah matahari baru yang akan menerangi dunia di kemudian hari.</p>
<p>Pameran ini cukup menarik karena Kun mendedahkan persoalan kelahiran bayi manusia yang diharapkan kelak akan menjadi matahari baru. Objek-objek bayi tersebut ditampilkan Kun dalam sejumlah lukisan, sketsa dan seni instalasi. Lukisan berjudul “Menunggu Matahari” cukup mampu mewakili obsesi bawah sadar Kun akan arti penting kehadiran seorang bayi. Lukisan itu berkisah tentang bayi montok berkelamin laki-laki yang seakan jatuh dari surga dan disambut dengan sangat meriah oleh banyak orang yang telah lama menanti dengan harap-harap cemas.</p>
<p>Dalam hal ini bayi telah menjadi sumber kabahagiaan, menjadi matahari baru, bagi kebanyakan orang. Ada harapan dan impian memancar dari tubuh bayi. Itu pula sebabnya mengapa di banyak kebudayaan, kelahiran bayi (terutama yang berkelamin laki-laki) dirayakan secara istimewa dan penuh dengan berbagai ritual yang rumit. Dalam kebudayaan Bali, bayi laki-laki selalu ditunggu-tunggu dan disyukuri kelahirannya. Tentu hal ini akan menjadi tidak adil bagi bayi berkelamin perempuan yang tidak terlalu diharapkan.</p>
<p>Jelas di sini bahwa laki-laki selalu dianggap sebagai matahari, pelanjut keturunan dan kehidupan. Hal itu misalnya terlihat pada lukisan “New Generation” yang menampilkan tiga wajah polos bayi laki-laki menatap dunia penuh harapan sekaligus kecemasan pada kehidupan yang akan dijalaninya. Sementara itu, kebahagiaan dan kegembiraan sang ayah akan kelahiran bayi laki-laki tampak pada lukisan “Be Twin II”. Lukisan itu berkisah tentang raut senang wajah sang ayah yang tersenyum lebar ketika sedang bermain-main dengan bayi pujaannya. Sang ayah cenderung membanggakan dan mengidentikkan dirinya dengan sang bayi laki-laki miliknya.</p>
<p>Lantas apa jadinya laki-laki tanpa perempuan? Apakah generasi bisa dikembangbiakkan hanya oleh kelamin lelaki saja, tanpa kelamin perempuan? Mari lihat lukisan berjudul “Men Brayut” yang mengisahkan sosok ibu bernama Brayut (dalam cerita rakyat Bali) yang beranak banyak sehingga dirinya sendiri menjadi kurus kering tak terurus demi keberlangsungan masa depan anak-anaknya. Dalam foklore Bali, Men Brayut adalah pahlawan keluarga, tanpa pamrih melahirkan dan merawat generasi manusia. Orang Bali memercayai Men Brayut adalah lambang kesuburan sehingga tokoh ini sering dibuatkan patung dan tugu pemujaan bagi pasangan suami-istri yang tidak dikarunia keturunan. Men Brayut membuktikan peranan penting perempuan sebagai pelanjut keturunan. Rahim adalah ladang yang mesti dirawat dan dijaga oleh perempuan dan laki-laki demi benih-benih unggul yang akan disemai di sana.</p>
<p>Begitulah. Ehm, selamat menyemai benih Kun. Semoga tumbuh dan berkembang menjadi matahari baru.***</p>
<p>           </p>
<p>           <br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/11/04/menyemai-benih-melahirkan-matahari-baru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngaben Tikus</title>
		<link>http://jengki.com/2008/10/23/ngaben-tikus/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/10/23/ngaben-tikus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 08:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/10/23/ngaben-tikus/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
Apa yang anda bayangkan ketika mendengar kata “ngaben”? Bila anda  pernah  menyaksikan ngaben secara langsung, saya dapat menduga  dalam benak anda  akan muncul gambaran puluhan orang  mengusung bade (menara tempat mayat) dengan sorak sorai yang riuh diiringi gamelan baleganjur, dan upacara pembakaran mayat lengkap dengan berbagai pernak-pernik upacaranya. Memang, itulah gambaran umum tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta<br />
 </p>
<p>Apa yang anda bayangkan ketika mendengar kata “ngaben”? Bila anda  pernah  menyaksikan ngaben secara langsung, saya dapat menduga  dalam benak anda  akan muncul gambaran puluhan orang  mengusung bade (menara tempat mayat) dengan sorak sorai yang riuh diiringi gamelan baleganjur, dan upacara pembakaran mayat lengkap dengan berbagai pernak-pernik upacaranya. Memang, itulah gambaran umum tentang ngaben, yang fotonya juga dapat anda lihat dalam buku-buku pariwisata Bali.</p>
<p>Tetapi, apa yang muncul dalam benak anda bila mendengar “ngaben tikus”? Tentu anda sedikit bingung membayangkannya. Selama ini mungkin anda hanya mengenal upacara ngaben  manusia. Tidak pernah tikus diaben, layaknya manusia. Sekali lagi, mungkin, dalam anggapan anda, sangat aneh bila tikus yang dikenal sebagai binatang kotor  menjijikkan itu harus terangkat derajatnya karena mayat-mayatnya diaben oleh manusia.</p>
<p>Jasa apa yang telah dilakukan si tikus sehingga sampai mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari manusia, yang sesungguhnya tidak sedikit punya pengalaman buruk dengan tikus. Para wanita yang merasa terganggu dengan tikus tentu akan menjerit kaget, tidak senang, tidak rela, merasa aneh karena binatang yang selama ini dibenci dan dimusuhinya harus diaben, sebuah perlakuan mulia setelah mati yang hanya pantas dilakukan untuk manusia saja.</p>
<p>Tetapi, itulah Bali, selalu saja ada ritual yang unik dan menarik yang belum dikenal secara luas. Ngaben Tikus adalah salah satu contohnya. Upacara Ngaben Tikus digelar ketika wabah tikus menyerang sawah-sawah petani. Pada saat tersebut perburuan tikus berlangsung seru dan dramatis. Tikus-tikus diburu dengan berbagai cara: mengasapi lubang persembunyiannya, mengejarnya ramai-ramai, membabat semak-semak, melempari dengan batu, menembaki dengan  ketapel.  Ratusan ekor tikus berhasil ditangkap hidup atau mati.</p>
<p>Layaknya ngaben  manusia, ngaben tikus pun melalui urutan-urutan upacara yang ketat. Setelah tikus berhasil ditangkap dan dibunuh, masing-masing ekor tikus itu dipotong untuk diupacarai. Sarana upacaranya pun sama dengan sarana upacara yang dipakai pada ngaben manusia.  Bade untuk ngaben tikus dibuat bertumpang tujuh. Dalam ngaben manusia, bade bertumpang tujuh biasa dipakai oleh orang yang berkasta tri wangsa (brahmana, ksatria, waisya). Tapi itulah kreatifitas para petani di Tabanan. Ngaben tidak digelar di kuburan, tetapi di pantai karena laut dianggap sebagai sumber hama yang menyerang tanaman petani. Setelah upacara pembakaran selesai dilanjutkan dengan upacara  nganyut (membuang abu) ke laut yang dipuput oleh Ida Pedanda (orang suci Hindu).<br />
Nangluk Mrana<br />
Ngaben tikus merupakan salah satu jenis upacara Nangluk Mrana yang digelar pada waktu-waktu tertentu oleh para petani di Bali. Ngaben tikus telah ada berabad-abad lalu ketika Bali masih mengalami jaman kerajaan. Pada saat itu raja beserta rakyatnya bersatu padu menggelar ngaben tikus yang bertujuan untuk mengusir dan membasmi hama tikus yang menyerang sawah petani.</p>
<p>Ngaben tikus adalah warisan kebudayaan agraris yang pernah ada di Bali, dan bertahan terus hingga sekarang. Kebudayan agraris di Bali bersumber pada alam pikiran mistis dimana animisme, dinamisme dan budaya Hindu bercampur baur melahirkan ritual-ritual,  kesenian, tata sosial, tata nilai, dan unsur-unsur budaya lainnya.  Ngaben tikus masih dapat disaksikan pada waktu-waktu tertentu di daerah-daerah yang kebudayaan agrarisnya masih kuat, seperti di Tabanan dan Badung.</p>
<p>Dalam buku Upacara Nangluk Mrana, Tjokorda Raka Krisnu menguraikan bahwa  Nangluk Mrana berasal dari kata bahasa Bali yang kemungkinan juga mendapat pengaruh bahasa sansekerta. “Nangluk”  berarti empangan, tanggul, pagar, atau penghalang; dan “mrana”  berarti hama atau bala penyakit. Mrana adalah istilah yang umum dipakai untuk menyebut jenis-jenis penyakit  yang merusak  tanaman. Bentuknya bisa berupa serangga, binatang maupun dalam bentuk gangguan keseimbangan kosmis yang berdampak merusak  tanaman. Jadi “nangluk mrana” berarti mencegah atau menghalangi hama (penyakit), atau ritual penolak bala.</p>
<p>“Upacara Nangluk Mrana merupakan upacara permohonan kepada Tuhan agar berkenan menangkal atau mengendalikan gangguan-gangguan yang dapat membawa kehancuran atau penyakit pada tanaman, hewan maupun manusia sehingga tidak  membahayakan lagi,” jelas Raka Krisnu dalam bukunya itu.</p>
<p>Dalam lontar “Perembon Indik Ngaben Tikus”  sekilas dijelaskan bila tikus telah menjadi hama  ganas yang menyerang sawah petani, maka sebaiknya dilakukan upacara seperti mengupacarai orang mati biasa. Dan upacara hendaknya dilakukan di tepi pantai dengan cara dibakar. Namun dalam lontar itu  tidak dijelaskan secara rinci jenis upakara atau bebanten maupun tata cara pelaksanaannya.</p>
<p>Pendeta (pemimpin upacara), pemerintah atau penguasa negara beserta dengan aparat bawahannya juga ikut bertanggung jawab terhadap hama yang menyerang sawah petani. Tata cara upacaranya seperti mengupacarai orang mati biasa dan hendaknya tempat upacara di tepi pantai dengan cara dibakar. Hal ini dijelaskan sekilas dalam lontar “Sila Gama Catur Pataka.”  Malah dalam lontar “Yama Tattwa” disebutkan bahwa waktu yang paling tepat untuk melaksanakan ngaben tikus adalah pada saat gugusan bintang di langit membentuk rasi tikus.<br />
Hampir semua lontar yang sekilas menjelaskan ngaben tikus menyebut pantai (laut) sebagai tempat yang paling baik untuk menggelar upacara pengabenan tikus itu. Menurut kepercayaan orang Bali, segala penyakit dan hama bersumber dari laut selatan yang dikuasai oleh Dewa Laut, Sang Hyang Baruna. Dari laut selatan itulah segala hama penyakit disebarkan oleh Ratu Gde Mecaling (Penguasa Kegelapan) yang beristana di Nusa Penida. Bahkan Pura Masceti yang terletak di pinggir pantai di Gianyar dianggap sebagai pura yang menguasai tikus. Para petani  wajib datang ke Pura Masceti memohon agar terhindarkan dari wabah tikus yang menyerang tanaman padi mereka.</p>
<p>Waktu yang paling baik untuk menggelar upacara Nangluk Mrana adalah sasih keenam (Desember),  sasih kepitu (Januari), sasih keulu (Pebruari), sasih kesanga (Maret) yang menurut keyakinan orang Bali merupakan  bulan-bulan rawan yang penuh marabahaya. Menurut kepercayaan yang tumbuh subur di pesisir selatan Bali, pada bulan-bulan keramat itu, seperti yang telah disebutkan di atas,  Penguasa Nusa Penida, Ratu Gde Mecaling sedang gencar-gencarnya menyebarkan wabah dan penyakit ke Bali daratan. Dan pada bulan-bulan rawan itu biasanya berbagai jenis wabah penyakit merajalela. Untuk menetralkan kembali keseimbangan kosmis yang terganggu maka digelarlah berbagai jenis ritual penolak bala, salah satunya adalah ritual  Nangluk Mrana.<br />
Namun sejak tahun 1980-an ngaben tikus mulai jarang digelar. Para investor mulai menanamkan modalnya di Bali. Lahan-lahan subur petani perlahan berubah menjadi lahan kering.  Subak, sistem pengairan di Bali, banyak yang mampet karena pembuatan jalan-jalan raya beraspal yang membelah persawahan. Para petani pun terpaksa menjual sawahnya yang susah mendapatkan air kepada investor. Lalu muncullah orang kaya baru di Bali. Dan yang tragis, kebudayaan agraris yang berpuluh-puluh abad dijaga dengan keindahan tradisi oleh para petani menjadi krisis dan terkikis. Anak-anak  petani tidak mau lagi pergi ke sawah untuk menggarap sawah warisan leluhur. Mereka lebih memilih bekerja di kantoran,  hotel, restauran, dan bisnis dengan keahlian yang tanggung.</p>
<p>Terkikisnya kebudayaan agraris berdampak pada ritual-ritual pendukung kebudayaan tersebut. Upacara untuk Dewi Sri sebagai simbol tanaman padi mulai jarang digelar. Tumpek bubuh yang jatuh setiap 210 hari sekali yang merupakan ungkapan rasa syukur para petani karena dianugrahi lahan yang subur beserta tanamannya juga jarang dilakukan. Dan ngaben tikus yang merupakan  upacara Nangluk Mrana untuk mengusir dan mencegah hama tikus juga  jarang digelar.</p>
<p>Mitos  Nangluk Mrana</p>
<p>Mitos memang tidak dapat dilepaskan dari alam pikiran mistis manusia Bali.  Ada beberapa mitos yang berkaitan dengan upacara Nangluk Mrana. Namun mitos yang paling populer yang berkembang pada masyarakat Bali yang  menganut kebudayaan agraris adalah kisah I Gudug Basur dan I Bawi Srenggi.</p>
<p>Dalam mitos tersebut dikisahkan bahwa I Gudug Basur dan I Bawi Srenggi bersahabat baik. Keduanya sama-sama sakti,  lahir dari Dewa yang dikutuk hidup di dunia karena suatu kesalahan. Suatu hari mereka mendengar kabar angin tentang kecantikan  Bhatari Sri. Kabar angin tersebut membangkitkan minat kedua sahabat itu untuk sama-sama ingin memiliki Bhatari Sri. Namun mereka belum pernah bertemu dan mengenal siapa Bhatari Sri. Dikisahkan Bhatari Sri telah mempunyai suami bernama Bhatara Rambut Sedana.</p>
<p>I Gudug Basur dan I Bawi Srenggi sepakat untuk perang tanding mengadu kesaktiannya. Siapa yang menang maka dialah yang berhak nantinya memiliki Bhatari Sri. Karena sama-sama sakti maka dalam  perang tanding itu tidak ada yang menang dan yang kalah. Kemudian mereka membuat kesepakatan baru untuk sama-sama mencari Bhatari Sri dengan arah perjalanan yang berbeda.</p>
<p>Dalam perjalanan dengan arah yang berbeda itu, I Gudug Basur berhasil menjumpai Bhatari Sri lebih awal dan segera ingin merebutnya dari Bhetara Rambut Sedana. I Gudug Basur menantang Bhatara Rambut Sedana perang tanding memperebutkan Bhatari Sri. Dalam perang tanding yang seru tersebut I Gudug Basur berhasil dibunuh dengan cara menenggelamkannya ke dasar laut. Namun sebelum mati I Gudug Basur  bersumpah bahwa ia belum puas sebelum berhasil bersatu dengan Bhatari Sri,  dia akan terus memburu Bhatari Sri. Maka setelah I Gudug Basur mati jasadnya berubah menjadi garam, ikan laut dan segala isi laut. Garam dan ikan laut suatu saat akan berhasil bertemu dengan Bhatari Sri yang merupakan simbol padi (nasi) dalam satu piring. Dari sinilah muncul kepercayaan orang Bali agar jangan sekali-kali membuang-buang nasi karena nasi adalah merta atau sumber kehidupan.</p>
<p>I Bawi Srenggi yang berjalan berlawanan arah dengan I Gudug Basur juga berhasil menemui  Bhatari Sri yang telah mengubah wujud menjadi tanaman padi untuk menipu pandangan musuhnya.  I Bawi Srenggi mengubah wujudnya menjadi babi dan merusak tanaman padi di sawah.  Babi jelmaan itu berhasil dibunuh dengan bambu runcing yang terbuat dari bambu kuning. Sebelum mati I Bawi Srenggi juga melontarkan sumpah bahwa dia belum merasa tenang sebelum berhasil bersatu dengan Bhatari Sri. Kemudian bagian-bagian tubuh I Bawi Srenggi berubah  menjadi berbagai jenis mrana atau hama, yang  selalu akan menggangu tanaman padi petani di sawah. Darahnya menjadi candang api (penyakit  tanaman padi  berupa ulat-ulat kecil yang menyebabkan pucuk-pucuk padi kering), nafasnya menjadi candang aus (sejenis hama yang menyerang tanaman padi), kukunya menjadi gehep (juga hama yang menyerang padi), ekornya menjadi tikus, bulunya menjadi balang sangit, kulitya menjadi kubal (ulat kecil yang menyebabkan daun  padi keputih-putihan), hidungnya menjadi balang sengkot (sejenis serangga hama padi), dan keringatnya menjadi garam.</p>
<p>Segala jenis hama yang lahir dari jasad I Bawi Srenggi ditanggulangi dengan menggelar upacara nangluk mrana. Dan tikus yang  lahir dari penjelmaan ekor I Bawi Srenggi mendapat perhatian khusus dalam kebudayaan agraris di Bali. Tikus menurut kepercayaan orang Bali adalah jenis hewan yang mempunyai sifat negatif sangat kuat karena sebagai hama dan pengganggu rumah terutama isi dapur dan barang-barang yang disukai tikus untuk dikerat. Karena mempunyai kekuatan negatif yang merusak, orang Bali lebih hati-hati memperlakukan tikus.</p>
<p>Menurut kepercayaan orang Bali, tikus yang menyerang tanaman padi di sawah atau isi lumbung di rumah tidak boleh dicaci maki dengan kasar. Semakin tikus dicaci maki semakin merajalela mereka.  Kalau kebetulan anda bertamu ke rumah orang Bali di pedesaan dan anda melihat tuan rumah  berbicara begini: “Jro Ketut pergilah kamu dari rumah ini. Jangan mengganggu lagi!” Anda jangan mengira tuan rumah sedang mengusir manusia. Si tuan rumah sedang meminta dengan sangat hormat pada si tikus pergi dari rumahnya agar jangan menggangu lagi. Tikus mendapat sebutan istimewa dari orang Bali, yaitu: Jro Ketut. Orang Bali meyakini kalau tikus diusir dengan cara halus seperti itu kemungkinan besar (kalau tikusnya tidak bebal)  akan dengan sukarela pergi dari rumah dan tidak mengganggu lagi.</p>
<p>Begitulah, setelah cara berpikir rasional tidak mampu menyelesaikan masalah yang menimpa manusia, maka cara berpikir irasional (mistis) pun kembali mendapat perhatian. Dan alam pikiran mistis pun ada benarnya. Terbukti setelah tikus tidak mempan dibasmi dengan bahan-bahan kimia atau racun tikus, maka ritual ngaben tikus kembali mendapat tempat di hati petani.*** <br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/10/23/ngaben-tikus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gasing</title>
		<link>http://jengki.com/2008/10/14/gasing/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/10/14/gasing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 01:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/10/14/gasing/</guid>
		<description><![CDATA[dindaku, putri cermin cina,
cinta kita hanya fana
                hanya sekelumit tatap mata
ketika aku tiba di negerimu
ketika ayahandamu, sutan mambang matahari, merestui kita
ketika tuan muda selat ingin mengujiku
                 dalam permainan gasing kegemaran kami
aku tahu cinta kita akan sampai
dinda, abadi cinta kita
seperti putaran gasing
yang bukan petaka, melainkan tanda
ketika gasing itu membentur keningmu
maka keabadian perlahan terbuka
                  dan tergurat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dindaku, putri cermin cina,<br />
cinta kita hanya fana<br />
                hanya sekelumit tatap mata<br />
ketika aku tiba di negerimu<br />
ketika ayahandamu, sutan mambang matahari, merestui kita<br />
ketika tuan muda selat ingin mengujiku<br />
                 dalam permainan gasing kegemaran kami<br />
aku tahu cinta kita akan sampai</p>
<p>dinda, abadi cinta kita<br />
seperti putaran gasing<br />
yang bukan petaka, melainkan tanda<br />
ketika gasing itu membentur keningmu<br />
maka keabadian perlahan terbuka<br />
                  dan tergurat di jiwaku<br />
aku menyusulmu<br />
bukan ke pelaminan atau peraduan penuh tilam<br />
dan selimut beludru bersulam benang emas<br />
        aku menyusul hayatmu yang lenyap<br />
                       bagai asap di tungku perapian<br />
berjalan bergandengan ke negeri akhirat,<br />
                  negeri abadi yang dijanjikan</p>
<p>bila kita ditakdirkan lagi berjumpa di bumi fana<br />
maka dari seberang, dari dusun senaning<br />
aku senantiasa merindukan bayang wajahmu<br />
            jelita yang membias di tepi sungai,<br />
kepedihan yang meruap ke langit jambi<br />
            sesekali kita bisa menjenguk ayahanda<br />
yang semayam di dusun tengah lubuk ruso<br />
atau bertandang ke kampung selat<br />
            penuh harap menatap cakrawala</p>
<p>tiada lagi rasa bersalah, tiada lagi dosa<br />
sebab semua telah dinujumkan<br />
segalanya akan kembali berputar seperti gasing<br />
kita tiada paham di mana putaran itu akan berakhir<br />
kita tiada mampu meraba arah takdir<br />
               semua penuh kemungkinan<br />
sebab hidup seperti permainan gasing</p>
<p>2008</p>
<p>(dimuat di Kompas, Minggu 12 Oktober 2008)<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/10/14/gasing/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tulamben</title>
		<link>http://jengki.com/2008/09/26/tulamben-2/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/09/26/tulamben-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 06:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/09/26/tulamben-2/</guid>
		<description><![CDATA[-untuk: riki dhamparan putra-
kini  aku mengerti, saudaraku
mengapa begitu damai di sini
barisan pohon lontar itu
hening merenungi cahya senja
pasrah menerima segala titah
penghabisan
di antara batu-batu lahar itu
aku lihat bayangmu membisu
seperti karang kering yang gagu
tak ada kaktus yang mampu menepis
sisa usia di setapak jalan
menuju ladang-ladang garam
ilalang telah melepas kembang
putih kemilau
serupa wajah jelita cinta
entah kemana angin membawanya
kini aku mengerti, saudaraku
mengapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>-untuk: riki dhamparan putra-</p>
<p>kini  aku mengerti, saudaraku<br />
mengapa begitu damai di sini<br />
barisan pohon lontar itu<br />
hening merenungi cahya senja<br />
pasrah menerima segala titah<br />
penghabisan</p>
<p>di antara batu-batu lahar itu<br />
aku lihat bayangmu membisu<br />
seperti karang kering yang gagu</p>
<p>tak ada kaktus yang mampu menepis<br />
sisa usia di setapak jalan<br />
menuju ladang-ladang garam</p>
<p>ilalang telah melepas kembang<br />
putih kemilau<br />
serupa wajah jelita cinta<br />
entah kemana angin membawanya</p>
<p>kini aku mengerti, saudaraku<br />
mengapa laut timur begitu bisu<br />
seperti pertapa yang memburu wahyu<br />
aku telah paham kedalaman jiwanya<br />
lebih dari yang kau rasa</p>
<p>surga memang bukan untuk orang miskin, saudaraku<br />
namun petani tak pernah lelah membajak sawah<br />
nelayan selalu berlagu menuju laut jauh<br />
peladang garam masih setia menyaring keringat<br />
menampungnya di bilah-bilah kayu sagu</p>
<p>dan penyair tertatih sendiri<br />
menyisiri tepi-tepi hari<br />
dengan arah yang tak pasti</p>
<p>(September 2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/09/26/tulamben-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi IMPIAN USAI</title>
		<link>http://jengki.com/2008/09/09/kumpulan-puisi-impian-usai/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/09/09/kumpulan-puisi-impian-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 03:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/09/09/kumpulan-puisi-impian-usai/</guid>
		<description><![CDATA[SYAIR MAWAR
menembang bayang-bayang
        senja telanjang
di pembaringan ilalang
menguak dinding masa silam
seakan melahirkan beribu lakon
        yang belum tuntas dipentaskan
merabas belukar rimbun
menemukan sekeping bulan
tergantung di dahan palem
        aku terlalu dungu memahami
warna mawar di antara deduri
begitulah segalanya kulafaskan
satu di antara beribu warna pelangi
                    yang hampir memudar
dan senja melahirkan beribu wajah
                  pada bulan-bulan merah
(1992)
 
KASIH ILAHI
sepi merambah malam
bulan mengelupas
samaran kalam
bunga-bunga gugur
serangga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SYAIR MAWAR</p>
<p>menembang bayang-bayang<br />
        senja telanjang<br />
di pembaringan ilalang</p>
<p>menguak dinding masa silam<br />
seakan melahirkan beribu lakon<br />
        yang belum tuntas dipentaskan</p>
<p>merabas belukar rimbun<br />
menemukan sekeping bulan<br />
tergantung di dahan palem<br />
        aku terlalu dungu memahami<br />
warna mawar di antara deduri</p>
<p>begitulah segalanya kulafaskan<br />
satu di antara beribu warna pelangi<br />
                    yang hampir memudar<br />
dan senja melahirkan beribu wajah<br />
                  pada bulan-bulan merah</p>
<p>(1992)<br />
 </p>
<p>KASIH ILAHI</p>
<p>sepi merambah malam<br />
bulan mengelupas<br />
samaran kalam</p>
<p>bunga-bunga gugur<br />
serangga mengidungkan<br />
kematian alam<br />
dan kelelawar<br />
menarikan tarian purba</p>
<p>sembari mereguk kasih<br />
di tungku api perapian<br />
kupersembahkan cinta ilahi</p>
<p>(1992)</p>
<p>DI PUNCAK GUNUNG AGUNG</p>
<p>ke arah mana angin meniup<br />
pucuk-pucuk cemara<br />
membawa malam pegunungan<br />
dalam jiwa kembaraku</p>
<p>di manakah akhir perjalanan<br />
memburu musim menjelajah rimba waktu<br />
di manakah batas akhir perburuan<br />
menyusuri kegelapan ruang jiwa<br />
yang tak henti mengemban<br />
dosa kelahiran</p>
<p>tak satu pun kutemui kebenaran<br />
hingga aku bertambah yakin<br />
segala yang fana<br />
bermuara padamu jua</p>
<p>(1992)<br />
 </p>
<p>KAU TAK ADA</p>
<p>di pesisir pantai<br />
desah buih resah<br />
memeram sunyi</p>
<p>pasir galau<br />
di pusar angin<br />
jiwa rindu<br />
natap senja</p>
<p>karena cuaca<br />
perahu menuntun<br />
kenanganku</p>
<p>tiba di dermaga<br />
kau lambaikan tangan<br />
memanggil perahuku<br />
kembali ke haribaan ibu</p>
<p>namun<br />
kau tak ada</p>
<p>(1992)<br />
 </p>
<p>NYANYIAN MENARA</p>
<p>bila aku menjelma air<br />
mengikis cadas hatimu<br />
ke mana lagi akan kualirkan gelisah<br />
o, kau yang berbunga di ladang kering jiwaku</p>
<p>telah kubangun menara<br />
dari rusuk-rusukku<br />
agar kau dapat memandang lebih lapang<br />
ke dalam diriku</p>
<p>(jantungku yang kau panah<br />
masih menyisakan perih…)</p>
<p>namun apa artinya menara<br />
bila bulan pun rebah<br />
di punggung ilalang</p>
<p>mimpiku berbunga darah<br />
matahari dibutakan awan<br />
tapi jiwamu masih saja mesra<br />
lelap dalam sunyiku</p>
<p>(1993)<br />
 </p>
<p>SUARAMU DI PINTU</p>
<p>senja baru saja berangkat<br />
meninggalkan tingkap</p>
<p>kudengar ketukan<br />
di pintu</p>
<p>siapa bertamu?</p>
<p>kubuka pintu<br />
tak ada sesiapa di luar<br />
hanya desir dingin</p>
<p>aku balik ke bilik<br />
mungkin angin<br />
yang ngetuk<br />
pintuku</p>
<p>(1993)<br />
 </p>
<p>JEJAK ANGIN PADA PASIR</p>
<p>telah kuakarkan gelisah<br />
pada nadi laut<br />
hingga menghunjam kalbu bumi<br />
dan aku menari-nari memacu ombak<br />
menjaring mentari yang terlelap<br />
di pembaringan gulita</p>
<p>jukungku berlayar tanpa gairah<br />
menyusuri jejak angin dan pasir<br />
yang terlena di tengah percakapan purba<br />
dan sayap-sayap kabut<br />
menyesatkan mataku yang papa<br />
hingga aku terdampar di pesisirmu</p>
<p>(1993)<br />
 </p>
<p>PERJALANAN  </p>
<p>biarkan aku sendiri memburu sunyi<br />
pada lubuk-lubuk laut tubuhmu<br />
saat ikan-ikan gelisah dalam percintaan<br />
                           atas ranjang ubur-ubur</p>
<p>nelayan-nelayan yang menadah angin<br />
menebarkan jala-jala rindunya<br />
                       pada pusaran jantungmu</p>
<p>namun kau begitu dalam mencumbu<br />
       bayang-bayang perjalananku<br />
hingga kuda laut yang kutunggangi<br />
        tersuruk dalam ceruk sunyi jiwaku</p>
<p>(1993)<br />
 <br />
MEMBURU MATAHARI</p>
<p>matahari melintas di gigir senja<br />
hanya sampai di batas pantai ini<br />
kau tentukan langkahku<br />
hingga tebing waktu<br />
sia-sia kudaki</p>
<p>tangan-tangan gaib<br />
menampar wajahku<br />
aku terpelanting<br />
terperangkap<br />
dalam galau angin<br />
mataku meluntur<br />
laut kelabu<br />
mulut ombak menganga<br />
menerkam tubuhku</p>
<p>berwaktu-waktu kuburu matahari<br />
yang membeku dalam jantungmu<br />
namun kini tubuhku<br />
menggumpal dalam ususmu<br />
sebentar lagi habis kau cerna</p>
<p>(1993)<br />
 <br />
PANTAI CANDIDASA</p>
<p>rinduku menetas di pasir<br />
mengaca pada mata senja<br />
kulihat bocah-bocah telanjang dada<br />
berlari membawa kabar ombak</p>
<p>tubuh jukung menggeliat lelah<br />
setelah semalaman mendulang kasih</p>
<p>rinduku melaut biru<br />
menghitung debur waktu<br />
yang menghanyutkan bayanganmu berlalu</p>
<p>wajahmukah itu, terhampar di biru lautan<br />
dengan senyum melarutkan kenangan</p>
<p>rinduku terhempas di pasir<br />
ombak menepi menggoreskan luka<br />
di akhir lepas senja</p>
<p>tubuh jukung luluh<br />
dalam lenguh buih</p>
<p>(1993)<br />
 </p>
<p>TUBUHKU HILANG</p>
<p>senja pucat<br />
matahari<br />
lenyap<br />
di pusar kabut</p>
<p>dari atas bukit<br />
bocah bocah<br />
mengusung bulan</p>
<p>aku bersorak girang<br />
tubuhku hilang<br />
ruang remang</p>
<p>(1993)<br />
 </p>
<p>MEDITASI</p>
<p>mengarungi samudera putih cuaca<br />
nelayan mengolah ombak<br />
                    mengayuh biduk</p>
<p>pulau samar di kejauhan<br />
         bulatan tiram-tiram pasir<br />
adakah lubuk persembunyian<br />
          bagi ikan-ikan yang luput<br />
                         dari pukat nelayan</p>
<p>pengembara-pengembara dunia seberang<br />
            menyusuri lumut dan batu karang</p>
<p>akarmu akarku satu<br />
berpaut dalam laut<br />
            aku mekar<br />
                    aku bunga api<br />
             aku ubur-ubur cahaya<br />
berenang menuju teduh<br />
             samuderamu</p>
<p>(1994)</p>
<p>PEREMPUAN</p>
<p>rambutmu perempuan<br />
             kau gerai atas ombak<br />
pasir-pasir memeram resah<br />
dalam jiwaku menjelma sajak</p>
<p>bibirmu perempuan<br />
        kau lekatkan pada kangen<br />
hutan-hutan basah dalam hujan<br />
                  menjelma kenangan<br />
menjadi sungai<br />
                       mengaliri nadiku</p>
<p>perempuan dalam irama angin<br />
menari bersama bunga-bunga senja<br />
               yang luruh ke tengah jiwa</p>
<p>diri pun hampa<br />
pada senyum fana</p>
<p>(1994)</p>
<p>TERBAKAR API SUCI</p>
<p>ia yang terkutuk<br />
dari pintu ke pintu<br />
         diam dalam bisu langit<br />
kering dalam ladang-ladang hati</p>
<p>lewat lubang angin<br />
         lewat lubang jasad<br />
ia melintasi perih<br />
         luka pembuangan</p>
<p>lihat, kucing hitam mabuk<br />
         dalam rohnya<br />
mengais-ngais urat darahnya</p>
<p>dalam perih<br />
         luka pembuangan<br />
ia terbakar api sucinya</p>
<p>(1994)</p>
<p>LAUT JIWAMU</p>
<p>laut dalam jiwamu<br />
menyanyikan resah bagi musim<br />
         dan malam kekosonganku<br />
kau bangkitkan kenanganku<br />
          mendaki perbukitan hijau<br />
yang terhampar pada dadamu</p>
<p>di mana kau sembunyikan wajah sungai<br />
       yang dulu bermuara pada jantungku<br />
ketika kau tersedu sejauh pelayaran<br />
           karena rindu tak pernah berlabuh</p>
<p>kau perahu dalam lautmu<br />
        senantiasa merenungi angin<br />
yang menghempaskan musim<br />
                     ke pangkuan pantai</p>
<p>(1994)</p>
<p>AMSAL BATU APUNG</p>
<p>dari atas bukit<br />
terlempar aku<br />
ke sungai</p>
<p>di muara<br />
anak-anakmu<br />
memunguti diriku<br />
mengusungku<br />
ke atas bukit itu<br />
lalu melemparku<br />
kembali<br />
ke sungai ini</p>
<p>selalu aku<br />
terdampar<br />
pada muara<br />
yang sama</p>
<p>(1994)<br />
 </p>
<p>TAKDIR SUNYI</p>
<p>mesti berapa musim lagi<br />
kujelmakan takdir ini</p>
<p>takdirku senantiasa bernama adam<br />
yang kesepian sejauh perih waktu<br />
burung-burung tersesat<br />
bermusim-musim dalam alir nadiku</p>
<p>pada bening keningmu aku bercermin<br />
meneliti guratan masa silam<br />
yang ranggas bersama buah-buah kutukan<br />
         o, begini buruk rupaku!?<br />
angin liar menampar kesangsian<br />
aku makin asing dari wajahmu</p>
<p>mesti berapa musim lagi<br />
kujelmakan takdir ini</p>
<p>ular-ular bersarang dalam nafsuku<br />
mengerami telur-telur hawa<br />
dan dosa semakin hangat<br />
dalam dekapan takdir sunyi ini</p>
<p>(1994)</p>
<p>HIDUP HANYA KEKOSONGAN<br />
                   –untuk: k.s.–</p>
<p>kurelakan kau pergi<br />
setelah cukup lama kita<br />
bergandengan tangan<br />
membentang hari<br />
di taman melati</p>
<p>terbang kau bersama abu<br />
membawa dunia milikmu</p>
<p>mengapa berduka?<br />
akhirnya kita<br />
mesti menerima<br />
maut itu</p>
<p>—hidup hanya kekosongan<br />
di luar dan di dalam jagat ini—</p>
<p>senyumlah<br />
sambut mentari baru di dunia baru<br />
aku pun senyum melepasmu<br />
bersama kidung ombak<br />
menuju samudera cahaya</p>
<p>(1994)</p>
<p>TAMAN BUNGA</p>
<p>aku lahir<br />
sebagai serbuk sari<br />
angin menuntunku<br />
menuju kepala putik</p>
<p>sudah nujuman<br />
aku mesti mengigau<br />
sendiri melintasi nyanyi serangga</p>
<p>tiba pada mimpi kepala putik<br />
siul angin meresap ke dalam dahan<br />
           pohon bunga<br />
menjadi apa aku dalam taman ini</p>
<p>kami damai dalam satu taman<br />
           tapi mengapa angin<br />
mematahkan kepala putik</p>
<p>pemilik taman<br />
memanen air matanya</p>
<p>sebagai serbuk sari<br />
aku hanya bisa berduka<br />
                     pada angin</p>
<p>(1995)</p>
<p>KESIMAN</p>
<p>malam. burung kenangan<br />
      sayap-sayap pilu<br />
termangu di sudut jalan<br />
      di muram cuaca<br />
      menyulam bayang<br />
masa silamku<br />
lembut tangan mawar</p>
<p>di banjar tohpati<br />
bulan dengan rambut tergerai<br />
menunggu lelaki pengembara<br />
yang berumah dalam kata<br />
       akankah tiba<br />
malam dalam genggaman mawar<br />
burung kenangan. simpanan sunyi<br />
               fajar matahari</p>
<p>(1995)</p>
<p>MUARA WAKTU</p>
<p>dari darah dan air mata<br />
aku susuri jalan yang kau buka<br />
dengan perih. di lengan malam<br />
kau panjatkan diam<br />
       aku tengadah kaku:<br />
bintang meluncur menuju<br />
                    muara waktu<br />
dari mana aku<br />
mau ke mana aku</p>
<p>kau menyembul dari rekah tanah<br />
menjelma kematian dalam kematian<br />
tangis bayi di lapar mulut malam<br />
melebur haruku pada arus terakhir nafasmu</p>
<p>       siapa akan meruwat<br />
       jagat yang sekarat?</p>
<p>biarkan aku mengigau<br />
sampai jauh memburu jejak kasihmu<br />
hingga batas penghabisan hayatku<br />
biarlah bintang yang jadi isyarat perjalananmu<br />
lebur dalam kering nadiku</p>
<p>dari darah dan air mata<br />
aku berkayuh<br />
menuju muara waktu</p>
<p>(1995)</p>
<p>PUISI DARI SUNGAI</p>
<p>pada bening sungai<br />
berkali-kali kuterka wajahmu<br />
         ada yang berubah selalu</p>
<p>dari kehijauan hati<br />
         kekasih tiba<br />
kenangan berkilau<br />
                    pada mahkotanya</p>
<p>pada bebatuan dan gemercik air<br />
sepasang ikan memeram harum lumut</p>
<p>o, jiwa biru<br />
patahan kayu yang dituntun sungai<br />
                         dari mana aku bermula?</p>
<p>segalanya akan tua<br />
                  namun aku ingin seperti ikan<br />
          bercinta dalam teduh sungai<br />
tak peduli sang pengail selalu mengintai</p>
<p>bila saatnya tiba<br />
           aku pun patahan kayu<br />
yang dituntun sungai<br />
           menuju muaramu</p>
<p>(1995)</p>
<p>KAU KUTUK SUNYI JADI BATU</p>
<p>telah kususuri            <br />
setapak sajak<br />
yang dulu kau lalui<br />
sembari mereguk arak<br />
atau mengulum kuntum<br />
               bunga rumput</p>
<p>di batas cemas<br />
        aku terjaga<br />
dan bergegas</p>
<p>tiba di gubugmu<br />
terpukau aku<br />
kembang lalang<br />
sempurna mekar<br />
       kesuir angin<br />
dan jejak basah hujan<br />
       candi tua<br />
              dan matamu<br />
       pucat senja<br />
menunggu waktu<br />
       luruh<br />
dalam tubuh</p>
<p>o, jiwa berlumut<br />
kau kutuk sunyi<br />
                jadi batu<br />
bekal pendakianku<br />
        menuju puncak<br />
paling nikmat<br />
        paling laknat</p>
<p>(1995)</p>
<p>KUSAMBA</p>
<p>deru laut luruh<br />
memucat batinku</p>
<p>pesisir hanya angin<br />
gerai rambutmu bergulung biru<br />
jukung kecilku berkayuh di situ<br />
           ada yang sirna<br />
jerit anak camar gemetar menunjuk kelam<br />
           melempar sunyiku ke gubug garam</p>
<p>dalam dadamu muara lenyap<br />
kau pasir yang lupa tanah<br />
ombak merangkak<br />
memulung sisa kenangan<br />
yang membuih di licin tubuhmu</p>
<p> sia<br />
 sia</p>
<p>nafasku sesak dicumbu waktu<br />
duka mengental<br />
melukis langit wajahmu</p>
<p>senja surut<br />
tubuhmu<br />
tubuhku<br />
menguap<br />
jadi garam</p>
<p>(1995)<br />
 <br />
TOYABUNGKAH<br />
–buat: s.t.a.–</p>
<p>dari jantung malam<br />
lirih angin menyeru angan<br />
penari berbibir embun<br />
membujukmu memasuki<br />
lorong hening</p>
<p>o, kabut yang mengurai rambut<br />
               di lembah batur<br />
berapa sudah bibir embun<br />
sesat dalam mulut malam?</p>
<p>peluh tubuh penari letih<br />
menguap bersama lapar<br />
dan lelah pendakian</p>
<p>kabut mencumbu danau<br />
penari merintih<br />
                perih<br />
mengekalkan malam<br />
di jiwamu lebam</p>
<p>(1995)</p>
<p>LINTAS BATAS</p>
<p>di batas jiwa<br />
aku terjaga</p>
<p>telah kuarungi sunyi<br />
yang dulu kubangun dari<br />
kuntum-kuntum bunga karang<br />
tiba di pintu ombakmu<br />
tertegun aku dalam nyanyi musim<br />
sepucuk rindu hanyut</p>
<p>masih adakah bunga karang<br />
                     yang mewangi?<br />
desah ombak mengeja jejakmu basah<br />
tiba di dermaga<br />
kenanganku mengabur</p>
<p>dalam matamu desir senja suntuk<br />
menghitung dingin yang ranggas<br />
menimbun puing-puing silam<br />
semakin mendendam rindu</p>
<p>akankah kau ikuti jejak sunyiku<br />
menembang puisi-puisi bisu tanpa keluh</p>
<p>dengan debur laut di jiwa<br />
kita terima kesunyian<br />
sebagai bunga karang<br />
bekal pelayaran menuju arah<br />
paling perih</p>
<p>(1995)<br />
 <br />
USAI TARIAN</p>
<p>lirih tarian kecak<br />
meluruhkan lakon-lakon<br />
                 hanyut entah ke mana</p>
<p>sesekali dengan diri<br />
kita saling tak mengerti<br />
tak tahu arah yang mesti ditempuh<br />
       usai perjalanan meletihkan ini</p>
<p>lumat masa lalu. basuh luka<br />
       dan rasakan<br />
esok entah berupa apa</p>
<p>keasingan manusia,<br />
gubug lusuh di sudut senja<br />
keengganan memancar<br />
        deraan takdir<br />
sandiwara tanpa jiwa</p>
<p>basuh kenangan<br />
lumat kekasihmu</p>
<p>suara kecak luruh<br />
             senja lirih<br />
melarung rama<br />
            dan sita</p>
<p>ngalir ke barat. ke barat<br />
         hanyut entah ke mana…</p>
<p>(1996)<br />
 </p>
<p>IBU</p>
<p>tak perlu kau risau, ibu<br />
jejak langkah cintaku telah terhenti di sini<br />
selalu saja ada bagian dari mimpiku<br />
                   yang lindap di jalan-jalan kota</p>
<p>ibu, dengan kasih apa kau asuh aku<br />
belajar paham akan cinta bumi<br />
mempersembahkan ketulusan hati<br />
bagi mereka yang selalu merasa lapar</p>
<p>jalan mana lagi mesti kutempuh<br />
sebagai pecinta sekaligus pesakitan<br />
              aku telah merasa paham<br />
sebagai bagian dari semesta alam</p>
<p>biarlah aku di sini, ibu<br />
tak perlu kau risaukan lagi aku</p>
<p>(1996)</p>
<p>IJOGADING</p>
<p>yang sunyi di sini<br />
dibawa bunga hanyut<br />
          susuri sungai karma</p>
<p>ijogading. ijogading. ijogading<br />
alir air hayat bumi makepung<br />
        aliri lara rindu lebai<br />
rerimbun pohon pantun di pasisi<br />
memukat kenangan nelayan</p>
<p>menyimak cengkerama kunang-kunang<br />
                      di langit malam ijogading<br />
bulan sabit menoreh sauh jiwa<br />
                  saat batin zikir sembahyang</p>
<p>loloan timur. ijogading. loloan barat<br />
nyaman abadi dipangku anak dara<br />
rumah panggung memeram hangat tubuhku<br />
si lebai perindu yang merinding haru<br />
                          dengar burdah syair</p>
<p>lebai. ijogading. lebai<br />
mengalir masuk nadimu<br />
                     pusat ilham hayati<br />
melepas jangkar rindu<br />
melabuh diri di pangkuan bumi</p>
<p>ke muara. ke muara<br />
         lepas perjalanan<br />
menemu haru cuaca</p>
<p>(1996)</p>
<p>LOVINA</p>
<p>dan camar dan laut dan lumba-lumba<br />
          membagi air matanya bagi kita</p>
<p>pada desir senja<br />
pohon ketapang muda mengigau<br />
                   melepas usia pasir garam</p>
<p>aku dipukau laut di matamu<br />
penuh pusaran tak terduga<br />
         ada yang asing<br />
terlalu aku mengenal laut<br />
        terlalu rindu terlalu dungu<br />
                     terlalu pelabuhan</p>
<p>daun ketapang muda luruh<br />
          angin betina<br />
menyeretnya ke tengah ombak</p>
<p>ada apa dalam diriku<br />
sesuatu menyungkupi batin</p>
<p>lovina, tak tahu aku<br />
              dengan apa mesti<br />
kuabadikan pertemuan ini<br />
         dengan puisi tak jadi<br />
atau dengan lagu pilu</p>
<p>satu hal telah pasti<br />
kita akan kembali<br />
pada sunyi diri</p>
<p>lovina, tak tahu aku<br />
apa yang mampu kulakukan<br />
           bila memuncak rindu</p>
<p>jaga dirimu<br />
dan kenangan kita</p>
<p>(1996)</p>
<p>JIMBARAN</p>
<p>kau bikin aku gila<br />
bentangan bukit kapur<br />
            lintasan hutan bakau<br />
yang dalammu sembunyi<br />
                       perawan puisi</p>
<p>beri aku asin laut<br />
agar lepas hausku mengulum rindu<br />
             telah tiba segalanya<br />
             mainan takdir<br />
                           tanpa akhir</p>
<p>aku penunggang angin payau<br />
datang dari timur<br />
             letih ngembara jauh<br />
beri aku berteduh di gubug garammu<br />
             biar sempurna kelahiranku<br />
sempurna aku bernama manusia</p>
<p>             kau bikin aku gila,<br />
             bunga manja…</p>
<p>sebelum angin barat menebar benih<br />
              atas bukit kapurmu<br />
bila susah aku menjangkaumu<br />
              aku tetap menunggu<br />
              sampai akhir waktuku</p>
<p>(1996)</p>
<p>PESISIR JIMBARAN<br />
    –buat: a.e.s.–</p>
<p>di tanah cuaca tanah tropika<br />
          kita terlahir<br />
menuntun perjalanan sebuah sejarah</p>
<p>ayu, terlalu banyak saudara kita<br />
                     yang jadi berjiwa budak<br />
           terlalu banyak<br />
tak henti angin asing datang gemuruh<br />
menggusur tanahmu, rawa bakaumu,<br />
           bukit kapurmu, pasir putihmu</p>
<p>mereka renggut<br />
          purnama yang terbit<br />
dari indah mata bersitatap<br />
          redup saat laut surut:<br />
di rawa-rawa, di bakau-bakau<br />
          di karang-karang, di pasir-pasir<br />
hotel-hotel menjalar bagai parasit</p>
<p>          terlalu banyak<br />
          yang tak bisa hidup sahaja</p>
<p>di pesisir ini, ayu, kita rindu nelayan berlagu<br />
           pulang dari laut jauh<br />
kita kenang penyu bertelur saat bulan penuh<br />
kita kangen manggang ikan di bawah gemintang<br />
bercengkerama dengan angin garam<br />
                                    di malam langit jimbaran</p>
<p>           kita hanya bisa kangen<br />
           tak mampu berbuat apa</p>
<p>namun ada kupunya mimpi<br />
        menjaga tanah bali<br />
dalam rangkuman kasih puisi</p>
<p>(1996)<br />
 <br />
PURA LUHUR ULUWATU<br />
 </p>
<p>beratus-ratus tahun<br />
ketika sunyi kali pertama<br />
tersentuh tangan sang kawi<br />
suara tekukur di bukit kekeran<br />
masih saja karib dengan tangga-<br />
                 tangga batu berlumut<br />
dengan kera-kera penjaga<br />
        kawasan dewataku</p>
<p>sayup-sayup laut melantunkan<br />
        mantram gayatri<br />
bunga-bunga kamboja suci<br />
aroma lumut tangga batu<br />
        dan debur ombak<br />
mengantar kembara doaku<br />
hingga ke tebing karang<br />
        hingga ke kerang semadi</p>
<p>lewat sudah ratusan tahun<br />
bunga-bunga pudak masih saja<br />
wangi dalam kakawin sang kawi<br />
Nirartha semadi dalam kerang mutiara<br />
dari pantai ke pantai menetaskan sunyi<br />
                       di pesanggrahan dewata<br />
tempat kesuir angin menemu Ibu</p>
<p>(1997)<br />
 </p>
<p>SITUS CANDI GUNUNG KAWI</p>
<p>bayangan candi:<br />
         wujud masa silam yang meleleh<br />
ke dalam genang kenangan bocah gembala<br />
         penggalan kepala patung terjatuh<br />
menilik senja<br />
menebar pesona wangi yang raib<br />
menjalar dalam alir nadiku<br />
         sungguh terasa sunyi<br />
menelusuri setapak berliku,<br />
         setapak masa silam<br />
yang meranggaskan aku ke bumi<br />
                beribu-ribu kali<br />
seperti penggalan kepala patung itu,<br />
menjelma brahmana, ksatria, waisya, sudra, paria<br />
         kulakoni semua itu<br />
hingga tiba pada sebuah telaga,<br />
aliran tiga mata air dewa<br />
         ke situ Kau tuntun aku<br />
         bagai keledai dungu<br />
membasuh wajah, tangan, kaki<br />
         melebur jiwa<br />
dalam wangi bunga, harum dupa, hening tirta<br />
         hingga mayadenawa, dewa dewi, bianglala<br />
menguap bersama gemerincing uang kepeng dan<br />
                                        taburan dolar para peziarah<br />
          sungguh terasa sunyi<br />
sendiri menciumi wangi tubuhmu, arca batu<br />
pahatan purba yang bangkitkan sayup-sayup kenangan<br />
          nelangsa doa:<br />
                 aku asing di mataMu<br />
                 Kau asing di mataku<br />
namun selalu kita saling belit<br />
serupa sepasang naga kasmaran<br />
           tunggal<br />
           hening</p>
<p>di antara gurat dan retak candi<br />
bayang-bayang tubuhMu meleleh<br />
            di jalan setapak<br />
menjelma embun<br />
memisahkan dunia gaib kita<br />
           <br />
satu hal yang kekal:<br />
aku terperangkap dalam ruang dalam waktu<br />
karena karma, karena punarbhawa<br />
tak paham kapan awal kapan akhir letih ini</p>
<p>tapi yakin,<br />
kerinduan kepada Ibu,<br />
mula denyut waktu<br />
lebih suci dari beribu sajen beribu upacara<br />
yang menuntaskan wujudmu,<br />
o, candi-candi tua<br />
arca-arca dewa<br />
semua meleleh<br />
bagai cairan darah tabuh rah<br />
meleleh ke palung paling kasih<br />
                             dari hidupku</p>
<p>(1997)</p>
<p>PEREMPUAN KUPU-KUPU</p>
<p>perempuan tua itu menjelma kupu-kupu<br />
lalu membelit menjadi ular. lalu<br />
menguap jadi embun. lalu<br />
tumbuh menjelma bunga. lalu…</p>
<p>gadis mungil memetik bunga<br />
dulu ia seorang nenek renta</p>
<p>dari tepi sungai kulihat perempuan belia<br />
mencuci kenangan. membelai ranum payudara<br />
dan samun turun membungkus tubuhnya</p>
<p>hanya puisi di sini. hanya<br />
samun. perempuan tua itu<br />
bicara padaku perihal kupu-kupu<br />
yang tumbuh menjelma bunga</p>
<p>(1997)</p>
<p>BUYAN</p>
<p>        kabut:<br />
jiwa nelangsa yang perlahan turun<br />
menyungkupi sepasang bukit mungil dan<br />
        dua ekor walet yang menari di udara<br />
menghayati getar dingin<br />
                     dan getir pertemuan</p>
<p>puncak keindahan:<br />
                             kematian kecil<br />
yang merayap di celah rumpun perdu<br />
mengintip senja penyap di bibir mawar<br />
lalu malam muncul dari pejam matamu<br />
membuka kanal yang membuih dalam diri</p>
<p>         malam di perkemahan<br />
si terkutuk mengendap di rerumputan<br />
meliuk ke dalam liang tikus hutan<br />
yang mendadak basah seperti embun<br />
                                pada kelopak perawan</p>
<p>         o, kemurnian hari<br />
kembali mengingat wajah sendiri<br />
                             penuh luka<br />
dan pada terang unggunan api<br />
pagi tiba membawa sampan-sampan<br />
yang menanti kenangan<br />
                 kembali menepi</p>
<p>(1997)</p>
<p>HUTAN CEMARA</p>
<p>hanya ular di rerimbun<br />
             daun cemara. mendesis<br />
pun kabut di hati kita. mendesis</p>
<p>“tuangkan desis itu lekas<br />
             ke dalam hausku!”<br />
                            rintihmu</p>
<p>kita peluk kabut<br />
cemara menggumam:<br />
                            khuldi! khuldi!<br />
kau lelap. tidurmu masih<br />
             memeram gelora gairah<br />
yang kuhembus dari rusukku</p>
<p>bila kau cemara dari beribu cemara<br />
            akulah pokok purba<br />
yang membawamu sampai puncak</p>
<p>pendakian nyaris sempurna<br />
selebihnya: malam cemas<br />
             kabut sesat<br />
ular tidur dalam ceruk<br />
             jiwa kita</p>
<p>(1997)</p>
<p>PELABUHAN BULELENG</p>
<p>saat mengulum pasir<br />
laut tertegun di bibirmu</p>
<p>muncul jenuh yang indah<br />
membenamkan diri<br />
menghayati<br />
cahaya senja yang meleleh<br />
di belahan bukit mungilmu</p>
<p>pada batas tatap mata<br />
tak pernah kita pahami<br />
sampai di mana jiwa letih ini<br />
memeram doa<br />
menuntun mata hati</p>
<p>tubuh kita menyala<br />
terbasuh warna keemasan senja<br />
ombak memerciki wajah<br />
sekali waktu kita<br />
seperti tak terpahami</p>
<p>tengadah ke langit silam<br />
mata pucat menganga<br />
sepasang burung laut<br />
telah melewati<br />
malam pengantinnya<br />
namun sayap-sayap itu<br />
menjadi letih<br />
dalam sangkar keramat<br />
sang waktu</p>
<p>nelayan mengemas jala<br />
perahu-perahu mengandaskan diri<br />
aku ombak, kau laut<br />
aku laut, kau ombak<br />
kita terhempas dari pelabuhan<br />
ke pelabuhan<br />
setandas-tandas usia</p>
<p>(1997)</p>
<p>BERMALAM DI TOYABUNGKAH</p>
<p>dan kita buka percakapan<br />
dengan kopi hangat dan<br />
         kenangan pendakian</p>
<p>cemara bangkit menuju danau<br />
namun aku lebih silau<br />
pada bayang bulan<br />
yang menenun tanya<br />
pada matamu:<br />
                  di mana batas pasti<br />
          antara kabut dan malam?</p>
<p>jalan ini bermuara<br />
di keheningan danau<br />
sebagai bongkahan lahar beku<br />
aku lebih memilih<br />
menjerat dan melepas<br />
bunga-bunga rumput<br />
                        menjadi sayap<br />
beribu sayap kabut</p>
<p>o, danau kelabu<br />
telah lama kau jadi kopi hangat<br />
dalam gelas para pendaki letih<br />
sedang aku tetap lahar beku<br />
dalam permainan lugu<br />
                           bunga rumput</p>
<p>(1997)</p>
<p>MALAM PENGANTIN PESISIR SERANGAN</p>
<p>setapak jalan bakau<br />
kubangan lumpur setinggi betismu<br />
                             kususuri<br />
tiba pada matamu teduh,<br />
pantai biru dan hutan bakau<br />
melantunkan jerit manis<br />
                      malam pengantin</p>
<p>pagi beranjak siang dan<br />
akhirnya berangkat senja</p>
<p>pun laut pasang surut<br />
dalam kuluman-kuluman lembut<br />
yang mencandu kesadaranku<br />
lalu jenjang lehermu<br />
                          lalu bulan semu itu</p>
<p>dalam nikmat sunyi<br />
            puisiku lahir<br />
namun liang-liang kepiting<br />
               penyu-penyu hijau<br />
                           telah tergusur<br />
bentangan hijau lapangan golf</p>
<p>genangan payau,<br />
bau amis ikan-ikan keracunan<br />
kubangan lumpur. endapan<br />
segala kotoran. semua itu<br />
mengganggu malam pengantinku<br />
                       di pesisir serangan</p>
<p>(1997)</p>
<p>DI JIMBARAN AKU MENGENANGMU</p>
<p>mengenangmu<br />
laut hasrat akan paras bulan<br />
namun hanya pendaran<br />
lampu-lampu restoran<br />
merambati mimpi nelayan</p>
<p>kureguk nafas laut<br />
yang dulu memberimu gairah<br />
yang ngingatkan aku legam rambutmu<br />
aroma harum bunga pandan</p>
<p>mengenangmu, pasir putih<br />
jukung-jukung membusuk<br />
di bawah temaram lampu-lampu kafe<br />
ombak membuih di gurat tangan nelayan<br />
yang melepuh melabuhkan subuh<br />
pada mata bocah-bocah pantai</p>
<p>sungguh sunyi seperti ubur-ubur<br />
menyengatku dengan racun laknatnya<br />
tertatih menyusuri pasir putihmu<br />
beribu camar jenuh menabur doa<br />
di gua-gua rahasia tepi pantaimu</p>
<p>(1997)</p>
<p>PANTAI SENGGIGI</p>
<p>lebih dari beribu puisi tak mampu<br />
membekukan kenangan itu<br />
camar-camar tak sampai<br />
melabuhkan matahariku<br />
                          di pantaimu</p>
<p>ombak pun luluh jadi buih<br />
kembali pulang ke sarang air<br />
           biru.biru.biru<br />
angin murah hati menggambar<br />
bayangmu di hampar pasir</p>
<p>rambutmu makin biru<br />
           gerai, gerailah<br />
biarkan aku mabuk di situ<br />
berkendi-kendi anggur keabadian,<br />
sulingan perih air mata pantaimu<br />
           tandas kureguk. tandas!</p>
<p>(1997)</p>
<p>CATATAN REKLAMASI PANTAI SERANGAN</p>
<p>bagaimana aku jelaskan<br />
rasa luka itu padamu<br />
kau telah paham<br />
lebih dari yang kurasa<br />
warna-warni lampu proyek reklamasi<br />
dari tempat kita duduk<br />
begitu memesona<br />
kau tentu tahu<br />
begitu banyak korban di situ<br />
dari mahkluk yang paling papa<br />
hingga dewa-dewa jagat ini<br />
tergerus kenyataan pahit<br />
yang berwajah anggun pariwisata</p>
<p>kita hanya bisa saling pandang<br />
dalam perih yang senantiasa berulang<br />
rapatkan tubuhmu lebih hangat ke dadaku<br />
aku ingin rasakan bagaimana kau<br />
bernyanyi tentang jiwa yang letih<br />
sebelum kita saling yakin<br />
ada bagian dari hidup kita<br />
yang senantiasa basah oleh luka</p>
<p>tentu kau pun tahu<br />
kenangan yang kembali<br />
mempertemukan kita di pantai ini<br />
merasakan pedih desah ombak<br />
yang tak berdaya dengan diri sendiri<br />
pun karang-karang kapur itu<br />
hanya saja kita berusaha paham<br />
ada ihwal yang pecah antara<br />
jarak tatap mata kita<br />
hingga kangen meluncur dari bibirmu<br />
basah oleh kenangan<br />
setandasnya kukucup<br />
sebelum deru mesin proyek reklamasi<br />
melecut kesadaran kita<br />
: pantai cinta ini telah memadat<br />
jadi hamparan kapur</p>
<p>(1997)</p>
<p>LELAKI SUNYI<br />
   –buat: w.w.–</p>
<p>gigilmu itu bukan karena hujan<br />
                 bukan dingin<br />
namun lebih urai kenangan</p>
<p>sesungguhnya siapa kau,<br />
lelaki bertudung daun pisang<br />
yang sendiri di bawah derai rinai</p>
<p>sekuntum bianglala rekah<br />
terhimpit di celah indah<br />
payudara yang pasrah<br />
 <br />
lalu rinai luruh<br />
tumbuh jadi puisi<br />
pulihkan letihmu</p>
<p>di basah aspal jalan<br />
kau kacakan wajah<br />
segurat kenangan<br />
sekelumit kisah<br />
perawan rawan</p>
<p>kau ilusi<br />
dibuai puisi</p>
<p>pelita jalan. pelita jalan<br />
peluklah. pukaulah selalu<br />
           lelaki sunyi<br />
yang tak habis-habis mengurai<br />
                       nujuman tua itu</p>
<p>(1997)</p>
<p>TAMAN TAK BERBULAN</p>
<p>bangun dari tidur bertahun<br />
jiwa adalah angin<br />
mengurai hening buluh angan</p>
<p>di taman tak berbulan<br />
mimpi mawar mekar<br />
hari-hari meluruh<br />
jadi benih-benih sunyi<br />
yang tak jenuh kau semai</p>
<p>kenangan<br />
burung malam<br />
berbulu kelam</p>
<p>di taman tak berbulan<br />
suatu waktu jejakmu kikuk<br />
diseret angin sesat<br />
larut dalam kabut</p>
<p>malam rinai<br />
mimpi abadi<br />
di pintu puri</p>
<p>(1998)</p>
<p>SATU PERAHU</p>
<p>biarkan perahu kita mengalir<br />
           menurut kehendak air<br />
kayuh perlahan saja menuju hilir<br />
kita nikmati anggrek bulan mekar<br />
ikan-ikan riang<br />
                     menari di air bening</p>
<p>kau mesti mengerti bahasa sungai<br />
agar jiwamu terbuka akan segala yang abadi<br />
pegang tanganku agar kau lebih merasakan<br />
         rahasia puisi yang merambati<br />
              embun di daun-daun pinggir sungai</p>
<p>kau lihat dua ikan yang berenang riang itu<br />
mungkin mereka sepasang kekasih<br />
         aku ingin seperti ikan<br />
hidup di bawah teduh sungai<br />
                         bersama dalam damai</p>
<p>genggam tanganku lebih erat<br />
biarkan perahu kita hanyut<br />
            menurut kehendak air</p>
<p>(1998)</p>
<p>TAMAN SEROJA</p>
<p>sejauh itu kau tabur<br />
                    beribu cahaya<br />
yang bagai kunang-kunang<br />
menyeret diri selarut malam<br />
saat kami menuju kedamaianmu</p>
<p>jangan lontarkan kata<br />
apa makna kami bersama<br />
selalu membujuk tanya untuk<br />
jawab yang jenuh kami jebak</p>
<p>kami jadi bagian dari malam<br />
sebab kami lahir dari pagi<br />
           harum embun<br />
yang memeram melodi sendiri<br />
seperti kau peram sunyimu sendiri</p>
<p>jangan luncurkan jerit<br />
yang seperti siluet burung malam<br />
ke tengah raut demi raut wajah<br />
yang penyap sebelum kami ada</p>
<p>pada paras malam bergerimis<br />
          bulan seperti menangis<br />
sebentuk tangan mungil terulur<br />
                    ke dalam miris udara<br />
ingin raih wajah kami<br />
                    yang telah kabut</p>
<p>kami bebaskan diri<br />
dari riuh hidup sehari hari<br />
masuk ke celah kelopak seroja</p>
<p>kamilah malam<br />
kamilah kalam<br />
kebebasan kami<br />
seribu seroja<br />
di telaga</p>
<p>(1998)<br />
 </p>
<p>MALAM PURNAMA</p>
<p>dari dahan kamboja<br />
kau julurkan tangan<br />
                  ingin raih bulan</p>
<p>bunga seroja di telaga<br />
melempar lengking tangis bayi ke udara<br />
malam mengambang pada mata perempuan<br />
aku terkenang mata kucing hitam<br />
seorang pemabuk membual di tepi telaga<br />
mengutuki bulan, merayu malam<br />
dan akhirnya memaki diri sendiri<br />
           tapi kita juga pemabuk<br />
sebuah sandiwara selesai menjelang senja<br />
           aku terkenang kekasih<br />
                          yang menguap jadi udara</p>
<p>tapi kita juga pemabuk<br />
        menenggak apa saja<br />
                             memuntahkan apa saja<br />
mulut malam yang manis<br />
melempar kata-kata umpatan<br />
bulan resah, perempuan melenguh<br />
        udara pucat<br />
gemetar mendengar igaumu</p>
<p>sungai mengalir tenang di kaki seorang ibu<br />
aku ingat perjalanan dari kota ke kota<br />
        di kotamu aku pernah bahagia<br />
di bawah siraman cahaya neon kita makin fana</p>
<p>pemakaman ditutup dengan mantra<br />
                                 dan sedikit aroma arak<br />
aku terperangkap dalam doa-doa<br />
                    yang meluruhkan seluruh rusuk</p>
<p>kau ingin raih bulan itu?<br />
lenguh perempuan dalam belukar mengusikku<br />
         cahaya pohon kamboja<br />
                                          menawarimu bunga<br />
         sebagai bekal perjalanan<br />
                    dari kota ke kota<br />
                           dari mati ke mati<br />
                                  dari lahir ke lahir<br />
(1998)<br />
 <br />
BIRAHI BIRU</p>
<p>         malam tiba<br />
purnama mengurai rambut di jendela<br />
         aku susuri pesona suara serangga<br />
sayap-sayap malaikat bergetar<br />
perjalanan kau guratkan<br />
                    pada tapak tanganku</p>
<p>         aku rindu kau<br />
         aku jauhi kau</p>
<p>kupahami ngilu<br />
memusar dalam darah adamku</p>
<p>          purnama jatuh<br />
separuh digigit kelelawar buah<br />
separuh hanyut membawa hayatku<br />
          aku termangu<br />
menghitung rindu yang tak henti gugur<br />
sejauh perjalanan memburumu</p>
<p>kelelawar memuntahkan remah purnama<br />
serbuk sari telah terbenam di kepala putik<br />
          perkawinan!?<br />
kau tak jenuh meneliti gurat keningku<br />
          di situkah muara rahasiaku<br />
belum seluruh lekukmu kupahami<br />
          aku rebah pada altar suci</p>
<p>apa lagi yang rahasia<br />
o, birahi biru. altar suci<br />
aku terkapar dalam nikmat<br />
                     dalam sakit<br />
gerigi waktu beradu<br />
kau seperti ada. aku seperti tiada</p>
<p>mawar mekar<br />
kau hablur<br />
aku lebur</p>
<p>(1998)</p>
<p>PENJAGA CAHAYA</p>
<p>yang luput dari diriku<br />
adalah cahaya<br />
saat sampai di tepi</p>
<p>berwaktu-waktu aku lemparkan kail<br />
ke samudera yang sembunyikan ibu<br />
rindu jadi api<br />
membakar hampar laut</p>
<p>cahaya mengalir<br />
matahari memeram cahaya<br />
duka jadi mata kaki<br />
bagi pejalan letih</p>
<p>o, beribu mimpi<br />
yang merubung hidupku<br />
jadilah nyata<br />
jadilah nyata</p>
<p>(1998)</p>
<p>BANGAU KERTAS</p>
<p>tanganku gemetar<br />
membentuk garis pada kertas<br />
                        melipat tangis<br />
            jadi sayap yang cemas</p>
<p>dukaku terbang<br />
dukaku terbang</p>
<p>senyap. tanganku pucat<br />
meraba cahaya bulan sabit<br />
di jendela kamar rumah sakit<br />
bangau-bangau kertas mengurung<br />
                                ruang remang<br />
kau terlentang<br />
                             jadi pecundang</p>
<p>waktu sinis<br />
di dinding bangsal<br />
dentang lonceng<br />
dan kelam<br />
memburuku<br />
seperti mimpi buruk</p>
<p>kau mengerang<br />
ruang penuh bayang masa kanak<br />
terkenang saat mengejar layang-layang<br />
                                       yang putus tali<br />
tapi kini nyawamu tergantung<br />
                         pada seutas slang infus<br />
                        <br />
kulipat lagi kertas<br />
kugurat lagi getir. kulipat lagi tangis<br />
seribu bangau kertas mengusir si laknat<br />
                                waktu yang khianat</p>
<p>namun hanya bangau-bangau kertas<br />
menari riang di udara beraroma formalin<br />
             menggurat bayang pada dinding</p>
<p>kau terbang. kau terbang<br />
menyisakan jejak duka<br />
             pada remang ruang</p>
<p>(1998)<br />
 </p>
<p>KAU PUN SAMPAI</p>
<p>kau pun sampai di tangga ke seribu<br />
awan lembut membasuh kakimu<br />
peri-peri menari dalam lingkaran sunyi</p>
<p>di tepian sungai di tengah hutan<br />
bunga gugur kembali mekar<br />
burung-burung yang patah sayap<br />
                           kembali terbang<br />
                 peri-peri air bermain embun</p>
<p>bayangmu menyelinap<br />
         meniru gerak angin<br />
kutitip duka pada helai-helai daun<br />
         rindu yang hanyut<br />
                   padamu menjelma kabut</p>
<p>seribu tangga kau tempuh<br />
                   hingga sampai pada tepi<br />
igauku luluh jadi cicit kelelawar<br />
                                      di gua cadas<br />
tanya terpekik di jeram deras<br />
air yang tiba ke mana akan tertuju?</p>
<p>wangi lehermu harum bunga kopi<br />
seribu tangga menjuntai di awan<br />
peri-peri memainkan melodi<br />
mengiringimu sampai pada tepi</p>
<p>(1998)</p>
<p>POTRET DIRI</p>
<p>lebih sepi kau kini<br />
sehelai puisi tak selesai<br />
puntung rokok dan kerak kopi<br />
makin kusam dalam gelas malam<br />
waktu seperti risau<br />
menunggu di ujung gang itu</p>
<p>seperti apa paras bulan<br />
saat langit muram<br />
puisi tak selesai<br />
hidup merambat lambat<br />
racun tembakau dan mariyuana<br />
telah sampai pada pusaran nadi</p>
<p>lalu kau temukan diri<br />
dengan sepotong pena rombeng<br />
dan seberkas mimpi usang</p>
<p>(1999)</p>
<p>LOROSAE</p>
<p>namun senja<br />
seakan enggan<br />
menghapus air mata<br />
               pada cuaca</p>
<p>kudengar lengking camar kehilangan ibu<br />
              buih mengeluh<br />
                             garis pantai cemas<br />
seorang bocah berlari ke arah malam<br />
menyongsong bintang biduk<br />
                                   yang hendak lapuk</p>
<p>(seperti aku mengenal wajahnya yang fana<br />
menyembul dari gundukan candi-candi pasir<br />
seakan ingin berucap:<br />
        jangan biarkan langit kembali merah!)</p>
<p>angin timur mengalir dari pantai<br />
        pasir-pasir buyar<br />
                    bau anyir<br />
pembantaian di musim semi<br />
kerang-kerang mendadak kering<br />
terbuka dengan daging meleleh<br />
         dan lokan buta menangis<br />
                                udara amis</p>
<p>senyummu, maria, seperti bunga bungur<br />
          kuntum yang dipatahkan paksa</p>
<p>prahara akan kembali tiba<br />
segera bergegas. berlindung<br />
ke dalam mercusuar di ujung tanjung<br />
          di situ mungkin masih tersisa<br />
                                   penawar duka</p>
<p>jerit anak camar<br />
menggigil<br />
melihat kabut pecah<br />
jadi buih darah<br />
pada rongga mata<br />
seorang serdadu tua</p>
<p>dalam udara amis<br />
langit menangis<br />
kata-kata kusam<br />
lumer dari grafiti<br />
yang ditera dengan darah<br />
di tembok mercusuar</p>
<p>kau tak akan pernah tahu<br />
        di lorosae<br />
waktu yang setia itu<br />
                      adalah seteru<br />
yang diam-diam menyusun<br />
rencana penghianatan<br />
                              untukmu</p>
<p>cahaya cinta dari hatimu, maria<br />
          telah jadi ragi<br />
hancur seperti remah roti<br />
dan anggur yang dulu kau peras<br />
          dari tetes air matamu<br />
telah memabukkan mereka</p>
<p>(1999)</p>
<p>NOTASI PANTAI</p>
<p>seekor camar buta<br />
        gemetar<br />
di pucuk tiang perahu</p>
<p>laut melulu biru<br />
dan matamu, kekasih<br />
seperti batu pualam<br />
         suram dan muram</p>
<p>langit gugup, angin mengerang<br />
di ruang hening cangkang kerang</p>
<p>kau melirik ke arah senja<br />
masa silam hanya untaian rantai<br />
kalung yang melingkari lehermu<br />
                         o, gelinjang panjang<br />
aku meradang pada ranjang lengang<br />
perlahan meredakan gemuruh batin<br />
dalam zikir yang meremukkan rusuk</p>
<p>waktu seperti terlontar<br />
        dari cekung mataku<br />
pasir-pasir tertebar<br />
membentuk ornamen<br />
         sebuah peta terbuka<br />
                        kubaca lagi tubuhmu</p>
<p>seekor camar buta<br />
penyap pada samar senja</p>
<p>(1999)</p>
<p>LANSKAP LAUT</p>
<p>mereguk asin laut<br />
terkenang<br />
bulu-bulu halus kudukmu,<br />
kepak camar dan<br />
pelaut muda yang mabuk<br />
di geladak</p>
<p>ombak betina tiba<br />
pesona menatap senja<br />
kugenggam geliat laut<br />
kau membuih di gurat tangan</p>
<p>bulu-bulu camar gugur<br />
senja samar<br />
lenganku lunglai<br />
merengkuh<br />
waktu yang karam</p>
<p>bayangmu bergetar<br />
menahan getir</p>
<p>denyut pada nadi<br />
suatu saat<br />
dapat jadi laknat<br />
lalu berkhianat</p>
<p>pada pasir membekas jejak<br />
mungkin jejakmu</p>
<p>(1999)</p>
<p>TAMAN YANG KAU IMPIKAN</p>
<p>rahasia yang semayam<br />
       dalam taman<br />
beri aku seteguk waktu<br />
untuk memahami adamu<br />
        saat cahaya bulan<br />
        mendedah tubuhku</p>
<p>letih aku menggapaimu<br />
         hari-hari berlari<br />
seperti amis darah sendiri</p>
<p>pada punggung bebukitan<br />
rambut legam menjuntai<br />
dan matamu adalah sumber air<br />
        rasa haru pada wajah langit<br />
kau seperti rahasia<br />
dari sekelumit perjalanan<br />
                            di akhir waktu</p>
<p>pengembara akan mati dalam kesepiannya<br />
                               sebab ragu pada rumah<br />
atau mencerca tanya pada persinggahan<br />
aku memilih celah paling kelam dari malam<br />
             termangu mengenang hari-hari lalu<br />
atau tawar menawar dengan sisa-sisa waktu<br />
             untuk sebuah kemungkinan makna</p>
<p>kau adalah keutuhan bagi rusukku<br />
mengalir seperti darah dalam nadi<br />
              menangislah selalu<br />
                           di taman yang kau impikan</p>
<p>(1999)</p>
<p>LAUT BALI</p>
<p>sisa cahaya dan arus waktu<br />
larut dalam kadar darahmu<br />
laut tak jemu mengigau pilu<br />
seperti sedu peri-peri penipu</p>
<p>kau hitung jejak kelahiran itu pada pasir<br />
sisa cahaya merembes dari pusar ombak<br />
kawanan bocah muncul dari rekah karang<br />
menawarimu kalung-kalung kulit kerang<br />
pada matanya kau lihat pesisir bali menangis<br />
bukit-bukit kapur terkikis<br />
                          pantai-pantai tereklamasi</p>
<p>perahu bercadik melaju<br />
          seperti masa lalu<br />
seorang tua menegurmu:<br />
           “kembalilah ke laut, cucuku<br />
           laut adalah ibu<br />
           awal dan akhir waktumu”</p>
<p>kau masih tafakur<br />
tubuh pelaut tua itu<br />
perlahan larut jadi garam</p>
<p>dalam kalbu laut<br />
kau memusar mengikuti arus waktu<br />
sisa-sisa cahaya merintih:<br />
            “ucapkan mantram leluhur pelaut<br />
            agar angin jinak, ombak jinak, ikan jinak<br />
            dan turunanmu jadi bijak!”<br />
(1999)</p>
<p>UPACARA KELAHIRAN</p>
<p>bulan kesembilan<br />
mataku ditumbuhi lumut<br />
hujan rancu<br />
pada batang alang-alang</p>
<p>aku tiba<br />
cahaya yang tergenggam<br />
adalah tangis bayi<br />
pada kusam pagi</p>
<p>rintihmu<br />
merasuk ke pelepah-pelepah pohon<br />
ke serat-serat daun<br />
ke akar-akar yang tak sabar</p>
<p>kali kecil itu mengalir<br />
ke hulu nadimu<br />
kutemukan gua tua<br />
dua sumber air<br />
dan belukar yang lebat<br />
saat musim kawin</p>
<p>waktu luntur<br />
dalam gema tambur<br />
yang ditabuh bocah-bocah<br />
kendi pecah<br />
mendedah jantungku</p>
<p>anak-anakku nanti<br />
pemilik keabadian<br />
aku hanya cahaya<br />
yang fana</p>
<p>(2000)</p>
<p>UPACARA LINGGA</p>
<p>bulan menjerit lirih<br />
gumpalan awan pecah<br />
di lingkar lingga<br />
membasuh rumah siput<br />
yang lunak dan basah</p>
<p>mantra doa datang membandang<br />
memenuhi parit-parit yang kejang<br />
dan susut ke dalam darah<br />
kau menyeru nama-nama dewa<br />
yang bergelantungan di dahan pohon ara<br />
berpesta daging gurih<br />
wangi ratus dan juga birahi</p>
<p>aku hanya punya benih dalam darah<br />
yang menyanyi saat kau tiba<br />
yang meratap saat kau tiada</p>
<p>sebab curah air matamu<br />
pada hamparan kebun anggur<br />
hausku adalah siksa terakhir<br />
sebelum akhirat</p>
<p>(2000)</p>
<p>PARANGTRITIS</p>
<p>di tali kutangmu<br />
gunung-gunung murung<br />
       angin jalang<br />
menyibak serumpun kenang<br />
                        yang ranggas<br />
        dari kusut rambut</p>
<p>        kau bicara<br />
ingin mengurai cuaca<br />
butir-butir kata menyerpih<br />
        di lingkar merah putingmu<br />
aku coba mengukur jarak bulan<br />
                              dan matahari</p>
<p>senja pudar di tiang layar<br />
                camar-camar berputar<br />
                           berpusar<br />
                    pada hampar cuaca<br />
bibirmu kandaskan mimpi<br />
kusam, muram, merajam hari</p>
<p>kutemukan<br />
hanya perahu-perahu lapuk<br />
melayari rapuh tubuhmu<br />
               terjebak<br />
               terbujuk<br />
          pusar liar ombak</p>
<p>o, lenguh<br />
yang mendedah tubuh<br />
lokan-lokan meresap<br />
          ke dalam pasir<br />
                       gunungan pasir<br />
unggunan api<br />
           kandaskan mimpi</p>
<p>(2000)<br />
 </p>
<p>FORT VREEDEBURG<br />
    –buat: r.t.b.–<br />
 <br />
kau dipukau lukisan biru langit<br />
tujuh cemara, sebentang kolam bening,<br />
    rumpun alang-alang, burung-burung<br />
              kecil dengan kepak sayap kecil</p>
<p>aku dipukau lumut pada tembok<br />
tebal dan bebal, mungkin juga kekal<br />
        aku lihat waktu membuka peta<br />
                   sebuah sejarah dan juga darah<br />
mengental, menebal, nempel pada tembok</p>
<p>pada meja marmer kudengar<br />
senja menangis samar-samar<br />
            seperti sekawanan arwah<br />
                           serdadu yang tertangkap<br />
mungkin juga terperangkap<br />
             pada tembok tebal benteng</p>
<p>“arwah melekat pada tembok!” bisikmu</p>
<p>kau bilang aku mengigau<br />
aku dengar derap sepatu serdadu<br />
              kau sebut aku melamun<br />
aku rasakan senja menangis<br />
                            samar-samar menjalar<br />
              ke degup jantungmu</p>
<p>(2000)</p>
<p>HAYA</p>
<p>kugambar parasmu pada pasir<br />
suara harmonika, laju perahu<br />
ke arah senja mengalir</p>
<p>angin garam<br />
meniup usia diam diam<br />
waktu, apakah aku?</p>
<p>senja surut<br />
kabut susut<br />
perahu luput</p>
<p>hanya angin<br />
melambai lamban<br />
di pucuk pandan</p>
<p>(2000)</p>
<p>TANAH LOT</p>
<p>ombak yang meludah<br />
meniti gigir cadas<br />
camar yang sendiri<br />
penyap pada warna pagi</p>
<p>sepasang turis<br />
sepasang bibir<br />
di muka gapura candi<br />
seekor anjing kumal<br />
melintas</p>
<p>tak lagi kutemukan kau<br />
hanya warna pagi<br />
muram</p>
<p>dengan lutut gemetar aku bertamu<br />
ke sebuah kafe tepi pantai<br />
seorang ibu menyeduhkan kopi untukku<br />
            aku terkenang si penyair tua itu<br />
yang menulis puisi pada sebongkah cadas<br />
                                      di laut lepas<br />
yang merasa jantungnya tertanam<br />
dan tumbuh diantara bunga pandan</p>
<p>sepasang turis<br />
dengan raut kusut<br />
perlahan masuk<br />
ke mulut ombak</p>
<p>waktu merambat<br />
liat dan lambat</p>
<p>(2000)<br />
 </p>
<p>KAMAR</p>
<p>kunyalakan kembali lilin<br />
dalam kamar yang bertahun muram</p>
<p>angin yang membawa hujan<br />
hampir memadamkannya<br />
            aku hanya bisa bertahan<br />
hanya pada rambatan cahayamu</p>
<p>pintu kubiarkan terbuka<br />
agar kau dapat menjenguk rasa sakitku<br />
atau sesekali bermain kau dalam kamarku<br />
mencoret dinding dengan warna-warna<br />
                         yang terkadang tak kusuka<br />
tapi tak kuasa aku menolak kenakalanmu</p>
<p>saatnya tiba<br />
lilin perlahan meleleh di meja kayu<br />
namun cahaya selalu bertahan<br />
               di udara yang lain<br />
                       di udara yang lain…</p>
<p>(2000)</p>
<p>DAN MALAM KIAN MENDALAM</p>
<p>aku tak tahu<br />
cangkir kopi itu<br />
bicara apa<br />
pada malam<br />
sekeping kata<br />
yang jatuh<br />
berdenting<br />
sekotak kota<br />
dalam bayang<br />
kemarau<br />
untuk pergi<br />
atau kembali<br />
aku tak tahu</p>
<p>pohon jati yang berbaris<br />
seperti membentuk selarik mimpi<br />
jendela, kaca retak, rel kereta api<br />
dan kau yang tertunduk tanpa kata</p>
<p>hanya angin di luar<br />
mengantar sesamar kabar<br />
hanya angin di dalam<br />
memendam hari muram</p>
<p>beri suara pada yang tiada<br />
pada desis puntung rokok di sisa kopi<br />
pada mungkin yang seperti puisi<br />
                      yang meluntur perlahan<br />
                                 perlahan&#8230;<br />
(2000)</p>
<p>BUKA SEDIKIT JENDELA</p>
<p>buka sedikit jendela<br />
agar cahaya<br />
merambat leluasa<br />
pada mata kita</p>
<p>aku lupa<br />
siapa yang memajang potret kita<br />
bersandingan di dinding tua itu</p>
<p>tubuhmu memasuki tubuhku<br />
pengembara tua yang terlunta<br />
ribuan tahun memburu sumur cahaya</p>
<p>aku terkenang kartu<br />
bergambar mawar putih<br />
saat waktu leleh<br />
dalam genggaman malam</p>
<p>kutemukan sumur itu<br />
tubuhmu melunaskan hausku<br />
sejauh perjalanan<br />
dari kubur ke kubur</p>
<p>(2001)</p>
<p>GERIMIS KUPU-KUPU</p>
<p>kaukah itu<br />
yang melambai di ujung jalan<br />
saat gerimis belum sempurna<br />
                        jadi kupu-kupu<br />
yang akan memahkotaimu<br />
                    dengan serbuksari</p>
<p>gerai. gerailah rambutmu, kekasih<br />
biarkan aku sesat perlahan<br />
        meresapi kutukan<br />
terlunta di negeri sendiri</p>
<p>segurat isyarat<br />
                       sepucuk surat<br />
         wasiat dari hayatku<br />
tak &#8216;kan sampai padamu</p>
<p>di ujung jalan itu<br />
kau masih melambai<br />
gerimis belum sempurna<br />
                jadi kupu-kupu</p>
<p>(2001)</p>
<p>BHISMA</p>
<p>sebab kutuk dan janji<br />
aku bertahan pada takdir ini<br />
         akulah bhisma<br />
yang menatap hampa pada senja</p>
<p>beribu gagak<br />
menggumpal hitam<br />
di langit kurusetra<br />
         dan senja<br />
muara abadi segala keluh</p>
<p>seperti abadi kesepianku<br />
srikandhi, bentangkan busur panahmu<br />
amba, bidikkan muram dendammu<br />
biar melesat beribu anak panah biru<br />
           menyangga ragaku<br />
                          mengukir takdir akhir</p>
<p>mengapa mesti ada duka<br />
telah tumpas segala suka<br />
saat surya rebah ke utara<br />
aku pun tiba pada hampa</p>
<p>(2001)</p>
<p>DI TEPI TAMBLINGAN</p>
<p>setelah halimun<br />
parasmu pupus<br />
di pias danau</p>
<p>bara pada unggun kayu<br />
masih sisakan birahi semalam<br />
                       canda perkemahan<br />
telah menyurutkan darah<br />
yang mengalir deras ke urat malu</p>
<p>di pias danau, apa yang gagu<br />
selain waktu yang menunggu<br />
                            kepulanganmu</p>
<p>pagi itu, embun di pucuk pakis, benalu,<br />
anggrek bulan, cemara dan danau<br />
                menduga telah terjadi sekutu<br />
                                antara kau dan aku</p>
<p>lalu dari bongkah kerak kayu<br />
kau ulurkan kenangan layu</p>
<p>“kayu itu suatu waktu<br />
                    akan jadi perahu<br />
yang mengantar ruhmu<br />
                    ke tengah danau,” bisikku</p>
<p>namun parasmu telah pupus<br />
sebelum mengaduh danau<br />
setelah halimun bergulung turun</p>
<p>pengayuh perahu tiba<br />
                menjenguk cemas kita<br />
tanpa suara ia menuntunmu<br />
                menaiki perahu<br />
lalu mengayuhnya makin jauh<br />
                        makin jauh…</p>
<p>(2002)</p>
<p>REQUIEM</p>
<p>mengapa harus ruhku<br />
menuju ruhmu</p>
<p>kau ternganga di tepi cadas<br />
memandang cemas<br />
                        pada burung-burung<br />
yang mematahkan sayapnya di udara</p>
<p>pada pusaran warna<br />
adakah kau temukan keabadian</p>
<p>         maut lekat<br />
         pada mata<br />
         pisau palet</p>
<p>teriaklah lantang<br />
pilu melolong<br />
seperti anjing<br />
tersihir<br />
bulan telanjang</p>
<p>kutemukan kau<br />
pada tekstur cadas<br />
menceburkan diri<br />
dari jeram</p>
<p>kau meresap ke rekah batu<br />
                tidur seperti batu<br />
          bercinta dengan batu<br />
                  mati dalam batu</p>
<p>mengapa harus ruhku<br />
menuju ruhmu</p>
<p>kembali pada diri<br />
aku hablur dirajam mimpi<br />
       mengutuki diri<br />
mensyukuri diri</p>
<p>(2002)</p>
<p>TAMAN LAUT</p>
<p>kita tak pernah mampu<br />
menduga kalbu laut</p>
<p>pada warna biru itu<br />
kita mengaca<br />
adakah sesuatu<br />
tersembunyi di situ</p>
<p>laut adalah ibu<br />
tempat kita sekali waktu mengadu<br />
pada kelembutannya ada sesuatu<br />
               yang menghunjam kalbu</p>
<p>aku tak pernah tahu<br />
mengapa bayangmu<br />
selalu muncul di situ<br />
mungkin, kau lebih fasih<br />
menggurat aksara di pasir<br />
menggambar wajah kita<br />
yang tak saling mengerti</p>
<p>menduga yang tak terduga<br />
          adalah riskan</p>
<p>pada parasmu<br />
aku seperti menemu<br />
masa lalu yang kembali menjelma<br />
tapi tak mampu aku<br />
mengabarkan itu pada angin<br />
yang memainkan pasir-pasir</p>
<p>aku hanya tahu<br />
ada saat surut menjauh&#8230;<br />
                    seperti ucapmu</p>
<p>(2002)</p>
<p>LARIK OMBAK</p>
<p>selarik ombak<br />
tertulis di anjungan<br />
mengabarkan wajahmu<br />
                    yang hijau<br />
           digerus air garam</p>
<p>beribu tahun lampau<br />
mungkin kau putri duyung<br />
            atau peri air penipu<br />
yang suka menjebak dan membujuk<br />
      pelaut-pelaut muda yang mabuk<br />
            wangi mawar laut di geladak</p>
<p>pelaut muda itu mungkin aku<br />
yang tiba di anjungan dengan perahu<br />
dan layar robek tercabik angin kemarau<br />
yang berseru pada senja dan cuaca kelabu<br />
                         : daratan! daratan!<br />
  <br />
aku merasakan daratan<br />
melihat kerajaan<br />
                            dan kau,<br />
putri duyung yang menunggu<br />
                  di atas singgasana mutiara</p>
<p>pada ranum bibirmu<br />
        tiram-tiram mengulum kelam<br />
hiu-hiu bermata biru saling terkam<br />
                 ikan-ikan cahaya padam</p>
<p>menggigil dan gemetar<br />
        aku menunggu<br />
                  titah penghabisan<br />
di kerajaan bawah laut<br />
  <br />
kini di anjungan<br />
selarik ombak tertulis<br />
bau amis dan air garam<br />
menggerus biru tubuhmu</p>
<p>(2002)</p>
<p>ARTUPUDNIS</p>
<p>sepasang kijang hilang<br />
di lengang ilalang</p>
<p>gerimis tandas<br />
jadi kata-kata<br />
mengalir deras<br />
pada puisi terakhirmu</p>
<p>diam-diam<br />
kau menjelma bunga<br />
dikawinkan lebah madu<br />
saat kau meneliti jejak<br />
                 yang mengerak<br />
di kulit kayu<br />
pohon-pohon bakau<br />
yang ranggas dedaunnya</p>
<p>sanur adalah palung masa lalu<br />
        bagi si penyu hijau<br />
              dan hiu bermata biru</p>
<p>aku terkenang pengembara<br />
yang suka menyapa tukang jukung<br />
dengan sajak anak-anak ombak</p>
<p>kau pun kabur<br />
alur-alur puisimu<br />
tak selesai kau tabur<br />
waktu yang uzur<br />
mendekam di situ</p>
<p>(2002)</p>
<p>BULAN PUN LAYU</p>
<p>bulan pun layu<br />
mengenang bayangmu<br />
yang menggenang<br />
di kubangan warna</p>
<p>kau beringsut ke arah kelam<br />
          tak pernah tahu<br />
di mana perahu berlabuh<br />
hanya tiang-tiang layar<br />
                  hampir patah<br />
dan angin garam<br />
           mengaduk kalbu</p>
<p>aku menyebut usia senja<br />
kau mengulum senyum<br />
       dan kita tahu<br />
              jiwa hanya sesuatu<br />
                          yang hablur<br />
dalam didih waktu</p>
<p>warna ungu menjerit pilu<br />
pada bidang kanvasmu<br />
angin dari pantai selatan<br />
bersuir-suir memanggil jiwamu</p>
<p>aku menemu sisa waktu<br />
menguap dari hidupmu<br />
warna-warna leleh<br />
dalam gairah patah<br />
seperti garis atau gurat<br />
pada kening kelabumu</p>
<p>(2003)<br />
 </p>
<p>BOCAH BERMAIN AYUNAN</p>
<p>bocah itu bermain ayunan<br />
di tangga menuju awan<br />
dia berputar-putar pada dua tali<br />
                   dari tumbuhan jalar<br />
         terus berputar dan berayun<br />
seolah menduga di tangga ke berapa<br />
                            pintu surga terbuka</p>
<p>dari gaun putihnya<br />
tiga merpati bersih hambur<br />
         langit begitu biru<br />
seperti mata bocah perempuan<br />
                yang bermain ayunan itu</p>
<p>di tangga ke sembilan<br />
sosok tua berjubah kelam<br />
melepas helai demi helai kertas<br />
                                        <br />
kertas-kertas melayang<br />
                  menjelma burung</p>
<p>namaku<br />
atau namamu<br />
tertulis entah<br />
di helai kertas ke berapa</p>
<p>bocah perempuan itu<br />
suntuk bermain di awan<br />
         perlahan dia<br />
                    menjadi ayunan</p>
<p>pintu surga<br />
belum juga<br />
terbuka</p>
<p>(2003)</p>
<p>AKU RINDU MARIYUANA</p>
<p>malam ini aku rindu mariyuana<br />
namun hanya suara serak radio menjalar<br />
seperti keluh nenek renta yang pikun</p>
<p>mata belum pejam<br />
desir angin dan bisik dedaun<br />
bikin aku makin asing dari kenangan<br />
hanya buku-buku tua pada rak berdebu<br />
mungkin di antaranya terselip surat cinta<br />
                atau bon-bon yang belum lunas</p>
<p>suara radio makin serak<br />
serupa gerutu gagak<br />
di pucuk pohon kamboja</p>
<p>pada cermin retak<br />
aku cermati wajah<br />
: keningmu makin penuh kerut<br />
                                 o, penyair!</p>
<p>kulipat surat cinta kertas kusam<br />
                 jadi burung bangau<br />
hanya mengambang dan gemetar saja<br />
terayun-ayun di lelangit kamar bercat biru</p>
<p>o, aku rindu mariyuana<br />
puisi-puisimu begitu cerewet<br />
                                  dan membosankan<br />
          bakar! bakar saja!</p>
<p>malam ini, kau tahu,<br />
aku hanya rindu mariyuana<br />
menghisapnya perlahan<br />
seraya melamunkan kekasih<br />
               di bawah purnama</p>
<p>(2004)</p>
<p>KAMPUNG TERAKHIR</p>
<p>pungguk itu tunduk di dahan waru<br />
ada seberkas cahya purnama<br />
memintas batas<br />
           sepi tiba-tiba<br />
ada nyanyi dari buluh seruling<br />
mungkin seorang pengembara<br />
terkenang kampung halaman</p>
<p>di dalam bilik gubuk<br />
hanya kita, mungkin juga cicak,<br />
berbagi desah, resah,<br />
           dan juga lenguh<br />
                   yang coba membunuh<br />
sosok waktu yang ngalir<br />
           di kanal nadimu</p>
<p>aku terkenang sebatang kayu mahoni<br />
      yang terlunta dihanyutkan sungai<br />
hingga lelaki tua bungkuk itu memungutnya<br />
                                        penuh iba<br />
             di halaman gubuk<br />
lelaki tua menatah kayu menjadi arca dewa</p>
<p>arca dewa tua<br />
tanpa janggut, tanpa mahkota<br />
lebih menyerupai patung murung<br />
namun pada tapak tangannya<br />
                       tergurat aksara</p>
<p>aksara pada jiwa<br />
mendedah sembilan dewa<br />
                       yang terusir<br />
dari lingkaran mandala</p>
<p>di dalam bilik gubuk<br />
pada muram cahya pelita<br />
kita mencipta dewa<br />
bagi semesta jiwa</p>
<p>pungguk itu terkantuk<br />
di dahan waru<br />
alun seruling menjauh<br />
aku tiba di kampung<br />
                        terakhir&#8230;</p>
<p>(2004)</p>
<p>MALAM PANTAI CANGGU</p>
<p>di pucuk meru pura<br />
bayangmu menjelma bunga angsana<br />
         senja ungu<br />
                        aroma garam<br />
         berbaur wangi dupa<br />
kerang mengerang saat pasang<br />
         aku terkenang duri-duri pandan<br />
                     yang menyusup di kulit tangan</p>
<p>kau bersimpuh<br />
sujud di muka altar batu<br />
adakah puisi mencurahkan cahaya semesta<br />
                                     pada jiwamu?</p>
<p>aku fana di limbung gelombang<br />
hanya pasir bergetar di pucuk layar<br />
           mari cintaku, bisikkan lembut<br />
                      lenguh ombak di jiwaku<br />
agar tenteram aku berbaring di pesisir</p>
<p>aku tahu lampu-lampu itu<br />
hanya memeram warna senja<br />
                                  yang tiba tertatih<br />
apa kau percaya kata mereka<br />
tentang kita yang dikutuk masa lalu?</p>
<p>jangan kawini laut<br />
aku cemas kau makin asing<br />
              di gigir gelombang<br />
cumbu aku<br />
hingga kau mampu<br />
memahami peta perjalanan<br />
yang berliku menuju puncak sajak</p>
<p>kau memintaku pulang<br />
sebab kelam malam telah mengepung pesisir<br />
kenapa mesti cemas pada malam?<br />
               malam adalah kawan setia pejalan</p>
<p>aku bisa berkemah di mana saja<br />
kunyalakan unggunan api di hampar pasir<br />
serigala akan mendekat dan menjilati kakiku<br />
seperti bocah yang minta dibelai ibu<br />
dengan puisi kuhangatkan tubuh dan jiwa luka<br />
                        yang diderita para pengembara</p>
<p>                  maka cobalah berbaring di pasir<br />
             dengar laut berkisah<br />
perihal perjalanan patahan kayu<br />
                                              menuju muara<br />
tentang biduk-biduk lapuk<br />
              yang bertahan di tengah topan<br />
atau perihal peri-peri laut<br />
                      yang suka menggoda nahkoda</p>
<p>buka mata, coba tatap langit malam<br />
kau akan saksikan rasi mithuna dan kataka<br />
                                           saling bercumbu<br />
         betapa mesra, kekasihku<br />
bahkan baruna, si dewa laut<br />
                                    cemburu menatapnya</p>
<p>api unggun masih menyala<br />
         jangan pernah padami<br />
biarlah baranya yang biru<br />
menjaga dan menentramkan jiwa kita<br />
         hingga usia bumi<br />
         makin renta</p>
<p>(2004)</p>
<p>BUKIT VENUS</p>
<p>aku tiba pada hamparan bukit venus<br />
milikmu yang penuh pesona<br />
pada tebing merah muda<br />
di antara rerimbun pinus<br />
sebuah pancuran di atas gua<br />
mengalir air ibu bumi</p>
<p>seperti pertapa tua letih<br />
mencari sumber air suci<br />
aku berjalan tertatih<br />
terseok keluar-masuk<br />
menyibak lebat semak<br />
gua gelap di tebing bukit</p>
<p>cahaya dari hutan pinus<br />
seperti sorot mata ular di taman firdaus<br />
                 aroma tanah sehabis gerimis</p>
<p>embun menghias pepucuk pinus<br />
merembesi gua tapaku<br />
kurasakan nikmat tertinggi<br />
kidung persembahan ibu bumi</p>
<p>(2004)</p>
<p>PENJAGA KATA</p>
<p>(1)<br />
hilang sudah kau<br />
         angin mendulang<br />
sukmamu, segala lara<br />
ingin abadi dalam pusara musim<br />
          fitrahmu hanya kata-kata hampa</p>
<p>tidurkan mimpimu di sela<br />
iga yang segera rontok<br />
demi memuja larik-larik sajak<br />
          aku hanya penyair tua di gua garba<br />
            kau pembaca rabun segala makna</p>
<p>nikmati saja janji-janji puisi<br />
gelegak surga yang ingin kau raih<br />
          entah di atap langit ke berapa<br />
                      raung itu kembali bergema<br />
           tapi tak kau yakini sebagai<br />
                                         ilusi yang nisbi</p>
<p>pemburu makna terkutukkah kau<br />
upayamu sia-sia mengais sisa kata<br />
           ihwal yang senantiasa kandas<br />
                         seperti rama-rama hangus<br />
           ingin tandas di sumbu lampu<br />
(2)<br />
pemuja bintang dini<br />
      upaya apa lagi mampu<br />
imbangi segala igau<br />
      segala resah, segala keluhmu<br />
                       ingin raih ufuk yang lapuk</p>
<p>nujumanmu kata-kata semu<br />
       irama yang ragu<br />
                   ritma yang kaku<br />
walau kau coba segala peribahasa<br />
       apa inginnya puisi yang melolong sepi<br />
               ngembara dari puing-puing bunyi</p>
<p>jangan titahkan waktu<br />
                               ujung lorong kelabu<br />
       gaung gema yang sia-sia<br />
                angankan puisi sejatiku</p>
<p>semestinya cermin itu benar<br />
            akan membuka rahasia kata<br />
memantulkan bayangmu yang gagu<br />
                 pada segala warna musim<br />
atau kau hanya penadah<br />
                           halimun yang sirna</p>
<p>kini kilau benakmu<br />
        akan segera mengerak<br />
tak mampu lagi<br />
                akhiri luka kata<br />
(3)<br />
fatamorgana apa lagi<br />
alirkan kilasan-kilasan warna<br />
         jejak yang kikuk di simpang jalan<br />
antara kampung kumuh dan kota tua<br />
                     rahasia mimpimu terkubur</p>
<p>aku tak ingin kau jadi pecundang<br />
pesakitan yang sekarat menunggu<br />
                            ajal datang menjelang</p>
<p>mungkin masih mampu kau raih<br />
angan penyair yang tintanya telah tandas<br />
         umpama pohon gugur daun<br />
meranggas sembari memuja masa silam<br />
                   untaian kenangan menyerpih</p>
<p>dulu pernah aku mengeram mimpi<br />
endapan kerak yang telah menghitam<br />
                    nujuman palsu aksara tua<br />
gurat-gurat pun makin sempurna di keningku<br />
             apa lagi yang mesti diucapkan<br />
nyanyian jiwamu makin sumbang</p>
<p>cuaca tanah leluhur telah lama kau lupa<br />
                        embun pun tidak lagi bening<br />
rasa pagi menghilang dari jiwamu<br />
             pudar serupa bayang-bayang samar<br />
                   erang purba yang bikin ngilu<br />
                nujuman kelabu si tukang sihir</p>
<p>(2005)</p>
<p>DI KAFE TERA, RAWAMANGUN, JAKARTA</p>
<p>buih bir itu mungkin pernah<br />
menduga dirinya buih laut</p>
<p>sampai kau bertutur<br />
tentang ladang dan kampung<br />
yang hampir rampung<br />
diserang wereng<br />
jagung pun tak mampu matang<br />
musim kering begitu kerontang<br />
hingga segala benih jadi garing</p>
<p>kau tuang laut ke dalam gelas<br />
aku tahu, malam segera tuntas<br />
dan asap kretek akan tumpas<br />
dari bibirku yang haus</p>
<p>“aku dari indramayu,” lirihmu</p>
<p>indramayu, sebuah daerah kuyu<br />
                  di pesisir utara jawa<br />
          penuh janda ayu<br />
perahu-perahu suka berlabuh di situ</p>
<p>“apa kau tidak mau berlabuh?” desahmu</p>
<p>aku hanya pejalan sunyi<br />
melulu ditemani duri<br />
yang melekat di tapak kaki<br />
pedihnya tak kurasa lagi</p>
<p>di bibirku yang rekah<br />
buih laut itu<br />
kembali merasa<br />
dirinya buih bir<br />
                     <br />
malam bergumam<br />
di sudut paling suram<br />
                    kafe tera</p>
<p>(2005)<br />
 </p>
<p>MENYUSURI JAKARTA TENGAH MALAM</p>
<p>tak ada lagi yang bisa selamatkan kita<br />
menghindari malam yang makin buram<br />
mari susuri saja jalan ini<br />
sejauh mana kita mampu berjalan</p>
<p>letih hanya milik waktu<br />
dan ragu akan segera berlalu<br />
dari sendu matamu</p>
<p>lampu-lampu kota<br />
makin tua cahyanya<br />
namun wajahmu yang belia<br />
membayang di setiap warna iklan<br />
senantiasa menggoda</p>
<p>di mana kita mesti singgah<br />
untuk sekedar istirah<br />
menghentikan langkah<br />
rumah terlalu jauh<br />
dan losmen murah hanya sisa keluh<br />
mungkin juga sejumput lenguh</p>
<p>mengapa cemas pada selimut tipis<br />
yang menutup kawasan rawan tubuhmu<br />
selimut yang serupa selaput itu<br />
mungkin terlalu rapuh<br />
tapi yang suci adalah hati, kekasih</p>
<p>“dan yang setia adalah perjalanan,” gumammu</p>
<p>kau gagu<br />
meraba wajahku<br />
aku kelu menduga kilau<br />
airmata di pelupukmu<br />
seperti embun<br />
di lembah subuh</p>
<p>(2005)</p>
<p>PANTAI ANCOL<br />
–bersama unan–</p>
<p>dan kita pun sampai<br />
setelah lelah berjalan<br />
diukur dan diukir terik hari</p>
<p>paras laut masih seperti dulu<br />
           kelabu dan kelabu<br />
perahu-perahu kecil menunggu<br />
                        di dermaga kayu<br />
senja sempurna tanpa ciuman mesra</p>
<p>dulu pernah kau tatah namamu<br />
di bilah kayu di ujung dermaga<br />
dan angin garam menuntaskan<br />
                         segala yang fana</p>
<p>di tepi pantai<br />
kau lantunkan syair-syair cinta<br />
begitu merdu dan syahdu<br />
hingga menyihir langit jadi kelam<br />
sekelam matamu menatap hampa<br />
              lampu-lampu kota jakarta</p>
<p>dari lengkung alis<br />
                gerimis turun ritmis<br />
menggurat siluet kepak camar<br />
         yang bergegas menuju sarang</p>
<p>“hujan-topan akan tiba,” cemasmu</p>
<p>apa bulu-bulu mata bisa gugur<br />
seperti dedaun waru atau bulu camar<br />
                 di tengah angin resah<br />
apa kau percaya<br />
kita telah tiba di pantai<br />
                  yang kau angankan</p>
<p>aku merasa<br />
ada yang diam-diam<br />
menyusun airmata<br />
jadi candi-candi pasir</p>
<p>(2005)</p>
<p>DAGO</p>
<p>malam menjelang<br />
sudut-sudut kota mengembang<br />
          dalam senyum kepayang</p>
<p>udara dingin menyusup<br />
di sela serat syal biru<br />
aku terkenang sepasang alismu<br />
           yang melengkung malang<br />
mewartakan duka burung-burung usiran</p>
<p>di dago di sepanjang jalan lempang<br />
kembang dan kumbang melenggang<br />
       seakan tak hirau kabut linglung</p>
<p>tapi pada cangkir cappuccino hangat<br />
senyummu membayang ranum<br />
               masihkah bibirmu sehangat<br />
                  saat kutinggalkan kotamu</p>
<p>andai kau di sini<br />
tentu kemerlip lampu di lembah dago<br />
                                  lebih punya arti</p>
<p>namun hanya seleret cemara<br />
                    mengurai makna airmata<br />
meleleh pada jarak dan jejak kita</p>
<p>(2005)</p>
<p>MENJAGA MALAM BRAGA</p>
<p>di braga<br />
malam belum hablur<br />
dan lampu-lampu belum tidur<br />
masih berjaga bersama hingar<br />
                musik pub dan kafe<br />
trotoar ngelindur<br />
                   mabuk wangi</p>
<p>di bawah atap kedai<br />
kau melamun sendiri<br />
menunggu pagi<br />
mengakhiri mimpi<br />
penghuni kota bunga</p>
<p>dan gedung-gedung sisa kolonial<br />
anggun merangkum malam</p>
<p>apa makna puisi<br />
                   bagi pejalan kaki<br />
sihir lampu iklan<br />
masih mengikuti bayang diri<br />
hingga ke sudut-sudut gang kota</p>
<p>“di braga, lukamu tak akan sempurna,”<br />
                                    bisikmu</p>
<p>aku rindu braga<br />
          entah mengapa<br />
kau menjaga<br />
          luka yang lena</p>
<p>(2005)</p>
<p>REQUIEM JUNI<br />
–untuk diriku–</p>
<p>dalam kamar sempitmu<br />
apa yang kau pahami<br />
kau tak memiliki apa-apa lagi<br />
seperti kembali ke dalam rahim<br />
                              ke mula asal</p>
<p>suara parau burung hantu<br />
seperti luka masa lalu<br />
            dan langit itu juga<br />
adalah langit sebelum kau<br />
mencium tanah dengan hati luluh</p>
<p>mata betina berkali-kali memukaumu<br />
kau merasa menemukan nirwana di situ<br />
       pada bibir ranum<br />
                pada payudara padat<br />
                         pada pinggul bulat<br />
kau tenggelamkan diri dalam kolam lumpur<br />
menyusup ke celah kelopak seroja merah muda</p>
<p>         kau hanya noktah<br />
         pada hamparan semestamu</p>
<p>dalam kamar sempitmu<br />
kau menyulap diri jadi pertapa bisu<br />
kitab-kitab sajakmu telah rapuh<br />
mengapa kau masih bersikukuh<br />
ingin mengekalkan waktu<br />
dalam kerumunan kenangan<br />
yang kelak akan musnah</p>
<p>serupa kepiting tua<br />
kau hanya mampu berlindung pada kulit kerasmu<br />
                    namun jiwamu rapuh pada sekeliling<br />
seperti penyu<br />
kau sembunyikan kepala dalam tempurung<br />
                                   apa dayamu, o, si lugu biru</p>
<p>seorang pandir menghujatmu:<br />
        “penyembah berhala,<br />
                   pemakan babi,<br />
                              pezinah pelacur&#8230;”</p>
<p>tapi kau terus memburu cahaya<br />
dalam lubang hitam semesta<br />
sebab kitab-kitab agama<br />
          tak lagi bermakna<br />
      bagi pengembara abadi</p>
<p>matamu adalah langit<br />
              jiwamu lautan biru<br />
aku semayam dalam ruhmu<br />
   kau senyawa dalam diriku</p>
<p>(2005)</p>
<p>SUATU WAKTU AKU TIBA DI ROTTERDAM</p>
<p>helena…helena…<br />
suatu waktu aku ‘kan tiba di rotterdam<br />
mengunjungimu dengan seluruh rindu<br />
saat musim semi mekar demi janji</p>
<p>kita berperahu sejauh alur sungai<br />
aku mendayung, terus mendayung<br />
kau senyum menatap kawanan angsa<br />
                     yang bercumbuan mesra<br />
hingga lesung pipimu lembut merona<br />
             bikin aku gemas karena cinta</p>
<p>siapa yang bisa menduga<br />
kau dan aku dipertemukan<br />
                            sehelai kartu pos<br />
bergambar bunga-bunga tulip merekah</p>
<p>sejenak kita abaikan waktu, sang guru<br />
yang mengajari kita banyak rahasia itu</p>
<p>kita menyelinap ke gang-gang kota<br />
                      mampir di kedai-kedai sederhana<br />
minum anggur sambil saling membaca harapan<br />
pada matamu yang bagai lautan tak terduga<br />
             pada mataku yang letih karena insomnia</p>
<p>bergandengan tangan kita susuri trotoar yang ramah<br />
tawar menawar dengan pedagang-pedagang cindramata<br />
             kau tentu suka kalung manik-manik<br />
                                  yang dijulurkan si gadis gipsy itu</p>
<p>di lehermu yang jenjang<br />
yang lekuk dan likunya tak jenuh kujelajahi<br />
                              manik-manik itu berkilau<br />
lebih sempurna dari cahya senja<br />
lebih sumringah dari semerbak bunga<br />
hingga urat biru di bening kulitmu<br />
                                     jadi makin bermakna</p>
<p>helena…helena…<br />
suatu waktu aku ‘kan tiba di rotterdam<br />
sekuntum bunga margot kusematkan<br />
                         di rambutmu yang blonda<br />
dan kita bercinta dalam telaga<br />
               bagai sepasang angsa kasmaran</p>
<p>(2006)</p>
<p>KUCUMBUI KAU DI HAMPAR PASIR</p>
<p>kucumbui kau di hampar pasir<br />
desah buih serupa lenguhmu<br />
         apa yang kita buru?<br />
waktu akan segera berlalu<br />
dari matamu yang senantiasa<br />
                   memeram muram</p>
<p>namun kau tertawa menatap langit malam<br />
           betapa indah kelam lautan, katamu</p>
<p>tahukah kau,<br />
gempa akan segera meniadakan kita<br />
                  menumpas kita hingga tandas</p>
<p>dan kematian begitu sederhana<br />
          begitu mudah<br />
tanpa kita sempat mengaduh</p>
<p>selalu saja kucumbui kau<br />
                     di hampar pasir<br />
hingga maut hampir mampir<br />
        di celah bibirmu<br />
                      yang merekah indah<br />
seindah kematian itu…</p>
<p>(2006)</p>
<p>LIMA RIBU DEPA DARI AMLAPURA</p>
<p>lima ribu depa dari kota tua amlapura<br />
ada sebongkah batu yang ditatah gurat-gurat aksara<br />
                       batu yang dicerabut dari kebisuannya<br />
batu yang dianugrahi tahta di istana airmata<br />
                                         taman tirtagangga</p>
<p>bulan kuning langsat yang menggeliat di celah bukit<br />
di hampar lembah yang dihuni malam dan sawah<br />
cahaya kunang-kunang merambat dari kalbu langit<br />
mencoba meraba aksara<br />
                        yang digurat pujangga tirtagangga</p>
<p>lima ribu depa dari kota tua amlapura<br />
bayi-bayi puisi lahir dari kedalaman hati<br />
              dari sunyi yang kau peram<br />
sejak mula pertama kita berjumpa kata</p>
<p>namun dingin dan malam telah menyusup<br />
di daun-daun pakis, kerak-kerak pohon kamboja,<br />
                               anggrek ungu dan rindu melumut</p>
<p>lima ribu depa dari kota tua amlapura<br />
cintaku, adakah yang lebih pedih<br />
                                dari kehilangan cinta?</p>
<p>langit telah sempurna kelabu<br />
suara serangga dan kodok hijau<br />
               telah menuntaskan mimpimu<br />
yang penuh pijar aksara dan igau<br />
                                aroma tuak kelapa</p>
<p>(2006)</p>
<p>TIRTAGANGGA</p>
<p>taman air yang disepuh purnama<br />
memudarkan bayang wajah hamba<br />
              yang gagu meraba cahaya</p>
<p>senja terakhir telah tiba<br />
                             di haribaan malam<br />
namun hamba masih bisa mendengar<br />
suara tabuh genjek yang menjalar<br />
                   dari bibir anak-anak desa</p>
<p>hamba tepekur<br />
di pelataran paduka ratu<br />
menghayati sepi yang tiba tertatih<br />
merambati jiwa yang telah paripurna</p>
<p>paduka ratu junjungan hamba<br />
mesti berapa penjelmaan lagi hamba lalui<br />
                       untuk sampai pada jiwamu</p>
<p>laksana pucuk-pucuk pohon angsana<br />
             hamba gugur daun<br />
bunga dari segala bunga yang paling sempurna<br />
                      telah hamba jalin untuk penghias<br />
                            semerbak rambut paduka ratu<br />
buah dari segala buah telah hamba sajikan<br />
              sebagai penutup makan malam paduka</p>
<p>kutukan apa gerangan<br />
                          yang menjadikan hamba budak<br />
hamba ingin kembali pada perjumpaan pertama<br />
               ketika tiada dosa dan ampunan<br />
                                   yang menguntit hayat kita</p>
<p>(2006)</p>
<p>CAPUNG SAYAP UNGU<br />
   -buat: Feybe Mokoginta-</p>
<p>capung sayap ungu yang bertengger<br />
di atas daun teratai<br />
           adakah itu bayanganmu<br />
yang menujumku begitu rupa<br />
dengan secercah cahaya keabadian<br />
yang diturunkan langit warna abu</p>
<p>alir air adalah jalan terakhir<br />
bagi kura-kura tua<br />
yang semadi di selokan<br />
            di rerimbun belukar</p>
<p>apakah yang sisa dari daun waru<br />
         yang gugur di ujung waktu<br />
kecuali sebait mantra<br />
         yang hilang makna</p>
<p>capung sayap ungu<br />
         dan segurat bayangan&#8230;<br />
seperti kenangan yang punah<br />
                        di hari ketujuh</p>
<p>(2006)</p>
<p>ARAK DAN MALAM</p>
<p>seguci arak di meja kayu<br />
malam makin mengendap dalam jiwaku<br />
kegelapan telah melingkupi persawahan<br />
kerlip kunang-kunang bercampur aroma lumpur</p>
<p>kidung serangga hutan adalah kepedihan<br />
                 yang dipersembahkan  malam<br />
ketika peri-peri kecil<br />
                 dengan payudara mungil<br />
                        dan tubuh menggigil<br />
                 mengunjungiku</p>
<p>aku tergetar<br />
        menahan getir<br />
                  yang menjalar<br />
dari sumsum nadir</p>
<p>kelopak-kelopak malam gugur di halaman<br />
hari-hari kujalani dengan nyanyian kodok<br />
dan ricik air yang berdenting bagai genta pendeta<br />
          di manakah akhir setapak yang kulalui?</p>
<p>inikah jalan takdir<br />
yang pernah dinujumkan<br />
               para brahmana?</p>
<p>dari kejauhan, seribu depa<br />
                        di seberang persawahan<br />
suara kidung merambat pelan<br />
                        bersama dingin halimun<br />
seperti merasuki jiwa para pengembara<br />
                 yang lupa kampung halaman</p>
<p>di meja kayu<br />
arak nyaris tandas<br />
dan kunang-kunang<br />
begitu sempurna cahaya</p>
<p>(2006)</p>
<p>MALAM-MALAM MABUK DI TIRTAGANGGA</p>
<p>lampu-lampu jalan mengambang<br />
            dalam petikan gitar tua<br />
seperti mengalunkan rindu<br />
            yang diperam angin lembah</p>
<p>seorang gadis prancis<br />
menenggak arak campur coca-cola<br />
            bibirnya yang manis<br />
menyisakan jejak kenangan pada gelas</p>
<p>malam yang hijau mampir<br />
                            ke meja kayu<br />
si gadis prancis melempar igau<br />
             ada kutemu duka<br />
mengendap pada biru matanya</p>
<p>                            malam memanjat bukit<br />
denting gitar mengiringi setapak langkah<br />
                         terseok menuju homestay<br />
         aku oleng, si prancis kemoleng<br />
tanganku membelit pinggangnya ramping<br />
sambil ngoceh dia mengutuki bintang<br />
                                    dan kunang-kunang</p>
<p>siang menjelang ditingkahi teriakan pengusir burung<br />
              dari jendela membentang sawah menguning<br />
          angin gunung mengurai rambut separuh pirang<br />
                   si prancis yang molek tergolek di ranjang<br />
pinggulnya sempurna bagai lekuk gitar<br />
                                             membuat mata jadi nanar<br />
payudaranya menggoda penuh mukjizat<br />
                                                          bagai buah khuldi<br />
puting merah muda merekah indah<br />
                       di siang yang pasrah<br />
                                        waktu jadi lamban dan malas</p>
<p>si gadis prancis menggeliat<br />
         matanya setengah terbuka<br />
bibir tipisnya aroma arak<br />
         si manis prancis masih mengigau:<br />
                                              “di mana saya,<br />
                                      mau ke mana saya?”</p>
<p>(2006)</p>
<p>IMPIAN USAI</p>
<p>impian usai di akhir<br />
napak tilas yang bergegas<br />
           gagu meraba getir takdir<br />
galau membaca jejak aksara di tapak tangan<br />
ingatkah kau pada pasir yang mampir dan<br />
            terlunta di bening gelas anggurku?</p>
<p>perempuan tuntas membekas pada jiwa<br />
usia dan tahun tiba sebelum senja<br />
            tinggal kenangan, selalu kenangan<br />
rekah dan sumringah bagai geliat pandan<br />
            ingin membawa kita meretas<br />
abadi dalam pasang surut musim</p>
<p>mimpi terpanjangku adalah keheningan<br />
angan yang menyesatkan pengembara pada<br />
                    rahasia cuaca dan getar cahaya<br />
guratkan lagi aksara penghabisan<br />
agar sempurna kepedihan demi kepedihan</p>
<p>(2006)</p>
<p>SURAT DARI RUMAH PANTAI<br />
         -untuk unan-</p>
<p>wahai perempuan bertudung sepi<br />
akhirnya aku kembali ke rumah pantai<br />
              ombak berkali-kali membujukku<br />
dengan desah dan lenguh memabukkan<br />
              erang pun bergema dari cangkang kerang</p>
<p>wangi bunga pandan bagai aroma pipimu<br />
urailah rambutmu agar angin garam membelainya mesra<br />
lalu senyumlah padaku yang lenyap dalam pelukan samudera<br />
               agar tentram jiwamu menatapku lekang<br />
namamu, namaku, mungkin akan abadi di setiap dermaga</p>
<p>rumah pantai telah menerimaku dengan keteduhannya<br />
aku ‘kan bermukim di situ bersama ubur-ubur dan hiu biru<br />
                tak perlu lagi kau risaukan aku<br />
nelayan-nelayan bermata cahaya jadi kawan karibku<br />
         aku telah menggadaikan jiwaku pada peri laut penipu</p>
<p>(2006)</p>
<p>SINDHU<br />
-buat: i.p.m-</p>
<p>di sindhu<br />
selembar daun waru<br />
                menyerpih<br />
menjadi 17 suku kata<br />
             pada putih pasir<br />
yang mengulum buih air</p>
<p>kau sebut itu<br />
haiku yang menunggu<br />
               kehadiranmu</p>
<p>puisi dengan cahaya pelita pudar<br />
mendadak lepas dari kilau tatap matamu<br />
         bagai mutiara yang hampir matang<br />
                 kau rampungkan hening<br />
          dalam nyaman cangkang kerang</p>
<p>namun, di sindhu<br />
yang sisa hanya lagu bisu<br />
                         dan haiku<br />
menyimpan rahasia<br />
                  daun waru tua</p>
<p>(2006)</p>
<p>PERAHU TUA</p>
<p>perahu tua yang sendiri di laut raya<br />
        adakah halimun melingkupimu<br />
saat waktu-waktu biru mengukir batas<br />
          pada warna ombak beralun-alun<br />
                          atau bayang bebukitan<br />
                                            di kejauhan</p>
<p>perahu tua yang sendiri terlunta<br />
pada hampar samudera tersepuh cahaya<br />
          di manakah akhir pelayaran<br />
dermaga demi dermaga<br />
                      telah menambatkan usia<br />
                                       dan juga dosa<br />
tapi belum juga kau tahu<br />
          di mana pulau itu berada</p>
<p>perahu tua yang telah menjelajahi<br />
segala cuaca dan wangi musim<br />
          kau pilih laut itu<br />
sebagai kuburan abadimu</p>
<p>camar-camar dan elang laut akan singgah<br />
melepas letih di tiang-tiang layarmu<br />
                                  yang setengah patah<br />
dan ikan-ikan beranak pianak di lapuk lambungmu<br />
                                                   <br />
perahu tua, perahu tua<br />
           kurayakan masa lalumu<br />
dengan kidung kerang selepas senja<br />
dan mimpi-mimpi indah terumbu karang</p>
<p>(2006)</p>
<p>TAMAN SILAM</p>
<p>hari mengalir dari lipatan tanganmu<br />
        hanyut dalam sungai silam<br />
membentangkan secarik taman<br />
                   menjelma seserpih kisah<br />
                      <br />
di bawah rimbun pepohonan<br />
di antara reruntuhan petilasan tua<br />
                 kau mengubur air mata<br />
sebab kitab-kitab aksara<br />
           atau lembar-lembar gambar<br />
                       entah bermakna apa<br />
nyaris lapuk di ujung penantianmu</p>
<p>tunjukkan aku sehelai rupa<br />
                              atau segurat kata<br />
yang mampu menyihir jiwaku<br />
                 agar kembali aku padamu</p>
<p>tapi masih saja kau gagu di taman itu,<br />
taman yang ribuan tahun memberkatimu<br />
dengan keindahan sekaligus kepedihan</p>
<p>taman seserpih kisah<br />
yang diramu sang pemilik abadi waktu<br />
                  sia-sia menunggu<br />
                                       jiwa-jiwa galau</p>
<p>kau lepas, aku tandas<br />
         di sungai tak berbatas<br />
                     di taman tak berbekas</p>
<p>hanya desis ular<br />
menjalar dari rimbun belukar<br />
        siaga mematuk resahmu,<br />
gelisahmu,<br />
                keluhmu,<br />
                                dungumu…</p>
<p>(2006)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2008/09/09/kumpulan-puisi-impian-usai/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi MALAM CINTA</title>
		<link>http://jengki.com/2008/09/07/kumpulan-puisi-malam-cinta/</link>
		<comments>http://jengki.com/2008/09/07/kumpulan-puisi-malam-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 05:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/2008/09/07/kumpulan-puisi-malam-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[DENPASAR
toko toko tua anyaman pengembara
jalan gajah mada menggeliat
di lekuk lekuk tubuh
betinaku yang gairah
menyusuri embun dinihari
kita nikmati malam percintaan
dalam adonan kasih soto babat
yang melabuhkan resah lapar penyair
di bawah jembatan cinta
terbayang wajah kota ya