<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="WordPress/2.9.1" -->
<rss version="0.92">
<channel>
	<title>jengki.com</title>
	<link>http://jengki.com</link>
	<description>impian usai</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2010 06:42:48 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	
	<item>
		<title>Gus Dur, Imlek dan Semangat Pluralisme</title>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta*
Seandainya mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih hidup, tentu beliau tersenyum sumringah menyaksikan pementasan Barongsai dan wayang Po Te Hi. Terharu melihat warga Tionghoa berduyun-duyun menuju Kelenteng merayakan Imlek dengan takzim.
Gus Dur telah tiada. Indonesia kehilangan salah satu tokoh pluralisme yang berjiwa merdeka, kontroversial dan fenomenal. Namun, jasa-jasa [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2010/02/14/gus-dur-imlek-dan-semangat-pluralisme/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Welldo Wnophringgo, Pelukis dan Penekun Spiritual</title>
		<description><![CDATA[ 
Teks dan Foto Wayan Sunarta
 
 
Lelaki ini terkesan sangar. Anak-anak pasti akan lari ketakutan melihatnya. Gadis-gadis yang tidak mengenalnya mungkin buru-buru menghindar ketika kebetulan berpapasan dengannya. Kalau lelaki ini berada di tengah keramaian dia selalu menjadi pusat perhatian. Kalau kebetulan dia muncul dalam acara-acara seni rupa, dia dengan mudah dikenali. Bahkan penampilannya seringkali mengalahkan acara pameran [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2009/12/29/welldo-wnophringgo-pelukis-dan-penekun-spiritual/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Kritik Mati bila Bali &#8220;Koh Ngomong&#8221;</title>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta*


Ede ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Artinya, jangan mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.
Orang-orang Bali yang mengalami masa kanak-kanak di bawah tahun 1980-an pasti pernah mendengar kutipan tembang sekar alit ini. Tembang yang mengandung muatan nilai-nilai rendah hati ini merupakan tembang wajib yang diajarkan di sekolah dasar di Bali. Tembang [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2009/11/27/kritik-mati-bila-bali-koh-ngomong/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Menggali Inspirasi dari Batu Permata</title>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Ada banyak cara menggali inspirasi. Yang sudah lumrah adalah berburu ke alam bebas, merenungi hakikat dan keindahan alam, lalu menuangkannya ke kanvas. Cara lainnya, menyelam ke alam batin (bawah sadar), sehingga memunculkan karya-karya berbau surealisme, simbolisme, atau abstrakisme.
 
Namun, Satar Tacik (41 thn), pelukis dari Ampenan, Lombok, NTB, memiliki cara yang berbeda. Dia menyerap [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2009/11/22/menggali-inspirasi-dari-batu-permata/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Rudat, Kesenian Islam yang Mengesankan</title>
		<description><![CDATA[ 
Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Siang itu, warga Muslim di Kecicang, Karangasem, berkerumun dan berdesak-desakan di sebuah lapangan kecil tak jauh dari masjid. Laki-perempuan, tua-muda, anak-anak kecil, semua menampakkan wajah sumringah. Mereka disuguhkan pementasan rudat. Mahdan, warga Kecicang, khusus mengundang kelompok kesenian rudat untuk memeriahkan pesta perkawinannya.
“Kelompok rudat itu dari kampung Kecicang,” ujar Mahdan, yang pernah menjadi anggota [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2009/11/11/rudat-kesenian-islam-yang-mengesankan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Karya-karya Kolaborasi dari Kembar Beda Ibu</title>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta
 
Judul Pameran              : Twin Sons of Different Mothers
Seniman                           : Ida Bagus Indra dan John O’ Sullivan
Kurator                            : -
Tempat                             : Gaya Art Space, Sayan, Ubud, Bali.
Waktu                                : 6 – 30 Oktober 2009
 
Saudara kembar, mungkin, tidak harus lahir dari satu ibu. Bisa juga dari ibu yang berbeda. Kembar di sini bukanlah kembar fisik, melainkan [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2009/10/29/karya-karya-kolaborasi-dari-kembar-beda-ibu/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Keindahan dan Kekelaman</title>
		<description><![CDATA[oleh: Wayan Sunarta
 
Judul Pameran              : Spirit Behind The Colours 2
Seniman                           : Amalia Amini
Kurator                             : -
Tempat                              : Art by Woman Gallery, Ubud, Bali
Waktu                                 : 9 September &#8211; 9 Oktober 2009
 
 
Karya-karya Amalia Amini merupakan perpaduan keindahan dan kekelaman. Karya-karyanya cenderung tercipta dari dorongan bawah sadar dan perenungan terhadap hakikat kehidupan. Benda-benda saling bersusunan membentuk simbol dan metafora. Kadang seperti [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2009/10/24/keindahan-dan-kekelaman/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Belajar pada Lebah</title>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
Dunia seni rupa tidak hanya unjuk keterampilan teknis, melainkan juga pergulatan ide, pemikiran atau wacana, untuk mencoba melahirkan berbagai terobosan baru. Namun  pada kenyataannya, dunia seni rupa dipersempit dengan maraknya trend atau selera pasar dimana banyak pelukis muda terjebak menjadi bebek, tanpa memiliki pendirian jelas.
Misalnya, ketika trend lukisan tertentu banyak diminati pasar, para [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2009/10/21/belajar-pada-lebah/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Toleran Melahirkan Teror?</title>
		<description><![CDATA[Oleh: Wayan Sunarta
 
 
Judul Pameran              : Tolerism Terrorance
Seniman                            : I Ketut Teler
Kurator                              : Arif B Prasetyo
Tempat                                : Hanna Art Space, Pengosekan, Ubud, Bali.
Waktu                                   : 11 – 30 September 2009
 
 
Apa kaitan toleransi dan terorisme? Pelukis Ketut Teler punya jawabannya. Dia bilang, teror bisa muncul jika kita terlalu toleran. Pengertian teror di sini bukan hanya dalam [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2009/10/08/toleran-melahirkan-teror/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Mangku Jenggo, Pematung dari Umanyar, Karangasem</title>
		<description><![CDATA[Foto dan Teks Wayan Sunarta
 
Senja belum sempurna paripurna. Temaram cahayanya menelusupi celah-celah rimbun dedaunan. Mangku Jenggo asyik menatah sebongkah batu cadas hitam. Tangannya bergerak lincah memahat dan menakik cadas mengikuti alur dan lekuk-likunya. Perlahan namun pasti, cadas yang keras menjelma patung aneh dan unik.
 
Begitulah Mangku Jenggo. Seniman desa yang sangat bersahaja. Perawakannya tinggi kurus. Wajah [...]]]></description>
		<link>http://jengki.com/2009/09/14/mangku-jenggo-pematung-dari-umanyar-karangasem/</link>
			</item>
</channel>
</rss>
