<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengki.com</title>
	<atom:link href="http://jengki.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jul 2010 02:15:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Melukis dari Kemurnian Batin</title>
		<link>http://jengki.com/2010/07/09/melukis-dari-kemurnian-batin/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/07/09/melukis-dari-kemurnian-batin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 02:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Wayan Sunarta
Dengan penuh pertimbangan matang, Made Budhiana kembali tampil berpameran tunggal, bertajuk “Melintas Cakrawala”. Pameran itu digelar di Maha Art Gallery, Sanur, Bali, sejak 26 Mei hingga berakhir baru-baru ini. Dia menyuguhkan 29 karya dari tahun 1983 hingga 2010, berbahan kertas dan kanvas berbagai ukuran. Pameran juga dirangkai dengan peluncuran buku biografinya, workshop [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Wayan Sunarta</p>
<p>Dengan penuh pertimbangan matang, Made Budhiana kembali tampil berpameran tunggal, bertajuk “Melintas Cakrawala”. Pameran itu digelar di Maha Art Gallery, Sanur, Bali, sejak 26 Mei hingga berakhir baru-baru ini. Dia menyuguhkan 29 karya dari tahun 1983 hingga 2010, berbahan kertas dan kanvas berbagai ukuran. Pameran juga dirangkai dengan peluncuran buku biografinya, workshop drawing dan kolaborasi seni.</p>
<p>Memang, dia sangat jarang berpameran tunggal. Meski sangat produktif berkarya, dia sangat selektif menerima undangan pameran. Visi dan misi suatu pameran menjadi hal utama baginya. Jika sesuai dengan idealismenya, pameran bersama perupa-perupa “bau kencur” pun mau diikutinya.</p>
<p>Budhiana dikenal luas sebagai penekun aliran abstrak. Mengandalkan kekuatan guratan garis dan torehan warna yang memukau, yang lahir dari hasil perenungan mendalam terhadap alam dan kehidupan. Hal itu, misalnya, bisa dinikmati pada lukisannya yang berjudul “Tebing-Tebing Perjalanan” (2009). Dalam lukisan abstrak itu, terlihat kepiawaiannya memainkan gurat-gurat garis dan torehan-torehan warna yang mampu membawa apresian ke dalam renungan perihal kehidupan.</p>
<p>Kalau dicermati lebih jauh, Budhiana juga sering melukis figur atau membuat sketsa/drawing dengan memakai kawan-kawan dekatnya sebagai model. Misalnya, terlihat pada karyanya yang berjudul “Suwardi Membaca” (2001), “Termenung” (2003), “Bengong” (2003), “Made Sudana” (2009). Bagi Budhiana, model-model itu hanya sebagai pemantik inspirasinya saat melukis. Sebab kebanyakan hasil karyanya yang dibuat berdasarkan model tidaklah bersifat realis, melainkan hanya gurat-gurat garis menyerupai manusia. Budhiana berupaya menekankan pada pelukisan spirit dari modelnya, melukis jiwa manusia.</p>
<p>Ketika melakukan perjalanan ke alam bebas, dia juga suka melukis lanskap alam pantai dan pegunungan. Misalnya, terlihat pada karya “Orang Aborigin dan Alam” (1990), “Gelombang Pesinggahan” (1991), “Foggy Temple” (2001), “Jeritan Alam” (2007), “Suara-suara Alam” (2008), “Echo” (2009). Lukisan-lukisan lanskap ini dibuat dengan teknik abstraksi dengan alam sebagai sumber inspirasinya. Terkadang di beberapa lukisan lanskap menyembul juga figur-figur yang dibuat distorsif.</p>
<p>Bagi Budhiana, semua media dan bahan memiliki keunikan tersendiri dan sama menariknya. Dia suka merespon benda-benda temuan dengan guratan-guratan garis dan warna. Misalnya, sobekan koran bekas yang berisi ilustrasi/foto yang menarik perhatiannya, hasil sablon tak jadi, bongkahan kayu, triplek bekas, dan sebagainya. Begitu juga dengan bentuk dan ukuran karya tidak menjadi masalah baginya. Melukis di bidang kanvas ukuran besar sama asyiknya dengan melukis di kertas ukuran kartu pos dan kartu nama.</p>
<p>Budhiana berkeyakinan bahwa keindahan berserakan dimana-mana, termasuk di sekitar lingkungannya. Perlu kepekaan tersendiri untuk mewujudkan keindahan itu menjadi karya seni. Maka, tak mengherankan jika dia mampu menampilkan objek-objek remeh temeh menjadi karya-karya yang sublim. Ketika melukis pun, dia tidak terlalu peduli dengan gaya, aliran, atau metode standar seni rupa. Dia hanya berpedoman pada kebebasan imajinasi dan kemurnian jiwa. Namun karya-karyanya tetap memiliki ciri khas yang jelas, baik yang abstrak maupun yang figuratif. Semuanya khas sentuhan tangan Budhiana.</p>
<p>Budhiana lahir di Denpasar, 27 Maret 1959. Dia tamatan ISI Yogyakarta. Sejak 1989, dia telah lima kali tampil dalam pameran tunggal, antara lain di Sika Contemporary Art Gallery Ubud (2001), Ganesha Gallery, Jimbaran, Bali (1998), The Northern Territory Museum of Art and Sciences, Darwin, Australia (1989). Dia juga pernah mengikuti sejumlah pameran bersama di dalam dan luar negeri. Sejumlah penghargaan dalam bidang seni lukis telah pula diraihnya.</p>
<p>Kegemarannya menggauli alam beserta keindahan yang terkandung di dalamnya berpengaruh pada proses kreatifnya. Aroma garam pesisir pantai, sengat matahari tanah gersang, dingin halimun pegunungan, basah  hutan tropika, telah berkelindan dalam jiwanya. Kepolosan tatapan mata bocah pegunungan, gerak ringkih nenek yang menjunjung kayu bakar, keringat petani garam, tawa renyah gadis warung kopi, selalu mampu mengharukan jiwa dan membuatnya senantiasa rindu mengunjungi alam pedesaan.</p>
<p>Sejak kecil dia telah jatuh hati dengan alam pedesaan. Hampir setiap bulan dia menyempatkan diri mengunjungi pelosok-pelosok desa terpencil di Bali. Misalnya, dia pergi ke Desa Ban, sebuah sudut gersang di lereng Gunung Agung di Karangasem. Di desa terpencil itu dia menemani dan mengajari anak-anak desa melukis, dan yang terpenting lagi adalah membimbing anak-anak mengenali diri dan alam lingkungannya sendiri. Atau di lain waktu dia hanyut dalam kesibukan petani garam di Kusamba, Klungkung. Dia selalu membekali dirinya dengan kamera ketika bepergian. Dia suka memotret objek-objek menarik dan unik, yang suatu saat dituangkannya menjadi lukisan di kertas atau kanvasnya.</p>
<p>Pergi ke pelosok desa bukan hanya sekedar untuk mencari inspirasi dan melukis. Namun merupakan salah satu cara untuk membongkar sudut pandangnya terhadap alam dan kehidupan. Dengan kata lain belajar melihat alam dan kehidupan secara polos, tanpa pretensi apa-apa.  “Sudut pandang kita terhadap suatu hal mesti diperbarui terus agar batin kita semakin kaya dengan hal-hal yang beraneka ragam,” tutur Budhiana.</p>
<p>Alam dan kehidupan, bagi Budhiana, merupakan sumber inspirasi dan keindahan yang tiada pernah habis-habisnya. Keindahan terkandung dalam kebersahajaan atau kepolosan.</p>
<p>“Terkadang alam yang terlihat tenang pun sebenarnya mengandung gejolak yang tidak kita sadari. Itulah keunikan alam yang mesti dilihat secara esensial,” ujarnya.</p>
<p>Bagi Budhiana, menjadi seniman yang matang harus melewati proses alamiah yang lahir dari keinginan dalam diri sendiri. Yang terpenting lagi mesti ada kemerdekaan dalam berkarya. Dia melihat sekarang ini intervensi-intervensi berbagai kepentingan terlalu kuat merasuki dunia kesenian sehingga tanpa sadar seniman telah hanyut dalam arus besar yang bergejolak. Baginya, menjadi seniman adalah menolak menjadi mesin.</p>
<p>“Karya bagus hanya lahir dari pencapaian diri sendiri, dari kemurnian batin, bukan karena pengaruh pasar. Dunia seni rupa sekarang hanya ramai di permukaan dan lebih menonjolkan kemeriahan pasar. Banyak seniman tidak memiliki pijakan yang kuat sehingga mudah ikut arus trend yang sedang laris di pasaran,” ujarnya prihatin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/07/09/melukis-dari-kemurnian-batin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana di Pekarangan Tubuhku</title>
		<link>http://jengki.com/2010/06/08/gerhana-di-pekarangan-tubuhku/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/06/08/gerhana-di-pekarangan-tubuhku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 02:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai dan Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Undangan Terbuka
 
 
Malam Purnama, Gerhana Bulan, Gerhana Puisi, Gerhana di “Pekarangan Tubuhku”
 
 
“gerhana itu tiba di bulan juni, meniupkan wangi puisi…”
PEKARANGAN TUBUHKU (Penerbit Bejana, Juni 2010) karya Wayan ‘Jengki’ Sunarta, akan disemai, ditaburi, ditanami, disirami, dipupuki, dipanen, dan diluncurkan pada hari: Sabtu, 26 Juni 2010; jam 18.35 wita menjelang puncak Gerhana Bulan, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Undangan Terbuka</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Malam Purnama, Gerhana Bulan, Gerhana Puisi, Gerhana di “Pekarangan Tubuhku”</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>“gerhana itu tiba di bulan juni, meniupkan wangi puisi…”</p>
<p><strong><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/06/pekarangan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-467" title="pekarangan" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/06/pekarangan-300x211.jpg" alt="" width="300" height="211" /></a>PEKARANGAN TUBUHKU</strong> (Penerbit Bejana, Juni 2010) karya Wayan ‘Jengki’ Sunarta, akan disemai, ditaburi, ditanami, disirami, dipupuki, dipanen, dan diluncurkan pada hari: <strong>Sabtu, 26 Juni 2010; jam 18.35 wita</strong> menjelang puncak Gerhana Bulan, di Toko Buku Diskon TOGAMAS Denpasar, Jl. Hayam Wuruk No. 175, Tanjungbungkak, Desa Sumerta, Denpasar Timur, telp/fax 0361 262375. Acara peluncuran dan bedah buku puisi ini terbuka untuk umum (gratis).</p>
<p>Acara akan dibuka oleh Bapak I Gusti Ngurah Gede Pemecutan (pelukis, penulis puisi, pemilik Museum Lukisan Sidik Jari). Kemudian dilanjutkan dengan kolaborasi “Puisi – Rupa” oleh Wayan Sunarta dan pelukis Ketut ‘Kabul’ Suasana dan Gede Gunada. Acara akan semakin meriah dengan pembacaan puisi oleh Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, Made Adnyana Ole, Muda Wijaya, Kadek Surya Kencana, Putu Vivi Lestari, Pranita Dewi, Ni Made Purnamasari, Ni Made Frischa Aswarini, Ayu Winastri, Mira Novianti Astra, Ni Putu Rastiti, Ni Ketut Sudiani, Joan Valentina, dan spontanitas dari para hadirin. Dalam sesion spontanitas, terbuka kesempatan bagi yang ingin sukarela mengisi acara dengan: baca puisi, musikalisasi puisi, teaterisasi puisi, repertoar, atau kreasi menarik lainnya.</p>
<p>Setelah itu, akan digelar obrolan ringan-santai perihal “Proses Kreatif, Jalan Kepenyairan, Proses dan Problem Penerbitan Buku Puisi”, yang dimoderatori oleh Moch Satrio Welang. Dalam sesion ini, kawan-kawan apresian dan hadirin bisa berdiskusi dan berbagi pengalaman perihal puisi dan kepenyairan, impian dan pengalaman menerbitkan buku puisi, dan hal-hal yang berkaitan dengan puisi serta proses kreatifnya. “Pekarangan Tubuhku” juga membuka peluang bagi yang ingin mengapresiasi, mengritisi, mengritik, mencaci-maki, memuji, menguji, mempertanyakan, dan sebagainya.</p>
<p>Di “Pekarangan Tubuhku” juga dirayakan ulang tahun ke-35 Wayan Sunarta. Ulang-alik kontemplasi kelipatan lima, ziarah resah batin; buana alit &#8211; buana agung, sembari menghitung helai-helai uban di rambut dan helai-helai puisi di laci meja. Bagi yang merasa lahir di bulan Juni, yang merasa di bawah naungan rasi <em>Mithuna</em> dan <em>Kataka</em>, Gemini dan Cancer, ayooo…ikut meriahkan Pesta Gerhana Bulan, Pesta Ulang Tahun masing-masing dengan kembang api warna-warni puisi. Para dermawan yang ingin menyumbang kue tart, pisang/kripik goreng, ketela/singkong rebus, kacang rebus, atau birrrr….(*hidup bir) dengan sangat senang hati diterima di Malam Gerhana Bulan, disertai doa semoga bahagia seumur hidup dan berlimpah rejeki.</p>
<p><strong>Wayan Sunarta</strong> alias Jengki lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Belajar Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Sempat mencicipi kuliah seni rupa di ISI Denpasar. Mulai menulis puisi sejak awal 1990-an. Kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah <em>Cakra Punarbhawa</em> (Gramedia, 2005) dan <em>Purnama di Atas Pura </em>(Grasindo, 2005). <strong>PEKARANGAN TUBUHKU</strong> (Bejana Bandung, Juni 2010) adalah buku kumpulan puisi (anak rohani) keempat Wayan Sunarta, setelah “Pada Lingkar Putingmu” (bukupop, Jakarta, 2005), “Impian Usai” (Kubu Sastra, Denpasar, 2007), “Malam Cinta” (bukupop, Jakarta, 2007).  Kini, ia bergiat di Yayasan Metropoli Indonesia sebagai koordinator program seni budaya untuk anak-anak desa di Karangasem, Bali. Selain itu, juga menjadi koresponden Majalah Seni ARTI untuk wilayah Bali. Email: <a href="mailto:myjengki@yahoo.com">myjengki@yahoo.com</a>. Web: www.jengki.com.</p>
<p>“Pekarangan Tubuhku” merangkum sekitar 68 puisi baru (2007 &#8211; 2010) dengan beragam tema dan gaya ungkap. Buku ini bisa didapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda. Ada diskon khusus untuk buku “Pekarangan Tubuhku” pada saat acara peluncuran ini.</p>
<p>“Sangatlah bijak dan bajik orang yang sudi membeli buku puisi, karena ikut membantu keberlangsungan penerbitan buku puisi…”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/06/08/gerhana-di-pekarangan-tubuhku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerinduan Spiritual Generasi Bunga</title>
		<link>http://jengki.com/2010/05/07/kerinduan-spiritual-generasi-bunga/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/05/07/kerinduan-spiritual-generasi-bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 01:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Teks: Wayan Sunarta, Foto: Wayan Sunarta dan Panitia
Langit di Batuan dan Ubud kadang mendung, kadang terang. Udara gerah. Sesekali gerimis bertaburan menyapa bumi. Udara berubah lembab dan dingin. Cuaca memang tak menentu akhir-akhir ini. Namun kegalauan cuaca tak menyurutkan semangat para peserta “Bali Spirit Festival 2010” untuk mengikuti berbagai kegiatan yang digelar.
Peserta yang berdatangan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teks: Wayan Sunarta, Foto: Wayan Sunarta dan Panitia</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC01192.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-458" title="DSC01192" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC01192-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Langit di Batuan dan Ubud kadang mendung, kadang terang. Udara gerah. Sesekali gerimis bertaburan menyapa bumi. Udara berubah lembab dan dingin. Cuaca memang tak menentu akhir-akhir ini. Namun kegalauan cuaca tak menyurutkan semangat para peserta “Bali Spirit Festival 2010” untuk mengikuti berbagai kegiatan yang digelar.</p>
<p>Peserta yang berdatangan dari berbagai penjuru benua tampak hilir mudik di lokasi festival. Siang menjelang. Dengan wajah sumringah, beberapa peserta menikmati menu vegetarian yang tersedia di stand-stand makanan. Sebagian lainnya asyik dengan urusan masing-masing. Mereka baru saja selesai mengikuti berbagai workshop yang berkaitan dengan yoga, tari, dan musik.</p>
<p>Itulah sekilas suasana festival yang digelar di Purnati (Batuan) dan ARMA Museum (Ubud) sejak 31 Maret hingga 4 April 2010. Menurut salah satu panitia, Noviana Kusumawardhani, festival yang dipersiapkan selama setahun ini, mengundang sekitar 150 presenter dan performer dari 30-an negara. Tahun ini peserta yang hadir berjumlah ratusan orang. “Mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Novi.</p>
<p>Festival ini digagas oleh I Kadek Gunarta, Meghan Pappenheim dan Robert Weber. Tema yang diangkat adalah “Tri Hita Karana”, yakni hubungan yang harmonis dengan Tuhan, alam, dan masyarakat. Festival ini memasuki tahun ketiga sejak diadakan pertama kali pada tahun 2008. Kadek Gunarta menjelaskan bahwa misi festival ini adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan potensi setiap individu dalam mewujudkan perubahan positif di dunia. “Selain itu, juga untuk mendorong kekuatan kolaborasi komunitas kreatif marginal, dan berupaya untuk meningkatkan keharmonisan dan keberlanjutan ekologi Bali, dan keberagaman budaya Indonesia, “ tutur Gunarta.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC00462.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-463" title="DSC00462" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC00462-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Setiap hari festival dipadati berbagai kegiatan, mulai dari workshop yoga, musik, dan tari, dilanjutkan dengan berbagai pementasan world music dan tari kolaborasi. Kegiatan workshop tersebar di beberapa tempat di Purnati, seperti di pavilium utama, wantilan, amphitheatre, atau di bawah tenda-tenda yang khusus dipersiapkan untuk acara ini. Sedangkan pementasan seni berlangsung tiap menjelang senja hingga tengah malam di panggung terbuka ARMA Museum, Ubud. Di sekitar lokasi festival terdapat sejumlah stand yang menjual makanan dan minuman, pernak-pernik spiritual, pakaian dan aksesori, hingga stand <em>healing</em> dan <em>therapy</em>.</p>
<p>Workshop yoga diisi dengan berbagai teori dan praktek perihal yoga, seperti pranayama, meditasi, hatha yoga, kundalini yoga, yoga &amp; ayurveda, vinyasa yoga, anusana yoga, pranala yoga, ashtanga yoga, zen thai yoga, iyengar yoga. Selain itu juga diselingi dengan workshop musik dan tari yang dikaitkan dengan yoga, therapy dan healing.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC01466.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-459" title="DSC01466" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC01466-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Para pembicara dan pemateri workshop adalah tokoh-tokoh berpengalaman dari berbagai negara. Untuk menyebut beberapa nama, di antaranya hadir Shiva Rea (USA), Mark Whitwell (New Zelland), Danny Paradise (USA), Eoin Finn (Kanada), Bridget Woods-Kramer (Ukraina), Katy Appleton (Ukraina), Twee Merrigan (USA), Duncan Wong (Jepang), Uma Inder (India), Ninie Ahmad (Malaysia), Rocky Mustafa (Indonesia), Carole Baillargeon (Australia), Peter Sterios (USA), Patrick Creelman (Hongkong), Ananda Leone (Jerman), Gede Prama (Indonesia), Amalia Wai Ching (Singapura), Matej Jurenka (Slowakia), Joseph Lee (Singapura), Tina Nance (Taiwan).</p>
<p>Pementasan world music, kolaborasi musik dan tari, disuguhkan oleh tokoh-tokoh dan grup terkenal dari berbagai negara. Di antaranya adalah Mamadou Diabate (Mali), Ganga Giri (Australia), Afro Moses (Ghana), Kultiration (Swedia), Daphne Tse (USA), Cheb i Sabbah (Algeria), D&#8217; Cinnamons (Indonesia), Tropical Transit (Indonesia), Samian (Kanada), Nyoman Windha Contemporary Gamelan (Indonesia), Nyanyian Dharma (Indonesia).</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC_2724.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-460" title="DSC_2724" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/DSC_2724-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a>Selain itu, pagelaran juga diisi dengan gamelan Selonding dari Sukawati, tari-tarian Bali dari kelompok Cudamani, Tuju Taksu, tari legong oleh Bulan Trisna Djelantik, gamelan Gambang dari Padang Tegal, Genjek dari Karangasem, Didik Nini Thowok, kolaborasi tari-musik Nyoman Sura dan Ayu Laksmi, kolaborasi tari Jasmine Okubo dan gamelan kontemporer pimpinan Nyoman Windha, pementasan Sanggar Nata Raja, lagu-lagu ShakinaMa, Amae &amp; Friends, dan masih banyak lagi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Gaya Hidup</strong></p>
<p>Yoga dan kegiatan spiritual telah menjadi gaya hidup di banyak belahan dunia, terutama Barat. Bangsa Barat yang telah kenyang menikmati kehidupan modern dengan logika-logika ilmu pasti, kini kembali menatap ke Timur yang dianggap sebagai pusat spiritualitas. Barat telah lama menyadari, kehidupan modern dan kemapanan ternyata hanya menyisakan kehampaan jiwa. Kehidupan modern telah menghilangkan sesuatu yang sangat esensial, yakni kerinduan spiritual. Banyak orang Barat yang kemudian mengembara ke Timur, belajar yoga dan meditasi, baik di India, Tibet, Bali, dan daerah-daerah yang dirasa mampu memberikan kedamaian jiwa dan mengobati kerinduan mereka pada Sang Hakiki.</p>
<p>Bali Spirit Festival ini merupakan salah satu bentuk kerinduan itu. Para peserta yang haus akan spiritual datang dari berbagai belahan benua, seperti Amerika, Eropa, Afrika, Asia, India. Sedangkan peserta Indonesia berdatangan dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Medan, Bali. Mereka berkumpul menjadi satu komunitas spiritual. Perbedaan warna kulit tidak menjadi halangan bagi mereka untuk saling berkomunikasi, berbagi rasa dan pikiran, bercengkerama, saling belajar dan menyerap inspirasi demi pencerahan jiwa.</p>
<p>Hal itu misalnya diungkapkan oleh salah satu peserta, Elsi Siswianti. Elsi adalah instruktur yoga dari Jakarta. Dia baru pertama kali ikut dalam festival ini. Dia mengatakan festival ini memberinya banyak pengalaman berharga yang tak terlupakan. Karena selain bisa berkumpul dengan peminat/penekun yoga dan spiritual dari berbagai negara, dia juga bisa bertemu langsung dengan guru-guru yoga kelas dunia.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG_1891.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-461" title="IMG_1891" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG_1891-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>“Dalam festival ini kita merasakan kebersamaan, persaudaraan dan persatuan, walaupun berasal dari negara yang berbeda-beda. Karena menyadari bahwa kita sama-sama ciptaan Tuhan. Kegiatan ini sangat bermanfaat dan bisa dijadikan conton teladan,” tutur wanita cantik ini.</p>
<p><strong>Generasi Bunga</strong></p>
<p>Festival ini terkesan seperti perkampungan kaum <em>hippies</em> atau kaum <em>gipsy</em>. Sejumlah peserta tampak mengenakan dandanan dan aksesori nyentrik yang cukup mengundang perhatian. Sekilas festival ini seperti diliputi aroma kerinduan akan kebangkitan Generasi Bunga (The Flower Generation) yang pernah menjadi ikon gaya hidup pada tahun 1960-an hingga 1970-an, baik di Amerika maupun belahan dunia lainnya.</p>
<p>Generasi Bunga atau yang biasa disebut kaum <em>hippies</em> pada jamannya memang dilandasi semangat anti kemapanan, menolak perang, memuliakan cinta dan perdamaian. Mereka adalah generasi yang mengisi kehampaan jiwanya dengan mengembara ke Timur, demi menyerap aura spiritual. Mereka adalah generasi yang merindui kebebasan, merayakan kemerdekaan jiwa. Namun pada banyak kasus, sebagian dari mereka terjebak dalam asap mariyuana, demi meraih kondisi ektase.</p>
<p>Dalam festival ini bisa disaksikan bagaimana arwah-arwah Generasi Bunga bangkit kembali. Hal itu misalnya bisa diperhatikan dari gaya dandanan dan aksesori yang menghiasi tubuh sejumlah peserta. Terlihat gadis-gadis manis bermata biru dengan santai berpakaian ala kadarnya, menyelipkan bunga di telinga, memakai ikat kepala, mengenakan kalung dan gelang manik-manik. Yang lelaki bertelanjang dada dengan rambut gondrong dan brewok awut-awutan. Tatto beraneka rupa juga menghiasi tubuh sejumlah peserta, sebagai keindahan sekaligus simbol eksistensi.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/40.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-462" title="40" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/05/40-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Aroma Generasi Bunga lebih terasa lagi dalam sebuah gubuk sederhana yang dibubuhi plang nama “Balifornia Bamboo”. Gubuk yang terbuat dari anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu dibangun secara kolaboratif oleh orang-orang Bali dan Amerika. Di depan gubuk dipasang rangkaian bunga dan bermacam tulisan yang menjelaskan visi dan misi mereka. Di dalam gubuk, terlihat beberapa peserta (laki-perempuan) duduk santai sambil berdiskusi perihal spiritual. Di saat lain mereka saling berpelukan dan berbagi kasih, tidur-tiduran dengan posisi tumpang tindih. Pada mata mereka terbaca kerinduan ingin kembali ke dunia kanak-kanak, kepada kemurnian jiwa.***</p>
<p>(Tulisan ini dimuat di Majalah ARTI edisi 27, Mei 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/05/07/kerinduan-spiritual-generasi-bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kilau Permata di Pasar Burung</title>
		<link>http://jengki.com/2010/04/14/kilau-permata-di-pasar-burung/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/04/14/kilau-permata-di-pasar-burung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 08:03:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Wayan Sunarta
Seorang lelaki paruh baya dengan senter kecil di tangan nampak asyik mengamati sebutir batu permata mirah Birma (ruby from Burmese). Batu permata berwarna merah menyala dengan kilau sinar bintang (star) berjari enam yang tajam itu begitu memukaunya.
“Ini mirah yang cukup langka. Kristalnya bening dan ber-star,” ujar Handri dengan nada sedikit promosi.
Lelaki paruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Wayan Sunarta</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/permata-di-pasar-burung-11.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-453" title="permata-di-pasar-burung-(1)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/permata-di-pasar-burung-11-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Seorang lelaki paruh baya dengan senter kecil di tangan nampak asyik mengamati sebutir batu permata mirah Birma (ruby from Burmese). Batu permata berwarna merah menyala dengan kilau sinar bintang (star) berjari enam yang tajam itu begitu memukaunya.</p>
<p>“Ini mirah yang cukup langka. Kristalnya bening dan ber-star,” ujar Handri dengan nada sedikit promosi.</p>
<p>Lelaki paruh baya itu manggut-manggut sambil tersenyum tipis. Ketika dia tanya harga batu seukuran biji kacang kedelai itu, Handri menyebut angka dua juta rupiah. Tawar menawar pun terjadi. Akhirnya, Handri melepas batu itu dengan harga satu setengah juta rupiah.</p>
<p>Handri, pria asal Jawa Timur, merupakan salah satu dari sekian banyak pedagang batu permata di Pasar Burung di Jalan Veteran, Denpasar. Pada mulanya Pasar Burung merupakan pasar yang lebih banyak didominasi oleh pedagang dan pecinta burung. Namun lama kelamaan pedagang dan pecinta batu permata mendominasi Pasar Burung. Bahkan, di sana berdiri “Asosiasi Penggemar Batu Permata Bali” yang kebanyakan beranggotakan para pedagang batu permata di Pasar Burung.</p>
<p>Selain di Pasar Burung, kumpulan pedagang batu permata bisa juga ditemui di sebelah barat Pasar Kreneng, Denpasar. Hanya sedikit pedagang yang memiliki toko permanen. Kebanyakan menjajakan dagangan dengan sangat sederhana. Cincin-cincin dengan permata aneka ragam dalam kotak perhiasan disusun rapi di atas meja sederhana, bahkan ada yang digeber di lantai.</p>
<p>Pembeli mengamati dan menaksir batu permata sambil berdiri atau berkacak pinggang. Kalau merasa tertarik dengan permata tertentu, pembeli akan jongkok atau duduk di kursi sederhana dan mulai memilih-milih. Tawar menawar pun terjadi, kadang diisi dengan percakapan mengenai khasiat batu permata itu. Tujuan seseorang membeli batu permata juga macam-macam. Ada yang hanya menyukai keindahannya, ada yang untuk koleksi dan investasi. Bahkan tidak sedikit pembeli yang sibuk memburu batu-batu tertentu yang diyakini bertuah magis.</p>
<p>Setiap hari, dari pagi sampai sore, Pasar Burung selalu ramai dengan transaksi batu-batu permata. Sedangkan di Pasar Kreneng, pedagang menjajakan dagangan dari pagi hingga jam satu siang. Di kedua pasar tersebut banyak juga berkeliaran calo batu permata. Para calo ini memiliki kelompok tersendiri.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/permata.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-454" title="permata" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/permata-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Batu-batu permata yang dijajakan di Pasar Burung dan Kreneng beraneka ragam. Mulai dari jenis akik (agate), biduri sepah (tiger eyes), mata kucing (cat eyes), sitrin (citrine), giok (jade), pirus (turquis), kuarsa, kristal, obsidian, biduri bulan (moonstone), kecubung pengasihan (ametis), kalimaya (opal) hingga permata berkelas seperti jamrud (emerald), blue safir (blue sapphire), mirah (ruby). Namun, mesti berhati-hati, karena permata palsu juga banyak beredar di kedua pasar ini. Jika ingin membeli permata mesti mengajak teman yang benar-benar paham tentang seluk beluk batu permata.</p>
<p>“Saya pernah rugi membeli blue safir. Saya pikir asli, ternyata blue safir masakan,” ujar Parwata yang iseng-iseng membeli permata di Pasar Kreneng. Yang dimaksud batu masakan adalah jenis permata palsu yang diproses pabrik. Untung saja dia tidak rugi banyak, cuma seratusan ribu rupiah.</p>
<p>Harga batu-batu permata bervariasi, dari sepuluhan ribu hingga ratusan juta rupiah. Memang tidak ada standar harga yang baku. Semua tergantung jenis, ukuran, kelangkaan dan mitos-mitos tertentu yang dilabelkan pada sebiji permata. Selain itu, tergantung juga pada tawar menawar dan keakraban antara penjual dan pembeli. Harga untuk pelanggan setia tentu relatif berbeda dengan pembeli baru.</p>
<p>“Kalau permatanya berjenis kresnadana, harganya bisa sampai ratusan juta rupiah. Itu juga tergantung dari ukuran dan kondisi batunya. Orang Bali banyak mencari batu jenis ini,” kata Handri.</p>
<p>Kresnadana merupakan sebutan orang Bali untuk batu permata safir hitam (black sapphire) dengan nuansa kehijauan/kebiruan yang kilaunya sangat indah dan unik. Kilau sinarnya berstar enam dengan bias warna bernuansa kuning dan merah yang gemerlap. Permata ini sangat langka dan unik. Banyak penggemar permata tergila-gila dan memburu batu ini. Dan tentu saja rela melepaskan uang hingga ratusan juta rupiah.</p>
<p>“Permata kresnadana dipercaya membawa kemakmuran, kebijaksanaan dan melanggengkan kekuasaan,” tutur Mangku Bajra, seorang penggemar batu permata dari Sanur.</p>
<p>Selain kresnadana, batu permata yang banyak dicari orang Bali adalah permata berjenis rambut sedana atau kecubung rutil (rutilated quarts). Bentuk permata ini bening kristal, namun di dalamnya terdapat rambut/bulu berwarna kuning keemasan yang seringkali letaknya tak beraturan. Orang Bali, terutama yang bekerja sebagai pedagang, sering mengaitkan batu permata ini dengan kepercayaan kepada Dewa Rambut Sedana atau Dewa Uang. Aura permata ini diyakini melancarkan rejeki dan membawa keberuntungan dalam berdagang atau berbisnis.</p>
<p>Selain batu permata, banyak pembeli yang mencari benda-benda yang diyakini bertuah dan bernuansa mistik, seperti les kelor, les dadap, les gedebong, besi kuning, rantai babi, keris bertuah, buluh perindu, kayu panca suda, kul buntet (fosil keong). Les adalah sebutan untuk inti kayu atau kayu yang telah membatu dan seringkali digosok atau dipoles menjadi permata. Les kelor, besi kuning, rantai babi, dipercaya mampu membuat pemakainya kebal senjata tajam dan anti peluru. Namun benda-benda aneh ini sulit dipercayai keasliannya. Misalnya, fosil kayu berwarna hitam sering dijual sebagai les kelor. Bagaimana bisa mempercayai sebongkah atau sebiji fosil kayu yang usianya jutaan tahun sebagai kayu kelor, dadap, gedebong dan sebagainya?</p>
<p>Di antara batu-batu permata tentu tak ada yang mengalahkan keunikan batu akik gambar. Dan, tentu saja yang paling dicari dan langka adalah akik brumbun atau panca warna (lima warna). Sebutan lokal untuk jenis akik tertentu pun bermacam-macam, seperti akik madu, akik hati ayam, akik lumut, akik sulaiman, akik mani gajah, akik api, akik combong, dan sebagainya. Wilayah Indonesia, terutama daerah Jawa Barat dan Kalimantan, sangat kaya dengan berbagai jenis batu akik dan jasper. Di Pasar Burung dan Kreneng juga bisa ditemui aneka macam batu akik, baik yang masih bahan mentah, maupun yang sudah dipoles. Harganya pun relatif murah.</p>
<p>“Untuk akik biasa, harganya cuma sepuluh sampai dua puluh ribu rupiah per biji. Namun yang berisi gambar-gambar tertentu, harganya bisa sampai ratusan ribu hingga jutaan rupiah,” ujar Udin, seorang pedagang akik di Pasar Kreneng.</p>
<p>Karena relatif murah dan unik, banyak pecinta batu permata yang secara khusus memburu akik-akik gambar. Gambar atau motif itu terbentuk dari serat, urat, dan warna-warna alami batu itu sendiri. Dan tentu saja sangat tergantung pada keahlian dan kejelian tukang gosok batunya sehingga gambar yang diinginkan bisa terlihat lebih jelas. Gambar pada batu akik bisa bermacam-macam rupa. Secara umum dikelompokkan ke dalam gambar figur (manusia), tokoh pewayangan, hewan, tumbuhan, bunga, lanskap alam, angka, huruf, senjata, dan simbol-simbol tertentu.</p>
<p>Biasanya pedagang telah menyortir batu-batu akik yang dianggap berisi gambar menarik untuk dijual dengan harga relatif lebih mahal. Batu akik yang dianggap kurang istimewa akan dijual eceran atau kodian (20 biji). Membeli kodian tentu harganya jauh lebih murah, berkisar antara seratus hingga dua ratus ribu rupiah per kodi, tergantung nego.</p>
<p>Untuk mendapatkan batu akik gambar yang diinginkan, seorang pembeli mesti rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih dan meneliti sekian banyak akik yang bertebaran di meja pedagang. Imajinasi sangat berperanan penting dalam mengamati dan meneliti setiap batu akik itu. Karena kebanyakan akik yang kurang istimewa, bentuk gambarnya abstrak atau tak beraturan. Namun, di sinilah letak seni dan kenikmatan memburu batu akik gambar. Kalau lagi beruntung, pembeli bisa mendapatkan batu akik gambar naga, gambar macan, atau gambar-gambar unik lainnya dengan harga murah.</p>
<p>“Baru-baru ini saya dapat akik gambar naga. Sepintas gambarnya abstrak, namun setelah saya teliti lebih cermat ternyata ada gambar naga menyemburkan api. Saya jual satu juta rupiah kepada kolektor, padahal belinya cuma sepuluh ribu rupiah,” tutur Wayan Sudha, penggemar batu permata dari Grenceng, Denpasar.</p>
<p>Karena banyaknya penggemar batu akik gambar, maka pemalsuan juga sangat sering terjadi. Gambar tertentu yang paling sering diburu, dipalsukan dengan teknik khusus oleh beberapa pemasok dan pedagang batu permata. Kalau teknik pemalsuannya kurang canggih akan jelas terlihat gambar yang memang sengaja dibuat manusia, bukan murni dari alam. Gambar yang paling sering dipalsukan, di antaranya gambar naga, burung, huruf sakral, gambar keris, salib, tapak dara (tanda tambah).</p>
<p>Suasana transaksi batu permata di Pasar Burung dan Kreneng akan selalu ramai, dan bahkan mungkin semakin bertambah ramai. Sebab bisnis batu permata sangat menjanjikan seiring semakin bertambahnya penggemar batu-batu permata.***</p>
<p>(versi Bahasa Inggris dimuat di The Jakarta Post, Kamis, 1 April 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/04/14/kilau-permata-di-pasar-burung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyoman Sujana Kenyem, Memburu Keseimbangan dalam Puisi Alam</title>
		<link>http://jengki.com/2010/04/05/nyoman-sujana-kenyem-memburu-keseimbangan-dalam-puisi-alam/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/04/05/nyoman-sujana-kenyem-memburu-keseimbangan-dalam-puisi-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 01:28:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
Selain dikenal sebagai gudangnya seniman tradisi, Bali juga tidak kalah bersaing untuk menjagokan seniman-seniman modern dan post modern yang dimilikinya. Ada penari, pemusik, pematung, dramawan, sastrawan, pelukis. Mereka terbiasa bergerak ulang-alik antara tradisi dan modern, bahkan merambah wilayah absurd yang disebut post modern atau kontemporer.
Dalam ranah seni rupa, geliat modern sudah terlihat sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/Berdamai-dengan-Alam-2009.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-446" title="Berdamai-dengan-Alam,-2009" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/Berdamai-dengan-Alam-2009-281x300.jpg" alt="" width="281" height="300" /></a>Selain dikenal sebagai gudangnya seniman tradisi, Bali juga tidak kalah bersaing untuk menjagokan seniman-seniman modern dan post modern yang dimilikinya. Ada penari, pemusik, pematung, dramawan, sastrawan, pelukis. Mereka terbiasa bergerak ulang-alik antara tradisi dan modern, bahkan merambah wilayah absurd yang disebut post modern atau kontemporer.</p>
<p>Dalam ranah seni rupa, geliat modern sudah terlihat sejak 1930-an, ketika Walter Spies dan Rudolf Bonnet memperkenalkan bahan dan gaya melukis modern (Barat) ke pelukis tradisional. Sekarang ini perupa yang bergerak di wilayah seni modern dan kontemporer sudah tidak terhitung lagi, baik dari generasi tua dan muda. Untuk menyebut sekedar contoh, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Nyoman Tusan, Nyoman Erawan, Nyoman Masriadi, Putu Sutawijaya, Putu Wirantawan, Made Supena, Wayan Sujana Suklu, hingga Nyoman Sujana Kenyem.</p>
<p>Nyoman Sujana Kenyem termasuk deretan perupa muda yang sangat kreatif dan selalu gelisah menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam ranah seni rupa kontemporer. Perupa kelahiran Sayan, Ubud, Bali, 9 September 1972 ini telah kenyang dengan berbagai pameran bersama yang diikutinya sejak 1992. Dia juga telah menampilkan karya-karyanya dalam pameran tunggal, baik di Swedia, Singapura, Jakarta dan Bali.</p>
<p>Pada tanggal 4 Maret hingga 5 April 2010, Kenyem kembali menggelar pameran tunggal, bertajuk Embracing Nature’s Poem. Pameran yang menampilkan sejumlah karya lukis terbarunya itu berlangsung di Ganesha Gallery, Jimbaran, Bali. Tema-tema karyanya masih berkutat pada persoalan ekologi, dan upaya-upaya mencapai keharmonisan alam. Baginya, alam adalah puisi. Manusia mesti peka pada alam, mengagumi keindahannya sekaligus memeliharanya dengan baik untuk diwariskan kepada generasi mendatang.<br />
Karena alam adalah puisi, Kenyem banyak membubuhkan simbol bunga, daun, yang berkelindan dengan sosok-sosok manusia anonim. Semua itu serasa bersusunan menjadi puisi-puisi yang menyuarakan keprihatinannya terhadap nasib alam.</p>
<p>Simbol-simbol bunga dan daun kadangkala berpadu dengan citra kuda, sepeda ontel, perempuan seksi, dan sebagainya. Misalnya, pada lukisan “Sentuhan”, terlihat perempuan seksi yang berpose di bawah taburan bunga-bunga. Pada lukisan “Nostalgia” tampak sebuah sepeda ontel yang merana di bawah guguran daun, seakan mempertegas kesunyian dari sekelumit kenangan lampau.<br />
Atau, pada lukisan “Berdamai dengan Alam”, dia memadukan bunga-bunga dengan seekor kuda yang nampak beringas. Sosok-sosok manusia yang dilukisnya dengan ukuran kecil dan repetitif nampak tak kuasa menahan keberingasan kuda liar itu. Kuda liar merupakan simbol alam yang tak terkalahkan.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/Sentuhan-2009-145-x-135-c.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-447" title="Sentuhan,-2009,-145-x-135-c" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/Sentuhan-2009-145-x-135-c-278x300.jpg" alt="" width="278" height="300" /></a>Bunga, daun, melingkari dan melingkupi kehidupan manusia yang terus berupaya memburu keseimbangan atau keharmonisan. Itulah sebabnya sosok-sosok manusia repetitif dalam karya-karyanya selalu dibuat dengan pola merentangkan tangan, doyong ke kiri atau ke kanan. Itulah sosok-sosok manusia anonim yang dalam hidup ini tak habis-habisnya memimpikan keseimbangan.</p>
<p>Kenyem tidak hanya menggarap seni lukis, dia juga menekuni seni instalasi. Perjalanan karir kepelukisannya tentu melalui proses yang panjang dan tidak kenal istilah berhenti. Dia pernah menekuni corak ekspresionisme-abstrak ketika Bali dilanda demam mainstream tersebut. Kemudian dia juga membubuhi karya-karya abstraknya dengan nuansa figuratif dan objek-objek yang menarik perhatiannya.</p>
<p>Karya-karya mutakhirnya memperlihatkan bahwa Kenyem masih setia di corak abstrak dan figuratif, meski telah mengalami perluasan makna dan wilayah garapan seiring dengan tema dan isu yang diusungnya. Sampai saat ini Kenyem masih berkutat dengan isu ekologi, terlebih lagi perihal kehancuran alam yang melanda bumi.</p>
<p>Kenyem sangat prihatin dengan kasus-kasus kehancuran dan bencana alam di Tanah Air, seperti kasus luapan lumpur Lapindo, abrasi pantai, panambangan dan penebangan liar yang membahayakan alam dan manusia sendiri. Baru-baru ini dia mengunjungi kawasan Bromo dan Kawah Ijen untuk menyaksikan dan menyerap inspirasi betapa manusia sangat kecil di hadapan alam yang maha luas.</p>
<p>Bagi Kenyem, untuk mencapai tatanan yang harmonis manusia harus mendekatkan diri pada alam, mengagumi keindahannya sekaligus memeliharanya dengan baik untuk warisan generasi mendatang. Sesungguhnya alam adalah sahabat manusia, maka tidak sepantasnya manusia merusak atau menghancurkan hubungan yang telah terjalin harmonis itu.</p>
<p>Sebagai manusia Bali yang tumbuh di tengah alam pedesaan (Sayan), Kenyem sangat paham perihal hubungan manusia dengan alamnya. Di Bali, ada Tumpek Bubuh dimana manusia mensyukuri dan merayakan alam (pohon/tumbuhan) dengan ritual. Begitu pula dengan Tumpek Kandang, perayaan yang lebih ditujukan kepada hewan karena telah memberikan berkahnya untuk kelangsungan hidup manusia.</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/Nostalgia-2009-145-x-135-.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-448" title="Nostalgia,-2009,-145-x-135-" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/04/Nostalgia-2009-145-x-135--277x300.jpg" alt="" width="277" height="300" /></a>Di dalam karya-karyanya, Kenyem banyak menggunakan simbol daun, bunga, batang bambu untuk menyuarakan keprihatinannya terhadap nasib alam hayati. Daun adalah kehidupan dimana zat hijau daun (klorofil) terkandung di dalamnya. Daun dengan tampa pamrih memberikan oksigen dan makanan kepada manusia dan hewan. Bunga adalah sumber keindahan dan kedamaian yang abadi.<br />
Pikiran yang ruwet bisa tenang ketika menikmati keindahan sekuntum bunga yang mekar di pohonnya. Batang bambu adalah penyangga yang membantu kehidupan manusia. Banyak perkakas (keseharian dan ritual di Bali) dibuat dari bambu. Bahkan ketika manusia Bali (Hindu) meninggal, mayatnya diusung dengan usungan bambu. Penjor yang dipajang setiap hari raya Galungan, odalan di Pura, atau ritual-ritual lainnya harus dibuat dari bambu. Dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, bambu adalah simbol sekaligus elemen yang sangat penting.</p>
<p>Tujuan hidup manusia sebenarnya adalah memburu keseimbangan. Baik itu keseimbangan otak kanan-kiri, jasmani-rohani, duniawi-sorgawi, ekonomi, sosial, relegi, dan sebagainya. Manusia berupaya menjaga keseimbangan dalam putaran atau siklus kehidupan yang tidak akan pernah diketahui awal dan akhirnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/04/05/nyoman-sujana-kenyem-memburu-keseimbangan-dalam-puisi-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balada Sang Putri di Gubuk Hamba</title>
		<link>http://jengki.com/2010/03/24/balada-sang-putri-di-gubuk-hamba/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/03/24/balada-sang-putri-di-gubuk-hamba/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 02:03:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta
Senja warna kencana ketika putri jelita itu tiba di pesanggrahan hamba. Tiga angsa seputih bunga kamboja mengiringinya.
“Angsa-angsa ini tak mau kutinggal di puri. Selalu ingin mengikutiku ke mana pergi,” ucapnya.
Harum cempaka merekah dari langsat kulitnya. Bibir tipisnya mirah delima. Angin cemburu tak mampu mengurai hitam rambutnya. Hamba terpana pesona di hadapan hamba. Gerimis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Wayan Sunarta</p>
<p><a href="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/03/ilustrasi-balada-sang-putri.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-443" title="ilustrasi balada sang putri" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2010/03/ilustrasi-balada-sang-putri-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a>Senja warna kencana ketika putri jelita itu tiba di pesanggrahan hamba. Tiga angsa seputih bunga kamboja mengiringinya.</p>
<p>“Angsa-angsa ini tak mau kutinggal di puri. Selalu ingin mengikutiku ke mana pergi,” ucapnya.</p>
<p>Harum cempaka merekah dari langsat kulitnya. Bibir tipisnya mirah delima. Angin cemburu tak mampu mengurai hitam rambutnya. Hamba terpana pesona di hadapan hamba. Gerimis merah muda mengurai cuaca di kesunyian pesanggrahan.</p>
<p>Hamba tuntun sang putri masuk gubuk. Langkahnya pasti menjejak lantai tanah Mulus betisnya memancarkan cahaya surgawi. Hamba menentramkan riak-riak ombak di hati.</p>
<p>Sang putri duduk anggun di balai-balai bambu. Dia mengulum senyum. Seakan hendak menerka rahasia dari lontar-lontar kusam masa silam, yang hamba susun rapi di peti tua berukir bunga padma.</p>
<p>“Lautan dan topan sejatinya sepasang kekasih yang ingin menembangkan kidung-kidung dewa di cangkang-cangkang kerang,” lirihnya</p>
<p>Hamba merasa malu pada hati hamba, yang tiba-tiba mekar di jelita matanya. Buru-buru hamba nyalakan pelita minyak kelapa. Malam telah membutakan jarak di pesanggrahan.</p>
<p>Remang cahya pelita menggurat dua bayang di dinding kayu. Bayang yang saling termangu merunut silsilah dan sejarah, yang mengasingkan kami sejauh tahun-tahun kepedihan, sepanjang jarak dua belahan bumi.</p>
<p>“Angin apa kiranya yang membawamu ke sini, Putri? Hamba telah asingkan diri dari segala kenangan, meski parasmu masih membekas di hati. Cahaya apa menuntun langkahmu, menyusuri jejak sunyi tak terperi, hingga tiba di gubuk hamba?”</p>
<p>Mata sekilau purnama menatap hamba tajam. Menembus remang ruang, remang jiwa. Bibir seindah mirah membuka sabda: “masih ingatkah kau pada sebilah daun lontar dimana tertatah syair, yang kau gurat dari lubuk jiwamu?”</p>
<p>Hamba merasa darah hangat dari jantung yang berdegup malu, mengalir perlahan memenuhi wajah hamba. Sudah lama sekali, belasan tahun lalu. Ketika usia kami masih ranum, begitu hijau. Agaknya waktu telah membekukan syair itu di sebuah gua rahasia di hatinya.</p>
<p>“Meski bilah lontar itu telah kusam, tinta hitam dari kemiri dan jelaga hampir luntur, tapi syair itu tak henti menitiskan rindu dan mengalir hangat di nadiku. Kini tiba saatnya bagiku melunasi karma,” ucap Sang Putri.</p>
<p>Hamba terpana, menerka-nerka arah kerumunan kata yang berhamburan bagai kunang-kunang dari bibir rekah yang dulu hamba rindui. Di luar gubuk, angsa-angsa bercengkerama dengan malam, dengan halimun. Lengking suaranya melengkapi hening</p>
<p>“Jangan ragu. Aku tiba di sini untukmu. Aku akan berkisah. Dan hanya kau yang kupercayai menggurat kisah-kisahku ini di bilah-bilah lontarmu. Karena kau pujangga istana dimana dulu hatiku pernah bahagia&#8230;”</p>
<p>Hamba terkesiap, jiwa hamba berdesir, serupa angin subuh mengelus lembut kulit ari. Sudah lama sekali hamba tak mampu menggurat syair. Tiba-tiba hamba terkenang, saat hamba tinggalkan istana, diam-diam di tengah sunyi malam. Demi janji hamba pada keheningan dan pengembaraan.</p>
<p>Pantai demi pantai hamba susuri. Gunung demi gunung menjulang hamba daki. Rimba demi rimba rahasia hamba jelajahi. Lembah demi lembah misteri hamba hayati. Hingga tiba hamba di pesisir timur ini.</p>
<p>Tak ada yang mengenali hamba. Kecuali sunyi, kawan sejati seperjalanan. Bukankah manusia dilahirkan demi merayakan kesunyian? Dan ketika tiba saat kembali, jiwa menyusuri jalan sunyi yang itu-itu juga&#8230;</p>
<p>Suatu waktu angin pegunungan mengabarkan warta. Putri jelita sangat bersedih hati tak menemukan hamba di istana. Dia pun pergi membawa duka lara menyeberangi lautan seorang diri, menetap di negeri asing, demi menemukan kesejatian.</p>
<p>Hamba memahami kesedihannya. Hamba terlanjur tergoda kesunyian. Lebih memilih mengasingkan diri, ketimbang mendampingi sang putri melewati hari-harinya di puri. Hamba merasa tak leluasa berada di istana, mengabdi pada raja.</p>
<p>Hamba hanya ingin kembali pada alam dan kaum jelata. Belajar bertani, memahami nyanyian jengkrik dan kodok hijau. Berbaur dengan kuli, petani ladang garam dan nelayan. Mendengar siul angin di pucuk-pucuk bambu. Belajar mengurai makna sabda cicak di dinding kayu.</p>
<p>“Tak perlu disesali. Waktu begitu jauh berpacu. Namun wajah dan hatimu masih seperti dulu. Hanya beberapa helai uban tumbuh di sela-sela hitam rambutmu. Ketahuilah, kau masih selalu pujanggaku.”</p>
<p>Hamba tak pernah tahu, apa wajah dan hati bisa tidak berubah. Hanya waktu yang abadi, dan sekelumit rasa yang berupaya kekal dalam fana.</p>
<p>Remang jadi makin nyalang. Cahaya pelita bergoyang. Mengaburkan bayang-bayang. Angsa-angsa sesekali melengking. Halimun melingkupi pesanggrahan. Dua ekor cicak di dinding kayu sedari tadi menerka-nerka arah jiwa kami. Menerawang sesuatu yang makin sawang.</p>
<p>“Ketahuilah, pujanggaku. Aku bukan sejatinya putri istana. Aku hanya anak jadah. Meski ayahku turunan raja, yang sungguh kasip kuketahui. Namun tak pernah kutahu rupa ibuku. Sedari janin aku telah mencecap getir. Tangis pertamaku menyayat rahim ibu. Hatinya memang telah lama luka. Tak diakui, malu dengan aib sendiri. Aku dibuangnya begitu saja, seperti membilas daki di kelamin&#8230;,” keluh Sang Putri.</p>
<p>Hamba tercekat, sungguh terperanjat. Kata-kata berasa duri menyumbat kerongkongan. Nyeri seperti mengalir di sumsum nadi. Hamba hanya mampu terdiam. Sang putri tak henti berkeluh kesah.</p>
<p>Kisah miris ini makin meyakinkan hamba, betapa manusia sejatinya ditakdirkan mengalami kesunyian dan kesepian. Hamba merasa sepasang cicak di dinding kayu sedari tadi tertawa. Dan, lengking angsa menggenapi sunyi kami.</p>
<p>Letih dengan jiwa sendiri, sang putri terlelap di bale-bale bambu, tanpa kelambu. Di bilah-bilah daun lontar hamba mulai menggurat syair. Di remang cahya pelita, terbayang wajah sang putri, sedang mengutuki dirinya&#8230;</p>
<p>Karangasem, Bali, Januari 2010</p>
<p>(prosa ini dimuat di Kompas, Minggu 21 Maret 2010; dengan ilustrasi karya Ugy Sugiarto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/03/24/balada-sang-putri-di-gubuk-hamba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Dur, Imlek dan Semangat Pluralisme</title>
		<link>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/</link>
		<comments>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 06:41:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta*
Seandainya mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih hidup, tentu beliau tersenyum sumringah menyaksikan pementasan Barongsai dan wayang Po Te Hi. Terharu melihat warga Tionghoa berduyun-duyun menuju Kelenteng merayakan Imlek dengan takzim.
Gus Dur telah tiada. Indonesia kehilangan salah satu tokoh pluralisme yang berjiwa merdeka, kontroversial dan fenomenal. Namun, jasa-jasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta*<br />
Seandainya mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih hidup, tentu beliau tersenyum sumringah menyaksikan pementasan Barongsai dan wayang Po Te Hi. Terharu melihat warga Tionghoa berduyun-duyun menuju Kelenteng merayakan Imlek dengan takzim.</p>
<p>Gus Dur telah tiada. Indonesia kehilangan salah satu tokoh pluralisme yang berjiwa merdeka, kontroversial dan fenomenal. Namun, jasa-jasa beliau yang berkaitan dengan pluralisme akan senantiasa dikenang, terlebih lagi bagi WNI etnis Tionghoa.</p>
<p>Sejak masa pemerintahan Gus Dur, Imlek bisa dirayakan dengan bebas dan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Khonghucu diakui sebagai agama nasional dan para umatnya bisa bersembahyang di kelenteng dengan lebih leluasa. Berbagai bentuk kesenian Tionghoa bisa dipentaskan tanpa perasaan cemas. Kursus-kursus bahasa Mandarin dibuka terang-terangan, huruf-huruf dan nama-nama Cina kembali mendapat tempat.</p>
<p>Tentu hal itu sangat bertolak belakang ketika Soeharto masih berkuasa. Akibat ditetapkannya PP No.14 Tahun 1967, warga etnis Tionghoa tidak pernah merasakan kebebasan seperti sekarang ini. Hampir semua kegiatan yang berbau Cina dilarang, bahkan diberangus. Pobia pada kecinaan sempat menjangkiti masyarakat Indonesia. Kecinaan sering kali menjadi bahan olok-olok dalam berbagai pergaulan, dari tingkatan anak-anak hingga orang dewasa, bahkan berkembang menjadi rasisme.</p>
<p>Gus Dur, Sang Pembebas itu, yang menjabat presiden pada 1999 hingga Juli 2001 mencabut Peraturan Pemerintah yang sangat rasis itu. Beliau telah membuat keputusan sangat penting menyangkut sejarah, harkat dan martabat bangsa Indonesia. Beliau telah meniupkan angin segar pluralisme di negeri tercinta ini.</p>
<p>Sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih, warga etnis Tionghoa menobatkan pinisepuh Nahdatul Ulama itu sebagai “Bapak Tionghoa” dalam sebuah upacara khusus di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, pada 10 Maret 2004. Gus Dur sendiri mengaku silsilah keturunannya dialiri darah Cina, dari Putri Campa, selir Raja Majapahit Brawijaya V.</p>
<p>Namun, bukan karena alasan berdarah Cina beliau membebaskan warga Tionghoa merayakan tradisi dan adat istiadatnya, melainkan semata-mata demi pluralisme. Suatu semangat yang telah berakar kuat dalam jiwanya, semangat yang sangat jarang dimiliki oleh kebanyakan orang.</p>
<p>Gus Dur memang telah tiada. Namun semangat pluralisme dan jasa-jasa besarnya terhadap bangsa ini tidak akan pernah lekang dalam ingatan kita bersama. Terlebih lagi bagi keturunan Tionghoa yang sejak beradab-abad lampau telah ikut menjadi penghuni di kepulauan Nusantara ini. Bahkan, nenek moyang bangsa Indonesia, terutama ras Melayu-Mongoloid, sejak lama diyakini berasal dari Yunan, sebuah daerah di Tiongkok.<br />
 </p>
<p>Imlek dan Khonghucu</p>
<p>Secara harfiah, Imlek berarti bulan penanggalan. Im artinya bulan dan Lek berarti penanggalan. Pada jaman dulu, di Tiongkok, Imlek juga biasa disebut Nung Lek. Nung artinya pertanian. Maka, sejatinya Imlek merupakan tradisi dan perayaan bagi kaum petani dan pertanian. Sistem penanggalan Imlek menggunakan peredaran bulan sebagai acuan (lunar kalender). Di Tiongkok yang memiliki 4 musim (semi, panas, gugur, dingin), Imlek biasanya dirayakan bertepatan dengan awal tibanya musim semi. Hal ini berkaitan dengan sistem kehidupan masyarakat agraris di sana. Peredaran bulan sering dipakai acuan untuk urusan-urusan pertanian. Perhitungan yang kurang teliti bisa menyebabkan panen gagal.</p>
<p>Menurut sejumlah sumber, Kalender Imlek sendiri disusun atau ditata ulang oleh Nabi Khongcu (Konfusius). Bahan penyusunannya diolah dari penangalan Dinasti Xia (2200 SM). Pada jaman Nabi Khongcu, tahun baru jatuh pada tanggal 22 Desember. Dan, tanggal 4 Februari merupakan pergantian musim dingin ke semi. Jadi, sesungguhnya Imlek bukanlah perayaan musim semi. Karena perkiraan tanggal 1 Imlek, rentang waktunya antara 15 hari ke depan dan 15 hari ke belakang dari tanggal 4 Februari itu.  Tiap empat atau lima tahun sekali ada bulan ke-13, untuk menggenapi agar perhitungan tidak berubah.</p>
<p>Namun, ketika ajaran Konfusius berkembang dan melembaga menjadi agama, Imlek ditetapkan sebagai salah satu hari raya keagamaan Khonghucu. Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia, mengajarkan penganutnya tetap ingat pada leluhur, yang pelaksanaannya dijabarkan dalam berbagai ritual. Melalui falsafah dan etika, Konfusianisme juga mengajarkan bagaimana manusia bertingkah laku, menjaga harmoni dengan sesama manusia dan mahluk hidup lain (Ren Dao), dan bagaimana berhubungan dengan Pencipta (Tian Dao).</p>
<p>Imlek merupakan tradisi perayaan pergantian tahun yang telah digelar sejak berabad-abad lampau di daratan Tiongkok dan di sejumlah wilayah yang dihuni etnis Tionghoa. Dalam buku “Festival Budaya Tionghoa” karangan Dr. Kai Kuok Liang, disebutkan bahwa Imlek telah dirayakan sejak zaman Kaisar Huang Ti Yu (2698 SM), dan Kaisar Dinasti Qin (221-206 SM).</p>
<p>Di Indonesia, pada jaman VOC dan penjajahan Belanda, Imlek dirayakan secara bebas. Bahkan pada perayaan Cap Go Meh, rangkaian tahun baru Imlek, sering digelar pasar malam secara meriah. Saat itu di Batavia (Jakarta), pasar malam dipusatkan di kawasan Gambir dan Glodok. Pasar malam Cap Go Meh inilah yang mungkin menjadi cikal bakal berkembangnya pasar senggol yang buka saban malam di banyak tempat di Indonesia.</p>
<p>Tradisi perayaan Imlek sangat unik. Akulturasi budaya telah melahirkan perayaan Imlek yang relatif berbeda-beda di berbagai tempat. Namun inti sarinya tetap sama, memperingati pergantian tahun sekaligus mengenang jasa-jasa leluhur. Perayaan Imlek dilengkapi berbagai macam pernak-pernik ritual, seperti kertas atau kain merah yang ditulisi kata-kata bijak, kartu merah Gong Xi Fa Chai, hio wangi, mercon, kembang api, kue-kue dan masakan khas Cina. Dalam perayaan Imlek pun terkandung falsafah adiluhung, seperti penghormatan terhadap leluhur (orang tua), membantu yang lemah, berdoa untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia, kebajikan berderma pada fakir miskin (pemberian angpao), mempererat tali silahturahmi.</p>
<p>Bagi warga Tionghoa, warna merah melambangkan kemakmuran. Warna inilah yang mungkin dulu ditakuti Soeharto karena sering diasosiasikan dengan PKI, sehingga segala kegiatan berbau Cina juga dicap komunis. Mungkin itu juga salah satu cara Soeharto mencuci otak bangsa ini sehingga perlahan muncul kebencian terhadap warga etnis Tionghoa, yang tragisnya sama-sama Warga Negara Indonesia.</p>
<p>Tahun Baru Imlek 2561 (Shio Macan) yang kali ini jatuh pada tanggal 14 Februari 2010, bertepatan dengan Hari Kasih Sayang “Valentine Day”, semestinya juga dirayakan dengan perenungan dan mengenang semangat pluralisme yang ditanamkan Gus Dur. Suatu semangat yang mesti terus disemai di bumi Indonesia tercinta ini, demi tercapainya “bhineka tunggal ika” yang sesungguhnya.</p>
<p>* penyair, lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Welldo Wnophringgo, Pelukis dan Penekun Spiritual</title>
		<link>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 10:39:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tilas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[ 
Teks dan Foto Wayan Sunarta
 
 
Lelaki ini terkesan sangar. Anak-anak pasti akan lari ketakutan melihatnya. Gadis-gadis yang tidak mengenalnya mungkin buru-buru menghindar ketika kebetulan berpapasan dengannya. Kalau lelaki ini berada di tengah keramaian dia selalu menjadi pusat perhatian. Kalau kebetulan dia muncul dalam acara-acara seni rupa, dia dengan mudah dikenali. Bahkan penampilannya seringkali mengalahkan acara pameran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Teks dan Foto Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-432" title="welldo-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/12/welldo-21-226x300.jpg" alt="welldo-(2)" width="226" height="300" />Lelaki ini terkesan sangar. Anak-anak pasti akan lari ketakutan melihatnya. Gadis-gadis yang tidak mengenalnya mungkin buru-buru menghindar ketika kebetulan berpapasan dengannya. Kalau lelaki ini berada di tengah keramaian dia selalu menjadi pusat perhatian. Kalau kebetulan dia muncul dalam acara-acara seni rupa, dia dengan mudah dikenali. Bahkan penampilannya seringkali mengalahkan acara pameran itu sendiri. Dia termasuk sosok “seni rupa yang berjalan”. </p>
<p> </p>
<p>Penampilannya sangat eksentrik. Dia suka mengenakan kaos singlet atau rompi yang dipadu celana doreng butut. Berbagai pernak-pernik aneh bergelayutan di tubuhnya yang kurus. Kupingnya penuh dengan anting-anting besar. Hidungnya juga digelayuti anting-anting. Di lehernya melingkar aneka kalung bernuansa etnik, ada juga kalung tulang, gigi dan taring. Tangannya, dari lengan hingga pergelangan juga dipenuhi gelang berbagai bentuk, dari berbahan logam hingga akar bahar. Jemarinya juga tak luput dari pernak-pernik cincin perak dan batu akik. Rambutnya panjang dan gimbal dihiasi ikat kepala merah menyala. Tubuhnya penuh tatto, dari pergelangan kaki sampai kepala, termasuk alisnya juga dirajah.</p>
<p> </p>
<p>“Di tengah keseragaman, betapa sulitnya menjadi diri sendiri. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri. Dan tentu saja saya merasa nyaman dengan semuanya ini,” kata lelaki ini mengomentari penampilannya.</p>
<p> </p>
<p>Orang-orang sering memanggilnya Welldo. Lengkapnya, Welldo Wnophringgo. Dia lahir di Jakarta, 11 September 1965. Sudah lebih dari 18 tahun menetap di Bali, di kawasan Kuta. Meski penampilannya sangar, Welldo termasuk lelaki yang pendiam. Namun ketika dipancing berbicara, maka berhamburanlah berbagai pengetahuannya, terutama tentang ilmu kebatinan dalam kaitannya dengan seni rupa.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-433" title="welldo-(5)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/12/welldo-5-300x168.jpg" alt="welldo-(5)" width="300" height="168" />Ya, selain sebagai pelukis, Welldo juga dikenal sebagai guru spiritual yang memimpin paguyuban “Tandava Nrtya” dengan pengikut yang berasal dari berbagai negara. Bahkan dia sering diundang dan terlibat aktif dalam acara-acara yang digelar oleh perkumpulan paranormal. Dia juga menekuni meditasi dan yoga. Bahkan dia pernah meditasi selama 99 hari guna menggali jati diri dan merenungi misteri kehidupannya. Pengalamannya itu banyak membuahkan permenungan spiritual.</p>
<p> </p>
<p>Perenungannya tentang seni dan penjelajahan spiritualnya sering diungkapkannya lewat catatan-catatan hariannya. Dia banyak menulis untain-untain permenungan perihal kehidupan, kematian, cinta kosmis, pencarian jati diri, pendakian spiritualitas. Selain itu dia juga rajin menulis puisi yang kini ratusan jumlahnya. Semuanya itu dibendel dan dijilid sederhana. Dia termasuk perupa yang sadar akan arti penting dokumentasi karya. Semua karyanya terdokumentasi dengan baik, seperti ratusan sketsa, lukisan kanvas, catatan harian tulisan tangan, foto-foto, kliping, dan sebagainya.</p>
<p> </p>
<p>“Seni hanyalah sekedar medium, sebagaimana bahasa. Seni adalah suatu bahasa tanpa kata-kata. Sebagaimana jembatan yang mengupayakan penyatuan, sehingga lenyaplah keterpisahan jarak dan pikiran yang menciptakan komunikasi,” tulis Welldo dalam selembar catatan hariannya.</p>
<p> </p>
<p>Welldo tidak pernah mengenyam pendidikan seni secara khusus. Bakat seninya telah tumbuh alamiah sejak dia masih kanak-kanak. Pada tahun 1978, dia bekerja sebagai illustrator di sebuah majalah ibu kota. Pernah juga bekerja di dunia film tahun 1979. Pernah jadi <em>drummer</em> sebuah grup musik beraliran keras. Hanya untuk mengikuti naluri mengembara dan berkesenian, tahun 1991 dia hijrah ke Bali. Menjadi pelukis merupakan dorongan naluri bawah sadarnya. Dia belajar melukis secara otodidak.</p>
<p> </p>
<p>Sejak 1976 ketika masih usia belia, dia telah aktif menampilkan karya-karyanya dalam pameran bersama dan tunggal, di antaranya pameran di Slovia Building Jakarta (1976), pameran tunggal di IAIN Sunan Ampel Surabaya (1985), pameran Kaligrafi di Singapura (1998), pameran tunggal “Sebuah Catatan Kecil” di Ubud Bali (2001), pameran di Mad Valey Kuala Lumpur Malaysia (2006), pameran tunggal “Menelanjangi Ketelanjangan” di Salim Gallery Kuta (2006), pameran “Ar(t)mosphere” di Darga Gallery, Sanur, Bali (2007), pameran bersama Finalis Jakarta Art Awards 2008 di Gallery Pasar Seni Ancol, Jakarta (2008). Sejumlah penghargaan telah pula diraihnya, di antaranya finalis The Philip Moris Arts Awards 1994, Finalis Jakarta Art Awards 2008.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-434" title="karya-Welldo-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/12/karya-Welldo-2-300x231.jpg" alt="karya-Welldo-(2)" width="300" height="231" />Karya-karya Welldo cenderung figuratif. Teknik realis dikuasainya dengan cukup baik. Bahkan dia sering melatih dirinya dengan membuat banyak sketsa tentang suatu objek atau melukis model. Lukisan-lukisannya lebih banyak mencerminkan pengembaraan pikiran, perasaan, dan permenungannya tentang kehidupan manusia. Welldo sering menganggap karya-karya seninya sebagai buku harian atau media penumpahan berbagai macam unek-unek yang mengusik pikiran dan perasaannya. Pada sejumlah lukisan awalnya nampak berbagai simbol dan ikon saling tumpang tindih, berpadu dengan aneka macam grafiti. Lukisan-lukisannya seakan menjadi proyeksi dari dunia batin yang sedang berkecamuk, tarik ulur antara kesakralan dan keprofanan.</p>
<p> </p>
<p>“Karena sebagai catatan harian, maka karya-karya saya memiliki nuansa yang berbeda-beda, tergantung gejolak perasaan dan respon dari pikiran terhadap kehidupan dan kenyataan,” ujarnya.</p>
<p> </p>
<p>Welldo termasuk pelukis yang mengagumi keindahan perempuan. Pada sejumlah lukisannya perempuan muncul sebagai subjek sekaligus simbol untuk menggambarkan dunia batinnya yang selalu mengembara dalam proses pencarian jati diri. Bahkan dalam suatu kesempatan menggelar pameran tunggal bertajuk “Menelanjangi Ketelanjangan” (2006), Welldo berujar, “telanjangilah pikiranmu, agar kamu mampu mencapai dirimu yang sebenarnya!”</p>
<p> </p>
<p>Selain melukis di atas kanvas dan kertas, Welldo juga sering melukis di atas kemolekan tubuh perempuan dalam pertunjukan <em>body painting</em>. Karena dandanannya yang eksentrik, dia juga sering diundang tampil menyemarakkan acara peragaan busana yang dihadiri banyak model cantik. Itulah beberapa sisi unik dari Welldo.</p>
<p> </p>
<p>Karya-karya Welldo terkini lebih banyak menampilkan binatang (babi, celeng alas, monyet, tikus, anjing) yang dipakai sebagai sindiran terhadap perilaku kehidupan manusia. Ikon-ikon modernisasi dan globalisasi seperti <em>humberger</em>, coca-cola, sesekali muncul dalam lukisannya sebagai ungkapan betapa pengaruh Barat sangat terasa menguasai peradaban dunia. Dalam waktu dekat ini dia berencana memamerkan karya-karya terbarunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Mati bila Bali &#8220;Koh Ngomong&#8221;</title>
		<link>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 06:58:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai dan Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta*


Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Artinya, jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.
Orang-orang Bali yang mengalami masa kanak-kanak di bawah tahun 1980-an pasti pernah mendengar kutipan tembang sekar alit ini. Tembang yang mengandung muatan nilai-nilai rendah hati ini merupakan tembang wajib yang diajarkan di sekolah dasar di Bali. Tembang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>oleh: Wayan Sunarta*</strong></p>
<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p>Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Artinya, jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.</p>
<p>Orang-orang Bali yang mengalami masa kanak-kanak di bawah tahun 1980-an pasti pernah mendengar kutipan tembang sekar alit ini. Tembang yang mengandung muatan nilai-nilai rendah hati ini merupakan tembang wajib yang diajarkan di sekolah dasar di Bali. Tembang sederhana ini sekarang hampir hilang dari pendengaran kanak-kanak Bali, digantikan lagu-lagu anak-anak modern.</p>
<p>Kini, di Bali, antara mitos dan realitas telah menjadi suatu yang paradoks, berlawanan, bahkan saling menghancurkan. Nilai-nilai lama digantikan oleh nilai-nilai baru. Kondisi ini sangat potensial memunculkan chaos dalam ruang batin orang-orang Bali: kebingungan menentukan sikap, antara rendah hati menerima kritik atau memunculkan ego kekuasaan untuk menyerang balik si pengkritik.</p>
<p>Bagi sebagian orang Bali, kritik sering kali dianggap sebagai serangan langsung terhadap personal atau sebuah kekuasaan yang mapan. Misalnya, dalam rapat-rapat di balai banjar atau balai desa—sebuah lembaga yang seharusnya bijaksana mengakomodasi kritik—ternyata hampir tidak pernah terjadi perbedaan pendapat atau kritik yang mencolok.</p>
<p>Semua pendapat atau kritik terakumulasi menjadi satu kata ”setuju” ketika tokoh-tokoh penting yang berkuasa dan berpengaruh dalam rapat meneriakkan ”setuju?!”. Apakah ini wujud ketakutan orang Bali terhadap kekuasaan kolektif sebuah komunitas, atau pengejewantahan budaya koh ngomong (malas bicara) yang sering membelenggu pikiran orang Bali?</p>
<p><strong>”Kramak-krimik” Bali</strong></p>
<p>Di Bali, berani berbeda pendapat, apalagi meluncurkan kritik terhadap kekuasaan komunitas, berarti siap menerima pengucilan atau perlakuan tidak adil dari kekuasaan yang dikritik. Kekecewaan dan ketidaksetujuan terhadap keputusan rapat biasanya muncul dalam kasak-kusuk, keluhan-keluhan kecil di warung kopi atau warung tuak. Orang Bali sangat ngeri untuk berbeda pendapat atau melancarkan kritik dalam komunitas yang sangat menjunjung tinggi kolektivitas (walaupun terkadang bersifat semu). Dari sinilah tradisi kritik tidak muncul secara meyakinkan di Bali. Kalaupun ada, kritik akan menjalar dalam bentuk kramak-krimik atau gosip di warung-warung atau di tempat-tempat berkumpul lainnya.</p>
<p>Secara umum orang Bali tumbuh dan besar dalam tradisi yang begitu menakuti kritik. Sebisa mungkin jangan sampai ada kritik demi keharmonisan dan kestabilan komunitas. Dalam tradisi kolot itu, kritik yang muncul harus diberangus, dan pencetus kritik harus di-puikang (dimusuhi). Maka, berkembanglah tradisi basa-basi, asal bapak senang, mulut manis, dan berbagai bentuk budaya hipokrit lainnya.</p>
<p>Memang, Bali selalu penuh dengan paradoks. Seperti, misalnya, budaya koh ngomong yang berkembang di Bali. Budaya ”tutup mulut” ini sering kali menjadi perlawanan orang-orang Bali terhadap kekuasaan yang mapan. Koh ngomong yang sebenarnya diturunkan dari ajaran sekar alit di atas merupakan sikap ”jangan mengira diri pintar”.</p>
<p>Koh ngomong sering kali dipraktikkan dalam rapat banjar atau rapat desa. Penganut budaya ini sadar bahwa apa pun pendapatnya apabila tidak sesuai dengan pendapat kekuasaan jelas akan diberangus, dan tentu saja akan bisa berakibat fatal bagi si penyampai pendapat yang berlawanan dengan arus besar.</p>
<p>Di sisi lain, koh ngomong juga menjadi salah satu bentuk perlawanan diam orang Bali terhadap kritik yang menyerang dirinya. Namun, justru inilah kekuatan yang bisa berbahaya bagi si pengkritik karena bukan tidak mungkin orang yang melakukan gerakan koh ngomong diam-diam akan bereaksi tanpa menghiraukan kritik, atau menyerang (kalau muncul pikiran jahat) si pengkritik dengan kekuatan lain, misalnya dengan teror ilmu hitam dan lain sebagainya.</p>
<p>Untuk menghindari chaos lebih parah, perlu memupuk sikap rendah hati menerima kritik. Tentu saja harus ada keberanian dan kejujuran menyampaikan kritik secara terbuka.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Penulis adalah Penyair, Menetap di Bali</em></p>
<p>(Dimuat di rubrik Teroka, Kompas, Sabtu, 21 November 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggali Inspirasi dari Batu Permata</title>
		<link>http://jengki.com/2009/11/22/menggali-inspirasi-dari-batu-permata/</link>
		<comments>http://jengki.com/2009/11/22/menggali-inspirasi-dari-batu-permata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 05:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jengki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengki.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Ada banyak cara menggali inspirasi. Yang sudah lumrah adalah berburu ke alam bebas, merenungi hakikat dan keindahan alam, lalu menuangkannya ke kanvas. Cara lainnya, menyelam ke alam batin (bawah sadar), sehingga memunculkan karya-karya berbau surealisme, simbolisme, atau abstrakisme.
 
Namun, Satar Tacik (41 thn), pelukis dari Ampenan, Lombok, NTB, memiliki cara yang berbeda. Dia menyerap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Wayan Sunarta</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-423" title="Satar-Tacik-(3)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/Satar-Tacik-31-300x226.jpg" alt="Satar-Tacik-(3)" width="300" height="226" />Ada banyak cara menggali inspirasi. Yang sudah lumrah adalah berburu ke alam bebas, merenungi hakikat dan keindahan alam, lalu menuangkannya ke kanvas. Cara lainnya, menyelam ke alam batin (bawah sadar), sehingga memunculkan karya-karya berbau surealisme, simbolisme, atau abstrakisme.</p>
<p> </p>
<p>Namun, Satar Tacik (41 thn), pelukis dari Ampenan, Lombok, NTB, memiliki cara yang berbeda. Dia menyerap inspirasi dari keunikan batu-batu permata. Setiap malam dia tafakur dan meneropong batu-batu permata dengan bantuan cahaya lilin. Batu permata yang bening didekatkan ke mata, mirip posisi mengintip dari lubang kunci.</p>
<p> </p>
<p>Dengan bantuan cahaya lilin dari arah depan, maka akan terlihat berbagai wujud aneh dan ajaib di dalam batu permata yang diteropong itu. Ada wujud samar manusia berkepala enam, manusia ditelan naga, burung berkepala kuda, raksasa, naga kepala tiga, dan sebagainya. Semua itu terbentuk karena serat dan urat alami batu permata ditambah kelincahan imajinasi peneropong.</p>
<p> </p>
<p>“Ini bukan klenik atau ilmu gaib. Semua orang bisa melihat wujud-wujud itu dengan meneropong batu permata. Syaratnya, permata harus bening atau tembus cahaya,” tutur Tacik.</p>
<p> </p>
<p>Sambil meneropong permata, dia membuat sketsa wujud-wujud aneh itu. Kemudian sketsa itu dipindahkannya ke kanvas melalui teknik melukis yang dikuasainya. Di dalam sebiji permata bisa ditemui banyak wujud, tergantung sudut pandang saat meneropongnya.</p>
<p> </p>
<p>Ada sekitar 30 lukisan yang ditampilkan Satar Tacik dalam pameran tunggal perdananya ini. Pameran yang bertajuk “Menembus Cahaya” ini berlangsung di Taman Budaya Mataram, Nusa Tenggara Barat, sejak 11-21 November 2009. Sebelumnya, dia telah beberapa kali menggelar pameran bersama. Tacik merupakan tamatan SMSR Denpasar. Selain melukis, kini dia bekerja sebagai staf fungsional di Taman Budaya Mataram.</p>
<p> </p>
<p>Lukisan-lukisan Tacik terkesan seram dan magis, penuh wujud-wujud ganjil. Misalnya, sebuah lukisannya menggambarkan ular naga berkepala <img class="aligncenter size-medium wp-image-424" title="lukisan-Satar-Tacik-(1)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/lukisan-Satar-Tacik-11-220x300.jpg" alt="lukisan-Satar-Tacik-(1)" width="220" height="300" />tiga dengan lidah menjulur-julur. Atau pada lukisan lain menggambarkan perempuan jelita yang bermesraan dengan raksasa. Pilihan warna yang dipakainya cenderung sama, yakni warna-warna suram penuh aroma kefanaan atau suasana asing yang tiada tara.</p>
<p> </p>
<p>Di Mataram, NTB, Tacik dikenal sebagai pelukis yang eksentrik. Suka menyepi dan berburu batu hingga ke pelosok daerah terpencil. Rumahnya yang sederhana dipenuhi berbagai macam batu dan fosil kayu berbagai ukuran. Bahkan batu-batu itu ditanam layaknya menanam pohon sehingga terciptalah sebidang taman batu.</p>
<p> </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-425" title="lukisan-Satar-Tacik-(2)" src="http://jengki.com/wp-content/uploads/2009/11/lukisan-Satar-Tacik-21-300x228.jpg" alt="lukisan-Satar-Tacik-(2)" width="300" height="228" />Memang, sejak lama aura batu telah menarik hatinya. Bahkan dia rela menjual sepeda motor demi mendapatkan batu yang diidamkannya. Dan, kini energi batu itu terpancar di dalam lukisan-lukisannya, menembus cahaya, merasuki jiwa apresian yang sempat menyaksikan karya-karyanya secara langsung.</p>
<p> </p>
<p>Kecintaan Tacik pada batu dimulainya sejak 1990-an. Dia berburu batu hingga ke pelosok pedalaman. Batu-batu itu ditaruhnya dalam pot atau alas tertentu sehingga menjadi seni suezeki (bonsai batu). Bukan cuma batu alam. Tahun 2000-an dia mulai menggandrungi batu permata. Ada banyak permata yang telah dikoleksinya, seperti mirah, safir, mata kucing, jamrud, kristal, akik, kecubung.</p>
<p> </p>
<p>Menurut Tacik, setiap permata memiliki energi tertentu. Energi tersebut bisa sesuai untuk seseorang, namun belum tentu untuk orang lainnya. Jika energi batu permata sesuai dengan energi pemakainya, maka batu permata itu bisa memberikan kekuatan tertentu kepada pemakainya. Setiap permata mengandung misteri dan keajaiban yang mengundang penikmatnya hanyut di dalam keindahan dan misteri batu itu.</p>
<p> </p>
<p>Dalam kaitannya dengan proses melukis, dia suka mengamati tekstur dan warna bebatuan dan kayu-kayu tua. Hal itu seringkali menjadi inspirasinya saat melukis. Lukisan-lukisan Tacik cenderung simbolis dan surealis. Dan, semua inspirasinya bersumber dari hasil peneropongannya terhadap batu permata.</p>
<p> </p>
<p>“Bukan dari imajinasi, konsep atau ide. Semua simbol yang saya lukiskan sudah ada di dalam batu yang saya teropong,” tuturnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengki.com/2009/11/22/menggali-inspirasi-dari-batu-permata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
